APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Perlindungan yang Menjadi Balas Dendam

Perlindungan yang Menjadi Balas Dendam

Dikhianati sahabat sendiri, Amara terjebak malam penuh gairah di Michigan hingga hamil. Empat tahun berlalu, ia kini merintis hidup baru di New York sebagai dokter bedah bersama Ethan, putranya. Takdir mempertemukannya dengan Damian Sinclair, dokter bedah anak yang aromanya terasa sangat familier. Namun, Damian bukanlah pelindung yang Amara harapkan. Pria itu justru menyimpan dendam masa lalu yang membara dan siap membalaskannya kepada Amara.
Bab
Bagikan

Bab 2

Amara menghela napas panjang, tangannya menggenggam pegangan pintu mobil saat ia menatap jalanan New York yang padat. Lampu kota berpendar di kaca depan, namun hatinya terasa berat. Pekerjaan, Ethan, kehidupan baru-semuanya seakan menuntut lebih dari yang bisa ia beri. Tetapi ada satu hal yang membuatnya semakin waspada: Damian Sinclair.

Tidak ada yang salah secara nyata, tetapi setiap kali ia melihat pria itu di rumah sakit, di kantin, bahkan di lorong, Amara merasakan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan. Sifat Damian yang tenang, setiap kata yang terucap terdengar profesional, tapi selalu ada ketegangan tersembunyi di balik nada bicaranya.

Ketika Amara tiba di apartemennya, Ethan sudah menunggu dengan wajah cemas. "Mama, hari ini sekolahku membosankan," katanya, menaruh tasnya di sofa.

Amara tersenyum tipis, mencoba menyingkirkan rasa cemas yang menumpuk. "Oh ya? Ceritakan padaku, sayang." Ia duduk di sebelah Ethan, memandangi putranya yang lincah, rambut cokelatnya yang sedikit berantakan.

Mereka berbicara sebentar tentang sekolah, teman-teman, dan kegiatan sehari-hari. Ethan tidak tahu bahwa Amara memiliki rahasia yang menakutkan-bahwa seseorang dari masa lalunya kini diam-diam mengawasi setiap langkahnya.

Malam itu, setelah Ethan tidur, Amara menatap dinding apartemennya yang kosong, merasa kesepian meski kota di luar jendela berdenyut dengan kehidupan. Telepon berdering, menampilkan nama seorang kolega: Dr. Lianne Harper.

"Amara, dengar," suara Dr. Harper terdengar tegas di ujung telepon. "Aku mendengar ada seorang dokter baru-Damian Sinclair-yang menanyakan banyak tentangmu. Ada yang aneh. Hati-hati."

Amara menelan ludah. "Apa maksudmu?" tanyanya pelan.

"Aku tidak tahu pasti, tapi perhatiannya tidak biasa. Aku rasa, dia lebih dari sekadar kolega yang tertarik dengan profesionalismemu."

Amara menutup telepon, jantungnya berdebar. Ada sesuatu yang ia rasakan sendiri, tetapi mendengar konfirmasi dari orang lain membuatnya tidak bisa mengabaikan intuisi.

Hari berikutnya, Amara menghadapi situasi yang lebih sulit di rumah sakit. Damian Sinclair ditugaskan untuk memimpin tim operasi bersamanya dalam kasus yang rumit-operasi pada bayi prematur dengan komplikasi serius.

Selama operasi, Damian memberi arahan dengan suara rendah, profesional, tetapi setiap kali matanya menatap Amara, ada kilatan yang membuat kulitnya merinding. Amara harus fokus, setiap gerakan, setiap keputusan, bisa menentukan hidup pasiennya. Tetapi tekanan tambahan-perasaan diawasi, dinilai-membuat tangannya gemetar sesaat.

Setelah operasi selesai, Damian mengajak Amara berjalan keluar dari ruang operasi. "Dr. Amara, kau sangat terampil. Tapi aku penasaran... apakah kau selalu menjaga jarak dengan orang-orang di sekitarmu?" tanyanya tiba-tiba.

Amara berhenti, menatap pria itu. "Aku tidak mengerti maksudmu."

"Terkadang orang seperti kau menyembunyikan terlalu banyak. Aku penasaran," jawab Damian, senyum tipis muncul di bibirnya, tetapi ada sesuatu yang dingin di matanya.

Amara merasa jantungnya berdetak lebih kencang. "Aku hanya ingin profesional di tempat kerja," jawabnya singkat, mencoba menyingkirkan perasaan tidak nyaman yang meningkat.

Di sisi lain kota, Livia-yang kini diam-diam memperhatikan Amara-mengirim pesan:

"Dia ada di dekatmu. Waspadalah. Jangan terlalu percaya."

Amara membaca pesan itu, hatinya kembali berdebar. Ia tahu Livia selalu ingin melindunginya, tetapi kini pesan itu terasa ambigu. Ada peringatan, tetapi tidak ada konteks. Dan Amara tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi antara Damian dan masa lalunya.

Di apartemen, Amara mencoba menenangkan diri. Ia duduk di meja makan, membuka laptop, dan memeriksa dokumen rumah sakit. Ethan tidur di kamar, tapi pikirannya tetap melayang ke Damian. Ada sesuatu yang mengganggu instingnya, sesuatu yang membuatnya merasa waspada bahkan di tempat yang seharusnya aman.

Keesokan harinya, Amara menghadapi situasi yang lebih rumit. Damian meminta bantuan untuk menangani pasien baru, seorang anak laki-laki yang mengalami trauma berat akibat kecelakaan. Orang tua pasien tampak panik, dan Amara harus bekerja cepat untuk menenangkan mereka.

Damian berdiri di sampingnya, memberi instruksi, tetapi matanya selalu menatap Amara. Ada ketelitian dalam tatapannya, tetapi juga sesuatu yang sulit dijelaskan-sebuah rasa ingin tahu yang hampir menakutkan.

Setelah menangani pasien, Amara berjalan ke ruang istirahat. Ia duduk sendirian, menarik napas panjang. Kepala pusing, tubuh lelah, tetapi pikirannya tetap tidak tenang. Ia tahu, Damian Sinclair bukan hanya seorang dokter yang profesional. Ada sesuatu yang tersembunyi, sesuatu yang bisa mengancam ketenangan hidupnya.

Sementara itu, Damian menatap dari koridor. Ia melihat Amara duduk sendirian, terlihat lelah, tetapi ada kekuatan di matanya-sebuah keteguhan yang membuatnya penasaran. Ia tidak akan membiarkan perasaan yang tersisa dari masa lalu menghalanginya, tetapi ia ingin memastikan bahwa Amara merasakan ketegangan yang sama yang dulu menghantui dirinya.

Hari-hari berlalu dengan ketegangan yang meningkat. Damian selalu hadir, selalu memberi komentar, selalu menatap, tetapi tidak pernah secara langsung mengungkapkan niatnya. Amara, di sisi lain, semakin sadar bahwa dirinya sedang berada di bawah pengawasan seorang pria yang tidak bisa ia abaikan.

Pada suatu sore, Amara pulang lebih awal dari rumah sakit. Ethan sedang bermain di balkon apartemen mereka. "Mama, lihat ini!" serunya riang, memegang mainan baru yang ia dapat dari sekolah.

Amara tersenyum, mencoba menyingkirkan perasaan cemas yang menumpuk. Ia merasakan tangannya di bahu Ethan, kehangatan yang membuat hatinya sedikit lega. Tetapi ketika matanya menatap ke jalan di bawah gedung, ia merasa ada sesuatu yang mengintai-sebuah bayangan samar, hampir tidak terlihat, tetapi cukup untuk membuatnya menelan ludah.

Malam itu, Amara duduk di meja belajar, membuka buku catatan operasi, dan mencoba menulis jurnal harian. Tulisannya berantakan, tetapi ia menumpahkan semua kecemasan yang mengganggu pikirannya.

"Damian Sinclair... kenapa aku merasa dia selalu di mana-mana?" tulisnya. "Apa yang dia inginkan dariku? Dan kenapa aku merasa tidak bisa mengabaikannya?"

Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Pesan dari nomor tak dikenal:

"Jangan percaya pada siapa pun. Termasuk orang yang kau anggap sahabat."

Amara menatap layar, hatinya berdebar. Pesan itu terasa seperti peringatan, tapi dari siapa? Livia? Damian? Atau seseorang yang lain? Ia menutup mata, mencoba menenangkan diri, tetapi rasa takut tidak bisa hilang begitu saja.

Malam itu, Amara tidur dengan mata terbuka, pikirannya penuh pertanyaan. Masa lalu, yang ia kira telah terkubur, kini muncul dalam bentuk yang tidak pernah ia duga. Damian Sinclair bukan hanya sekadar dokter baru di kota baru ini. Ia adalah bayangan yang menghantui setiap langkah Amara-dan suatu hari nanti, bayangan itu akan menuntut balas.

Amara menatap kota New York dari jendela apartemennya. Cahaya lampu gedung-gedung tinggi memantul di kaca, menciptakan pola yang berkilau seperti ratusan titik emas yang tak beraturan. Suasana di luar begitu hidup, tetapi di dalam hatinya terasa sunyi. Ia merasa seperti berada di antara dua dunia: dunia nyata yang harus dijalani, dan dunia gelap yang perlahan menyusup dari masa lalunya.

Ethan berlari masuk, membawa skateboard kecil yang baru saja ia beli dari toko di dekat sekolah. “Mama, lihat! Aku bisa melakukan trik baru!” serunya riang.

Amara tersenyum tipis, mencoba menyingkirkan rasa cemas yang tak tertahankan. “Bagus, sayang! Tapi hati-hati, ya,” katanya, matanya mengikuti gerakan Ethan yang lincah.

Namun ketika Ethan melompat-lompat di apartemen, Amara menangkap bayangan samar di cermin dekat pintu—sesuatu yang membuat jantungnya berhenti sejenak. Ia menelan ludah, menoleh, tetapi tidak ada siapa pun. Hanya apartemen kosong, senyap.

Sejak kedatangannya di New York, Amara merasakan ada yang mengawasi, tetapi perasaan ini semakin nyata belakangan ini. Setiap kali ia keluar rumah, ada sensasi bahwa langkahnya diikuti. Setiap kali ia menatap kerumunan di rumah sakit, ada mata yang selalu mencari-cari ke arahnya.

Hari itu, di rumah sakit, Amara menghadapi jadwal yang padat. Seorang pasien anak bernama Noah baru saja masuk dengan kondisi pernapasan kritis. Orang tuanya panik, perawat berlarian, dan Amara harus mengatur semuanya dalam hitungan detik.

Damian Sinclair muncul di sisi ruang ICU tanpa pemberitahuan. Ia mengenakan jas putih, tampak serius, matanya fokus, tetapi ada kilatan yang membuat Amara merasakan sesuatu yang tidak nyaman.

“Dr. Amara, bagaimana kondisinya?” suara Damian rendah, profesional, tetapi setiap kata terdengar seperti tantangan.

Amara mengangguk, tetap fokus pada pasien. “Stabil, tapi kita harus terus memantau pernapasannya. Ada kemungkinan komplikasi.”

Damian menatap, mengangguk perlahan. “Aku bisa membantumu jika perlu.”

Amara tersenyum tipis, mencoba menyingkirkan perasaan tidak nyaman yang meningkat. Namun setiap kali Damian menatapnya, ada sensasi asing yang membuatnya ingin menjauh, tetapi juga merasa tertarik. Sebuah konflik batin yang sulit dijelaskan.

Setelah shift berakhir, Amara pulang ke apartemennya. Ethan menunggu dengan wajah antusias, menanyakan kegiatan di sekolah, teman-temannya, dan pengalaman kecil yang terjadi hari ini. Amara tersenyum, membiarkan dirinya tenggelam sejenak dalam dunia anaknya, tetapi bayangan Damian terus menghantui pikirannya.

Malam itu, saat menidurkan Ethan, Amara duduk di sofa, menatap layar laptop. Ia membuka pesan dari Dr. Harper:

“Hati-hati dengan Damian. Ada sesuatu yang tidak ia katakan. Aku merasa ada motif tersembunyi.”

Amara menarik napas panjang. “Motif tersembunyi… apa maksudmu?” gumamnya. Tetapi tidak ada jawaban. Ia menutup laptop, mencoba menenangkan diri.

Keesokan harinya, rumah sakit menjadi medan intrik baru. Damian meminta Amara bekerja sama dalam seminar medis yang menargetkan kasus anak dengan penyakit langka. Awalnya Amara menolak, tetapi desakan manajemen rumah sakit membuatnya menerima.

Selama seminar, Damian berdiri di sampingnya, memberi komentar yang terdengar profesional, tetapi setiap kata seolah menyimpan lapisan makna yang tidak bisa ia baca. Amara merasakan ketegangan yang berbeda dari sebelumnya. Bukan hanya profesionalisme, tetapi ada sesuatu yang menyelubungi kata-kata Damian—seperti permainan psikologis yang hanya ia yang tahu.

Di tengah seminar, seorang rekan dokter bertanya tentang pengalaman Amara sebelumnya. Damian menjawab sebelum Amara sempat bicara: “Dr. Amara memiliki kemampuan luar biasa dalam menghadapi kondisi kritis anak-anak. Namun ia sangat berhati-hati dalam berinteraksi dengan kolega.”

Amara menatap Damian, sedikit tersentak. Bagaimana dia tahu hal itu? Ia mencoba tersenyum tipis, tetapi hatinya tidak tenang. Damian hanya menatapnya, wajahnya datar, tanpa senyum, seolah mengukir sesuatu di dalam ingatannya.

Di luar seminar, Amara berjalan sendirian ke kantin rumah sakit. Ia membeli kopi panas, mencoba menenangkan pikirannya. Namun matanya menangkap sesuatu—Damian berdiri di ujung lorong, memandang ke arahnya. Amara menelan ludah, mencoba tetap tenang, tetapi jantungnya berdetak lebih kencang.

Damian menoleh sejenak, menatap Amara, lalu berjalan ke arahnya. “Dr. Amara, kau tampak lelah. Ingin duduk sebentar?” tanyanya.

Amara menggeleng, mencoba menyingkirkan perasaan cemas. “Aku baik-baik saja. Terima kasih.”

Tetapi perasaan itu tidak hilang. Malam itu, Amara duduk di balkon apartemen, menatap kota yang tidak pernah tidur. Lampu-lampu gemerlap, tetapi hatinya terasa berat. Ia tahu, Damian bukan sekadar dokter baru. Ada sesuatu yang tersembunyi di balik tatapan dan sikapnya—sesuatu yang tidak bisa ia abaikan.

Hari berikutnya, Ethan pulang dari sekolah dengan wajah muram. “Mama, ada anak di sekolah yang bilang aku harus hati-hati dengan orang dewasa tertentu,” katanya.

Amara terkejut. “Apa maksudmu, sayang?”

Ethan menatap ibunya dengan mata polos tapi serius. “Dia bilang ada orang yang sering mengawasi kita… dan aku pikir itu tentangmu.”

Amara menelan ludah. Ia berusaha tersenyum, menenangkan Ethan, tetapi di dalam hati, ketakutannya meningkat. Ada sesuatu yang sedang terjadi, sesuatu yang melibatkan masa lalunya, Damian, dan mungkin masa depan mereka.

Malam itu, Amara membuka kotak lama yang ia sembunyikan—dokumen dan foto dari malam yang tak pernah ia ingat sepenuhnya. Ia menatap foto itu, merasakan denyut yang familiar dan asing sekaligus. Ia tahu, Damian Sinclair bukan sekadar dokter yang cerdas. Ada hubungan yang tersembunyi, sesuatu yang mengikat masa lalu dan masa kini mereka.

Di sisi lain kota, Damian menatap layar ponselnya. Ia menulis pesan singkat:

“Segalanya akan berjalan sesuai rencana. Dia akan tahu siapa aku sebenarnya… dan rasa sakit yang ia timbulkan dulu akan terasa kembali.”

Kata-kata itu dingin, tanpa emosi yang terlihat, tetapi ada niat tersembunyi yang membakar di dalam dada Damian.

Amara duduk di balkon apartemennya, menatap lampu kota, dan merasakan perasaan yang campur aduk—takut, penasaran, dan tidak bisa menjauh. Ia sadar satu hal: pertemuan dengan Damian Sinclair bukan kebetulan. Dan masa lalu, yang ia kira telah terkubur, kini muncul dalam bentuk yang lebih berbahaya dari sebelumnya.

Di malam yang sunyi itu, Amara menarik selimut di sekitar tubuhnya, menatap Ethan yang tidur dengan tenang, dan berbisik pada dirinya sendiri: “Aku harus melindungi kita… apapun yang terjadi.”

Namun ia tidak tahu, permainan Damian baru saja dimulai. Setiap langkahnya, setiap keputusan, setiap detik kehidupannya akan terikat oleh bayangan pria yang menyimpan dendam dan rahasia kelam masa lalu—dan tidak ada yang bisa menghentikannya kecuali Amara menemukan cara untuk menghadapi bayangan itu sebelum terlambat.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Antara Gengsi dan Hati Yang Tersakiti
8.1
Desainer ambisius Nayara Elvard harus menjalani pernikahan kontrak dengan miliarder dingin yang perfeksionis, Arshen Daveraux. Walau sang suami selalu menjauh dan bersikap kaku, kepribadian Nayara yang ceria justru membuatnya tertantang untuk mendekat. Di tengah benturan ego dan gengsi yang kuat, ia bertekad membongkar ketulusan di balik sikap dingin Arshen. Akankah cinta sejati akhirnya mekar melampaui kesepakatan tertulis yang mengikat mereka?
Sampul Novel Godaan Sang Mantan Pacar
8.6
Pertemuan kembali dengan Leon membawa situasi baru bagi Nisa. Dahulu, pria itu sangat berarti dalam hidupnya, tetapi kini Nisa sama sekali kehilangan ingatannya tentang Leon. Bukannya kasih sayang, Nisa justru menyimpan rasa benci yang kuat dan selalu menghindarinya. Di tengah kondisi yang sulit ini, Leon tidak menyerah dan terus berupaya keras mendapatkan kembali cinta Nisa. Sanggupkah Leon menumbuhkan kembali perasaan yang telah sirna dari memori sang mantan kekasih?
Sampul Novel ISTRIKU YANG MENGGAIRAHKAN(IYM)
9.2
Isabell Fernandez, model terkenal yang menikah dengan CEO Damian Devardo, kehilangan segalanya akibat rencana jahat ibu mertuanya. Usai dilecehkan dan dihempaskan ke jurang, ia tersadar di New York dalam kondisi amnesia. Demi bertahan hidup, Isabell kini bekerja sebagai penari erotis di sebuah bar kasino. Sementara itu, Damian yang didera keputusasaan terus melacak keberadaannya hingga sang anak buah menemukan wanita yang sangat mirip istrinya. Akankah takdir menyatukan mereka kembali?
Sampul Novel Jika Nanti Jatuh Cinta Lagi
8.6
Kegagalan rumah tangga bersama Irina serta pedihnya kehilangan Elvin Eleanor membuat Ervano Bhalendra enggan membuka hati kembali. Chef tampan ini menganggap pernikahan sebagai masa lalu kelam yang harus dikubur dalam-dalam. Namun, keyakinan Ervan goyah setelah dirinya bertemu dengan Magisa Prastiwi. Kehadiran Magisa secara perlahan meruntuhkan sikap dingin Ervan, menuntunnya kembali menemukan keberanian untuk mengejar cinta sejati yang sempat ia lupakan.
Sampul Novel Kebohongan Suamiku Menjadi Kenyataan
8.1
Demi menebus masa lalu, seorang suami berbohong bisa melihat sisa umur orang. Ia mengklaim cinta pertamanya hanya punya tujuh hari lagi, sedangkan istrinya masih puluhan tahun. Sang istri diam saat suaminya membawa wanita itu pulang, bernostalgia, hingga menggelar pernikahan megah dengan dirinya sebagai pengiring. Ia bahkan rela pindah ke kamar tamu bersama anaknya. Sang suami berjanji menebusnya nanti, tanpa tahu justru istrinya yang mengidap kanker dan akan wafat dalam tiga hari.
Sampul Novel Putrinya, Kesalahannya
9.0
Lima tahun menghilang, Austin Rogers kembali membawa anak haram bangsawan. Demi meredam amarah Ratu Slaka akibat putrinya terluka, Austin dan Rosita tega mengurung Joanna di ruang uap penuh lintah. Mereka menuduhku cemburu dan ingin merusak kesuksesan mereka. Namun, skenario kejam ini akan menjadi bumerang. Austin tidak sadar bahwa anak yang disiksa di sana bukanlah putriku. Kini, sebuah pembalasan yang mematikan siap menghancurkan mereka.