
Perjalanan Menuju Cinta Sejati
Bab 6
Diskusi di Instagram mulai beralih topik, fokusnya bergeser ke diriku.
Netizen yang pernah bertemu denganku mengunggah beberapa foto dan sebuah video.
Di tengah hujan lebat, aku terlihat berlutut di tangga batu dengan kedua tangan tergenggam, menghadap ke arah candi.
Aku merasa, setelah Handi sebelumnya mengeluarkan pernyataan klarifikasi, seharusnya tidak ada yang mengira aku melakukannya demi dia.
Bahkan jika ada yang curiga, mereka tidak akan punya bukti.
Aku tidak ingin melihat lebih jauh lagi, lalu mematikan ponsel dan bersiap-siap untuk pergi ke Perusahaan Wenas untuk mengurus pengunduran diri.
Ketika aku sampai di sana, Handi sedang tidak ada di kantor.
Baguslah, jadi tidak perlu terlibat lebih jauh dengannya.
Saat aku sedang membawa barang-barang keluar dari kantor Wenas, sahabatku menelepon.
"Verin, cepat lihat...!"
"Berita tentang kejadianmu waktu itu langsung tersebar di internet!"
Aku meletakkan barang-barang dan mengeluarkan ponselku.
Aku menemukan topik trend pertama.
#Verin-Handi, Gelang Manik-manik Cendana#
Aku pikir jika aku tidak peduli dengan omongan itu, otomatis perhatian publik akan berkurang.
Rupanya, ada penggemar yang menggunakan kaca pembesar untuk memeriksa foto-foto dan video itu.
Mereka menemukan bahwa gelang manik-manik cendana yang aku dapatkan di Candi Dharma saat hujan lebat itu adalah gelang yang sama dengan yang biasa dipakai Handi di pergelangan tangannya.
Suasana media sosial langsung heboh.
Topik ini segera meroket menjadi sorotan.
Dengan cepat, warganet dan akun-akun marketing mengungkap lebih banyak bukti.
Waktu Handi diculik dua tahun yang lalu, ternyata bersamaan dengan tanggal aku pergi ke Candi Dharma untuk berdoa.
Dan masih ada banyak foto kami yang tampaknya diambil dalam satu acara bersama.
Bahkan, bisa ditelusuri sampai foto-foto lebih dari sepuluh tahun lalu.
Hampir semua komentar di bawah mendukungku.
Banyak yang mengecam Handi, menyalahkannya karena meninggalkan aku begitu saja.
Ketika Jeffry menjemputku pulang ke vila miliknya, dia menyalakan televisi, dan segera muncul siaran langsung di mana Handi dan Chintia dikelilingi wartawan.
Jeffry tidak mematikan TV, malah berdiri di sampingku, dan kami menontonnya bersama.
Di layar TV, terdengar komentar dari seorang jurnalis.
"Sekarang kami berada di depan kantor Perusahaan Wenas .... Pak Handi baru saja kembali bersama Nona Chintia dari luar, sepertinya dia belum melihat pembicaraan di internet. Pas sekali, kami akan wawancarai dia ...."
Dengan suara keras, wartawan langsung menyerbu dan mengerumuni mereka.
Mereka berusaha maju ke depan, menyerahkan mikrofon ke Handi dan mulai bertanya.
"Pak Handi, apakah benar gelang manik-manik cendana yang kamu pakai selama ini, yang baru-baru ini kamu lepas, adalah hadiah dari sekretarismu, Verin?"
Handi terkejut dan terdiam.
Chintia yang ada di sampingnya juga tampak tidak senang.
Handi mengernyitkan dahi, seperti sedang memikirkan sesuatu.
Tak lama kemudian, Chintia langsung mengambil alih pembicaraan.
"Oh, itu urusan pribadi Pak Handi, menurutku kalian nggak perlu terlalu mengurusi hal itu."
Dalam siaran langsung, terlihat petugas keamanan dari Perusahaan Wenas berusaha menghentikan wawancara.
Namun, para wartawan tidak mudah dibungkam begitu saja dengan satu atau dua kalimat dari Chintia.
Seorang wartawan perempuan yang mengenakan topi bisbol berdiri di belakang.
Dia mengangkat suaranya dan berteriak.
"Gelang manik-manik cendana itu kamu dapatkan saat hilang di Asia Tenggara, dan Verin berdoa untuk keselamatanmu. Dia menaiki tiga ribu anak tangga di Candi Dharma untuk mendapatkannya. Sekarang kamu malah dengan mudah melepaskannya untuk menikahi Chintia. Apa nggak ada yang ingin kamu katakan?"
"Apa?"
Handi tiba-tiba berbalik.
Suaranya rendah dan wajahnya gelap penuh kemarahan.
Anda Mungkin Juga Suka





