APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Potret Sederhana

Potret Sederhana

Kehancuran pernikahan orang tuanya membuat dunia Agni runtuh dan kehilangan harapan. Namun, kehadiran si kembar Bayu dan Banyu membawa titik balik yang membantunya bangkit dari keterpurukan. Di saat Agni mulai menata kembali masa depannya, ia justru dihadapkan pada pilihan sulit di persimpangan jalan kehidupan. Kini, ia harus memilih antara mengikuti cahaya yang menuntun jalannya atau mengepakkan sayap untuk terbang bebas meraih impiannya.
Bab
Bagikan

Bab 2

Agni menghirup udara segar yang timbul dari pepohonan rindang di sekitarnya. Rasanya ia seperti seorang narapidana yang baru keluar dari penjara dan merasakan lagi hidup bebas tanpa belenggu jeruji, belenggu luka yang mendera hatinya. Lama Agni berjalan-jalan di sekitar areal itu hingga akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke bengkel. Motor ninja itu adalah satu-satunya teman seperjuangan yang ia miliki. Setelah ini, mungkin ia akan ikut balapan liar atau semacamnya.

Sesaat setelah ia menyebrang jalan ia melihat cowok berpenampilan nyentrik tadi masih celingukan. Harusnya ia tidak peduli seperti puluhan cowok yang berusaha mendekatinya, tapi ia abaikan. Dan sekarang Agni malah peduli pada cowok aneh di depannya. Cowok itu seperti kutub magnet berbeda yang ditemuinya tanpa sengaja.

"Mau nyebrang?" tanya Agni dan cowok itu kembali terlonjak sambil berjalan mundur satu langkah. "Ya Tuhan, apa semenyeramkan itu muka gue? Gue nggak gigit kok," seloroh Agni asal membuat cowok itu mengangguk samar.

"Ya udah yok gue sebrangin." Agni menarik tangan cowok itu dan tanpa sadar cowok itu telah memotret tangan Agni yang menarik pergelangan tangannya. "Dah sampe, gue balik ya bye!" pamit

Agni yang hendak berlalu, namun cowok itu berhasil menahan pergelangan tangan Agni membuat empunya menoleh ke arahnya. "Ada apaan lagi?"

"Cinta Agniya Rinjani, anak seni ya?" tanya cowok itu sambil menunjuk ID card yang jelas msnggantung acak-acakan di leher Agni.

"Banyu Fardan Agustian, jurusan fotografi." Agni membaca ID card cowok di depannya.

"Panggil aja Banyu."

"Agni."

"Ya udah masuk yuk." Banyu meraih tangan Agni, mengajaknya masuk ke dalam kampus yang letaknya tak begitu jauh dari tepi jalan. Seharusnya Agni berusaha berontak dan pergi ke bengkel mengamhil motornya. Tapi tangan hangat yang begitu lembut itu terasa mengalirkan kembali darah yang semula beku di tubuhnya. Aroma cologne bayi yang sangat kental pada tubuh Banyu justru membuat Agni beberapa kali tersenyum, aroma yang menenangkan.

Di depan gerbang kampus, Agni menghentikan langkah kaki Banyu. Agni tampak ragu untuk masuk. Bukan, bukan karena takut pada senior bermulut ember, tapi Agni sedang malas mencari gara-gara.

"Nyu!" panggil seseorang dari jauh yang membuat Banyu segera berlari menuju ke arah seorang bertubuh agak tinggi darinya dengan kacamata bertengger rapi di hidung mancungnya.

Agni masih terdiam di gerbang kampus. Matanya mengamati Banyu yang sedang berbincang dengan seseorang yang belum pernah ia lihat semasa ospek. Harusnya memang Agni pergi saja daripada ada senior yang melihatnya dan menyemprotnya dengan kalimat bualan tidak bermutu. Tapi tanpa sadar aroma Banyu yang tertinggal membuatnya ingin berdiri di sana, aroma tubuh yang menenangkan kala ia dalam keterpurukan yang sangat dalam.

"Ngelamun aja." tegur seseorang membuat Agni terlonjak.

Agni salah tingkah sendiri saat mendongak dan mendapati seseorang bertubuh tinggi tegap. Iris cokelat gelap yang dilingkupi kacamata memandangnya teduh. Hidung mancung menantang serta bibir tipis yang menyunggingkan senyum, begitu manis. Dia, dia orang yang tadi berbincang dengan Banyu yang sekarang entah ke mana perginya.

"Ada masalah?" tanya cowok di hadapannya membuat Agni tersadar dari lamunannya.

"Eh, ehm eng, enggak kok Kak. Eh, maaf saya, saya ...."

"Terlambat? Nggak papa kok nggak akan dihukum juga. Temennya Banyu ya?"

"I ... Iya, Kak." Agni menjawab dengan gugup. Sumpah demi apapun ia gemetaran. Ini pertama kali seumur hidup ia gemetaran dan gugup berada di hadapan sesosok makhluk bernama cowok. Apalagi tatapan mata teduhnya terasa sampai ke relung hati Agni. Cinta pandangan pertama kah?

"Kenalin saya Bayu, Bayu Arkan Agustian, mahasiswa kedokteran semester enam."

"A ... Agni, Cinta Agniya Rinjani, jurusan seni, iya jurusan seni." Agni menyalami tangan Bayu yang terasa dingin dan juga merasakan sensasi maskulin yang begitu cool dari tubuh cowok di depannya.

"Udah santai aja nggak usah gugup gitu, saya nggak makan orang kok." Bayu melepas salaman dengan Agni dan mengangkat sebelah tangannya untuk mengacak rambut Agni.

Ada debar-debar aneh di dalam sana. Getar-getar yang terasa menggedor-gedor pintu hati. Menyentil-nyentil jantung dan mendorong-dorong paru-paru membuatnya kesulitan untuk bernapas. Kenapa dengannya?

"Bang, Banyu balik deh ya," pamit Banyu yang baru saja kembali setelah dari toilet beberapa saat lalu.

"Ya udah, hati-hati, nanti malem deh ditemenin ke pasar malem." Bayu kemudian menoleh ke arah Agni. "Kamu mau ikut ke pasar malam?" Bayu menawari Agni untuk ikut, dan dengan kaku Agni menganggukkan kepalanya padahal ia sama sekali tidak mengerti apa yang Bayu ucapkan tadi, terlalu gugup.

"Bye Bang, Agni ikut balik?" tanya Banyu dan kali ini Agni masih bersikap seperti robot yang mengikuti ke mana langkah kaki Banyu sampai perlahan aroma menenangkan dari tubuh Banyu membuat kesadarannya kembali sepenuhnya.

"Lo mau ke mana?" tanya Agni.

"Mau ke taman, mau hunting foto. Ikut?" Agni menganggukkan kepalanya tanpa ragu

Mereka berdua berjalan dalam diam. Semua orang yang melihat mereka mungkin bertatapan aneh. Seorang cowok dengan penampilan persis anak playgroup dan seorang cewek berpenampilan persis preman pasar, perpaduan yang tidak masuk akal.

Tak lama mereka sampai di taman dan Banyu beberapa kali memotret sampai lensa kameranya berhenti dan memotret seorang gadis berandal yang tengah duduk cemberut di bangku taman yang panjang.

"Heh jangan fotoin gue!" teriak Agni saat sadar Banyu mulai memotret dirinya.

"Ah nggak papa, masih kelihatan kok di kamera berarti Agni bukan hantu."

"Hish, hapus nggak foto gue." Agni berlari ke arah Banyu dan Banyu terus menjauhkan kamera dari Agni agar gadis itu tak menghapusnya.

"Awsh," rintih Banyu saat tanpa sengaja siku Agni mengenai perutnya.

"Lo kenapa?" Untuk pertama kalinya seumur hidup, Agni merasa khawatir pada seseorang selain ibunya yang sering disiksa oleh ayahnya.

"Ah nggak papa, laper," kilahnya berusaha menutupi sesuatu. "Banyu makan dulu ya, Agni mau ikut?"

"Ke mana?"

"Di pinggir danau buatan sana."

"Ehm oke deh."

Banyu dan Agni pun berjalan menuju tepian danau buatan yang sangat asri. Airnya biru kehijauan dan tampak bayangan pohon tergambar jelas di sana. Agni bahkan bisa melihat pantulan dirinya sendiri saat ia melongok ke air danau yang jernih.

"Gila, baru pertama kali gue ke tempat kaya gini, airnya bening banget."

"Anak rumahan pasti," tebak Banyu asal.

"Enak aja lo, ya kali tampilan gue kaya gini anak rumahan." Agni kembali ke bawah pohon dan duduk di dekat Banyu.

"Berarti anak jalanan."

"Sialan lo, berasa sinetron." Agni menjitak kepala Banyu membuat cowok itu meringis kesakitan. "Eh apaan nih? Lo masih makan bubur? Ya ampun Nyu, lo itu udah gede bentar lagi tua ini makan bubur. Sakit gigi lo?" Agni terbahak.

"Banyu nggak bisa makan nasi."

"Hah becanda lo? Gila aja masak nggak bisa makan nasi aneh lo, kaya alien aja." Agni makin terkikik geli.

"Emang nggak bisa makan nasi, katanya suruh jaga gigi susu."

"Hah lo masih punya gigi susu? Umur lo udah 18 tahun kan Nyu?"

"Iya, Banyu masih punya sepuluh gigi susu."

"Gila! Lo serius."

"Masak Banyu bohong, bohong kan dosa."

"Masa sih nggak percaya gue," ucap Agni dengan wajah kagetnya yang menurut Banyu sangat lucu.

"Dih Agni lucu kalau gitu mukanya." Banyu tertawa dan menampakkan deretan giginya yang rapih, dan juga gigi-gigi susunya. Agni terpana.

Agni merasa aneh, melihat manusia berusia delapan belas tahun masih memiliki gigi susu sedangkan gigi susu sendiri biasanya tumbuh saat anak masih berusia enam sampai tujuh bulan dan akan tanggal lalu berganti dengan gigi tetap pada usia enam sampai dua belas tahun. Angannya mengawang pada sosok kecil dirinya yang dulu bercita-cita menjadi dokter gigi. Agni tersenyum miris melihat dirinya yang sekarang, jauh dari angan-angan bocah polos yang penuh impian.

"Agni, lihat ada kura-kura." Banyu menatap ke sebuah batu yang mencuat ke permukaan air danau.

Suara Banyu membawa Agni dari angan hampa masa lalunya, kemudian gadis urakan itu memandang ke arah yang Banyu pandang. Benar, di atas batu itu dua ekor kura-kura tampak tengah bercengkrama. Bibir kaku Agni melengkungkan senyum dengan begitu mudah. Senyum seindah bulan sabit di gelapnya langit malam.

"Baru pertama kali liat kura-kura ya? Seneng banget kayanya." Banyu mendekat ke arah batu itu dan berjongkok seperti anak kecil yang senang melihat hewan bertempurung itu.

"Lo tau, ini keren Nyu. Selama ini yang gue liat kan cuman jalanan ya pemandangan kaya gini jadi spektakuler." Agni mengikuti langkah Banyu kemudian berjongkok di sebelahnya.

"Pernah kepikiran nggak buat berteman kaya kura-kura?"

"Maksudnya?" Agni mengalihkan tatapan matanya yang berwarna hazel dari danau ke wajah polos Banyu yang tersenyum manis dan menggemaskan ke arah kura-kura itu.

"Meskipun lambat, kura-kura adalah hewan yang berumur panjang dan juga setia kawan. Mau berteman kaya kura-kura sama Banyu?" Banyu mengalihkan pandangan ke arah Agni hingga iris hitam yang tertutup kacamata itu menembus tepat ke hazel milik Agni, membuatnya hampir terlonjak saat Banyu mengacungkan jari kelingkingnya.

Agni masih diam mengamati wajah Banyu. Wajah itu begitu damai apalagi aroma bayi yang menyeruak dari tubuh lelaki polos itu mampu memberinya ketenangan tersendiri. Teman? Iya teman. Satu kata itu, Agni sudah lupa dengan apa yang namanya teman setelah dunia menjungkir balikkan hidupnya. Tanpa sadar jemari Agni terangkat dan jari kelingkingnya teracung menyambut jari kelingking Banyu

"Teman," sahut Agni kemudian jeduanya tersenyum.

Dua orang yang dilihat aneh oleh dunia, kini berteman, seperti kura-kura.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bersama Kita Bangkit Dari Abu
8.0
Saat hamil tua, sebuah truk sengaja menabrak mobilku. Di ambang maut, Kian, suamiku, justru mengabaikan teleponku demi menemani Florence yang mengeluh sakit kepala. Tragedi ini merenggut nyawa bayiku dan menghancurkan karier kakakku sebagai pianis. Pengkhianatan kejam tersebut kini menyalakan api dendam yang membara. Kian mengira kami telah habis, namun kami akan segera bangkit dari abu kehancuran ini untuk membalas semua rasa sakit kami.
Sampul Novel Hari Penikahanku, Adalah Hari Kematianku
8.1
Di hari pernikahan mereka, Bradley tega mengurung Beatrice di ruang bawah tanah yang gelap selama sepuluh hari hingga tewas membusuk. Tragisnya, Bradley justru menikahi Michelle dan memfitnah Beatrice berselingkuh, memicu serangan jantung fatal yang merenggut nyawa ibu Beatrice. Pria itu mengabaikan semua permohonan Beatrice demi membela sahabat masa kecilnya. Namun, saat Bradley akhirnya menemukan jasad Beatrice yang mengenaskan, penyesalan mendalam perlahan menyeretnya ke dalam kegilaan.
Sampul Novel Janjinya, Penjaranya
9.6
Bebas dari penjara setelah tujuh tahun menebus kesalahan Keysha, kakak angkatnya, sang protagonis justru dikhianati. Orang tua kandung dan Dion, tunangannya, tega membuangnya ke gudang kotor demi Keysha. Di tengah penderitaan ini, sebuah email misterius hadir menawarkan pekerjaan dan identitas baru. Kesempatan emas ini langsung ia ambil untuk melarikan diri, siap menyusun rencana demi membalas dendam atas segala rasa sakit yang mereka perbuat.
Sampul Novel Mengejar Cinta Istri
9.4
Ayla Pramudita sangat terluka karena ditinggal pergi saat pernikahan bisnisnya. Setengah tahun kemudian, ia menerima dana misterius dari N.H Group. Rahasia terungkap saat adiknya, Ferdi, magang di sana; pemilik grup itu adalah Wibbi, sang suami. Ayla pun ke Jakarta untuk meminta cerai. Namun, Wibbi menolak dan justru mulai jatuh hati padanya. Di saat yang sama, Abram selaku cinta pertama Ayla datang kembali dan siap membantunya lepas dari cengkeraman Wibbi.
Sampul Novel Menikah dengannya
8.8
Setiap jam lima pagi, Hasna sudah terjaga untuk beribadah dan membantu sang ibu di dapur. Meski kerap menghadapi penolakan kerja hingga belum juga mendapat pekerjaan baru, ia tetap tegar. Namun, ketenangan setelah sarapan mendadak sirna saat ayah dan ibunya mengajak berbicara serius. Hasna pun sangat terkejut ketika orang tuanya menyatakan rencana untuk menjodohkannya dengan seorang pria pilihan mereka.
Sampul Novel PENGANTIN DADAKAN (Menikah Dengan Chef)
8.6
Hidup Cantika berbalik seratus delapan puluh derajat akibat sebuah peristiwa tak disangka. Tanpa ada rencana atau persiapan, ia mendadak dipaksa masuk ke dalam pernikahan kilat yang sangat mengejutkan. Kenyataan baru sebagai istri yang datang tiba-tiba ini membuatnya dilingkupi rasa bingung sekaligus linglung. Kini, Cantika hanya bisa tertegun dan meratapi takdirnya yang berubah drastis dalam sekejap, terikat dalam pernikahan yang tak pernah ia bayangkan.