APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel PRIME MINISTRE'S DAUGHTER

PRIME MINISTRE'S DAUGHTER

Demi menikahi Eleanore, putri perdana menteri yang berhati dingin, Ken rela menghalalkan segala cara. Sayangnya, pernikahan impian keponakan raja ini berubah menjadi mimpi buruk saat Ken mengungkap sebuah rahasia kelam masa lalu istrinya. Rasa cinta Ken seketika berubah menjadi kebencian yang mendalam. Meski menderita dan terus disakiti akibat perubahan sikap suaminya yang sangat drastis, Eleanore memilih bertahan demi cinta di tengah konflik masa lalu yang sulit termaafkan.
Bab
Bagikan

Bab 1

["Karena kamu. Istriku meninggal."]

["Sehari saja apa kamu tak bisa duduk diam di kamar?"]

Gadis kecil bermata hansel itu hanya tertunduk diam saat sang ayah memarahinya. Penyebabnya hanya satu, ia memecahkan vas kesayangan hadiah dari raja untuk ayahnya. Bukan karena disengaja, tetapi lantainya licin sehabis dibersihkan oleh para pelayan.

["Kamu selalu saja membuatku kesal dan marah."]

Satu sosok yang sebagian orang menganggap ayah adalah seorang pahlawan dan cinta pertama putrinya, hal itu tak berlaku bagi gadis kecil tersebut.

Pria yang dipanggilnya ayah itu tak pernah sekalipun memanjakan atau menyayanginya. Hanya bentakan ataupun tatapan dingin yang selalu ditujukan padanya.

["Kalau saja kamu tak pernah ada di sini."]

Beberapa penggalan kalimat itu menjadi andalan sang ayah ketika memarahinya, ia tak tahu apapun dan tak bisa bertanya mengapa sang ayah begitu emosi kepadanya.

"Nona, kita makan yuk." Sang pengasuh yang sudah dianggapnya ibu mengajak makan. Sejak tadi pagi hingga siang ia takut berhadapan dengan sang ayah.

"Bibi, apa ayah sudah berangkat?" tanyanya sembari menyibak selimutnya dan langsung memeluk sang pengasuh. Pelukan layaknya seorang ibu itu membuat merasa nyaman.

"Tuan besar sebentar lagi akan pergi.

"Aku tunggu ayah pergi saja, ya Bi. Aku tak mau ayah marah lagi."

Dengan penuh kasih sayang Brigith membelai rambut indah nan lembut milik majikan kecilnya. Ia sudah merawatnya sejak masih bayi.

"Tapi ada kakak pertama nona. Tuan muda pertama sudah pulang dari Belanda dan bawa oleh-oleh yang nona pinta. Apa tidak mau melihatnya?"

Gadis kecil itu pun merenggangkan pelukannya dan matanya berbinar. Di antara ketiga kakaknya hanya kakak pertama yang begitu menyayanginya sedangkan yang lain cuek.

"Tapi kalau ayah masih di sana, aku tidak mau." Ia menggelengkan kepala dan menunduk lagi.

"Ya sayang dong. Bagaimana kalau oleh-olehnya diambil nona besar?" Brigith menggodanya.

"Ah bibi. Aku tidak mau oleh-olehku direbut. Ayo kita lekas ke bawah."

"Nona, pakai alas kakinya dulu." Brigith mengejarnya hingga sampai pintu lalu memasangkannya dengan pelan.

"Terima kasih bibi. Aku sayang bibi."

Brigith tersenyum, ia menyayangi nona kecilnya seperti anak kandung sendiri. Ia menjaga dan melindunginya dari amukan tuan besarnya jika gadis kecil itu melakukan kesalahan.

Kaki kecilnya melangkah cepat menuruni anak tangga. Ia ingin sekali menemui kakak pertamanya yang sudah pergi tugas selama sebulan.

Namun langkahnya terhenti tepat di pintu ruang makan, gadis kecil berusia sembilan tahun itu mendengar ayahnya sedang memarahi sang kakak dengan bentakan.

["Jangan lagi memarahi Leanore, Yah. Dia masih kecil."]

["Kenapa ayah begitu membencinya."]

["Tentu saja ayah membencinya. Karena lahirnya dia membawa kesialan. Ibumu meninggal penyebabnya adalah anak itu."]

["Ayah salah. Ibu meninggal bukan karena Leanore tapi penyakitnya. Jangan lagi menyalahkannya."]

["Bagi ayah. Anak itu selamanya membawa kesialan!"]

Eleanore terdiam mematung, ia tak jadi membuka pintu ruang makan dan melangkah pergi. Tak ada tangis ataupun isakan, gadis kecil itu hanya menatap hampa setiap ruangan yang dilewatinya.

****

"Hai Rose, apa kabarmu?"

Satu tempat kesenangannya tentu saja taman bunga milik ibunya. Di sana ia bisa bicara dengan berbagai macam tanaman.

Kesedihan, kegembiraan juga kemarahannya ia ungkapkan di sini. Seorang diri saja tanpa ada yang menemaninya kecuali para pengawal di sekelilingnya.

"Memangnya tanaman di sini dapat bicara denganmu?"

Suara dari arah belakang membuat Leanore kecil menoleh, ia melihat anak laki-laki yang usianya jauh lebih tua sedang memandang dirinya dengan keheranan.

"Mereka tak bisa berbicara tapi aku bisa merasakan jika mereka mendengarnya," sahut Leanore kecil seraya ia membelai lembut bunga mawar putih.

"Ada-ada saja. Mereka itu bukan seperti kita yang manusia," ejek anak laki-laki tersebut tak memercayai ucapannya.

"Terserah kamu mau percaya atau tidak. Tapi itu yang kurasakan. Mereka itu juga ciptaan-Nya."

Leanore kecil merasa jengkel dan memberengut atas ucapan anak laki-laki yang tak ia kenal dan datang secara mendadak.

"Kamu marah?"

"Aku tidak marah hanya saja jengkel karena kamu tak percaya!" Leanore kecil memanyunkan bibirnya dengan bersidekap.

"Kamu lucu, Nona Kecil. Kamu tingga l di kastil ini?"

"Iya ini rumahku. Memangnya kenapa?" Leanore kesal karena anak laki-laki di sampingnya terus bertanya dan tak mau pergi.

"Apa tinggal di sini tidak menakutkan? Aku saja yang tinggal di sini walau hanya bertamu membuatku ngeri," ujarnya bergidik seakan merasakan ketakutan.

"Memang kamu benar, di sini memang menakutkan. Namun, kastil ini adalah tempat tinggalku."

Mata lentik Leanore menyapu seluruh halaman kastil juga bangunan megah berdinding tebal dan tak mudah dirobohkan. Ucapan anak laki-laki itu benar adanya, jika di siang hari tempat tinggalnya terasa indah. Namun saat malam hari tampak seperti kastil berhantu, ia kadang takut jika berjalan sendiri.

"Apa kamu tidak bosan di sini terus? Pergilah keluar. Kemarin hingga hari ini saat aku datang, kamu berada di sini."

"Aku senang di sini daripada di luar."

Leanore tersenyum kecut, bagaimana bisa ia bermain di luar layaknya masyarakat biasa? Yang ada sang ayah segera memanggil pengawal lalu membawanya pulang dengan paksa.

"Mana mungkin kamu tidak merasa bosan dengan aturan di sini?" tanyanya seraya menggoda.

Bohong ... itulah yang dirasakan Leanore saat ini. Setiap hari ia hanya ditemani Hellen juga bibi Brigith, mereka tak bisa diajak bersantai saat bicara hanya karena sebuah aturan. Ia butuh sahabat di dunia luar sana yang tak dapat ia sentuh.

"Pasti tidak boleh kan? Makanya jangan jadi anak ayahmu," katanya dengan santai.

Leanore tak pernah menginginkan hidupnya ada di sini, memiliki seorang ayah yang bekerja sebagai perdana menteri dan sang paman yang menikahi anggota kerajaan.

"Lebih enak jadi aku. Bebas tanpa aturan," ujarnya menyombongkan diri. Leanore menghela napas mendengarnya, anak laki-laki yang sombong.

"Memangnya kamu siapa? Apa kamu anak dari salah satu pekerja di sini?" tanya Leanore curiga sebab anak itu banyak bertanya.

"Namamu dulu baru aku akan menjawabnya."

Entah kenapa anak laki-laki itu senang melihat ekspresi gadis kecil tersebut. Sejak kemarin ia penasaran dengannya karena mengoceh tak jelas di sini.

"Eleanore itu namaku. Biasanya orang-orang memanggilku Leanore atau El. Lalu nama kamu siapa?"

"Kalau kamu kenal keluarga Montgemery, aku ada di sana." Ia menoleh ke belakang lalu tersenyum.

"Lain kali kita jumpa lagi."

Pria kecil itu melambaikan tangan ke arah Leanore setelah ada yang memanggilnya. Eleanore melihat sebentar lalu kembali asyik dengan dunianya sendiri. Ia tak mengenal anak itu jadi untuk apa mengingat namanya?

=Bersambung=

Penasaran dengan kisah hidup Eleanore kecil? Apa penyebab sang ayah membencinya? Ikuti kisahnya anak gadis perdana menteri di sini.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Diuber Janda
8.8
Amin, seorang montir, mendambakan cinta dari gadis perawan. Namun, takdir justru membawanya ke situasi kocak yang tak terduga. Bukannya mendapatkan wanita impian, ia malah menjadi target buruan para janda di lingkungannya. Mereka bersaing ketat demi memikat hatinya, membuat perjalanan asmara sang montir menjadi sangat rumit dan penuh dengan rintangan jenaka.
Sampul Novel Gairah Liar sang keponakan
8.4
Kehidupan seorang pria jungkir balik setelah keponakan titipan kakaknya mulai bertingkah liar. Di balik kepolosan gadis itu, tersimpan obsesi cinta mendalam yang menjebak sang paman dalam satu malam penuh gairah. Kini, ia terjebak di antara hasrat terlarang dan restu kakak yang sulit didapat. Namun, sebuah rahasia besar masa lalu perlahan terkuak, mengungkap status hubungan mereka yang sebenarnya.
Sampul Novel Melepas Daster Burukku
7.8
Sartika hancur setelah Riya, sepupu suaminya, mengaku menjadi selingkuhan Roni. Rasa sakitnya kian dalam karena suaminya kerap merendahkan penampilannya yang kusam di hadapan Riya. Ogah terpuruk, Sartika mengubah dirinya menjadi sosok yang anggun dan menyiapkan rencana pembalasan yang matang. Saat Roni mulai mengemis maaf, mantan kekasih Sartika datang menawarkan kembali cintanya. Sartika pun dihadapkan pada pilihan sulit antara masa lalu atau lembaran baru.
Sampul Novel Mendadak Kaya
8.4
Nasib malang menimpa seorang gadis berlesung pipi yang baru saja dipecat. Namun, sebuah tawaran ajaib datang menghampirinya. Ia diminta menemani seorang pria misterius makan malam di kediamannya selama satu malam saja. Tanpa ada syarat aneh lainnya, ia dijanjikan bayaran fantastis senilai seratus juta rupiah. Kesempatan emas di tengah himpitan ekonomi ini menyadarkannya bahwa takdir hidup dapat berubah drastis dalam sekejap mata.
Sampul Novel Modern maid
9.5
Kisah cinta modern ini menyoroti lika-liku hubungan asmara yang terhalang oleh jurang status sosial. Perasaan cinta yang tumbuh di hati seorang asisten rumah tangga terhadap majikannya memicu konflik batin yang mendalam. Di bawah bayang-bayang tuntutan sosial dan pandangan miring lingkungan sekitar, kesetiaan mereka diuji. Mereka harus menghadapi dilema berat dan pengorbanan besar demi memperjuangkan akhir bahagia yang masih dipenuhi ketidakpastian.
Sampul Novel SUAMIKU BULE BRONDONG
9.3
David, seorang ateis, jatuh hati pada sosok Hania yang bercadar dan anggun. Upayanya untuk memenangkan hati Hania justru membongkar berbagai rahasia kelam dari masa lalu perempuan tersebut. Walau takdir akhirnya mempersatukan mereka dalam pernikahan, ujian berat segera datang melanda. Di tengah situasi rumit yang seakan tanpa jalan keluar, akankah cinta mereka bertahan, atau mereka justru memilih menyerah pada garis takdir yang kejam?