APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Perjuangan Cinta yang Pernah Hilang

Perjuangan Cinta yang Pernah Hilang

Demi melindungi nyawa Ararya Chandrika Dewi dari tragedi, Devandra Pradipta Atmaja terpaksa tunduk pada perintah Himawan, ayahnya. Devan pun pergi kuliah ke luar negeri dan memutus kontak selama tiga tahun. Namun sekembalinya ke tanah air, rencana baru sang ayah justru kembali mengancam hubungan mereka. Di tengah trauma masa lalu yang kelam dan berdarah, sanggupkah jalinan asmara Devan dan Ara tetap bertahan tanpa adanya restu orang tua?
Bab
Bagikan

Bab 3

Devan masuk kedalam rumahnya tanpa mengucapkan salam. Remaja itu berlarian didalam rumah hingga menimbulkan suara gaduh. Ibunya yang sedang duduk bersantai diruang televisi, merasa terkejut dibuatnya.

"Ma! Papa mana?" tanya remaja itu kepada ibunya.

Sundari ibu dari Devan melebarkan matanya ketika melihat pakaian anaknya. Sampai tidak menjawab pertanyaan putranya. Sundari malah berteriak histeris.

"Devan! Baju kamu kenapa? Itu kenapa merah semua. Astaga Devan!" serunya.

Sundari berjalan dengan tergesa-gesa mendekati Devan.

"Devan gak punya banyak waktu, Ma. Papa mana?"

Devan terlihat gelisah ketika ibunya tidak memberitahukan keberadaan ayahnya.

"Papa mu di ruangan kerjanya," ucap Sundari.

Devan segera bergegas menuju ruangan kerja ayahnya. Hanya membutuhkan waktu beberapa detik saja. Kini Devan sudah mencapai ruangan kerja ayahnya.

"Pah!" panggil Devan dengan suara panik.

Remaja itu masuk kedalam ruangan ayahnya, tanpa mengetuk pintu terlebih dulu. Tentu saja membuat ayahnya terkejut.

"Ada apa?" tanya ayahnya dengan dingin.

Himawan sudah tahu apa tujuan putranya itu. Namun, lelaki itu pura-pura tidak tahu.

"Pah, Ara kecelakaan," ungkap Devan.

Himawan terlihat sibuk mengamati dokumen ditangannya.

"Lalu? Untuk apa kamu memberitahu Papa?" tanya Himawan dengan acuh.

"Devan butuh bantuan Papa. Ara harus dioperasi, Pa. Ayah dan Bunda tidak mungkin punya uang sebanyak itu.

"Tolong Ara, Pah. Devan mohon!"

Remaja itu menatap ayahnya penuh harap. Sementara Himawan masih diam.

"Berapa banyak uang yang kamu butuhkan?" tanya Himawan.

Devan merasa ada harapan ketika mendengar pertanyaan ayahnya. Remaja itu segera memberitahu ayahnya.

"Lima puluh juta, Pah."

Remaja itu berharap sekali ayahnya bisa memberikan pinjaman uang.

"Apa yang akan Papa dapatkan jika memberikan uang itu kepadamu?" tanya Himawan tanpa perasaan.

"Apa maksud Papa?"

Devan pun bertanya pada ayahnya itu. Mengapa ayahnya bicara seperti itu. Bukankah ayahnya adalah seorang pengusaha sukses. Bahkan Devan tahu betul. Saat ini perusahaan ayahnya itu sudah merambah ke mancanegara.

"Lima puluh juta itu bukanlah uang yang sedikit, Devan."

Himawan meletakkan dokumennya. Ia menatap wajah putranya dengan serius.

"Papa tidak bisa memberikannya secara cuma-cuma." Himawan menjelaskan kepada putranya itu.

"Devan akan meminjamnya, Pa. Devan akan mengembalikannya!" ucap Devan dengan sungguh-sungguh.

Namun, ucapan remaja itu hanya disambut dengan kekehan kecil dari sang ayah.

"Kamu tidak perlu melakukannya. Asalkan kamu menuruti semua perintah Papa. Bukan hanya uang lima puluh juta yang akan Papa berikan.

"Tapi seluruh biaya rumah sakit sampai kesembuhan temanmu itu ... akan Papa tanggung semuanya."

Devan tidak tahu apa sebenarnya rencana ayahnya itu. Tapi, mendengar penuturan ayahnya membuat harapan Devan kian bertambah besar. Tanpa rasa ragu, remaja itu kembali bertanya pada ayahnya.

"Apa yang harus Devan lakukan, Pa? Katakan saja, Devan akan menuruti semua keinginan Papa."

Devan berucap dengan sungguh-sungguh. Dalam benaknya saat ini, yang terpenting adalah keselamatan dan kesembuhan Ara.

"Tanda tangani surat perjanjian itu!"

Himawan melempar sebuah map keatas meja. Tepat dihadapan putranya itu. Tanpa banyak berpikir panjang, Devan segera membubuhkan tanda tangannya. Remaja itu juga tidak membaca isi yang tertulis dalam lembaran kertas yang ditanda tanganinya.

Himawan mengangkat sudut bibirnya, ketika melihat putranya menanda tangani isi map yang dilemparnya.

"Sudah, Pa."

Devan menyerahkan map itu kepada ayahnya.

"Sekarang kamu bersiaplah. Kemasi pakaianmu. Akan ada yang menjemputmu beberapa jam lagi."

Devan mengerutkan keningnya. Merasa bingung dengan perintah ayahnya. Pasalnya ayahnya sudah berjanji akan memberikan uang padanya. Tapi, kenapa ayahnya menyuruhnya untuk berkemas?

"Ayah akan mengurus semua biaya rumah sakit sahabatmu itu. Sekarang bersiaplah untuk pergi ke airport.

"Penerbanganmu sekitar satu jam lagi."

Deg.

Apa yang Himawan ucapkan bagaikan sebuah pukulan kuat di dada Devan.

"Airport?" ulang Devan, yang dijawab dengan anggukan kepala oleh ayahnya.

"Bukankah kamu sudah berjanji. Akan menuruti semua perintah Papa. Kamu juga sudah menandatangani surat perjanjiannya.

"Kamu bisa membacanya jika kamu masih belum paham. Tapi, meskipun kamu membacanya. Sekarang kamu tidak bisa lagi untuk mundur. Karena coretan tanganmu sudah tertera disana!"

Himawan pergi meninggalkan putranya yang masih mematung. Ketika berada diambang pintu. Himawan menghentikan langkahnya.

"Cepatlah berkemas! Waktumu tidak banyak. Ingat ... keselamatan Ara ada di tanganmu!"

Himawan segera berlalu dari sana. Meninggalkan putranya dalam pukulan terberat di hidupnya.

"Bagaimana mungkin? Kenapa Papa begitu tega sama aku?"

Air mata Devan mengalir begitu saja. Ketika remaja itu membaca isi map yang ditanda tanganinya. Remaja itu tidak menyangka. Jika ayahnya telah mendaftarkan pendidikannya keluar negeri.

Disaat Ara sedang terbaring dirumah sakit. Devan harus pergi jauh. Meninggalkan Ara sendirian didalam kesakitan.

Devan terisak didalam ruangan kerja ayahnya. Bahunya bergetar karena tangisannya. Tubuhnya luruh kelantai. Tidak lagi berdaya melawan kehendak ayahnya.

Devan hanya bisa menumpahkan segala kesedihannya dalam tangisan.

"Devan," panggil ibunya dengan suara lembut.

Sundari mengulurkan tangannya, untuk menyentuh bahu putranya yang bergetar.

"Kenapa Papa tega melakukan ini sama Devan, Ma?" tanya Devan disela isakan nya.

"Apa salah Devan, Ma? Ara sedang terbaring dirumah sakit. Dia pasti kesakitan disana. Tapi kenapa Papa malah menyuruh Devan keluar negeri?

"Tidak bisakah Devan pergi setelah Ara sadar? Supaya Devan bisa pamit sama Ara."

Sundari merasa iba dengan putranya itu. Kedekatan putranya dengan gadis bernama Ara itu tidak terpisahkan. Sundari bahkan sangat mengenal kedua orang tua gadis itu.

Akan tetapi karena persahabatan Devan dengan Ara yang begitu erat. Membuat remaja itu sulit dikendalikan. Oleh karena itu, Himawan menggunakan kesempatan ini. Supaya putranya mau menuruti semua perintahnya.

"Jika Papa tidak memberikan kamu kesempatan bertemu dengan Ara. Kamu bisa meninggalkan pesan untuknya."

Sundari memberikan sebuah saran kepada putra kesayangannya itu.

"Bagaimana caranya, Ma?" tanya Devan dengan polosnya.

Sundari tersenyum sambil mengacak rambut putranya.

"Kamu ini udah lulus SMA. Hal seperti ini aja masih gak ngerti juga," ucap Sundari dengan gemas.

"Dengan surat 'lah, Sayang! Kamu bisa menuliskan surat untuk Ara. Nanti biar Mama yang kasih ke Ara nya langsung. Bagaimana?"

Sundari tersenyum kepada putranya. Devan pun mengangguk dengan semangat. Tapi, remaja itu tiba-tiba kembali murung.

"Ada apa lagi?" tanya Sundari.

"Devan 'kan harus berkemas, Ma."

Remaja itu bicara dengan wajah lesu.

"Sudah, biar Mama yang packing baju kamu. Sekarang kamu mandi, habis itu buat suratnya secepat mungkin. Sebelum orang suruhan Papa mu datang!"

Sundari segera menggiring putranya itu pergi. Devan pun menurut, remaja itu segera membersihkan diri. Selesai mandi, Devan segera berpakaian. Setelah itu, remaja itu segera menuliskan surat.

Devan mencurahkan permintaan maafnya kepada Ara didalam surat itu. Remaja itu memberitahu Ara tentang kepergiannya keluar negeri. Devan mengatakan kepada Ara, bahwa ia pergi atas perintah ayahnya.

"Tunggu aku kembali. Aku akan mengajakmu berlibur. Seperti janjiku padamu. Kita akan pergi ke Paris bersama-sama. Melihat indahnya menara Eiffel."

Devan telah selesai menuliskan kalimat terakhirnya. Remaja itu segera melipat dan memasukkannya kedalam amplop.

Devan memberikan amplop surat berwarna merah muda itu kepada ibunya. Bertepatan dengan orang suruhan ayahnya datang.

Remaja itu memeluk ibunya sambil mengucapkan kata perpisahan.

"Sampaikan permintaan maaf Devan untuk Ara, Bunda dan juga Ayah."

Remaja itu berbisik pelan pada ibunya. Sundari menganggukkan kepalanya.

"Kamu harus semangat. Tunjukan kepada Papa kalau kamu bisa. Buat Papa mu bangga dengan keberhasilan mu.

"Ingatlah, Ara pasti akan bangga. Ketika melihat pencapaianmu yang luar biasa. Kamu harus semangat! Demi Ara!"

Sundari menjadikan Ara sebagai penyemangat putranya itu. Berharap Devan tidak berkecil hati ataupun kembali bersedih.

Devan masuk kedalam mobil bersama orang suruhan ayahnya. Sundari melepas kepergian putranya dengan sendu. Pasti sangat sulit menjadi Devan.

"Semoga kamu berhasil, Nak. Mama yakin ... kamu pasti bisa!" gumam Sundari.

~~~~

Bersambung ....

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Dikira Selingkuhan Kakakku
8.3
Akibat panggilan sayang dan kiriman uang dari kakaknya, seorang gadis dituduh sebagai wanita simpanan oleh calon kakak iparnya. Kelompok perundung mendatangi rumah barunya, merusak bangunan tersebut, merobek pakaiannya, dan memotretnya dengan kartu pelajar untuk mempermalukannya di forum kampus. Namun, situasi berbalik menegangkan ketika sang kakak tiba. Menatap adiknya yang ditindas, amarahnya meledak dan ia siap membalas siapa saja yang mengusik keluarganya.
Sampul Novel Because of Mistake
9.6
Salah paham fatal membuat Eudora disiksa tanpa ampun oleh Legolas yang dendam. Penderitaan berat ini membuat Eudora putus asa dan mendambakan kematian. Saat fakta terungkap bahwa Eudoralah penyelamat hidup Legolas di masa lalu, penyesalan pun datang terlambat. Kini, hati Eudora telah dipenuhi kebencian dan kekecewaan yang mendalam. Akankah hubungan mereka berakhir menjadi musuh abadi, atau justru ada ruang bagi cinta untuk tumbuh kembali?
Sampul Novel DENDAM DAN CINTA KING MAFIA
9.6
Albern Barnard, pemimpin mafia asal Italia, menyamar jadi pebisnis di Indonesia demi memburu pengkhianat bernama Reno. Dendam atas kematian kakaknya terbayar lunas saat Albern mengeksekusi Reno di hadapan Harnum, istrinya yang sedang hamil tua. Kejadian tragis itu membuat Harnum keguguran akibat pendarahan hebat. Bukannya kasihan, Albern malah menyekap Harnum di sebuah rumah hutan tua dan terus menyiksanya demi meluapkan kebencian yang membara.
Sampul Novel Guru Tampan Seorang Yakuza
8.1
Demi membalas dendam atas kematian orang tuanya yang tewas secara licik, Akeno Taoka menyamar. Anggota Yakuza dari klan Barakujaga ini menjadi guru SMA di Tatsuno demi mendekati Reina Akinara. Reina adalah putri dari Tuan Kudesai, pemimpin klan musuh yang jadi targetnya. Namun, di tengah misi rahasia tersebut, sebuah fakta mengejutkan tentang identitas asli Reina mendadak terungkap. Akankah dendam Akeno tetap membara, atau ia justru luluh oleh pesona targetnya?
Sampul Novel Kaum Terakhir (Pembalasan Dendam)
8.8
Demi kedamaian abadi, dunia menuntut pemusnahan total kaum kegelapan. Di tengah kerumunan yang haus darah, seorang gadis dirantai erat, menghadapi kebencian massa yang menginginkan kematiannya. Sorak amarah terus mendesak agar nyawanya segera dilenyapkan. Namun, saat eksekusi mati tampak tak terelakkan, sebuah teriakan tegas memecah keputusasaan. Sosok penyelamat tiba-tiba muncul membela sang ratu, mengubah takdir tragis yang semula sudah berada di depan mata.
Sampul Novel Ketika Dokter Menentang Perwira
7.8
Dokter ortopedi gila kerja, Nayra Adeline, tewas kelelahan setelah operasi 48 jam. Ia mendadak terbangun di Bandung tahun 1975 dalam tubuh Ratri Larasati, perempuan malas bertubuh tambun yang dibenci di asrama militer. Nayra pun harus menghadapi sikap dingin suaminya, Kapten Ardan Wicaksana, yang enggan menyentuhnya akibat reputasi buruk Ratri. Di tengah segala keterbatasan masa lalu, ia berjuang keras demi memperbaiki kehidupan barunya.