
Pernikahan yang Tak Pernah Tuntas
Bab 4
Setelah keluar dari rumah sakit, aku langsung membuat janji di internet untuk melakukan aborsi keesokan harinya.
Pukul sepuluh malam, aku baru saja kembali ke apartemen dan berbaring di ranjang, ketika tiba-tiba Nando menghubungiku lebih dulu.
Dia menelpon langsung.
“Kenapa masih ada barang-barang kamu di apartemen ini? Pacarku nggak nyaman lihatnya. Tolong datang ambil.”
Aku menjawab santai.
“Buang aja. Sisanya nggak penting lagi.”
Barang-barang yang memang milikku, semuanya sudah aku bawa saat itu.
Sisanya adalah barang yang tidak sempat terbawa atau yang berkaitan dengan Nando.
Namun dia malah tertawa dingin berkali-kali.
“Itu semua barang kamu, kenapa harus aku yang buang? Cepat ke sini dan ambil sendiri! Kalau nggak, aku laporin kamu karena masuk rumah orang tanpa izin dan mencuri!”
Aku menghela napas, memijat pelipis yang mendadak nyeri.
Untuk pertama kalinya aku merasa Nando ini benar-benar menyebalkan.
Begitu kembali ke apartemennya...
Aku baru melihat, di atas meja tertata rapi semua foto pernikahan dan album kenangan kami selama lima tahun terakhir.
Suaranya terdengar menggoda.
“Rani, dari sini kelihatan jelas kita dulu saling cinta, ya. Siapa tahu nanti aku bisa jatuh cinta sama kamu lagi?”
Aku tersenyum kecut. Tapi senyum itu sama sekali tidak membawa kehangatan.
Detik berikutnya, aku mengeluarkan gunting dan langsung mengarahkannya ke foto-foto itu.
Wajah Nando langsung berubah. Dia buru-buru menjulurkan tangan untuk menghentikanku.
Namun aku tak berhenti.
Tanpa ragu, aku tetap mengayunkan gunting itu. Seketika, sebuah luka menganga berdarah muncul di tangannya.
Terdengar teriakan kesakitan.
Nando memandangku tak percaya.
“Rani! Kamu... kamu berani melukainya pakai gunting?!”
Aku menatap langsung ke matanya dan tersenyum pelan sambil mengangguk.
“Kamu sendiri yang nyodorkan tanganmu!”
“Rani, kamu perempuan benar-benar kejam! Kak Song cuma kehilangan ingatan dan nggak ingat kamu, tapi kamu malah pengin bunuh dia!”
Yurina berjalan mendekat dengan tatapan garang ke arahku.
“Siapa pun yang menikah sama kamu nanti, pasti sial tujuh turunan!”
Tak bisa kupungkiri, ucapan itu sempat menggoyahkan hatiku.
Tapi tanganku tetap bergerak tanpa henti.
Begitu semua foto sudah kupotong menjadi dua bagian, aku mengambil bagian yang ada wajahku.
Mataku menyapu seluruh ruangan sekali lagi, memastikan tidak ada lagi yang berkaitan denganku di tempat ini.
Barulah aku berdiri dan bersiap keluar.
“Di rumah ini sudah nggak ada satu pun barangku. Kumohon jangan ganggu aku lagi!”
Keesokan paginya, aku pergi ke rumah sakit dan ikut antre untuk menjalani operasi aborsi.
Saat aku sudah terbaring di ranjang dan didorong ke ruang operasi, pandanganku tak sengaja menangkap dua sosok di ranjang seberang.
Dua tubuh yang saling menindih.
Dari selimut yang sedikit tersingkap, jelas terlihat mereka tak mengenakan pakaian.
Tangisan Yurina terdengar menyedihkan.
“Kak Nando, ini semua salah kamu. Kamu yang maksa nyobain barang-barang itu. Lihat sekarang? Kita berdua malah masuk rumah sakit. Malunya...”
Nando itu biasanya paling benci perempuan yang suka menangis.
Tapi kali ini dia malah buru-buru memeluk Yurina, menciuminya, dan menghibur dengan suara lembut seolah-olah tak ada orang lain di sekitarnya, sampai Yurina mendesah kesenangan.
“Tenang aja, ada selimut nutupin kok, nggak bakal ada yang lihat. Rasanya malah lebih menegangkan begini, kan?”
Pemandangan itu benar-benar menjijikkan.
Aku memalingkan wajah.
Dokter yang akan menangani aborsi kemudian bertanya seperti prosedur biasanya.
“Nona Rani, kamu sudah yakin mau menggugurkan kandungan ini?”
Aku menutup mata.
“Sudah. Gugurkan saja.”
Namun saat tempat tidurku hendak didorong masuk ke ruang operasi…
Dari arah tak jauh, terlihat wajah Nando yang panik berusaha bangkit.
“Rani! Itu kamu, kan? Kamu yang mau aborsi, kan?!”
“Kamu benar-benar hamil? Anak itu... itu anakku, kan?! Aku nggak izinin kamu menggugurkannya!”
Anda Mungkin Juga Suka





