
Penyiksaan Cinta
Bab 4
Surya mengusap darah di dahinya, lalu dengan hati-hati berlutut di depanku.
"Sayang, maafkan aku. Aku pulang terlambat. Aku ...."
Aku mengangkat tangan, dengan seluruh kekuatan aku menampar wajah Surya dengan keras.
"Surya, apa kamu ini masih manusia? Anakmu hilang, tapi kamu malah berhari-hari nggak pulang! Nyawa anakmu kalah penting dibandingkan hal nggak berguna itu, ya?!"
Ekspresi Surya langsung berubah dingin, terutama saat mendengar bagaimana caraku menyebut Chika.
"Apa kamu harus bicara sekasar itu? Apa maksudmu 'hal nggak berguna' itu! Mana sopan santunmu, Yona!"
Melihat pria di depanku, yang hatinya jelas sudah sepenuhnya berpihak pada Chika, aku sadar. Aku tidak bisa lagi berharap dia punya hati nurani.
"Mereka sudah buat anakku hilang, apa aku masih perlu pikirkan sopan santun?!"
"Dia ingin menikah denganmu, 'kan? Suruh dia kembalikan Kiky, maka aku akan langsung cerai denganmu! Aku kasih dia tempatku! Kiky masih kecil, dia pasti ketakutan ...."
"Cukup!"
Surya memotong kata-kataku dengan nada kesal.
"Yona, kamu sudah gila? Chika itu cuma anak magang yang nggak punya apa-apa, tapi kamu terus-menerus menyerangnya. Sekarang kamu malah menuduh dia seperti ini! Kamu mau bikin dia mati, ya?!"
Wajah yang dulu begitu hangat dan lembut kini sepenuhnya berubah jadi penuh kritik dan kebencian padaku.
"Lagi pula, kamu tahu aku sibuk kerja tapi tetap saja kamu minta aku menjemput Kiky. Kalau anak kita benar hilang, apa kamu nggak merasa itu salahmu juga?"
Aku menatap Surya dengan tidak percaya.
Aku tidak mengerti bagaimana dia bisa berbicara sekurang ajar itu dengan begitu percaya diri.
Pada saat itulah, aku benar-benar sadar bahwa, hati Surya sudah berada jauh.
Dia bukan lagi milikku atau Kiky.
Mungkin dia juga menyadari betapa tidak pantas kata-katanya, maka dia pun berlutut lagi. Dia menggenggam tanganku dengan lembut, sambil membujukku.
"Sayang, aku janji, Kiky pasti nggak apa-apa! Dia aman, kok! Kamu percaya aku, ya?"
Aku menarik tanganku sambil menatapnya.
"Kamu dan Chika yang bawa dia, 'kan?"
"Kalau dia memang aman, kenapa nggak kamu kembalikan ke aku?"
"Hanya karena dia hamil anakmu, dia nggak tahan lihat aku dan Kiky bahagia, makanya dia tega merebut Kiky dari aku?"
Surya menarik napas panjang. "Itu karena dukun bilang, perlu ada anak kecil di dekatnya supaya persalinannya lancar. Ibuku sampai mengancam akan bunuh diri, aku juga takut kamu nggak bisa terima. Jadi, aku nggak ada pilihan lain ...."
"Tapi, kamu nggak takut aku bakal mati gara-gara berpikir Kiky hilang, ya? Apa dukun itu nggak bilang kamu bakal jadi duda juga?"
Aku akui, dulu aku buta karena cinta, tapi aku bukan orang bodoh.
Hanya pria sombong macam Surya yang bisa percaya bahwa Chika itu wanita polos, tak berdosa.
Kalau dibilang Chika tidak terlibat, sampai mati pun aku tidak akan percaya.
Sebenarnya, saat Surya berselingkuh, aku tidak pernah berniat menyakiti Chika.
Namun, seharusnya dia tidak mengusik anakku.
Raut wajah Surya berganti-ganti, dan akhirnya dengan susah payah dia mulai bicara.
"Yona, aku tahu aku salah. Tapi setelah sekian tahun ini, kamu juga seharusnya memikirkan perasaanku."
"Ibuku sejak awal nggak mau menerima kamu, tapi dia sangat ingin punya cucu, sementara kamu sudah nggak memungkinkan untuk punya anak lagi. Setelah anak Chika lahir, aku akan beri dia uang dan mengirimnya ke luar negeri."
"Aku dan Chika sebenarnya cuma kecelakaan, tapi ketika ibuku tahu, dia mengancam bunuh diri. Makanya anak itu dipertahankan. Aku sama sekali nggak mencintai Chika, hanya kamu yang aku cintai sejak awal hingga sekarang."
"Dengan begitu, kamu juga nggak perlu susah-susah hamil lagi, kita akan punya anak laki-laki, dan ibuku perlahan akan menerima kamu. Bukankah begini lebih baik?"
Wajah yang dulu sangat aku kenal, sekarang tidak lagi terasa dekat sedikit pun.
Aku menatap Surya, lalu tertawa terbahak-bahak.
Aku tertawa sampai menangis.
"Tapi, Surya, aku nggak bisa menunggu selama itu."
Surya kehilangan kesabarannya dan mulai berteriak, "Mau sampai kapan kamu begini? Ibuku ingin seorang cucu, sementara kamu nggak bisa memberi itu! Aku sudah berkorban banyak untukmu, apa artinya kalau sekali ini saja kamu berkompromi untukku?"
"Kenapa orang lain bisa sabar, tapi kamu nggak bisa? Cuma beberapa bulan saja, Yona, kamu terlalu egois!"
Aku berteriak putus asa ke arah Surya, "Tapi aku kena kanker, Surya! Umurku nggak akan lama lagi!"
Anda Mungkin Juga Suka





