APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pelayan Ranjang Maduku

Pelayan Ranjang Maduku

Selama dua tahun, Kalila, seorang wanita karier yang sukses, rela membiayai gaya hidup mewah keluarga suaminya, Arkan. Walau sahabatnya berulang kali memperingatkan bahwa ia hanya dimanfaatkan, Kalila tetap bertahan demi cinta. Namun, kesabarannya runtuh saat pengorbanannya tak lagi dihargai. Kalila memutuskan untuk bersikap dingin dan menghentikan seluruh bantuan dana bagi mertua serta iparnya. Ia bertekad tidak akan lagi menjadi penopang hidup mereka yang tidak tahu diri.
Bab
Bagikan

Bab 3

Hari Sabtu seharusnya jadi waktu di mana Kalila bisa membalas dendam pada jam tidurnya yang hilang selama seminggu. Dia ingin bangun siang, pesan kopi lewat aplikasi, lalu luluran sambil nonton serial favorit di kamar yang sejuk. Apalagi setelah kejadian AC delapan juta kemarin, dia merasa benar-benar butuh waktu untuk menenangkan saraf-sarafnya yang tegang.

Tapi, baru jam tujuh pagi, gedoran pintu kamar sudah membuyarkan mimpinya.

"Kal! Kalila! Bangun, Sayang. Itu Ibu sama rombongan tante-tante dari kampung udah di depan," suara Arkan terdengar antusias dari balik pintu.

Kalila mengerang, menarik selimut sampai menutupi kepala. "Mas, ini jam tujuh. Sabtu. Kamu bilang mereka datengnya minggu depan?"

Pintu terbuka. Arkan masuk dengan wajah ceria, sudah rapi pakai kaos polo baru-yang juga dibelikan Kalila bulan lalu. "Ya namanya juga orang tua, pengen cepet-cepet liat rumah menantunya yang baru naik jabatan. Ayo dong, bangun. Nggak enak kalau mertua nunggu di ruang tamu sementara kamu masih gegulungan di kasur."

Dengan nyawa yang belum terkumpul penuh, Kalila duduk di pinggir kasur. Kepalanya berdenyut. "Mereka sarapan apa? Biar aku pesenin bubur ayam atau nasi uduk yang lewat depan deh."

Arkan langsung menggeleng cepat. "Eh, jangan. Ibu tadi pesen, katanya kangen masakan kamu. Dia bilang, 'Masakan Kalila kan paling enak, masa kita ke sini cuma dikasih makanan plastik'. Jadi, Ibu udah bawain bahan-bahannya dikit dari pasar, sisanya kamu belanja lagi ya ke pasar depan."

Kalila menatap suaminya dengan tatapan tak percaya. "Mas, aku ini baru tidur jam dua pagi karena nyelesain laporan. Aku capek banget. Kenapa nggak pesan katering aja? Aku yang bayar, nggak papa. Yang penting aku nggak perlu masak buat sepuluh orang."

"Duh, Kal, kamu ini gimana sih? Masak buat keluarga itu ibadah. Lagian, tante-tante aku tuh pengen liat kamu pantes nggak jadi Senior Manager di rumah juga. Masa di kantor hebat, di dapur payah? Udah sana, cuci muka, terus ke pasar. Ibu udah nungguin di dapur tuh, mau 'nemenin' katanya."

'Nemenin' dalam kamus Bu Lastri artinya adalah duduk di meja makan, memetik satu dua helai bayam, sambil memberikan instruksi ini-itu tanpa benar-benar membantu. Kalila tahu persis polanya.

Dengan langkah gontai, Kalila keluar kamar. Di ruang tamu, sudah ada Bu Lastri dan dua saudaranya, Tante Rosa dan Tante Netty. Mereka sedang sibuk memeriksa gorden rumah Kalila.

"Eh, Kalila. Baru bangun? Jam segini kalau di kampung mah udah selesai nyuci daster," celetuk Tante Rosa sambil tersenyum miring.

"Iya, Tante. Semalem lembur kerja," jawab Kalila singkat, mencoba tetap sopan walau hatinya dongkol setengah mati.

"Ya namanya juga bos, pasti sibuk. Tapi kalau di rumah ya tetep istri, ya kan?" timpal Bu Lastri. "Itu Kal, Ibu udah beli daging rendang dua kilo. Dimas juga ikut, dia pengen banget rendang buatan kamu. Katanya rendang kamu beda. Tuh, Dimas lagi main game di depan."

Kalila melirik ke arah teras. Dimas, si adik ipar yang kuliahnya dia biayai, sedang asyik teriak-teriak main game online di ponselnya, kaki diangkat ke atas kursi, tanpa ada niat menyapa atau sekadar membantu membawakan belanjaan ibunya tadi.

"Kalila ke pasar dulu ya, Bu," pamit Kalila.

"Eh, Mas Arkan mana? Suruh anterin dong, kasian kamu bawa belanjaan banyak," kata Tante Netty.

"Arkan lagi mau nyuci motor, Tante. Katanya motornya kotor banget mau dipake nanti sore buat nganter Ibu jalan-jalan," sahut Arkan dari arah belakang.

Akhirnya, Kalila berangkat sendiri. Di pasar yang becek dan penuh sesak, dia membawa kantong belanjaan yang makin lama makin berat. Bahunya perih, kakinya pegal. Sambil menawar harga cabai yang makin mahal, dia bertanya-tanya: Kenapa aku di sini? Kenapa aku yang harus melakukan ini semua?

Sesampainya di rumah, perjuangan sebenarnya baru dimulai. Dapur yang tadinya bersih kini berantakan. Kalila harus mulai memotong daging, menghaluskan bumbu, mengupas bawang yang jumlahnya sekilo sendiri. Asap dari tumisan bumbu mulai memenuhi ruangan. Matanya perih, peluh mulai membasahi dahi dan punggungnya.

Sementara itu, di ruang tengah yang hanya dibatasi sekat tipis, suara tawa dan obrolan terdengar riuh. Arkan, Bu Lastri, dan tante-tante itu sedang asyik ngobrol sambil ngemil kerupuk yang juga baru saja Kalila beli.

"Wah, hebat ya Arkan, bisa dapet istri kayak Kalila. Udah pinter cari uang, pinter masak lagi," suara Tante Rosa terdengar.

"Ya itu kan juga karena Arkan pinter bimbingnya, Mbak," sahut Bu Lastri bangga. "Dulu kan Kalila nggak kayak gini. Sekarang mah apa-apa nurut sama suami. Emang harus gitu, biar rejeki suami lancar."

Kalila yang sedang mengulek bumbu tambahan nyaris membanting ulekannya. Nurut? Bimbing? Yang ada dia merasa seperti robot yang sudah diprogram untuk memenuhi segala keinginan mereka tanpa boleh mengeluh.

"Mbak Kal, rendangnya jangan pedes-pedes ya! Aku lagi sariawan nih!" teriak Dimas dari ruang tamu tanpa beranjak sedikit pun.

Kalila tidak menyahut. Tangannya terus bergerak, tapi pikirannya sudah pergi jauh. Dia merasa sangat terasing di rumahnya sendiri. Dia yang membayar kontrakan ini, dia yang membeli kompor ini, dia yang membeli semua bahan makanan ini, tapi dia malah diperlakukan seperti pelayan oleh orang-orang yang numpang makan di sana.

Jam satu siang, makanan baru siap. Kalila sudah hampir pingsan karena kelelahan dan lapar. Dia menata makanan di meja makan dengan rapi.

"Ayo, ayo, makan semua!" seru Arkan dengan semangat, seolah dia yang sudah berjuang di dapur sejak pagi.

Mereka semua menyerbu meja makan. Rendang, sayur lodeh, ayam goreng, sambal-semuanya ludes dalam sekejap. Mereka makan dengan lahap sambil terus mengobrol, hampir tidak menyisakan ruang bagi Kalila untuk duduk.

"Kok rendangnya agak kurang garem ya, Kal?" kritik Bu Lastri setelah suapan ketiga. "Dagingnya juga kurang empuk dikit. Kayaknya tadi kurang lama kamu masaknya."

Kalila menarik napas panjang. "Tadi Ibu bilang jangan kelamaan biar nggak hancur dagingnya."

"Ya jangan kelamaan, tapi jangan terlalu cepet juga. Harus pas. Namanya juga masak buat orang tua, harus sabar," lanjut Bu Lastri tanpa merasa bersalah.

Kalila hanya bisa diam. Dia mengambil nasi sedikit, tapi seleranya sudah hilang. Dia melihat Arkan yang sedang asyik nambah rendang untuk ketiga kalinya. Suaminya itu sama sekali nggak sadar kalau istrinya bahkan belum makan dengan tenang.

Setelah makan selesai, pemandangan yang paling menyakitkan bagi Kalila terjadi. Mereka semua beranjak dari meja makan kembali ke sofa untuk nonton TV, meninggalkan tumpukan piring kotor, sisa tulang ayam, dan remah-remah nasi di atas meja.

"Aduh, kenyang banget. Enak ya kalau punya menantu pinter masak begini, tiap minggu bisa makan enak," kata Tante Netty sambil mengelus perutnya.

Kalila menatap tumpukan piring itu dengan tatapan kosong.

"Mas, tolong bantuin beresin piring ya? Aku mau istirahat bentar, kepalaku pusing banget," bisik Kalila pada Arkan saat suaminya itu lewat mau ambil minum.

Arkan mengerutkan kening, wajahnya terlihat risih. "Duh, Kal, masa aku yang nyuci piring? Malu dong diliat Tante sama Ibu. Cowok kok di dapur. Udah, kamu aja pelan-pelan. Kan bisa sambil santai."

"Tapi aku capek banget, Mas! Dari pagi aku belum duduk!" suara Kalila mulai bergetar.

"Sstt! Jangan kenceng-kenceng, nanti Ibu denger dikira kita berantem. Udah sih, tinggal cuci piring aja kok repot. Kamu kan biasa kerja berat di kantor, masa nyuci piring aja ngeluh. Udah ya, aku mau nemenin Dimas main PS dulu."

Arkan pergi begitu saja.

Kalila berdiri sendirian di dapur. Suara tawa dari ruang TV terasa seperti ejekan yang menusuk telinganya. Dia mulai mencuci piring satu per satu. Air keran mengalir deras, menyamarkan suara isak tangisnya yang akhirnya pecah.

Dia merasa sangat bodoh. Kenapa dia membiarkan dirinya diinjak-injak seperti ini? Dia seorang Senior Manager, dia punya kuasa atas ratusan orang di kantor, dia punya gaji besar, tapi di sini... di sini dia bahkan lebih rendah dari seorang pembantu. Karena pembantu setidaknya dibayar dan punya jam kerja. Dia? Dia yang membayar untuk disiksa.

Ponselnya di saku celana bergetar. Pesan dari Maya masuk.

"Kal, gimana Sabtu lu? Jadi luluran? Atau lagi jadi Chef Dadakan buat keluarga Arkan lagi?"

Kalila menatap pesan itu dengan tangan yang penuh busa sabun. Dia ingin membalas, ingin curhat, tapi dia terlalu malu. Malu karena dia tahu dia nggak mengikuti nasihat Maya. Dia lebih memilih jadi "istri penurut" yang malah berakhir jadi keset.

"Mbak Kal! Es jeruknya dong satu! Haus nih abis makan rendang!" teriak Dimas lagi.

Kalila mematikan keran air dengan kasar. Dia mengambil gelas, mengisinya dengan air putih biasa-tanpa es, tanpa jeruk-lalu membawanya ke depan.

"Ini," katanya sambil meletakkan gelas itu di depan Dimas dengan dentuman yang agak keras.

"Lho, kok air putih doang? Es jeruknya mana?" tanya Dimas heran.

"Kalau mau es jeruk, beli sendiri atau bikin sendiri. Tangan aku cuma dua, dan aku bukan pelayan kamu," jawab Kalila dengan nada dingin yang belum pernah dia gunakan sebelumnya.

Suasana ruang tamu tiba-tiba hening. Bu Lastri menoleh dengan wajah kaget. Arkan langsung berdiri, wajahnya merah padam.

"Kalila! Apa-apaan kamu ngomong gitu sama adek aku?" bentak Arkan.

"Aku cuma ngomong kenyataan, Mas. Aku capek. Kalau kalian mau makan enak, mau minum enak, tolong hargain orang yang nyiapinnya. Jangan cuma tau pesen ini-itu tapi pantat nggak mau geser dari kursi," kata Kalila, suaranya gemetar tapi tegas.

"Astaga, Kalila... Kamu kok jadi kasar gini?" Bu Lastri mulai berakting, matanya berkaca-kaca. "Ibu cuma mau kumpul keluarga, kok malah jadi berantem gini. Apa Ibu salah kalau minta kamu masak?"

"Nggak salah, Bu. Yang salah adalah saat Ibu nganggep tenaga saya itu gratisan dan nggak berharga. Saya manusia, bukan mesin!"

Kalila langsung berbalik, masuk ke kamar, dan mengunci pintunya rapat-rapat. Dia bisa mendengar Arkan menggedor pintu, memanggil namanya dengan penuh emosi, dan suara Bu Lastri yang mulai menghasut Arkan kalau istrinya itu sudah mulai "berubah" sejak punya jabatan.

Di dalam kamar yang gelap, Kalila meringkuk di lantai. Dadanya sesak. Tapi, di balik rasa sesak itu, ada sedikit rasa lega. Untuk pertama kalinya dalam dua tahun, dia berani bersuara. Meskipun dia tahu, setelah ini badai besar akan datang. Arkan pasti tidak akan tinggal diam, dan mertuanya akan menyebarkan berita buruk tentangnya ke seluruh keluarga besar.

Tapi Kalila tidak peduli lagi. Rasa lelah fisiknya mungkin bisa hilang dengan tidur, tapi rasa lelah di hatinya sudah sampai pada titik di mana dia tidak bisa lagi berpura-pura semuanya baik-baik saja. Dia menatap map biru di atas meja riasnya-map kenaikan jabatannya. Dia sadar, kalau dia bisa memimpin sebuah divisi besar, dia seharusnya juga bisa memimpin hidupnya sendiri.

Dia tidak mau lagi jadi mesin ATM yang juga merangkap jadi pelayan. Cukup sudah.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bangkit Dari Luka: Istri Yang Terbuang
8.1
Cinta tulus Jilly selama tiga tahun hancur saat Elton tega membuangnya ke laut demi menyelamatkan Rachel. Menghadapi pengkhianatan kejam sang suami, Jilly memilih menyembunyikan kehamilannya dan berencana kabur dari pernikahan toksik mereka. Ketika Elton akhirnya berhasil melacaknya dalam keadaan kacau dan memohon maaf demi anak mereka, hati Jilly telah membatu. Baginya, sosok ayah dari bayinya sudah lama mati sejak hari di mana Elton lebih memilih nyawa wanita lain.
Sampul Novel Bayaran Cinta Yang Terluka
9.4
Clarisse Nayara sangat marah ketika suaminya, Dario Mahendra, menunjuk Keiran sebagai pengawal pribadinya hanya agar bisa menghindarinya. Rasa sakit hati Clarisse kian memuncak setelah mengetahui Dario telah berselingkuh selama dua tahun. Didorong rasa dikhianati, ia nekat menjalin hubungan terlarang dengan Keiran untuk membalas dendam pada Dario. Namun, Clarisse tidak tahu bahwa Keiran memiliki rahasia gelap yang sangat berbahaya, mengubah siasatnya menjadi bumerang yang mengancam nyawanya.
Sampul Novel Diselingkuhi Saat Mengandung
8.7
Pernikahan Salma dan Rayden berada di ambang kehancuran. Walau sudah dikaruniai seorang putri dan kini Salma sedang mengandung enam bulan, kesetiaan suaminya goyah. Rayden berubah menjadi dingin sejak Clarissa, staf baru di kantornya, mulai mendekat. Di tengah perjuangan fisik masa kehamilan yang berat, Salma harus menelan pil pahit. Kepercayaan yang ia rawat sekian lama runtuh seketika saat perselingkuhan suaminya dengan Clarissa akhirnya terbongkar.
Sampul Novel Istri Kelima Sang Presdir
8.3
Bagi Cassandra, dinikahi Presdir kaya raya Bardolf Konstantino bukanlah berkah, melainkan mimpi buruk. Melalui rencana licik, ia terjebak kontrak pernikahan sebagai istri kelima yang penuh siksaan fisik dan batin. Cassandra bahkan dipaksa memberikan keturunan agar bisa bertahan. Demi menyelamatkan sang adik dari ancaman keluarga Konstantino, ia harus kuat. Cassandra kini bertekad menaklukkan hati suaminya yang sangat dingin dan tidak berperasaan itu.
Sampul Novel Kesempatan Ketujuh
8.6
Tujuh tahun lamanya seorang wanita biasa gigih mengejar Vincent, walau ia selalu mendapatkan penolakan dingin. Demi menjaga norma sosial, Vincent kerap bersikap kasar dan mencaci maki wanita itu karena merasa risi. Namun, sebuah rahasia tak terduga akhirnya terbongkar saat Mira tanpa sengaja melihat daftar kontak di ponsel pria tersebut. Ternyata, di balik segala kebencian dan sikap ketus yang selalu ditunjukkannya, Vincent menyimpan nomor Mira dengan nama Sayangku.
Sampul Novel Simfoni Pembalasan
8.4
Karier pianis genius Athena hancur setelah kecelakaan misterius melumpuhkan tangannya. Di masa sulit itu, ia justru dikhianati oleh suaminya dan sahabat terdekatnya sendiri. Di tengah keterpurukan, hadirlah Arthur, sosok misterius yang menawarkan kerja sama untuk membalas dendam. Athena pun memulai langkah berbahaya demi menuntut keadilan. Akankah taktik ini berhasil, atau ia justru akan hancur dalam intrik yang penuh kelicikan?