APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pembalasan Dendam Sang Pemeran Figuran

Pembalasan Dendam Sang Pemeran Figuran

Setelah tewas membeku akibat dikhianati keluarganya, Anggi Suharjo terbangun kembali di hari pernikahannya dengan Luis Giandra yang kejam. Menyadari dirinya hanya figuran yang dikorbankan demi sang adik kembar, Wulan, Anggi bertekad tidak akan lagi mengemis kasih sayang. Menggunakan kecerdasan strategi militer dan keahlian medisnya yang luar biasa, ia siap menaklukkan dunia. Saat keluarganya yang menyesal mulai memohon ampun, Luis yang awalnya dingin justru enggan melepaskan Anggi demi membayar utang nyawa.
Bab
Bagikan

Bab 6

Setelah merapikan kotak yang dia bawa dari rumah, Anggi mengeluarkan sebuah buku medis.

Plak, plak ....

Jendela dalam ruangan bergetar karena ditiup angin dingin.

Anggi menggerak-gerakkan bahunya secara refleks dan berdiri untuk menutup jendela itu.

"Putri, apa yang terjadi?"

Seorang pelayan bertanya dari luar kamar.

"Bukan apa-apa," jawab Anggi. Saat meletakkan buku medisnya, dia baru menyadari bahwa hari sudah gelap.

Luis di mana? Kenapa belum pulang?

Anggi lalu berjalan ke luar kamar.

Pelayan yang menjaga di luar kamar lekas memberi hormat. "Putri." Pelayan itu berusia sekitar 15 atau 16 tahun. Rambutnya dikuncir dua dan dia mengenakan baju berwarna merah muda.

"Apa Pangeran ... keluar rumah?" Anggi terus menunggu kepulangannya.

Pelayan itu menjawab dengan sopan, "Izin menjawab, Putri. Pangeran seharusnya berada di ruang baca."

Artinya, Luis tidak keluar.

Benar juga. Kakinya tidak terlalu lincah. Kalau tidak terpaksa, seharusnya Luis tidak akan keluar rumah.

Setelah menguap, Anggi mengambil mantel hitam yang tergantung di tiang.

"Namamu siapa?" tanya Anggi.

"Hamba bernama Naira."

"Tolong pandu jalannya. Aku mau mengantarkan mantel ini untuk Pangeran." Ini sudah terlalu malam, tapi Luis tidak menitipkan pesan untuk Anggi. Oleh karena itu, Anggi tidak tahu harus menunggunya atau tidak.

Naira tertegun sejenak. "Putri, perlukah hamba meminta izin sebentar?"

"Meminta izin? Izin dari siapa?" Apa Anggi cuma dianggap sebagai pajangan di kediaman sebesar ini? Kenapa keluar saja harus meminta izin?

Anggi menghela napas, lalu mengangguk. "Pergilah."

"Baik." Naira membungkuk, lalu berjalan menuju ruang samping.

Tepat pada saat itu, pintu ruangan tersebut terbuka. Seorang wanita dengan pakaian berwarna hijau keluar.

Naira pun melapor dengan suara pelan, "Kak Mina, Putri bilang ingin mengantarkan mantel untuk Pangeran."

Mina mendengar sambil melirik ke depan pintu ruang utama. Kemudian, dia mendekati Anggi, lalu membungkuk. "Hamba bernama Mina, salam untuk Putri."

Anggi bertanya, "Cuacanya sangat dingin, apa aku boleh mengantarkan mantel ini untuk Pangeran?"

Mina tampak canggung.

Selama ini, wanita yang menikah dengan Pangeran selalu memiliki niat terselubung. Oleh karena itu, mereka tidak pernah dibiarkan hidup sampai hari kedua.

Sementara itu, Anggi ... sepertinya berbeda dengan mereka semua.

Anggi melewati malam pertama, meninggalkan noda darah, bahkan bisa kembali ke rumah orang tua sendiri.

Saat Mina terbenam dalam pikiran sendiri, terdengar suara derit kursi roda.

Semuanya lantas menoleh ke sumber suara dan mendapati Dika sedang mendorong kursi roda kemari.

"Hormat pada Pangeran." Semuanya segera memberi hormat.

Luis tidak menghiraukan mereka. Hingga Dika mendorongnya ke ruang utama, dia baru berkata pelan, "Masuk."

"Baik." Anggi menyahut dan masuk. Pada saat bersamaan, dia mendengar Mina sedang memerintahkan bawahannya untuk mengambil air cuci muka untuk Luis.

Setelah masuk, Anggi dan Luis tidak berbicara. Entah cuma perasaannya atau bukan, Anggi merasa dirinya mencium aroma yang tidak asing saat Luis tiba.

Dia berpikir keras, lalu menyadari bahwa obat-obatan itu baru dibawa pulang hari ini. Sedikit atau banyak, aroma dupa penenang mungkin akan menyebar keluar.

Anggi merasa dirinya jadi terlalu banyak curiga sejak pernah mati sekali.

Tidak lama kemudian, Mina memandu orang-orang yang membawakan air cuci muka dan baju ganti masuk.

"Pangeran, biarkan saya yang melayani Anda berbenah." Anggi berkata lembut kepada teman antagonis malang yang senasib dengannya.

Anggi sudah memutuskan, di kehidupan yang baru ini, dia mau mendampingi Luis. Siapa tahu kalau mereka menjalani hidup dengan baik, nasib mereka akan sedikit berubah.

Luis mendaratkan tatapan tajam pada Anggi. Tidak ada yang bisa menebak isi pikirannya.

Setelah sekian lama, dia baru menjawab, "Boleh." Kemudian, Luis melambaikan tangan.

Meski terkejut, Mina memberi hormat dan keluar dengan pelayan lainnya sembari menutup pintu kamar.

Deg, deg, deg ....

Jantung Anggi berdegup kencang.

Dia teringat dengan pakaiannya yang ditanggalkan Luis hingga tersisa sehelai baju dalam saat malam pertama mereka. Setelah itu, bahkan baju dalamnya terlepas di pagi hari berikutnya.

Sementara kali ini, dirinya yang harus menanggalkan pakaian Luis. Tangannya sontak menjadi kaku.

Saat ini, Anggi hanya bisa berdiri di tempat sambil mengepalkan tangan. Dia benar-benar gugup!

"Hm?" Luis bersuara karena Anggi belum juga mulai membantunya berbenah. "Kalau nggak mau, kenapa menawarkan diri?"

Seketika, wajah indah Anggi memerah. Apakah malu? Atau marah?

"Bu ... bukan." Wajahnya semakin memerah. "Maafkan saya, Pangeran. Saya terlalu malu."

Setelah hidup selama dua kehidupan, ini pertama kalinya Anggi akan melihat pria yang telanjang.

Luis tidak menjawab, melainkan langsung menggerakkan kursi rodanya ke kamar mandi. Para pelayan tadi telah menyiapkan air untuk mandi di sini.

Di balik penyekat ruang, samar-samar terlihat bayangan pria yang sedang melepaskan pakaiannya sendiri. Tidak lama kemudian, pria itu sudah masuk ke dalam tong mandi. Air di dalam bak sudah memercik keluar sebelum Anggi bisa melihatnya dengan jelas.

Anggi merasa, dia tidak boleh menjilat ludah sendiri.

Kalau dirinya mau hidup dengan nyaman, dia harus merawat suaminya dengan penuh hormat.

Kalau sampai Dariani tahu putranya tidak dijaga dengan sepenuh hati, Anggi pasti akan celaka lagi.

Anggi meneguhkan hati, lalu berkata, "Pangeran, saya bantu." Sambil berucap, Anggi sudah berjalan ke balik sekat.

Melihat lengan kuat yang tidak berbalut kain itu, Anggi bahkan tidak berani menggerakkan matanya. Dia buru-buru mengambil sabun dan kain untuk membasuh tubuh Luis.

Byur, byur ....

Dengan tangannya yang lembut, Anggi menyendok air dan menyirami lengan, bahu, dan tubuh pria itu.

Seiring Anggi membantu Luis mandi, napas Luis menjadi semakin tidak beraturan.

Setelah sekitar 15 menit kemudian, Luis akhirnya bertanya dengan suara serak, "Kenapa? Apa tubuh bagian atasku begitu kotor, jadi Putri terus mencucinya? Memangnya bagian bawahnya nggak perlu dicuci?"

Anggi tidak sanggup menjawab.

Sudahlah, sudahlah. Bagaimanapun, mereka memang suami istri. Memangnya dirinya bakal mati karena malu kalau membantunya mandi?

Sambil berkata, Anggi pun mengarahkan kain basuh ke dalam air.

Plak ....

Pria itu langsung menggenggam lengan lembut Anggi dan berkata dengan suara rendah, "Kalau nggak bisa, pergi saja!"

"Pangeran salah paham, saya nggak bermaksud ...."

"Nggak bermaksud?" Pria itu bertanya dengan sedikit merayu, lalu langsung menjatuhkan Anggi ke dalam tong mandi.

Gerakan yang tiba-tiba membuat Anggi terhuyung dan jatuh ke dalam tong mandi. Tanpa dia sadari, dirinya sudah duduk di sesuatu yang keras. Saat mengulurkan tangan untuk memegangnya ....

Ternyata itu adalah suatu batang yang keras!

Terbuat dari daging!

"Kurang ajar!" Sepertinya Luis juga tidak menyangka ini akan terjadi. Dia pun berseru marah.

Pria yang menjadi sandaran Anggi telah keluar. Tubuh Anggi yang kehilangan keseimbangan jadi terjatuh dan kepalanya tenggelam di dalam tong.

"Uhuk, uhuk, uhuk ...."

Anggi tersedak air sehingga terbatuk hingga wajahnya memerah.

Setelah Anggi membersihkan air dari mata dan wajahnya, Luis telah selesai memakai jubah mandi dan duduk di kursi roda. Kemudian, dia sudah keluar dari balik sekat.

Saat ini, Anggi berteriak dalam hati.

Kenapa dirinya mau menyentuh batang keras tadi!

Luis pasti mengira dia sengaja, makanya jadi marah!

Hidup ini memang banyak cobaan!

Walaupun Luis tidak sekejam yang dirumorkan, hidup berdampingan dengannya juga tidak mudah!

Anggi yang sudah jatuh ke dalam tong mandi memutuskan untuk mandi. Untung saja, Mina juga menyiapkan baju ganti untuknya. Kalau tidak, dia harus berjalan ke lemari dengan keadaan basah kuyup, atau telanjang.

Setelah Anggi memakai baju lengkap, Luis bersandar di tepi ranjang dan bertanya dengan ekspresi datar, "Putri paham selanjutnya harus melakukan apa, 'kan?"

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Balas Dendam seorang ibu
8.3
Kehidupan Maya runtuh seketika setelah putrinya tewas di tangan anak pejabat yang kebal hukum. Sadar bahwa keadilan tak akan pernah berpihak padanya lewat sistem yang korup, sang ibu memutuskan bergerak sendiri. Ia merancang pembalasan dendam yang matang demi menghukum sang pelaku, meski nyawanya menjadi taruhan. Akankah misi berbahaya ini membawa kedamaian yang ia cari, atau justru menghancurkan sisa hidupnya? Inilah perjuangan nekat seorang ibu demi kebenaran.
Sampul Novel Bunga yang Terinjak
9.3
Keadilan seolah mati bagi sang protagonis dalam novel aksi modern "Bunga yang Terinjak". Setelah pelaku pemerkosaan putrinya yang berasal dari keluarga kaya dibebaskan begitu saja, sang ayah harus menerima penghinaan keji. Pelaku melemparinya segepok uang sambil menyombongkan bahwa kekayaan mampu membeli segalanya. Di tengah keputusasaan dan amarah yang meluap, keinginan untuk membunuh sang pelaku langsung membakar jiwanya. Kisah misteri penuh dendam ini pun dimulai.
Sampul Novel Cinta yang Telah Menjadi Masa Lalu
9.1
Tragedi berdarah di rumah sakit mengubah hidupku selamanya. Saat sebuah pisau terayun, aku berusaha melindungi suamiku, Elvano Wiratama. Namun, ia justru menjadikanku tameng demi menyelamatkan adik juniornya. Tusukan itu merenggut bayi di kandunganku. Di ambang kematian, Elvano malah menurunkan tubuhku dari brankar ICU dan memaksa dokter mendahulukan juniornya yang hanya lecet. Di tengah kemarahan para medis, aku merelakan segalanya. Dengan sisa kekuatan, aku bertekad memutuskan semua ikatan dengannya.
Sampul Novel Devano Lauder
9.1
Dendam lama dari musuh masa lalu membayangi hidup Devano Lauder. Selama dua puluh tahun, ia berjuang keras menuntaskan perselisihan panjang yang penuh pertumpahan darah. Di tengah kekacauan itu, Devano sempat terjebak dalam cinta segitiga semasa remaja. Kini, setelah dewasa, ia rela mempertaruhkan nyawanya demi memikul tanggung jawab dan mengakhiri konflik. Meski bahaya terus mengintai, takdir akan menuntun perjuangannya menuju titik akhir yang adil.
Sampul Novel GADIS PENURUT TUAN MAFIA
7.9
Calvin memimpin kartel mafia kejam yang berbisnis ganja hingga senjata ilegal tanpa terendus polisi. Anggota keluarganya bahkan sangat sadis terhadap musuh. Namun, kekejaman Calvin goyah saat ia bertemu gadis jelita yang sangat penurut seperti robot. Meski memiliki masa lalu yang kelam, ketulusan senyum gadis itu perlahan meluluhkan hati sang bos mafia. Mampukah jalinan asmara unik ini bertahan di tengah kejamnya dunia kriminal mereka?
Sampul Novel Jiwa Pengganti
8.5
Pasca tewas tragis akibat patah hati di usia 27 tahun, Amelia terbangun di tubuh Castarica, putri bangsawan kejam berjuluk iblis. Di kehidupan barunya ini, ia terjebak dalam pernikahan dengan seorang pria berhati dingin yang menyimpan ambisi rahasia. Kini, Amelia harus berjuang bertahan hidup di raga sang antagonis, sembari menghadapi suaminya yang penuh misteri dan rencana tersembunyi. Mampukah ia melaluinya?