
Perasaan Setelah Jadi Abu
Bab 5
Prang! Candra menutup telepon dengan marah. Mungkin karena emosi yang meledak-ledak, dia melempar ponsel ke lantai.
Suara benda yang retak membuat lamunanku buyar.
Setelah Candra tenang, dia berbalik, dan mengambil ponsel yang sudah retak itu. Dia menelpon asistennya, menyuruh orang itu untuk mencari jejakku.
Candra mengirim pesan dengan ekspresi datar. Aku mendekat dan melihat. Di layar tertulis nomor ponselku.
[Susan, aku kasih kamu waktu satu hari. Cepat kembali ke hadapanku. Kalau nggak, tanggung sendiri akibatnya.]
Aku tersenyum getir. Sekarang aku berada di hadapanmu. Hanya saja, kamu tidak bisa melihatku lagi.
Ponselku sudah lama tersimpan di ruang penyimpanan. Mungkin sekarang sudah kehabisan baterai.
Setelah beberapa saat berlalu, tidak ada pesan yang masuk ke ponselnya. Kegelisahan dan kecemasan terlihat jelas dalam ekspresi Candra.
Tidak lama kemudian, Candra mengambil jaket yang tergeletak di sofa dan bergegas keluar. Aku segera mengikutinya. Apa dia mau mencariku?
Aku bertanya-tanya dalam hati.
Kemudian, teriakan dari kamar utama membuat Candra berubah arah. Langkahnya terhenti di pintu keluar.
Yuli yang berada di atas kasur tampak baru saja mengalami mimpi buruk. Setelah Candra masuk, Yuli pun tersadar.
"Mimpi buruk, ya?" Candra menatap Yuli dengan khawatir.
Yuli langsung memeluk Candra dan berkata sambil menangis, "Candra. Aku mimpi Susan datang meminta ginjalnya kembali. Aku juga bermimpi kamu jatuh cinta padanya dan meninggalkanku."
"Huu. Kamu nggak akan tinggalkan aku demi Susan, 'kan?" Yuli menatap Candra dengan penuh harap. Dia sengaja menyebut namaku dengan maksud jahat.
Canda mengulurkan tangan dan mengelap keringat di dahi Yuli. "Nggak akan. Aku … " Candra tampak ragu. Lalu, dia pun melanjutkan perkataannya dengan tegas. "Orang yang aku cintai itu kamu, bukan dia."
Melihat tatapan Candra yang penuh kasih sayang, aku terdiam di tempat. Meski aku hanya roh, dadaku tetap terasa sesak, perih tanpa sebab yang jelas.
Setelah mendengar itu, Yuli tampak puas. Dia berkata dengan gusar, "Kalau gitu, apa kamu sudah berhasil menghubungi Susan?"
"Ponselnya mati." Candra menjawab dengan tegang.
"Susan orang yang suka main-main. Mungkin dia sedang pergi jalan-jalan atau berlibur di tempat lain." Yuli mencoba menenangkan.
Namun, Candra tidak menjawab. Setelah menyuruh Yuli untuk istirahat lebih awal, Candra pun pergi.
Di dalam kamar hanya ada Yuli seorang. Dia duduk perlahan-lahan, menatap punggung Candra yang menjauh sambil tersenyum. Tidak ada lagi kelemahan atau ketakutan, hanya ada senyum kemenangan.
"Susan, Candra cuma milikku seorang. Nggak ada seorang pun yang bisa rebut dia."
"Tapi, kamu sudah mati. Kamu sudah tidak bisa mengancamku lagi. Hahaha."
Yuli bergumam pada dirinya sendiri dan tertawa dengan menyeramkan.
Rasa dingin yang menusuk tulang menjalar ke seluruh tubuhku. Aku membelalakkan kedua mataku. Sejak kapan Yuli tahu bahwa aku sudah meninggal?
...
Keesokan paginya, ponsel Candra berdering.
"Pak Candra, aku sudah menemukan jejak Bu Susan. Dia … " Si asisten menelepon.
Candra tampaknya tidak menyadari keanehan lawan bicaranya dan berkata dengan nada dingin, "Sudah kuduga, dia pasti berulah lagi. Triknya tetap buruk seperti biasanya."
Mungkin hanya perasaanku saja. Ketika Candra mengatakan kalimat itu, aku bisa merasakan bahwa Candra merasa lega.
"Bawa dia pulang. Aku tunggu kalian di rumah." Candra memberi perintah dengan tegas.
"Pak Candra. Bu Susan … Sejak masuk rumah sakit dua bulan lalu, Ibu nggak pernah keluar lagi. Setelah diselidiki … " Lawan bicaranya terdiam sejenak dan melanjutkan, "Bu Susan meninggal secara tidak sengaja saat operasi dua bulan lalu. Saat ini jenazahnya disimpan di kamar mayat lantai B1 rumah sakit."
Anda Mungkin Juga Suka





