
Pengorbanan Demi Suamiku
Bab 2
Alasan Edy sangat kuat.
Aku sama sekali tak menemukan celah untuk membantah.
Namun… ini benar-benar membuatku malu.
Yang tak disangka, ternyata Edy bersikap sangat sopan. Mungkin karena peka dengan ketidaknyamananku, dia tak lagi menatapku, melainkan berbalik menuju dapur.
Karena bayi sangat cepat laparnya, aku harus menunggu sebentar untuk sesi menyusui berikutnya.
Setelah selesai menyusui sesi pertama, Edy keluar dan menuangkan segelas air untukku. Tatapan penuh agresinya kembali tertuju pada dadaku.
“Mey, kamu benar-benar wanita yang baik. Berkorban begitu banyak untuk keluarga, bahkan bersedia menjadi pengasuh, begitu cantik pula. Aku benar-benar iri pada Toni.”
Toni yang dimaksud Edy adalah suamiku, Tonio.
Menghadapi pujian Edy, aku hanya bisa tersenyum sopan. Lalu dengan senyuman canggung menutupi kain yang basah di dadaku menggunakan lengan.
“Terima kasih pujiannya, Pak Edy.”
Untuk menutupi rasa canggung, aku minum air sedikit demi sedikit, menjilati tetesan air gelas yang menempel di tepi gelas.
Namun saat minum, aku mulai merasa gerah dan sensasi basah di dadaku semakin kuat, bahkan tak bisa ditahan lagi.
Aku menunduk dan melihat, ternyata ASI-ku merembes keluar.
Sial, ASI-ku benar-benar terlalu melimpah.
Aku memandang Edy dengan canggung. Tatapannya semakin membara padaku, membuatku merasa sangat malu hingga ingin menghilang.
“Maaf, aku….”
“Nggak apa-apa, aku ambilkan mangkuk untukmu, diperas saja.”
Edy bersikap sangat sopan.
Setelah membawakan mangkuk, dia langsung kembali ke kamarnya. Sekarang, hanya tersisa diriku sendiri di ruang tamu.
Aku sempat waspada, tapi setelah beberapa menit berlalu, pintu kamar Edy masih tertutup rapat.
Barulah aku merasa lega dan membuka pakaianku, lalu mulai memeras ASI.
“Wuss~”
Untuk mengeluarkan ASI-nya dengan cepat, aku mengepalkan tangan dan mulai meremas. Saat meremas, sensasi kenikmatan yang aneh menjalar seperti sengatan listrik, membuat seluruh tubuhku menegang.
Tak ada pilihan, sudah setahun penuh sejak masa kehamilan, aku tidak pernah lagi berhubungan intim dengan suami.
Sekarang, karena pengaruh hormon di masa menyusui, aku jadi sangat sensitif.
Selalu mudah terangsang.
Aku dengan malu mendongak dan melihat pintu kamar Edy yang tertutup rapat.
Napasku mulai terengah-engah.
Gatal dan tak nyaman sekali….
Selagi hanya ada diriku sendirian, aku tak bisa lagi menahan gejolaknya dan langsung mulai menyentuh diriku tanpa kendali.
Pintu kaca di balkon memantulkan bayanganku.
Berbagai sentuhan itu benar-benar membuat pandanganku menjadi kabur. Melihat diriku yang seperti ini, pikiranku mulai kacau balau.
Perlahan, tangan mungilku mulai tak tertahankan untuk merambat ke bagian bawah.
“Uh….”
Terlalu sensitif.
Begitu tersentuh, aku langsung mendesah dan seluruh tubuhku mulai gemetar.
Detik berikutnya, aku membuka mata.
Dan terlihat wajah besar Edy di depan mataku.
“Aaaa!”
Aku langsung reflek menjerit, jantungku berdebar kencang. Aku langsung menutupi diri. Sementara otakku bekerja keras untuk mencari alasan.
“Pak… Pak Edy, aku… aku sedang….”
“Nggak perlu jelasin, aku mengerti. Pasti sangat tersiksa, ‘kan?”
Mata Edy memancarkan sinar keintiman yang sulit diartikan di balik kacamatanya dan nada bicaranya juga terdengar agak merayu.
Kemudian, dia langsung membuka mulut dan menjilati payudaraku.
Aku pun tak bisa menahan diri, begitu terkena rangsangan, ASI-ku langsung mengalir deras.
“Pak… Pak Edy, kamu apain?”
Anda Mungkin Juga Suka





