APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pengkhianatan yang Tak Pernah Kusangka

Pengkhianatan yang Tak Pernah Kusangka

Keinginan tulus Lira menyelamatkan seorang pelayan justru berujung petaka. Usai diserang kelompok misterius, ia berakhir di bawah kendali Arion, sosok dingin yang menuntut keintiman darinya. Hubungan mereka diselimuti ketegangan sekaligus pesona yang sulit ia tepis. Kini, Lira menghadapi pilihan sulit: menyerah pada gairah membara Arion atau segera menyusun rencana melarikan diri dari cengkeraman pria itu sebelum semua terlambat.
Bab
Bagikan

Bab 2

Sejak malam itu, Lira mulai merasakan tekanan yang lebih berat dari sebelumnya. Rumah megah yang menjadi penjara baginya kini terasa seperti labirin yang menyesakkan. Setiap lorong, setiap kamar, bahkan setiap sudut rumah seolah menyimpan mata yang tak terlihat, siap menangkap setiap gerakan kecilnya.

Ia tidak bisa tidur nyenyak. Setiap kali ia menutup mata, bayangan Arion muncul, duduk di tepi tempat tidurnya, menatap dengan mata yang tidak hanya tajam, tapi juga penuh kehendak. Ada rasa takut yang mencekam di hatinya, namun ada pula rasa penasaran yang tak bisa dihindari.

Pagi itu, Lira bangun dengan tubuh lemas. Ia mencoba menenangkan diri, berusaha mencari cara untuk tetap kuat. Di dapur, aroma kopi yang diseduh oleh pelayan rumah menarik sedikit perhatian dan menenangkan pikirannya.

"Selamat pagi, Nona Lira," sapa seorang pelayan muda dengan sopan, wajahnya penuh kekhawatiran.

"Selamat pagi... Terima kasih," jawab Lira, suaranya lemah. Ia mengambil cangkir kopi dengan tangan gemetar.

Pelayan itu menatapnya dengan prihatin. "Apakah Anda baik-baik saja? Tadi malam... terdengar keributan di kamar Tuan Arion."

Lira menelan ludah, mencoba tersenyum. "Aku... aku baik-baik saja. Hanya sedikit lelah."

Namun di dalam hatinya, ia tahu itu tidak sepenuhnya benar. Ia lelah, lelah menghadapi permainan yang tak bisa ia kendalikan, lelah menghadapi mata yang selalu mengawasinya.

Siang itu, Arion memanggilnya ke ruang kerjanya. Suara langkahnya di lantai kayu yang mengkilap terdengar berat, membuat Lira menahan napas setiap kali ia mendekat. Ruang kerja itu luas, dengan jendela besar yang menyorot cahaya matahari. Buku-buku tebal berjajar rapi di rak, sementara meja besar penuh dokumen dan beberapa perabot antik.

Arion duduk di kursi kulit hitam, menatap Lira dengan intens. "Lira, duduklah," perintahnya.

Lira patuh, duduk di kursi yang telah disiapkan. Tangannya gemetar, namun ia berusaha menenangkan diri. "Ada yang ingin Tuan bicarakan?"

Arion menyilangkan kaki, tangannya menutup seteguk kopi yang ia pegang. "Aku ingin tahu... seberapa jauh kau bisa bertahan, Lira. Kau sudah beberapa hari di sini. Kau belum mencoba melawan, belum mencoba lari. Apakah itu karena kau takut, atau karena kau mulai... menyesuaikan diri?"

Lira menatap matanya, menahan rasa marah dan takut. "Aku tidak akan pernah menyesuaikan diri dengan keadaan ini, Tuan Arion. Aku akan menemukan jalan keluar, secepat mungkin."

Arion tersenyum tipis, seperti puas dengan keberanian Lira. "Bagus. Keberanian itu bagus, tapi jangan sampai membuatmu terluka. Kadang keberanian tanpa perhitungan bisa menjadi bumerang."

Lira menggigit bibirnya, mencoba menyembunyikan kepanikan yang mulai muncul. Ia tahu setiap kata yang keluar dari mulut Arion bukan hanya peringatan, tapi juga ujian.

Hari-hari berikutnya semakin sulit bagi Lira. Ia harus mengikuti aturan yang ketat, setiap gerakannya diperhatikan, dan setiap perkataannya dicatat. Arion selalu ada, kadang diam-diam menatap dari sudut ruangan, kadang langsung menghadapi Lira dengan tatapan yang menusuk.

Namun, ada satu hal yang membuat Lira semakin bingung: Arion terkadang menunjukkan sisi lain. Di beberapa kesempatan, ia menyingkirkan bahaya yang mungkin mengancam Lira, memberikan makanan terbaik, bahkan menanyakan kabarnya.

Suatu malam, Lira berdiri di balkon, menatap hujan yang turun deras. Ia merasakan dingin yang menusuk tulang, tapi juga ada sesuatu yang aneh dalam hatinya.

"Kau tidak seharusnya berada di sini sendirian," suara Arion terdengar di belakangnya.

Lira menoleh, menatapnya dengan mata terbuka lebar. "Aku... hanya ingin udara segar."

Arion mendekat, menaruh tangan di rel balkon, hampir menutup Lira dengan bayangannya. "Udara segar? Atau... mencoba menguji batasmu?"

Lira menelan ludah. "Aku... aku hanya ingin bernapas sedikit. Tidak ada maksud lain."

Arion tersenyum tipis. "Baiklah. Tapi ingat, setiap langkahmu selalu aku perhatikan. Jangan sampai kau melakukan sesuatu yang membuatmu menyesal."

Keesokan harinya, Lira mencoba berlatih fisik secara diam-diam. Ia tahu ia harus kuat, setidaknya untuk bisa melarikan diri jika ada kesempatan. Di salah satu kamar kosong, ia menggerakkan tubuhnya, melatih refleks, menendang, meninju bayangan yang ia ciptakan sendiri.

Namun, ia terlalu larut dalam latihan, hingga tiba-tiba Arion muncul dari pintu. "Kau pikir aku tidak melihatmu?" tanyanya, nada suaranya dingin tapi ada sedikit nada tertawa.

Lira tersentak, mundur beberapa langkah. "Tuan... aku-aku hanya berlatih. Untuk keselamatan diri sendiri."

Arion melangkah masuk, menutup pintu dengan satu gerakan cepat. "Keselamatan diri sendiri... menarik. Aku suka semangatmu, Lira. Tapi jangan berpikir aku akan membiarkanmu bebas begitu saja."

Lira menahan napas, hatinya berdebar kencang. "Aku tidak ingin bebas... aku hanya ingin bertahan."

Arion tersenyum, mendekat. "Bertahan... itu kata yang tepat. Kita lihat seberapa lama kau bisa bertahan dalam permainan ini."

Malam itu, Lira termenung di tempat tidurnya. Ia mencoba mengingat kembali kehidupannya sebelum semua ini terjadi. Betapa ia hidup bebas, memiliki mimpi, memiliki teman, dan memiliki dunia yang penuh pilihan. Sekarang, semua itu seolah hilang, tersapu oleh satu peristiwa yang membawa namanya ke dalam kehidupan Arion.

Namun, ia menegakkan kepala, menarik napas panjang. Ia tahu, menyerah bukanlah pilihan. Ia harus menemukan cara, meski itu berarti harus menghadapi rasa takut yang paling dalam sekalipun.

Di sisi lain, Arion duduk di ruang kerjanya, menatap dokumen dan rencana-rencananya, tapi pikirannya selalu kembali pada Lira. Ia merasa tertarik, bukan hanya karena keberanian gadis itu, tapi juga karena tantangan yang ia hadirkan. Semakin Lira berontak, semakin ia ingin mengetahui batasnya.

Hari-hari terus berlalu, dengan pola yang sama: pengawasan, latihan diam-diam, dan percikan interaksi yang menegangkan antara Lira dan Arion. Ada momen-momen di mana Lira merasa seakan dekat dengan Arion, namun juga ada momen di mana ketakutan membuatnya gemetar.

Suatu siang, saat Lira duduk di ruang makan, Arion duduk di seberangnya. "Kau tahu, Lira... kau memiliki kekuatan yang luar biasa," katanya, menatap dalam ke matanya. "Tetapi kekuatan itu bisa menjadi kelemahan jika tidak kau kendalikan."

Lira menatapnya dengan tegas. "Aku tidak akan membiarkan siapa pun mengendalikan diriku, Tuan Arion. Aku sendiri yang menentukan jalanku."

Arion mencondongkan tubuh, senyum tipis menghiasi wajahnya. "Kau berani... itulah yang membuat permainan ini menarik. Tapi ingat, keberanian itu bisa menjadi perangkap."

Malam itu, Lira kembali berdiri di balkon, menatap hujan yang turun tanpa henti. Ia merasakan ketegangan yang tak kunjung reda, namun ada satu hal yang jelas di hatinya: ia tidak akan menyerah. Ia akan terus berjuang, terus mencari celah, dan suatu saat, ia akan menemukan kebebasan yang selama ini direnggut darinya.

Dan Arion? Ia tahu, semakin Lira berusaha melawan, semakin ia merasa tertantang. Semakin Lira berontak, semakin ia ingin melihat sejauh mana gadis itu sanggup bertahan.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Pertamaku, Suami Orang
8.9
Nisa, seorang lulusan pesantren, goyah oleh bujuk rayu Dani hingga terlibat hubungan terlarang. Padahal, pria yang menjadi cinta pertamanya itu sudah berstatus sebagai suami Rika. Meski Rika telah memperingatkannya dengan keras untuk pergi, Nisa enggan mundur karena merasa Dani harus bertanggung jawab atas hatinya. Kini ia dirundung dilema besar: menyudahi perselingkuhan ini atau tetap egois mengejar kebahagiaan di atas penderitaan wanita lain.
Sampul Novel Dia Memilih Kakak Angkatnya
9.4
Alpha Carl mendadak menghentikan operasi saat pisau bedahnya telah merobek kulitku. Demi menyelamatkan Bianca, adik angkatnya yang berniat bunuh diri, ia tega meninggalkanku di meja operasi dalam kondisi perut terbuka. Carl menyerahkan hidupku kepada Alpha Arthur sebelum pergi. Di tengah keputusasaan dan rasa sakit yang hebat, Arthur mengambil alih tindakan medis tersebut dengan dingin, sambil menegaskan bahwa ia tidak akan membiarkanku mati.
Sampul Novel Dokter Tampan dan Pasien
8.9
Han Jang Woo adalah dokter berbakat yang dikagumi di rumah sakit. Salah satu pasiennya, Kim Ae Jin, selalu melarikan diri setiap kali pemeriksaan payudara karena merasa sangat malu di depan Jang Woo. Di balik kecanggungan tersebut, ada sejarah kelam yang tersembunyi dari publik. Perlahan, rahasia masa lalu mereka mulai terungkap, membuktikan bahwa hubungan keduanya jauh lebih rumit dan mendalam daripada sekadar ikatan profesional antara dokter dan pasien.
Sampul Novel FATED (Tuan Mafia dan Nona Badut)
9.5
Dua kali gagal melangkah ke pelaminan membuat Raline merasa hidupnya dirundung kemalangan. Aksa dan Heru, para mantan kekasih yang lama mendampinginya, justru memilih menikahi perempuan lain. Namun, di tengah keputusasaan itu, takdir mempertemukannya dengan Axel Delacroix Adams. Kakak dari rivalnya yang merupakan seorang mafia itu tiba-tiba melamarnya hanya dalam waktu empat menit. Apakah ini jawaban atas penantiannya, atau justru awal dari prahara baru?
Sampul Novel Istri Tomboy Sang CEO
8.8
Zella Polly, gadis tomboy yang tidak tahan dengan diskriminasi di rumahnya, harus menikah demi mendapatkan izin keluar dari sang ayah. Pada saat yang sama, CEO muda bernama Hugo Chavez terpaksa mencari istri untuk mengatasi rasa sakit hati setelah dikhianati kekasihnya. Demi kepentingan masing-masing, keduanya sepakat melakukan pernikahan kontrak. Akankah mereka berhasil menghadapi berbagai rintangan dan dinamika baru dalam kehidupan rumah tangga ini?
Sampul Novel Oriaga Niel, Cintailah Aku
8.5
Satu bulan membina rumah tangga dengan Oriaga Niel, CEO brand Gregorious, Amanda merasa hidupnya bagai di neraka. Pernikahan tanpa cinta ini hanya menjadi sarana pelampiasan nafsu dan dendam masa lalu sang suami kepada keluarganya. Amanda begitu terhina karena diperlakukan layaknya alat pemuas belaka. Terjebak dalam kebencian mendalam, ia merasa seperti tawanan yang telah dibeli selamanya oleh Oriaga, pria dingin yang berambisi kuat untuk menghancurkannya.