
Perjanjian Panas dengan Kakak Muridku
Bab 1
Yerin Anindya, seorang guru BK di sebuah sekolah swasta elit, harus menangani murid nakal bernama Bastian Miles Jarvis. Namun di tengah usahanya itu, ia harus bertemu dengan kakak Bastian yaitu Arseno Jonathan Jarvis--Presdir dari Skyline Corporation--yang arogan dan menciumnya di depan seluruh keluarga Jarvis! Tak hanya itu, Arseno bahkan mengklaimnya menjadi calon istrinya. Lantas, apa yang akan dilakukan Yerin?
Yuk langsung baca aja.
Chapter 1
Yerin Anindya adalah guru BK pindahan Gallaxy High School semenjak beberapa bulan lalu. Selama itu, ia sudah menyaksikan berbagai pelanggaran murid; dari bolos kelas, diam-diam merokok di gudang belakang, kabur dari sekolah, sampai berkelahi.
Hari itu, pengalaman Yerin kembali diuji. Dari laporan seorang siswi, ia mendengar ada perkelahian di sebuah kelas, jadi ia pun bergegas ke sana.
“Bastian Ravindra Jarvis, lagi-lagi kamu!?” seru Yerin begitu melihat dua siswa yang sedang berkelahi.
Bastian Ravindra Jarvis, murid yang paling sering Yerin awasi sejak hari pertama. Reputasinya sudah lebih dulu menyebar: pembuat onar, paling sering melanggar aturan, tapi entah kenapa sekolah tetap mempertahankannya.
Merasa tidak baik ocehannya menjadi tontonan satu sekolah, Yerin langsung membawa Bastian dan satu siswa yang berkelahi dengannya ke ruang BK. “Jadi, kenapa kalian bertengkar?”
Namun, dua siswa itu tidak menjawab, hanya diam selagi memalingkan wajah ke arah yang berbeda.
Tahu tidak akan ada yang bicara, Yerin pun menghela napas kasar. “Baik. Kalau kalian tidak mau menyelesaikan masalah dengan kepala dingin, ibu akan panggil orang tua kalian masing-masing ke sini.”
“J-jangan, Bu,” sahut Vando—murid yang bertengkar dengan Bastian—dengan cepat, suaranya terdengar panik.
“Kalian berkelahi. Itu pelanggaran berat, orang tua kalian harus tahu,” tegas Yerin.
Bastian tiba-tiba berdiri, kursinya bergeser ke belakang dengan berisik.
“Kamu mau ke mana, Bastian?” tanya Yerin, menatapnya lurus.
“Sudah selesai, ‘kan? Sudah capai kesimpulan. Tidak ada gunanya lagi saya masih di sini,” jawabnya dingin.
“Tunggu sebentar.” Yerin berdiri. Tatapannya beralih ke Vando. “Kamu ke UKS sekarang. Lisa akan mengobatimu di sana.”
Vando terkejut. Tidak menyangka guru ini tahu tentang pacarnya. Namun, tidak ingin membuang waktu berada di ruangan yang sama dengan Bastian, dia pun langsung pamit dan pergi.
Begitu pintu ruangan tertutup, Yerin beralih pada Bastian.
“Kamu, kemari,” titahnya, memerintahkan Bastian untuk duduk di sofa samping meja selagi dirinya meraih kotak P3K. “Bilang kalau sakit,” ucap Yerin sambil mulai membersihkan luka di sudut bibir Bastian.
Walau lukanya cukup parah, tapi pemuda itu hanya diam bergeming, seperti sudah biasa.
Setelah hening sekian lama, akhirnya Yerin buka suara. “Kamu terus berkelahi bukan karena sekadar iseng. Kamu sengaja. Kenapa?”
Bastian mendengus, lalu membuang wajah. “Bukan urusan Ibu.”
Yerin melirik Bastian sesaat. Pemuda itu tampan, bahkan dengan penampilannya yang urak-urakan. Tidak cuma itu, dia juga adalah pemimpin tim basket, dan bahkan berhasil membawa pulang piagam untuk sekolah. Tidak heran bahkan dengan reputasinya sebagai berandal, banyak murid wanita yang tetap berusaha menarik perhatiannya.
“Ibu adalah orang tuamu di sekolah. Pun tidak bisa memberikan solusi, tapi paling tidak Ibu bisa berusaha menjadi tempatmu menumpahkan amarah, bukan?”
Bastian tersentak. Dia langsung menatap Yerin dengan alis tertaut. Perempuan ini….
Sadar hampir terbuai, Bastian kemudian mendengus. “Orang tua saya sudah meninggal sejak saya lahir, dan keluarga saya menganggap saya pembawa sial. Kalau Ibu juga tidak mau terkena sial, sebaiknya Ibu jaga jarak dengan saya.”
Usai mengatakan itu, Bastian menyadari Yerin sudah selesai mengobati dirinya. Dia pun beranjak dari sofa, lalu berkata, “Karena sudah selesai, saya bisa kembali ke kelas sekarang, ‘kan?”
Yerin menatap Bastian, berharap pemuda itu bersedia membuka sedikit hatinya. “Bastian ….”
“Terima kasih, permisi.” Lalu, Bastian pun meninggalkan ruang BK tanpa menoleh lagi.
Setelah ditinggalkan oleh Bastian, Yerin menghela napas panjang. Namun, kalimat Bastian tadi layaknya petunjuk di gurun. Ternyata, alasan pemuda itu terus melanggar aturan … adalah karena keluarganya tidak ada yang peduli padanya? Karena dia dianggap pembawa sial atas kematian orang tuanya?
Yerin menggelengkan kepala, merasa ini sangat konyol. Dia pun gegas berjalan ke mejanya untuk mengecek daftar catatan wali siswa.
Terlepas apa yang terjadi dengan keluarga Bastian, tapi Yerin selaku guru BK memiliki tanggung jawab untuk memandu siswanya. Dan saat ini, dia tahu bahwa hanya anggota keluarga Bastian yang bisa memberikan jalan keluar!
Demikian, Yerin bertekad untuk menuntaskan masalah ini.
Namun, saat melihat nama wali Bastian, Yerin membeku sesaat.
Kakak Bastian … ternyata adalah presiden direktur Skyline Corporation. Perusahaan mancanegara yang menguasai hampir sebagian besar ekonomi negara!
Alis Yerin tertaut. Tidak heran selama ini tidak ada yang menyentuh Bastian terlepas dari segala pelanggarannya. Ternyata … kakaknya adalah orang yang begitu penting.
Antara yakin dan ragu, akhirnya Yerin tetap menekan tombol panggil.
Saat panggilan terhubung, Yerin langsung berkata dengan hati-hati, “Halo, dengan Skyline Corporation, saya—”
“Dari Gallaxy High School, bukan?” Suara seorang perempuan di seberang dingin dan tegas. “Kalau ini tentang Tuan Bastian, maka Tuan Arsen tidak punya waktu. Permis—”
“Tunggu.” Yerin memotong. Matanya menajam.
Kalau ini cara bermain pihak keluarga Bastian, maka Yerin juga tidak akan sungkan.
“Sampaikan pada kakak Bastian: sekali ini saja, tolong ulurkan tangan untuk adiknya. Datang ke sekolah dan bicara dengan saya apabila dia memang seseorang yang bertanggung jawab,” ucapnya tegas, sebelum kemudian memutus panggilan.
Sementara itu, di kantor mewah tersebut, sang sekretaris terperangah, tidak menyangka panggilan telepon itu dimatikan begitu saja.
Tepat pada saat tersebut, pintu kantor di dekatnya terbuka. Seorang pria berpostur tegap keluar dari ruang kerjanya. Jas hitamnya rapi, dasinya terikat sempurna. Ia berhenti di depan meja sekretaris.
“Siapa tadi?” suaranya dalam, penuh wibawa.
“Telepon dari Gallaxy High School, Sir.” Sekretarisnya menunduk sopan.
“Anak itu berulah lagi?” tanyanya datar.
“Guru perempuan yang menelepon bilang: sekali ini saja, tolong Tuan ulurkan tangan untuk Bastian. Datang ke sekolah dan bicara dengannya apabila … Tuan memang seseorang yang bertanggung jawab.”
Pria itu terdiam sejenak. Cahaya lampu kantor memantul di matanya yang tajam.
Arseno Jonathan Jarvis—orang-orang memanggilnya Arsen—terdiam dengan tangan di dalam saku.
“Sepertinya aku harus datang,” ucapnya membuat sang sekretaris terkejut.
Namun, kemudian mata Arsen memancarkan aura dingin mengerikan. “Dari caranya berbicara, kentara bahwa wanita itu sedang menantangku.”
Chapter 2
Pertama kalinya dalam sejarah, seorang Arsen menjejakkan kaki di Gallaxy High School. Sepasang sepatu kulit hitamnya berderap mantap di lantai marmer. Kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku celana, sementara kacamata hitam bertengger di hidung.
Berjalan dengan dagu yang terangkat. Ia sampai di ruangan kepala sekolah.
“O-oh, Tuan Arsen datang?” sapa Pak Bhanu terbata-bata, mencoba tetap ramah. “Silakan masuk.”
Arsen duduk di sofa tanpa banyak bicara. Tubuhnya santai, tapi auranya membuat ruangan terasa sesak.
“Kenapa Anda datang, Tuan Arsen?” tanya Pak Bhanu hati-hati, jelas tidak tahu apa-apa.
Arsen melepas kacamata hitamnya. Tatapannya tajam menusuk. “Guru Anda meminta saya datang.”
Pak Bhanu terkejut. Dia sama sekali tidak tahu!
Biasanya, guru BK akan melapor dulu padanya saya sebelum menghubungi Arsen, tapi kali ini tidak ada informasi sama sekali!
Melihat keterkejutan di wajah Pak Bhabu, Pak Rudi, guru BK senior, berucap dengan suara hati-hati, “M-mungkin Bu Yerin, Pak,” dia memaksakan senyuman, “Saya memang menugaskannya menangani Bastian.”
“Cepat panggil dia!” perintah Arsen sambil mengibaskan tangan, nada angkuh jelas terdengar.
Tak lama, suara ketukan terdengar di pintu.
TOK TOK!
Yerin masuk. Jantungnya sempat berdegup lebih kencang setelah mendengar bahwa ini pertama kalinya kakak Bastian benar-benar datang.
Pandangan Yerin bertemu dengan sosok pria itu. Sejenak ia ingin mengagumi paras Arsen yang bahkan melampaui aktor papan atas: tampan, berwibawa, mempesona. Sayang, dari gerak-gerik dan tatapannya, terlihat jelas betapa arogannya pria itu.
“Bu Yerin yang memanggil Tuan Arsen?” tanya Pak Bhanu.
“Iya, Pak,” jawab Yerin mantap. “Karena Bastian kemarin berkelahi dengan teman sekelasnya. Saya juga memanggil wali Vando.”
“Kenapa tidak meminta izin dulu?!” suara Pak Bhanu meninggi, jelas kesal karena Yerin bertindak tanpa laporannya.
Kening Yerin berkerut. “Saya hanya melakukan sesuai prosedur sekolah. Jika ada murid yang berkelahi, maka wali mereka wajib dipanggil. Hukuman paling ringan adalah membersihkan toilet selama seminggu, dan paling berat adalah skors,” jelas Yerin tenang.
Pak Bhanu menghentakkan kaki. “Lalu, kenapa tidak lapor dulu pada saya?!” Tangannya sempat terangkat, tapi ia urungkan saat mengingat Arsen ada di sana juga.
“Di prosedur tertulis jelas, guru BK punya wewenang memanggil wali murid tanpa harus menunggu persetujuan kepala sekolah,” sahut Yerin.
“Tapi—” Pak Bhanu mendekat, wajahnya tegang selagi dia berbisik pada Yerin, “Ini berbeda, Bu! Yang Ibu panggil adalah Tuan Arseno Jonathan Jarvis! Presdir Skyline sekaligus donatur terbesar sekolah ini! Anda tidak bisa main-main! Mengerti?!”
Yerin menghela napas. “Saya mengerti posisinya, Pak. Tapi tidak dengan bagian kenapa dia berbeda. Kalau murid melanggar aturan, dia harus ditindak, dan wali harus tahu agar permasalahan yang sama tidak terulang lagi.” Lalu, dia menambahkan, “Bapak tenang saja. Saya tidak akan mempersulit sekolah. Biarkan saya tangani ini.”
Pak Bhanu hanya bisa memijit keningnya, pusing. Belum pernah ada guru yang terang-terangan melawannya seperti ini. Ia kehabisan kata-kata.
Sementara itu, Arsen yang sejak tadi hanya mengamati mendengus dingin. Matanya melekat pada sosok Yerin.
Wanita itu memang cantik, tapi baginya terlalu sok bijaksana, dan hal itu membuatnya muak.
“Apa kalian akan terus berdebat di depan saya?” tanyanya dingin. Ia melirik jam tangannya. “Waktu saya terbuang percuma di sini.”
Pak Bhanu makin panik. “Bu-bukan begitu—”
Arsen sudah berdiri, langkahnya tenang namun penuh tekanan. Ia mendekati Yerin, jarak mereka kini hanya sejengkal.
“Anda ingin bicara dengan saya, bukan?” suaranya rendah, tapi mengintimidasi.
Kaget dengan gerakan Arsen yang tiba-tiba, Yerin spontan mundur setapak. Namun, ia tetap mengangguk. “Iya.”
Melihat Yerin tidak terintimidasi, sudut bibir Arsen sedikit terangkat. “Kalau begitu, ayo kita bicara.”
Chapter 3
Setelah bicara dengan wali kedua murid, keputusan pun diambil. Sebagai hukuman, Vando dan Bastian akan membersihkan toilet selama seminggu.
Orang tua Vando menerima keputusan itu dengan lapang dada, lalu berpamitan pada Pak Bhanu dan para guru.
Saat Arsen, yang sejak tadi hanya diam dengan wajah datar, berdiri dari kursi, Yerin menghentikannya.
“Tuan Arsen, tunggu sebentar.”
Arsen menoleh setengah badan, alisnya terangkat seolah tak suka ditahan.
“Ada yang ingin saya bicarakan,” lanjut Yerin, nadanya tetap tenang. “Tentang Bastian.”
Arsen menatapnya sejenak, kemudian kembali ke kursi dengan gerakan malas. Ia duduk bersandar, menyilangkan kaki, jelas-jelas menunjukkan sikap arogan.
“Bicaralah cepat,” katanya datar.
Yerin menarik napas dalam, lalu membuka buku catatan pelanggaran. “Bisa dilihat di sini.”
Satu halaman penuh berisi nama Bastian, deretan panjang pelanggaran yang tercatat sejak awal semester.
“Bastian sudah terlalu sering melanggar aturan sekolah,” ucapnya tegas.
Arsen membuka kacamata hitamnya. “Lalu? Anda ingin saya bilang padanya agar berhenti membuat onar? Apa Anda pikir saya tidak pernah mencoba?”
“Bukan itu,” Yerin menggeleng pelan. “Yang dia butuhkan bukan teguran, melainkan dukungan.” Dia menutup bukunya. “Daripada hanya berkata ‘jangan berkelahi’ atau ‘jangan melanggar aturan lagi’, tanyakanlah bagaimana sekolahnya, apa yang ingin dia lakukan dengan masa depannya.”
Arsen menyandarkan punggung, nada suaranya dingin. “Kenapa aku harus melakukannya? Aku bahkan tidak menganggapnya adikku.”
Yerin agak terkejut. Pria di depannya ini secara terbuka mengakui hal tersebut, bukankah ini keterlaluan!?
Akan tetapi, Yerin berusaha tenang.
“Benar, mungkin Anda tidak menganggapnya adik. Tapi Bastian menganggap Anda kakaknya,” ucap Yerin, membuat Arsen sedikit terkejut. “Mungkin Anda tidak menyadarinya, tapi … kedatangan Anda ke sekolah sudah cukup membuatnya senang.”
Yerin mengingat bagaimana pancaran mata Bastian sempat bersinar ketika menyadari sang kakak datang ke sekolahnya. Walau hanya sekilas, karena setelahnya pemuda itu langsung menghindar dari area ruang BK.
Menarik napas, Yerin berkata, “Kedatangan Anda baginya … adalah bukti bahwa ada keluarga yang peduli.” Dia menatap Arsen mantap. “Untuk itu, saya mohon, bimbing Bastian. Bukan dengan kemarahan, tapi perhatian.”
Arsen sempat terdiam untuk sesaat. Tapi, kemudian dia mengembuskan napas kasar, mengenakan kembali kacamatanya, lalu berdiri. “Saya harus pergi.”
“Tunggu!” Yerin bersuara sebelum pria itu sempat melangkah keluar, membuat Arsen berhenti. “Apa pun yang terjadi, saya mohon … jangan gunakan kekerasan pada Bastian.”
Arsen hanya menoleh sepersekian detik. Tatapannya datar. Lalu, tanpa sepatah kata pun dia berbalik dan berjalan pergi, meninggalkan Yerin yang menggeleng pelan sambil menepuk dadanya.
“Bagaimana bisa ada orang sedingin itu …” gerutu Yerin.
~~
Saat hari mulai menjelang sore, seorang pemuda baru saja pulang. Tampangnya acak-acakan. Seragam sekolahnya dikeluarkan dari celana, lengannya dilipat seenaknya, dan ada rantai tipis menggantung di leher. Dengan gaya santai layaknya preman kecil, pemuda itu melangkah masuk ke rumah besar nan mewah itu.
“Berhenti.”
Suara berat menghentikan langkahnya, pemuda itu menoleh, mendapati sosok kakaknya berdiri tidak jauh dari pintu.
Arsen menatap pemuda yang tidak lain adalah Bastian dengan datar. “Dari mana kamu?”
Pertanyaan Arsen membuat Bastian bingung sepersekian detik, tidak pernah sebelumnya ditanya seperti ini. Namun, mengingat bahwa tadi pagi Arsen baru saja dipanggil oleh sang guru BK baru, Arsen mendecakkan lidah.
“Jawab pertanyaanku,” suara Arsen menajam, mengandung tekanan.
“Main.” Bastian mengacak rambutnya, kesal. “Kenapa? Mau marah?”
Arsen terdiam sesaat, tapi alisnya tertaut, seakan kesulitan. Kemudian, dengan sedikit canggung, dia bertanya, “Bagaimana sekolah hari ini?”
Kali ini, Bastian tidak mampu menyembunyikan keterkejutannya. Arsen, kakaknya yang terkenal paling dingin sejagat raya, mendadak menanyakan kabarnya?!
“Kenapa tanya begitu?” balas Bastian.
“Hanya bertanya,” jawab Arsen singkat, membuat keterkejutan Bastian seketika mereda.
“Biasa saja,” balas pemuda itu sekenanya.
“Selain sekolah, apa ada hal yang kamu sukai?” tanya Arsen lagi, suaranya kali ini lebih dalam.
Bastian makin bingung. Seumur hidup, kakaknya tidak pernah peduli soal dirinya, apalagi soal sekolah.
Apa ini efek dipanggil oleh sang guru BK tadi pagi?
Namun, menepis kemungkinan itu, Bastian hanya menjawab cepat, “Tidak ada.”
Arsen menghela napas panjang. “Sungguh tidak ada?”
Bastian mendengus kesal. “Pun ada, apa hubungannya denganmu? Bukannya biasanya kamu tidak pernah peduli? Atau jangan-jangan, guru BK itu berhasil merasuki pikiranmu dan membuatmu mengira aku akan berubah hanya karena kamu perhatian padaku?!” balasnya dengan emosi menggulung di hati.
Melihat Arsen terpaku di tempat, Bastian pun tertawa rendah meremehkan. “Konyol,” desisnya, sebelum kemudian berbalik untuk berjalan pergi.
“Kamu—” Arsen merasakan emosinya naik, dan tangannya terjulur untuk menahan Bastian. Akan tetapi, ketika dia hampir menyentuh pundak adiknya tersebut, kalimat Yerin terngiang di benaknya.
“Apa pun yang terjadi, jangan gunakan kekerasan pada Bastian.”
Tangan Arsen pun berhenti di udara, lalu perlahan turun, seiring dia menghela napas dan berkata, “Terserah.” Lalu, dia berbalik pergi.
Melihat Arsen hanya pergi meninggalkan dirinya setelah sudah dimaki sedemikian rupa, Bastian sangat terkejut. Dia terdiam sesaat, merasa sedikit aneh.
Memang sejak kecil hubungan mereka tidak pernah baik. Arsen tidak pernah memperhatikannya, ditambah didikan nenek yang selalu menyebut dirinya pembawa sial, membuat kebencian itu semakin mengakar.
Lalu, kenapa mendadak Arsen berubah dan seperti mulai perhatian, bahkan menoleransi sikap kurang ajarnya?
Di saat itu, ponsel Bastian bergetar. Sebuah pesan baru muncul.
[Bastian, Ibu sudah bicara dengan kakakmu. Cobalah untuk bicara baik-baik dengannya kalau dia berusaha. Ibu harap hubungan kalian membaik.]
Pesan itu membuat Bastian meremas ponselnya dan memasang wajah kesal. Suatu hal yang kontras dengan isi hatinya yang menghangat, dan telinganya yang memerah.
“Dasar tukang ikut campur!”
Chapter 4
Yerin duduk di depan minimarket, menenteng kantong kresek berisi titipan bahan makanan dari ibunya. Di tangannya ada minuman kaleng yang ia habiskan sampai tandas. Begitu selesai, ia bangkit untuk membuang kaleng itu ke tempat sampah—yang ternyata lumayan jauh dari tempat duduknya.
“BRAAK!”
Naas. Bukannya masuk ke tempat sampah, kaleng itu malah jatuh mengenai kepala seseorang.
Yerin membelalak panik lalu buru-buru menghampiri. “Maaf! Maaf, saya tidak sengaja,” ujarnya terbata, menunduk dalam.
“Kau lagi.” Suara berat itu penuh kejengkelan. “Apa kau begitu suka padaku sampai ingin terus bertemu denganku?”
Yerin mendongak… dan wajahnya langsung kaku.
Itu Arsen! Kakak Bastian!
Kesialan apa lagi ini? Tidak cukup di sekolah, sekarang pun harus bertemu pria arogan itu!
“Bukan begitu, Pak. Sungguh, saya tidak sengaja.” Dalam hati, Yerin ingin mengumpat, tapi citranya sebagai guru BK menahannya.
Arsen mengambil kaleng di dekat kakinya, memutarnya dengan jari. “Apa yang harus kulakukan ya? Aku benar-benar marah.”
Yerin mundur gugup. “Saya tidak—maksud saya, saya sungguh tidak sengaja.”
Sama saja dengan menyulut singa. Yerin bisa merasakan auranya yang panas.
“Sebagai permintaan maaf,” ucapnya cepat-cepat, “saya akan membelikan Anda apa pun yang Anda inginkan.”
“Apa pun?” Alis Arsen terangkat.
Tanpa pikir panjang, Yerin mengangguk dengan bodohnya.
Dan kini, ia menyesal … karena Arsen langsung melenggang masuk minimarket, mengambil snack dan minuman seenaknya hingga keranjangnya penuh!
Yerin hanya bisa meremas kedua tangannya, wajahnya cemas. Uang di dompetnya tipis; masih seminggu lagi ia baru gajian!
“Sebenarnya—” ia mencoba beralasan, tapi langsung terhenti ketika tatapan Arsen menajam.
“Tidak jadi,” ia meringis canggung, lalu memaksa tertawa kecil.
Arsen menaruh keranjang di tangannya. “Bawa.”
Yerin mendesah, terpaksa mengangkat barang belanjaannya sampai ke kasir.
Saat kasir selesai menghitung, Yerin sibuk mengobrak-abrik saku celana dan hoodienya, mencari uang receh.
Melihatnya, Arsen hanya berdecak pelan, lalu mengeluarkan kartu dan menyerahkannya pada kasir.
“Terima kasih.”
Mendengar ucapan kasir, Yerin mendongak, tapi Arsen sudah keluar lebih dulu dengan barang belanjaan di tangan.
“Eh, tunggu!” Yerin menyusul keluar. “Anda yang bayar sendiri. Lain kali saya akan mentraktir Anda, sebagai permintaan maaf.”
Arsen mengedikkan bahu. “Tidak usah. Lagi pula aku tidak ingin bertemu denganmu lagi.”
SKAK!
Yerin ternganga. Bagaimana mungkin seorang pria bisa berkata sepedas itu?
“Memangnya Anda pikir saya mau bertemu Anda lagi?!” serunya, berkacak pinggang. “Tentu saja tidak!”
“Astaga, aku bisa gila,” gerutu Yerin pada dirinya sebelum lanjut menatap Arsen. “Bertemu Anda dua kali dalam sehari itu kesialan terbesar. Dan Anda pikir Anda sebegitu menariknya sampai-sampai saya mengejar Anda?”
Yerin menyibakkan rambutnya kasar. “Huh! Lihat muka Anda— seperti banteng kebelet pipis.”
Arsen mengerjap, kaget oleh ucapan itu. “Kau berani—”
“Cukup!” Yerin mengangkat telapak tangannya di depan wajah Arsen. “Saya sudah tidak bisa menahan kesal saya. Mulai sekarang, semoga kita tidak akan pernah bertemu lagi. BYE!”
Ia berbalik, melangkah cepat menjauh. Namun dua detik kemudian, Yerin kembali lagi.
“Sebentar.” Ia mendekat, mengambil tangan Arsen, lalu menyelipkan selembar uang receh ke dalam genggamannya. “Sudah selesai.”
Arsen menatap uang recehan itu, wajahnya menegang. “Siapa yang bilang kau boleh membayarku dengan uang recehan ini?!”
“Terserah! Meski recehan, tetap uang. Urusan kita selesai. Aku tidak mau berurusan lagi dengan banteng sepertimu!”
Yerin langsung lari sekencang-kencangnya, hampir menabrak tong sampah, untung tak sampai jatuh.
“Hah!” Arsen menghela napas kasar dengan sangat kesal selagi meremas uang recehan di tangannya. “Wanita kurang ajar. Lihat bagaimana, aku akan memberimu pelajaran!”
Chapter 5
Sudah tiga hari Bastian tidak masuk sekolah tanpa kabar, dan hal itu membuat Yerin khawatir.
Berdiri menatap piala di lemari kaca, Yerin melihat sebuah piala basket yang pernah diraih tim sekolah, dengan Bastian sebagai ketua.
Anak itu berbakat, Yerin yakin betul. Sayang, tanpa bimbingan, bakat itu bisa terbuang percuma.
Ia memotret piala tersebut, lalu meneguhkan hati. Keputusan sudah bulat: ia akan datang ke rumah Bastian, langsung menemui keluarganya.
“Pak, saya mau pergi ke rumah Bastian,” ucapnya pada Pak Rudi, guru BK senior.
“Bu Yerin yakin?” tanya Pak Rudi, wajahnya terlihat ragu sekaligus cemas, entah kenapa.
Yerin mengangguk mantap. “Yakin, Pak. Saya harus memastikan dia baik-baik saja.”
Pak Rudi tidak menahan lebih jauh. “Baiklah.”
Sepulang sekolah, Yerin menyalakan motor bututnya dan meluncur menuju kediaman keluarga Jarvis. Sesuai alamat, rumah itu ternyata benar-benar luar biasa—sebuah mansion bergaya Eropa yang begitu megah. Bahkan sekadar gerbangnya saja membuat motornya terlihat begitu tidak pantas berada di sana.
Yerin sempat diinterogasi satpam di pos jaga, lalu menunggu sebentar sebelum akhirnya diizinkan masuk. Seorang satpam lain mengantarnya sampai ke pintu utama.
Yerin menekan bel. Tak lama, seorang wanita tua membukakan pintu. Dari dalam, terlihat beberapa mobil mewah terparkir di halaman.
‘Apa mereka sedang ada tamu?’ pikir Yerin.
“Silakan masuk, Non. Anda sudah ditunggu,” kata wanita itu.
Yerin mengernyit. Ditunggu? Oleh siapa?
Menepis pertanyaan dalam hati, Yerin melangkah ke ruang tamu.
Begitu Yerin masuk, pandangannya langsung menemukan Bastian, berdiri tak jauh dari sekumpulan anggota keluarga yang duduk di sofa. Tepat ketika ia ingin menyapa, seorang pria bangkit berdiri.
Tingginya menjulang, membuat Yerin harus mendongak. Pria itu melangkah mendekat, wajahnya dingin.
“Halo, saya—”
Kalimat Yerin terputus. Pinggangnya tiba-tiba ditarik, tengkuknya dicekal, lalu bibirnya ditutup paksa oleh sesuatu yang hangat.
Mata Yerin melebar. Ia kaku di tempat, seluruh tubuhnya lemas.
Itu… ciuman?!
Lidahnya nyaris kelu, seharusnya ia bisa menampar pria ini, tapi tubuhnya justru lumpuh oleh keterkejutan!
‘First kiss-ku…!’
“Arsen!” teriak seorang wanita dari kursi tamu.
Pria itu melepaskannya, menatap sekilas ke arah suara. “See?” ucapnya santai, lalu meraih tangan mungil Yerin dan menggenggamnya erat.
“Dia calon istriku.” Suaranya lantang, tegas, membuat semua orang di ruangan terbelalak.
Yerin tercekat. Lidahnya kelu. “Istri. Saya? Bukan—”
Arsen langsung mengusap sisi bibir Yerin, membuat wanita itu membeku. Lalu, dengan nada tenang tapi lantang agar semua orang mendengar, ia berkata, “Jangan marah lagi, Sayang. Sudah kukatakan, aku tidak akan menerima perjodohan ini. Hanya kamu… hanya kamu yang akan jadi istriku.”
Yerin mematung. Otaknya seakan berhenti bekerja. Bajingan menyebalkan ini ngomong apa sih!?
Sejak kapan dia jadi calon istri kakak muridnya ini!?
Bercanda! Ya, semua ini pasti prank saja, ‘kan!?
Namun, Yerin menoleh ketika tangannya di bawah sana sudah digandeng Arsen dengan mesra.
Sejak kapan jemari mereka saling bertaut dengan mesra seperti ini?
Yerin semakin terbelalak. Ia melotot dan berusaha melepaskan genggaman jari mereka.
Namun Arsen menoleh dan tersenyum. Pria itu seolah menegaskan jika Yerin tidak bisa pergi darinya.
Yerin bisa merasakan semua mata tertuju padanya, membuat wajahnya panas.
“Ini salah paham!” ucapnya keras, mencoba menjelaskan pada orang-orang di ruangan.
Namun Arsen semakin berani. Lengannya melingkari pinggang Yerin, merengkuhnya erat
Arsen menunduk, mendekatkan bibirnya di telinga Yerin. “Diam atau aku akan menciummu lagi?”
Chapter 6
Beberapa saat lalu, di ruang tamu kediaman keluarga Jarvis.
“Usiamu sudah cukup untuk menikah, jadi kami memutuskan untuk menjodohkanmu dengan putri rekan bisnis kami,” ujar seorang wanita berambut putih.
“Kamu harus punya keturunan untuk meneruskan perusahaan,” tambah pria tua di sampingnya, suaranya tegas.
Arsenio Jonathan Jarvis, 30 tahun, presiden direktur Skyline Corporation, hanya bersandar dengan wajah dingin. Baginya, menikah bukan hal penting. Apalagi jika harus dijodohkan. Sudah jelas hubungan semacam itu hanya penuh urusan bisnis dan merepotkan.
“Aku akan menikah dengan pilihanku sendiri,” ucapnya akhirnya.
Edward, asistennya, mendekat lalu berbisik. “Sir, guru Bastian ingin bertemu.”
“Siapa? Guru menyebalkan itu?” Arsen mendengus kesal. Belum selesai dengan kakek-neneknya, kini ditambah lagi dengan urusan adiknya.
“Yerin Anindya, Sir.” Edward menunjukkan foto identitas Yerin.
Arsen mengernyit, hendak mengusir, tapi kemudian dia terhenti, lalu tersenyum miring. “Biarkan dia masuk.”
“Tapi—”
Tatapan tajam Arsen membuat Edward bungkam seketika. Alhasil, asisten Arsen itu pamit undur diri sesaat.
Kedua kakek-nenek Arsen tampak bingung, tapi mereka tidak kian mendesak lantaran Arsen berkata, “Tunggu sebentar, ada yang ingin kuperkenalkan, Kek, Nek.”
Tak lama, pintu terbuka, seorang perempuan muda masuk ke ruang tamu. Wajahnya cantik, tapi jelas terlihat gugup.
Arsen langsung bangkit dari kursinya, melangkah cepat ke arahnya, lalu—tanpa peringatan—menarik pinggangnya dan menempelkan bibirnya pada bibir Yerin.
“Arsen!” seru seorang wanita tua dengan nada marah.
Arsen melepaskan ciuman itu, lalu dengan tenang menggenggam tangan Yerin di hadapan semua orang. “See? Dia calon istriku.”
Di saat itu, Yerin tampak terpaku. “Istri. Saya? Bukan—” suaranya bergetar.
Namun Arsen kembali merangkul pinggangnya dengan lancang, lalu berkata, “Sayang, sudah kukatakan aku akan mengenalkanmu dengan keluargaku, kenapa kamu jadi malu-malu begini?”
Melihat Yerin semakin panik, Arsen merasa semakin terhibur.
“Ini salah paham!” seru Yerin.
Tapi, Arsen menangkap tangan wanita itu, lalu menunduk untuk berbisik. “Diam atau aku akan menciummu lagi?”
Arsen bisa merasakan tubuh Yerin menegang, lalu wanita itu menatapnya penuh kekagetan dan kemarahan, tapi tidak berdaya melawannya dan hanya bisa diam.
Di saat ini, Arsen menatap kakek-neneknya. “Kami akan menikah. Jadi, kalian tidak perlu repot menjodohkanku dengan wanita lain.”
Nenek dan kakek Arsen sontak berdiri, wajah mereka merah padam. “Arsen! Kamu benar-benar durhaka!” Mereka melangkah pergi dengan marah, bahkan sang nenek sempat melirik Yerin dengan sinis saat melewatinya.
“Jadi ini alasannya, Bu Yerin?” suara dingin terdengar. Bastian berdiri, menatap gurunya dengan sorot kecewa. “Ternyata dari awal Ibu sudah berhubungan dengan kakakku.”
“Tidak! Bastian, tunggu, ini semua salah paham!” Yerin meraih tangannya.
Namun Bastian menggeleng kuat. “Saya kira Ibu berbeda. Saya kira Ibu tulus. Tapi ternyata sama saja. Penjilat.” Ia melewati Yerin sambil menyenggol bahunya, lalu pergi meninggalkannya.
“Bastian—!” Yerin menatap punggung muridnya yang semakin jauh, hatinya mencelos.
Saat semua orang meninggalkan ruang tamu, Yerin pun berbalik ke arah Arsen, wajahnya memerah karena amarah. “Apa yang Anda lakukan!? Bagaimana bisa Anda mencium saya dan seenaknya bilang saya calon istri Anda!?”
Arsen dengan santai memasukkan tangannya ke saku. “Aku hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan.”
“Seharusnya!? Saya bisa menuntut Anda atas pelecehan!” bentak Yerin, menunjuknya dengan jari telunjuk.
Arsen tertawa kecil. “Silakan.”
“Dasar stres!” Yerin menggeram, lalu berbalik hendak kabur. Ia tak ingin satu detik pun lagi berada di rumah gila ini.
Tapi, di saat itu—
“Ayo menikah!” suara lantang Arsen menghentikan langkahnya.
Yerin berhenti seketika, menoleh dengan mata membelalak. ‘Apa dia sudah gila!?’ Lalu, tangan Yerin refleks mengusap bibirnya, masih panas karena ciuman paksa tadi. “Kamu begitu suka pada kecantikanku sampai tidak bisa menahan diri dan mengajukan permintaan gila itu, hah?!”
Arsen mendekat perlahan, tatapannya menyapu dari atas sampai bawah. Ia berdecih. “Jangan terlalu percaya diri. Aku tidak tertarik padamu,” ucapnya, membuat Yerin terperangah. “Aku hanya butuh pernikahan kontrak. Kau akan mendapat bayaran setiap bulan.”
Yerin terhenyak. Pria ini tidak hanya arogan, tapi juga tega melukai harga dirinya!
“Menikah kontrak?” katanya dengan nada sinis, berkacak pinggang. Lalu—
“AAAAA!” Yerin berteriak, mengejutkan Arsen dan Edward, terutama ketika kaki jenjang wanita itu terangkat tinggi, dan—
BUGH!
Tendangan Yerin tepat mengenai kepala Arsen, membuat pria itu jatuh terduduk di lantai. Dahi Arsen mengucurkan darah tipis.
Asisten Edward membeku di tempat, tidak percaya dengan apa yang baru terjadi.
Yerin tersenyum puas. “Makan tuh nikah!” katanya lantang, lalu berlari secepat mungkin meninggalkan kediaman keluarga Jarvis.
“Sir! Anda baik-baik saja?” Edward setengah panik.
Arsen bangkit perlahan, menekan dahinya dengan tangan. Tatapannya gelap, namun bibirnya melengkung.
“Sialan…” desisnya. “Dia benar-benar cocok menjadi istriku.”
Chapter 7
Berjalan menaiki tangga. Akhirnya ia sampai juga di Apartemen. Yerin masuk ke dalam. Ia menyalakan lampu—ia bertanya-tanya ke mana ibunya pergi.
Yerin memastikan memang tidak ada orang di rumahnya.
“Mama ke mana?” tanyanya pada diri sendiri. Ia memeriksa ponselnya—tidak ada pesan dari ibunya. “Palingan ngerumpi di toko depan.”
Ia pergi ke kamarnya sendiri. Merebahkan diri di atas kasurnya yang tidak seberapa besar itu. Ia menatap langit-langit kamarnya. Kejadian tadi membuatnya sangat syok. Ia bisa saja langsung menendang aset pria itu saat berani menciumnya.
“Harusnya aku tendang langsung aja.” Yerin mencak-mencak di atas kasurnya. “Aaaaaa,” teriaknya. Ia berhenti saat melihat sebuah surat yang tergeletak di atas nakas samping.
“Apa itu.”
Yerin mengambilnya. Tertulis jika itu dari ibunya. “Untuk Yerin. Yerin Mama pergi dulu ke Korea menyusul ayah kamu. Mama rindu Papa kamu. Katanya dia ingin bertemu Mama juga tapi tidak punya uang. Yasudah Mama yang ke sana. Mama minta maaf, ya.”
Yerin meremas kertas itu dengan kasar.
Tak lama sebuah notifikasi masuk di ponselnya. Sebuah pinjaman online yang mengkonfirmasi jika uang yang dipinjam sudah diterima. Yerin segera memeriksanya.
“AAAAAA,” teriaknya lagi.
Yerin bahkan menjatuhkan ponselnya ke bawah.
‘Sejumlah 200 juta atas nama Yerin Anindya sudah diterima. Untuk pembayarannya bisa dicicil perbulan dengan bunga sebesar 3 persen. Bunga bisa bertambah saat pembayaran jatuh tempo atau terlambat.”
Yerin yang putus asa segera menelepon ibunya. Namun sayang—satupun panggilannya tidak ada yang diterima. Duduk dengan pandangan kosong.
Plak plak
Yerin menampar dirinya sendiri. “Mimpi. Bangun! Ayo bangun!” Yerin ingin mati saja. Bagaimana bisa ibunya meminjam di pinjol sebesar 200 juta atas nama dirinya. Uang itu pasti akan diberikan pada ayahnya.
TING TING TING TING
Bunyi bel Apartemennya. Yerin menyugar rambutnya frustasi. Ia memasang senyumnya kemudian keluar.
“MAU KAMU APA? TERIAK-TERIAK TIDAK JELAS. GANGGU TETANGGA TAHU GAK?!” Kemarahan yang berasal dari tetangga samping.
~~
Seperti keruntuhan bom atom. Seluruh hidup Yerin terasa hancur dan tidak tersisa. Gajinya yang tidak seberapa hanya mampu memenuhi kebutuhannya. 200 juta? Dicicil saja rasanya sangat tidak mungkin.
Meskipun seperti itu—Yerin akan tetap mengajar dengan wajah yang happy kiyowo seperti tidak terjadi apapun. Kebetulan juga hari ini ia berangkat siang. Ia berjalan di sepanjang koridor banyak siswa-siswi yang menyapanya.
“Bastian,” panggil Yerin.
Bastian sama sekali tidak menggubris panggilan Yerin. Laki-laki itu nampak acuh. Bahkan yang semula duduk di depan kelas kini berjalan pergi.
Yerin menghela nafas. Sampai kapan kesalahpahaman ini akan terjadi. Ia berjalan ke ruangannya. “Apa aku menerima ajakan menikah pria itu saja?” lirihnya.
Kemudian ponselnya berdering. Nama sahabatnya terpampang di layar. “Halo, Shania?”
“Yerin! Temenku yang cantik jelita! Jangan lupa nanti malam harus ke pesta ulang tahun gue, oke?”
Yerin terbelalak. Dia tidak pernah ingat ada janji seperti ini sebelumnya. “Tapi, Shan. Aku—”
“Tidak ada tapi-tapian, kamu harus hadir kalau masih peduli dengan pertemanan kita, oke? Bye!”
Langsung dimatikan begitu saja.
Walau lelah dan ingin sekali menjambak rambut Shania, tapi mengingat pertemanan mereka sudah cukup lama, akhirnya Yerin pun hanya bisa menerima nasib.
Begitu malam tiba, Yerin bersiap seadanya. Dia sudah terlalu lelah untuk berdandan, dan berakhir mengenakan pakaian paling santai yang dia punya.
Usai mengikuti alamat yang diberikan Shania, Yerin mendapati dirinya di sebuah klub. Hal itu membuatnya mengernyit. Dia kira pesta ulang tahun Shania diadakan di sebuah restoran.
Berpikir ingin pergi lantaran tahu mendatangi klub hanya akan membuatnya terlalu lelah untuk bekerja besok, Yerin tiba-tiba ditahan oleh seseorang.
“Eh, eh, eh, mau ke mana?!” Itu Shania, yang tersenyum lebar saat mendapati kehadiran sahabatnya. “Sebelum aku pulang, kau tidak boleh pulang!”
Chapter 8
Ditarik ke dalam oleh Shania, Yerin mengeluh, “Shan, aku tidak bisa pulang malam. Besok aku masih kerja. Lagi pula, kalau besok sampai aku masih bau alkohol dan rokok, mau ditaruh mana mukaku sebagai guru?”
Shania memutar bola matanya. “Yer, kita udah 25 tahun. Sekali-kali ke tempat begini nggak masalah kali. Lagian, kalau takut bau, ya mandi, keramas. Selesai ‘kan masalahnya? Tenang aja deh, orang-orang yang aku undang juga cuma teman dekat dan teman kantor, kok!”
Shania adalah seorang kepala divisi keuangan di sebuah perusahaan. Cantik, ceria dan pintar. Wanita mandiri dengan latar belakang keluarga yang bagus. Dengan sikap keras kepalanya dan kebiasaannya dituruti banyak orang, Shania pun tidak terbiasa menerima penolakan. Jadi, Yerin pun yakin percuma mencoba meyakinkan Shania.
“Ya sudah,” ucap Yerin seraya mengikuti langkah Shania yang masuk.
“He he, gitu dong!” ucap Shania seraya memeluk Yerin. Lalu, dia menjulurkan tangannya. “Mana kadoku!? Jangan bilang kamu lupa bawa?” tagihnya dengan ekspresi yang menurut Yerin menggemaskan.
“Ini, Nona Besar. Tidak mungkin aku lupa,” ucap Yerin seraya mengeluarkan sebuah kotak kado kecil dan memberikannya pada Shania. “Bukan hal spesial. Jujur saja, aku lupa malam ini adalah pesta ulang tahunmu,” ucapnya, membuat Shania terkekeh geli.
“Sudah kuduga!” serunya, tapi lanjut memeluk kotak kecil itu. “Tapi yang terpenting bagiku adalah kedatanganmu.”
Setelah berbicara satu-dua patah kata lagi, Shania mengajak Yerin ke bangku yang terisi beberapa orang. Di sana, Yerin mematung saat melihat seorang pria tampan yang sangat dia kenali.
“Kenapa Tama di sini?” tanya Yerin dengan kewaspadaan meningkat.
Tama, dia adalah pria yang pernah menjadi mantan kekasih Yerin semasa kuliah dulu. Karena sebuah perselingkuhan, Yerin putus dengannya … dengan cara yang tidak baik pula.
Tanpa sedikit pun merasa bersalah, Shania berkata dengan santai, “Oh, ayolah Yerin. Kalian sudah putus lama! Bahkan aku sudah nggak ingat kejadian lama itu. Anggap saja dia kenalan lama, oke?”
Tidak menunggu balas Yerin, Shania langsung berucap lantang ke arah kumpulan Tama. “Hai guys. Ini temanku. Namanya Yerin. Anak belasteran. Cantik dan masih…” Shania menatap Yerin, “...jomblo.” Kalimatnya diakhiri dengan tawa.
Yerin tersenyum canggung dan membalas sapaan sejumlah teman-teman Shania yang lain. Akan tetapi, tempat duduk yang kosong hanya ada di sebelah Tama.
Merasa ragu, Shania pun langsung mendorong Yerin. “Sudah, kamu duduk di sana saja!”
Mau tidak mau, Yerin pun mengambil kursi kosong di samping Tama. Dia merasa canggung, dan berpikir untuk menyibukkan diri dengan ponselnya.
Akan tetapi, baru saja ingin mengeluarkan ponsel, suara seseorang terdengar bertanya, “Masih jadi guru di SMA Garuda?”
Itu Tama.
“Sudah pindah,” jawab Yerin singkat.
“Ke mana?”
“Gallaxy.”
Walau Yerin sudah sejutek itu, Tama rupanya belum menyerah. Tatapannya terus mengikuti Yerin, seolah setiap gerak gadis itu menahannya untuk berpaling.
“Kamu tidak minum?” tanyanya sambil mengangkat gelas.
Yerin menggeleng pelan. “Tidak.”
Ada jeda hening sebelum Tama kembali berbicara, sepertinya sadar Yerin sungguh tidak ingin berbincangn dengannya. “Yerin, aku minta maaf untuk yang dulu. Aku tidak pernah berniat menyakitimu, jadi … bisakah kita paling tidak menjadi teman sekarang?”
Yerin mengepalkan tangannya, berusaha tetap tenang. Dia mencoba memahami mengapa Shania masih berhubungan dengan Tama, hingga teringat bahwa keduanya memang bekerja di perusahaan yang sama.
Beberapa tahun lalu, alasan Yerin putus dengan Tama adalah perselingkuhan. Namun yang tidak diketahui banyak orang—perselingkuhan itu terjadi antara Tama dan Shania sendiri.
Karena itulah, kini Yerin harus menahan amarahnya. Betapa kurang ajar Shania, berani mempertemukannya lagi dengan Tama setelah semua yang pernah terjadi!
Namun, karena Shania sudah meminta maaf dan hubungan mereka kembali membaik, ditambah hari ini adalah hari ulang tahun Shania, Yerin merasa tidak baik baginya untuk berbuat onar karena masalah pribadi.
Jadi, dia berkata, “Hanya untuk malam ini.”
Seketika, pancaran mata Tama pun bersinar, tampak senang. “Tentu saja!” Dia meraih sebuah gelas berisi alkohol dan memberikannya pada Yerin. “Satu gelas?”
Yerin menatap minuman itu, lalu menghela napas. Satu gelas tidak akan membunuhnya, dan dengan situasi canggungnya akibat keberadaan Tama, Yerin memang memerlukannya.
Jadi, dia meraih gelas itu dan mulai meminumnya.
“Bagaimana? Enak, bukan?” tanya Tama dengan senyum lebar.
Yerin mengangguk pelan. “Hmm.”
Selagi meminum minumannya, Yerin merasakan seseorang seperti sedang memerhatikannya. Jadi, dia menoleh ke samping, dan berakhir tersedak!
“Uhuk!”
“Yerin, kamu nggak apa-apa?” Tama meraih tisu. “Ini.”
Gegas, Yerin mengelap mulutnya, tapi … matanya diam-diam kembali menatap ke satu arah itu, pada seorang pria yang sedari tadi menatapnya tajam.
Arsen, kakak murid yang baru dia ceramahi beberapa waktu lalu!
Melihat Yerin, sudut bibir Arsen terangkat, sedikit meremehkan. Ekspresi pria itu seakan mengatakan, “Kamu guru, tapi kamu ke sini? Hebat sekali.”
Di saat itu, Tama kembali bicara, “Kenapa? Ada yang mengganggumu?”
Yerin menggeleng. Dia langsung menepis tangan Tama yang berusaha membantunya, lalu berkata, “Aku ke toilet.”
Selagi Yerin melalui kerumunan yang ramai, dia mulai merasakan sejumlah hal yang janggal. Kepalanya terasa berat, pandangannya sedikit berkunang. Tidak hanya itu, tubuhnya mulai panas, dan keringat dingin merembes di pelipis.
Yerin pun memutuskan menyandarkan tubuh ke dinding lorong. Matanya terpejam rapat, dan dia mencoba menstabilkan napas. Namun, sensasi berputar itu semakin kuat.
Kenapa bisa seperti ini?
Apakah ini karena dia terlalu stres setelah bertemu seorang wali murid?
Tapi, tidak masuk akal. Pun Yerin merasa sedikit malu memperlihatkan sisinya yang ini di depan pria yang baru dia ceramahi tentang tanggung jawab, tapi … dia tidak sestres itu hingga berakhir seperti ini!
“Sial…” bisiknya lirih, mengambil satu kesimpulan.
Ini pasti dari minumannya!
Tepat saat tubuh Yerin hampir merosot jatuh, sebuah tangan kuat tiba-tiba menangkapnya.
Yerin menoleh cepat dan terperangah. “Kamu—”
Chapter 9
Yerin berusaha menepis tangan Tama yang melingkari pinggangnya.
“Tama, ini semua ulahmu, bukan?!” geram Yerin selagi berusaha menstabilkan tubuhnya.
Tama justru semakin mendekat, matanya penuh obsesi. “Aku menginginkanmu, Yerin. Aku tidak pernah melupakanmu dan semua kenangan kita. Ya, aku akui aku sempat berselingkuh dengan Shania, tetapi percayalah, sejak dulu hanya kamu yang kucintai. Ini satu-satunya cara agar aku bisa memilikimu lagi.”
Yerin mendorongnya, namun tenaganya kalah jauh. Nafasnya terputus-putus. “Apa… yang kau masukkan ke dalam minumanku?”
Tama menyeringai, menahan tubuh Yerin yang meronta. Bibirnya merapat ke leher Yerin. “Apa lagi? Obat perangsang.”
“Bajingan!” Yerin memaki, air mata memanas di pelupuknya. Dia menggeliat, berusaha melawan, tetapi tangan Tama mulai menyusup ke balik bajunya. Tidak! Tidak! teriaknya dalam hati, bulir air mata akhirnya jatuh di pipinya.
BRAK!
Sebuah tinju menghantam wajah Tama, membuat pria itu terhuyung. Yerin terperangah, dan ketika matanya berusaha fokus, sosok yang berdiri di hadapannya membuat dadanya bergetar.
Arsen.
“Tidak kusangka ada pria serendah itu hingga memberikan obat untuk mendapatkan seorang wanita,” ucap pria itu dengan wajah dingin.
Tama menyeka sudut bibirnya yang berdarah. “Siapa kau?! Jangan ikut campur! Ini urusanku dengan wanitaku!”
Yerin berniat membalas ucapan Tama, tapi tubuhnya terlalu lemas hingga dia terjatuh.
Melihat hal itu, Arsen segera meraih dan menggendongnya. Pandangannya menajam, lalu dia bertanya kepada wanita itu, suaranya rendah. “Apa itu benar?”
Dengan sisa tenaga, Yerin menggeleng. “Tidak… aku… tidak ada hubungan dengannya.”
Arsen menatap lurus ke arah Tama. “Kau dengar sendiri ucapannya. Jadi…” matanya berkilat tajam, “…jangan pernah mengganggunya lagi.”
Dia berbalik, membawa Yerin pergi. Tama yang kalap berusaha menerjang, namun sekelompok pria berpakaian hitam segera menghadangnya.
Terkejut, Tama berteriak, “Apa-apaan ini?!”
“Singkirkan dia dari klub ini,” perintah Arsen datar pada para pengawalnya.
Beberapa detik kemudian, orang-orang itu menyeret Tama keluar, meninggalkannya mengumpat tak berdaya.
Sementara itu, di dalam pelukan Arsen, Yerin menggeliat resah. Tubuhnya panas, napasnya memburu hingga berhembus di leher pria itu.
Dengan suara lemah, dia berbisik, “Tolong… tolong aku….”
Tanpa sadar, bibir Yerin menyentuh kulitnya, menggigit pelan leher Arsen. Pria itu sontak tersentak, rahangnya menegang.
“Kenapa aku harus membantu wanita yang bahkan sudah menghina—”
Belum sempat ucapannya selesai, Yerin tiba-tiba meraih wajahnya dan mencium bibirnya. Ciuman itu panas, liar, membuat Arsen kehilangan kendali sesaat.
Dengan cepat, dia menurunkan Yerin, menghimpit tubuh rapuh itu ke tembok agar berhenti meronta. Napasnya berat, suaranya rendah menggeram.
“Hah….” Arsen melonggarkan dasinya, lalu melirik ke arah asistennya yang berdiri tak jauh. “Edward, siapkan satu kamar.”
Anda Mungkin Juga Suka





