
Pernah Sakit, Juga Melupakanmu
Bab 5
Kamar rumah sakit menjadi hening total, udara seolah membeku.
Ricky yang tadi masih marah langsung terdiam, tubuhnya menegang. Kalimat itu terus bergema di benaknya.
"Jangan bilang selama ini kalau kamu benar-benar jatuh cinta padanya?"
Jatuh cinta pada Amanda? Mana mungkin!
Dia buru-buru menepis pikiran itu.
Dia buru-buru menolaknya, seolah dengan begitu, dia bisa menghapus semua emosi aneh yang mulai muncul di hatinya.
Selama ini, orang yang dia cintai adalah Luna. Siapa Amanda? Dia hanya alat balas dendam.
Namun kalau memang tidak punya perasaan apa-apa, kenapa saat melihat Amanda hampir diperkosa, kenapa dia bisa begitu marah?
Bahkan waktu dulu Luna digoda pria lain, reaksinya tidak seperti itu!
Semua orang kembali terdiam mendengar ucapannya.
Salah satu temannya menepuk bahu Ricky dan berkata, "Kenapa tidak bilang dari tadi sampai membuat kami panik. Kami pikir kamu benar-benar menyukainya. Sungguh rugi jika sampai terjerumus dalam permainan balas dendam. Luna pasti akan menangis kalau tahu."
Ricky tidak menjawab, hanya menahan emosi aneh dalam dirinya, lalu berkata dingin, "Seumur hidupku, aku tidak akan pernah suka Amanda."
Barulah mereka semua benar-benar tenang dan tertawa lega, "Baik, baik. Dia sudah hampir sadar, kami pergi dulu."
Setelah semua pergi, Ricky berjalan pelan ke sisi ranjang dan menatap Amanda yang masih pingsan.
Wajahnya pucat, alisnya sedikit mengernyit, seolah tidurnya pun tidak tenang.
Tanpa sadar, jari Ricky menyentuh pipinya. Tapi saat menyentuh kulitnya, dia cepat-cepat menarik tangan, seperti tersengat api.
Dia berbalik, berjalan ke arah jendela, menyalakan rokok, dan mengisapnya dalam-dalam, berusaha menenangkan pikirannya yang berantakan.
Ketika Amanda sadar, hanya ada Ricky di ruangan itu.
Dia duduk di tepi ranjang, memegang segelas air. Begitu melihat Amanda membuka mata, dia bertanya pelan, "Bagaimana rasanya? Masih sakit?"
Amanda tidak menjawab, hanya memalingkan wajah, menghindari tatapannya.
Dalam beberapa hari berikutnya, Ricky terus merawat Amanda di rumah sakit.
Namun sesekali dia keluar untuk menerima telepon dan setiap kali kembali, wajahnya selalu membawa ekspresi lembut yang nyaris tak terlihat.
Amanda tahu, kemungkinan besar dia sedang menenangkan Luna.
Kalau dipikir-pikir, saat mereka masih bersama dulu, Ricky juga sering begini, tiba-tiba keluar untuk angkat telepon dan selalu bilang ada urusan.
Dulu Amanda tidak pernah curiga, baru sekarang dia sadar, lawan bicara di ujung telepon itu ternyata Luna.
Dokter datang mengganti obatnya.
Amanda menoleh sekilas dan terkejut melihat seorang dokter muda dan tampan.
Dia sempat terdiam, lalu bertanya pelan, "Bukankah dokter utamaku sebelumnya bukan kamu?"
Dokter muda itu tersenyum ramah, "Iya, itu guru aku. Aku murid magangnya. Hari ini beliau sedang kunjungan, jadi aku yang bantu ganti obat."
Amanda mengangguk, tidak berkata apa-apa lagi.
Dokter muda itu mulai mengganti perban dengan gerakan lembut, tapi wajahnya tampak sedikit memerah.
Sebelum pergi, dia ragu-ragu sejenak, lalu tiba-tiba bertanya, "Boleh … minta kontakmu?"
Amanda terpaku, belum sempat menjawab, Ricky sudah membuka pintu dan masuk.
Tatapannya dingin menyapu dokter muda itu dan suaranya penuh peringatan, "Dia sudah punya pacar. Kamu tidak bisa lihat? Goda pasien, kamu tidak takut kehilangan posisi magangmu?"
Anda Mungkin Juga Suka





