APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pemikat Hati: Tak Mau Apa Pun Selain Kamu

Pemikat Hati: Tak Mau Apa Pun Selain Kamu

Tewas mengenaskan akibat pengkhianatan tunangan dan sahabatnya, ia terlahir kembali untuk memulai hidup baru. Begitu terbangun, ia hampir dicekik oleh suaminya. Setelah selamat dari maut, ia langsung menandatangani surat cerai demi kebebasannya. Nasibnya berubah drastis setelah menerima warisan besar dari sang ibu, membawanya sukses membalas dendam hingga meraih kejayaan karier dan asmara. Namun, saat berada di puncak, sang mantan suami tiba-tiba muncul kembali.
Bab
Bagikan

Bab 2

Rachel berhenti untuk melihat wanita yang sedang berjalan mendekatinya.

"Alice?" Alice Aditama adalah adik tirinya dan merupakan seorang wanita jahat yang benar-benar bermuka dua.

Alice berdiri di hadapan Rachel sambil memamerkan senyum lebarnya, "Kakakku sayang, apa kamu akan pindah?"

Rachel memutar bola matanya, kemudian dia memasang senyum palsu di wajahnya, "Sudah lama sekali sejak terakhir kali kita bertemu. Kenapa kamu masih suka mengajukan pertanyaan bodoh? Sudah tahu tapi masih saja bertanya."

Perkataan Rachel membuat Alice marah. Namun, dia segera menahan amarahnya dan memasang ekspresi polos lagi.

"Aku hanya mencoba menunjukkan sedikit perhatian padamu. Bagaimana bisa kamu menganggapku seperti itu?"

Perhatian?

Benar-benar konyol! Alice hanya ingin mengejeknya.

Dengan wajah tanpa emosi, Ivan ikut campur dalam percakapan mereka. Dia mengingatkan Rachel, "Nyonya Rayadinata, sudah waktunya untuk pergi. Tuan Rayadinata sebentar lagi akan kembali."

Mendengar perkataan Ivan membuat sudut mulut Rachel berkedut. Kemudian, dia menunjuk Alice dan berkata pada Ivan, "Bukannya aku tidak ingin pergi, hanya saja ada seekor hewan jelek yang menghalangi jalanku. Aku takut dia akan menggigitku."

Ivan dibuat terdiam dengan jawaban Rachel.

Di sisi lain, Alice mulai meneteskan air mata palsunya, "Rachel, aku tahu kamu akan bercerai hari ini. Aku sangat khawatir kamu akan merasa sedih, jadi aku meninggalkan pekerjaanku lebih awal untuk datang menemuimu. Bagaimana... Bagaimana bisa kamu mengatakan ucapan seperti itu padaku? Aku adalah adikmu."

"Diam! Aku tidak punya adik yang seperti seekor hewan." Rachel bergegas menjauh dari Alice dan berbalik ke arah Ivan lagi, "Ivan, bagaimana aku pergi?"

Ivan mulai merasakan pelipisnya terasa sakit dan dia gagal mempertahankan ekspresi tegasnya untuk sesaat. Tidak punya pilihan lain, dia berkata pada Alice, "Nona Aditama, mohon permisi."

Alice menggigit bibir bawahnya, tatapan matanya terlihat berapi-api karena amarah yang dia rasakan saat ini. Untungnya, poni panjangnya berhasil menutupi tatapan matanya yang membara itu.

"Ivan, seekor hewan yang tidak terlatih tidak bisa memahami bahasa manusia," ujar Rachel mengejeknya.

Ucapan yang dilontarkan Rachel membuat Alice semakin merasa marah. Dia mengepalkan tinjunya dan memelototi Rachel.

Ketika melihat Alice sedang mencoba menahan amarahnya, Rachel memiringkan kepalanya sedikit dan menyunggingkan seulas senyum untuk membuatnya semakin kesal.

Senyum arogan yang terlukis di wajah Rachel membuat Alice sangat kesal.

'Apa yang sedang terjadi? Rachel biasanya pemalu, dia selalu bersikap patuh dan berterima kasih padaku. Kenapa sekarang kepribadiannya berubah?'

"Nona Aditama," panggil Ivan, suaranya menunjukkan sedikit ketidaksabaran.

Alice mengerucutkan bibirnya, menekan kecurigaannya, "Ivan, aku tidak bermaksud melarang Kakakku untuk pergi. Hanya saja, Victor memintaku untuk melihat bagaimana keadaan di sini."

Baik Ivan maupun Rachel terkejut mendengar perkataan Alice.

"Victor tahu aku akan datang ke sini, jadi dia secara khusus menyuruhku untuk melihat Rachel berkemas dan pergi. Dia mengatakan bahwa menurut perjanjian perceraian, Rachel tidak diizinkan mengambil apa pun yang menjadi milik Keluarga Rayadinata Aku di sini hanya untuk memastikan bahwa dia tidak melanggar kesepakatan." Alice berkata sambil melihat ke arah koper yang ada di samping Rachel.

"Jadi Rachel, bisakah kamu membuka kopermu? Aku perlu memeriksa apa kamu mengambil sesuatu yang bukan milikmu atau tidak."

Rachel mengerutkan kening ketika mendengar ucapan itu, "Koper ini hanya berisi beberapa pakaian. Aku tidak mengambil apa pun milik Keluarga Rayadinata!"

Alice mengambil koper dari tangan Rachel dan berkata, "Sayangnya, bukan kamu yang memutuskan hal itu. Jika kamu memang tidak mengambil sesuatu yang bukan milikmu, kenapa kamu begitu takut untuk memperlihatkan isi kopermu padaku?"

Setelah mengatakan itu, Alice meletakkan koper Rachel di lantai dan membukanya.

Di dalamnya, beberapa pakaian menumpuk berantakan. Sepertinya Rachel memang benar-benar tidak membawa sesuatu yang berharga.

Melihat kenyataan ini, Alice menggertakkan giginya. Dia tidak menyangka Rachel mengatakan yang sebenarnya. Tidak ingin membiarkannya pergi begitu saja, Alice mulai mengobrak-abrik pakaian itu. Seolah-olah dia tidak akan berhenti sampai menemukan bukti yang bisa membuktikan bahwa Rachel telah mencuri sesuatu dari Keluarga Rayadinata.

Tidak ada barang lain selain pakaian dan kosmetik di dalam koper milik Rachel, tapi Alice terus mengobrak-abrik kopernya selama lebih dari 10 menit.

"Apa kamu sudah selesai memeriksa?" tanya Rachel sambil menatap Alice.

"Aku hanya mengikuti perintah Victor. Lebih baik aku memeriksa dengan teliti," jawab Alice lembut.

"Oke. Silakan, periksa pakaian itu selama yang kamu inginkan. Aku tidak menginginkan mereka lagi." Rachel menggelengkan kepalanya.

Memar di tubuhnya masih belum sembuh. Dia benar-benar tidak ingin membuang waktunya lebih lama lagi dengan Alice, dan dia juga tidak ingin menunggu Victor hingga kembali dan mencoba mencekiknya lagi.

Setelah selesai berbicara, Rachel langsung melewati Alice dan berjalan menuju lift, kemudian dia menekan tombol lift. Ivan segera mengikutinya di belakang.

Ting!

Tak lama kemudian, lift pun tiba di lantai tiga dan pintunya terbuka perlahan. Tepat ketika Rachel hendak masuk, dia tiba-tiba merasakan udara dingin menyergapnya. Suhu di sekitarnya turun beberapa derajat, membuat tubuhnya seketika menggigil dan terasa kaku.

Hal pertama yang Rachel lihat adalah sepasang sepatu kulit yang mengkilat. Kemudian, ketika mengangkat kepalanya, dia melihat wajah Victor yang acuh tak acuh.

"Tuan Rayadinata." Ivan yang pertama kali bereaksi, dia menundukkan kepalanya dengan hormat.

"Rachel, sepertinya kamu lupa apa yang kukatakan padamu pagi ini." Ada kilatan peringatan di mata Victor, dan suaranya juga terdengar sedikit marah.

Ketika melihatnya, Rachel teringat bagaimana Victor mencekiknya pagi ini. Sekarang tubuhnya gemetar ketakutan dan secara naluriah Rachel bersikap waspada terhadap apa yang mungkin dilakukan pria itu padanya.

Masih sambil berdiri diam dengan tubuh kaku, Rachel kemudian berkata, "Tidak, aku ingat."

"Oh, kamu ingat? Lalu, kenapa kamu masih di sini?" Victor bertanya sambil berjalan perlahan ke arahnya.

Rachel masih terus berjalan mundur hingga punggungnya menabrak dinding. Dia memejamkan matanya sejenak, kemudian memberanikan diri untuk menatap mata Victor.

"Kamu harus bertanya pada Alice. Aku mau pergi, tapi dia muncul entah dari mana dan menahanku. Itu sebabnya aku..."

Rachel hampir menyelesaikan penjelasannya ketika Alice tiba-tiba memotongnya.

"Bagaimana kamu bisa berbohong seperti itu?" tanyanya dengan mata berkaca-kaca.

"Aku tidak berbohong!" Saat ini, Rachel mengutuk Alice di dalam hati. Jika bukan karena wanita ini, dia pasti sudah pergi satu jam yang lalu, dan dia tidak akan bertemu dengan Victor.

Sial.

Alice bertingkah seolah-olah akan menangis dan berkata, "Victor, aku tidak bermaksud menunda kepergian Rachel. Aku hanya mengikuti perintahmu untuk memeriksa barang bawaannya. Aku takut dia akan mencuri barang-barangmu. Kakakku suka berbohong, aku tidak menyangka dia akan berbohong lagi kali ini."

Perkataan Alice mengingatkan Victor akan semua yang telah dilakukan Rachel, membuatnya terlihat lebih kesal dari biasanya, "Apa kamu benar-benar berpikir aku tidak berani membunuhmu?"

Tiba-tiba, Victor mencekik Rachel dengan tangannya dan membuat bagian belakang kepalanya terbentur ke dinding. Rachel tidak melihat serangan itu datang, tapi dia refleks meraih tangan Victor. Rasa sakit yang datang dari bagian belakang kepalanya membuatnya pusing.

"Vic... Victor!" Rachel dengan susah payah memanggil Victor.

"Beraninya kamu menguji kesabaranku berulang kali?" ujar Victor.

Rachel merasa mulai kehilangan kesadarannya. Dia sama sekali tidak bisa melepaskan dirinya dari cengkeraman Victor.

Melihat situasi ini, Ivan memutuskan untuk turun tangan. Dia buru-buru melangkah maju dan berkata, "Tuan Rayadinata, jika sesuatu terjadi pada Nyonya Rayadinata, orang-orang di jajaran direksi akan menggunakannya untuk melawanmu. Jika itu terjadi, rencanamu untuk memusatkan ekuitas akan terhambat."

"Enyah!" bentak Victor.

Sekarang, jari-jari Victor yang mencengkeram leher Rachel menjadi pucat dikarenakan cengkeramannya yang sangat kuat.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bagaikan Debu Bertemu Mercusuar
8.2
Pernikahan Velia dan Chris Dirja yang baru berjalan dua tahun diuji oleh sikap kejam sang suami. Chris sengaja membawa perempuan lain ke rumah mereka demi menyiksa perasaan Velia. Dia bahkan menantang istrinya untuk mencoba menjalin hubungan dengan pemuda lain yang lebih berenergi. Namun, permainan mental ini menjadi bumerang ketika Velia benar-benar membuka hatinya untuk pria lain. Saat Chris menyadari luka cakaran baru di pinggang pemuda selingkuhan Velia, kemarahan dan kecemburuannya pun meledak.
Sampul Novel Diary Cinta Naelsa: Macaca Lova
8.5
Buku harian lama yang tak sengaja ditemukan kembali membawa Naelsa larut dalam kenangan masa sekolah. Lembar demi lembar catatan itu membangkitkan ingatan manis tentang cinta monyetnya bersama seorang teman sekelas. Kisah romansa masa lalu yang penuh emosi ini memiliki sebutan unik dari Myna, sahabat dekatnya, yang menamainya Macaca Lova. Naelsa kini harus menelusuri kembali lembaran memori indah yang sempat terlupakan dalam hidupnya.
Sampul Novel Istri Keempat Sang Tuan Tanah
9.7
Demi melunasi utang, Lila terpaksa menikah dan menjadi istri keempat Tuan Thakur, tuan tanah kaya yang sangat dominan. Pria itu menegaskan bahwa pernikahan mereka bukanlah drama televisi yang mudah diakhiri. Tanpa ada kata cerai, Lila terjebak dalam komitmen seumur hidup, kecuali maut memisahkan atau suaminya sendiri yang melepaskannya. Kini, Lila harus menghadapi kenyataan pahit dalam pernikahan penuh intimidasi ini. Sanggupkah ia bertahan hidup bersamanya?
Sampul Novel Kesayangan Paman Mark
8.4
Dalam sebuah pertemuan rahasia yang menegangkan, Mark memaksakan kehendaknya pada Selva hingga gadis itu merintih kesakitan. Di tengah pergulatan tersebut, Mark berbisik dengan nada tertahan, memperingatkan Selva agar tetap diam. Ia sangat cemas jika suara Selva akan membangunkan orang tuanya yang tengah tertidur lelap di rumah tersebut. Hubungan terlarang ini menuntut kesunyian total demi menjaga agar rahasia gelap mereka tidak terbongkar oleh keluarga sendiri.
Sampul Novel Mas duda
9.5
Wika Adelia tidak menyangka tetangga barunya adalah dosen di kampusnya. Di kampus, beredar gosip miring bahwa pria itu merupakan duda yang diceraikan istrinya karena impotensi. Rumor ini membuat Wika heran, apalagi sang dosen nyata-nyata mempunyai seorang anak. Rasa penasaran yang membuncah mendorong Wika melakukan berbagai tindakan nekat demi membongkar kebenaran di balik misteri kehidupan pribadi dosen tersebut.
Sampul Novel Tarian Aksara
8.5
Sambil menangis di atas kursi roda, Ara meratapi kepedihan hidupnya di bawah langit senja. Ia merasa takdir begitu tidak adil padanya. Namun, Aksa hadir sebagai sahabat setia yang berjanji untuk selalu mendampingi gadis bermata hazel tersebut. Di tengah keputusasaan Ara yang mendalam, Aksa memohon agar ia tetap bertahan. Kisah ini menyoroti perjuangan berat menerima kenyataan hidup yang pahit dengan dukungan tulus dari orang terdekat.