APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pelabuhan Terakhir

Pelabuhan Terakhir

Caca, seorang yatim piatu yang terasing di kediaman pamannya, harus menghadapi kenyataan pahit ketika lamaran Awan ditolak calon ibu mertua akibat perbedaan status sosial. Setelah neneknya wafat, ia memutuskan pergi ke pesantren di Purwokerto demi menunaikan wasiat sang ibu. Di lingkungan baru ini, Caca yang tomboy dan ceria dapat mengekspresikan dirinya secara bebas. Namun, pertemuannya dengan seorang rival justru menjeratnya dalam pusaran konflik asmara yang rumit dan penuh emosi.
Bab
Bagikan

Bab 3

Kami disambut tangis haru oleh keluarga dan tetangga. Bahkan beberapa sanak keluarga ada yang menangis histeris bahkan pingsan.

Kata-kata penghibur menyertai kami, namun aku kurang begitu antusias dan hanya menanggapi dengan anggukan atau senyum lemah.

Selanjutnya Eyang langsung di sholati dan dimakamkan. Eyang sudah dimandikan ketika di rumah sakit. Aku, Hasan dan Lik Marwan bahkan ikut memandikan jenazah Eyang saat masih di rumah sakit.

"Kamu yang sabar ya Ca," ucap salah satu kerabat, entah siapa aku tak tahu.

"Nggih."

Hasan dan Lik Marwan ikut masuk ke liang lahat untuk membantu memakamkan Eyang. Terakhir Hasan mengazani Eyang untuk terakhir kalinya.

********

"Tempat ini nyaman ya Ca, adem."

Aku menoleh ke arah Hasan dan tersenyum membenarkan perkataannya.

"Iya."

Aku dan Hasan tengah duduk menikmati hamparan sawah di depan rumah Eyang. Hari ini adalah hari ketiga kematian Eyang.

"Ca."

"Iya."

"Eyang udah gak ada."

"Aku tahu."

"Kita mau gimana?"

"Ya tetap tegar dan terus menata hidup."

"Kamu ...." Hasan menghentikan kalimatnya.

"Gak usah khawatir. Aku bisa jaga diri kok. Sepertinya kali ini kita harus berpisah untuk menggapai impian masing-masing."

Hasan mengangguk. Aku mencoba mengalihkan percakapan ke hal lain.

*******

Hari ini malam ketujuh setelah kematian Eyang Putri. Kami masih di Kebumen. Meski rumah sudah tampak reot tapi kami bersyukur masih bisa ditinggali untuk sekedar berlindung dari panas dan hujan.

Dan untuk selamatan Eyang Putri, kami benar-benar tak mengeluarkan biaya sedikitpun. Semua dilakukan atas kebaikan warga sekitar dan keluarga kami. Bahkan teman Bapak selama hidup benar-benar ringan tangan dan mau membantu kami.

Setelah acara tahlilan selesai, aku masuk ke kamar yang dahulu ditempati kedua orang tuaku. Aku sengaja membuka lemari, laci, foto-foto serta segala sesuatu yang berhubungan dengan kedua orang tuaku. Hingga kutemukan tumpukan surat yang setelah dilihat adalah surat antara ibuku dengan sahabatnya.

Rupanya sahabat Ibu bernama Aisyah dan mereka sempat mondok bersama dulu. Dulu ibuku pernah mondok. Bahkan dulu memintaku untuk mondok saat aku akan masuk ke SMP namun sayang beliau meninggal jadi keinginannya belum kesampaian.

Hampir satu jam aku berada di kamar ini. Kubaca lembar demi lembar surat mereka berdua. Entah mengapa sedikit mengobati kerinduanku pada Ibu. Hingga ada sebuah surat yang membuatku termenung cukup lama.

Fatimah, aku sudah menerima suratmu. Kalau kamu memang mau mondokin anakmu, sini aja ketempatku. Biar persahabatan kita tetap langgeng dan terjaga dan sering bisa ketemu. Jadi kita bisa cerita-cerita dan mengenang masa mondok kita dulu. Aku akan selalu menunggu kamu dan putrimu.

Salam sayang Aisyah.

Kulihat foto dua orang remaja usia SMA yang sama-sama cantik. Salah satunya adalah ibuku. Aku seperti melihat diriku sendiri. Ya, aku sangat mirip ibuku semasa mudanya.

*****

"Kamu kenapa? kok murung? Masih inget sama Eyang Putri?"

"Aku masih sedih Ca, tapi sebenarnya lebih ke arah lega. Setidaknya Eyang sudah tak akan merasakan sakit lagi. Dan melihat wajah bahagianya sebelum meninggal, aku tahu memang sudah waktunya Eyang meninggalkan kita. Jadi ya sudah kita harus ikhlas kan?"

"Iya."

Hening. Baik aku dan Hasan sibuk dengan pikiran masing-masing.

"Ca."

"Hem."

"Aku diterima."

Mataku membulat, "Benarkah? Yeee ... Selamat ya adikku, sahabatku, temen gelutku. Akhirnya kamu bisa S2 juga."

Kulihat Hasan tersenyum tipis dan lalu tampak sedih. Aku menepuk bahunya, "Kamu gak usah mikirin aku. Kamu pikir aku siapa? Bawang Putih? Sorry ya. Jadi kamu gak usah khawatir sama aku. Aku sekarang mau mondok. Mau mewujudkan keinginan Ibu sebelum beliau meninggal."

"Kamu itu Nenek Lampir."

"Kalau aku Nenek Lampir, kamu itu Gerandong."

Hahaha. Kami tergelak bersama.

"Oh iya minggu depan kita jadi wisuda. Aku sudah mendaftar dan kamu juga sudah aku daftarkan. Kita bakalan ikutan. Oke."

"Sip."

Kami berdua lulus 3,5 tahun dengan IPK cumlaude. Aslinya aku juga bisa ikut beasiswa S2 hanya saja aku memutuskan menjalankan amanah ibuku untuk mondok.

Akhirnya, kami akan ikut wisuda bareng teman seangkatan kami. Aku dan Hasan memang sudah berjanji dengan teman kami masing-masing bahwa walaupun kami lulus gasik tapi kami akan ikut wisuda bareng dengan teman seangkatan.

********

Aku dan Hasan menemui Lik Marwan. Kami memutuskan berbicara serius dengan beliau demi masa depan kami. Lilik menyetujui dan memberikan restunya. Saat wisuda, kami sengaja mengajak Lik Marwan tanpa istri dan kedua anaknya yang lain. Lik Marwan nampak bahagia, tangis haru tak bisa berhenti dari kedua matanya.

"Maafin Bapak ya Le, maafin Lilik Nduk. Bapak lemah. Lilik khilaf. Maaf," ucapnya saat memeluk kami yang memakai toga dan menggenggam piala penghargaan sebagai wisudawan terbaik untuk prodinya.

Lik Marwan kembali ke Jepara seminggu kemudian. Ia berulang kali masih meminta maaf pada kami. Mungkin kejadian saat Bu Laras menghina putranya dan diriku ini begitu membekas di hatinya. Sehingga ia mengijinkan kami untuk berjuang menjadi orang. Orang yang tidak akan dianggap hina lagi.

*****

Aku membantu Hasan menyiapkan keperluan untuk S2-nya. Seminggu lagi dia berangkat. Untungnya kami orang yang hemat. Uang beasiswa kami, benar-benar kami gunakan sehemat mungkin sehingga kami masih punya sedikit simpanan untuk menunjang hidup beberapa bulan kedepan. Apalagi selama kuliah, aku dan Hasan juga bekerja di resto milik sahabat kami, Jamal. Ditambah lagi sedikit 'warisan' dari Eyang Putri yang masih bisa beliau selamatkan terutama dari tangan Lik Mirna. Bahkan Lik Marwan saja tidak tahu.

"Ingat ya, selalu hubungi aku. Misal aku ganti nomer tapi email, instragam, dan facebook aku gak pernah ganti," ucapnya saat kami berada di bandara Adi Sucipto Jogja.

"Tenang. Akun somedku juga gak pernah ganti kok. Paling gak tahu kapan bukanya hehehe." Hasan mengusap ujung kerudungku dan kami berpelukan.

"Aku bakalan kangen sama cerewetmu. Kangen debat dan gelut sama kamu."

"Sama. Aku juga bakalan kangen sama kekonyolan kamu. Hati-hati ya. Kalau kepincut perawan Malaysia jangan lupa aku di beliin tiket buat kesana."

"Oke."

Akhirnya kami berpisah. Selamat tinggal saudaraku. Mari kita songsong masa depan kita. Mari kita rentangkan sayap kita yang sudah lama terikat.

Ketika pesawat yang ditumpangi Hasan sudah lepas landas, aku memilih menuju ke area foodcourt dan memesan fried chicken karena satu jam lagi aku juga harus naik kereta menuju Purwokerto.

Aku memutuskan akan merentangkan sayapku dan terbang kesana. Ke tempat sahabat ibuku. Di pondok Al-Hikam. Ada rasa gamang dalam hatiku. Namum, aku segera menepisnya dan membulatkan tekad bahwa ini pilihanku dan demi baktiku pada kedua orang tuaku.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Sejatinya
8.2
Lamaran pernikahan Dimas batal seketika demi menolong Janet yang terluka. Kejadian itu menyadarkan sang protagonis bahwa sosok Janet selalu membayangi hubungan mereka, mulai dari selera makanan hingga gaya berpakaian. Meski Dimas berdalih Janet hanyalah masa lalu dan masa depannya adalah dirinya, luka hati ini sudah terlalu dalam. Menolak terus dibanding-bandingkan, ia akhirnya memilih pergi dan menerima lamaran William Anderson, pria miliarder yang siap menjadikannya satu-satunya cinta sejati.
Sampul Novel Fall For You (Rindu)
8.0
Bagi Rindu Kinasih, perjodohan dengan Derren Aji Putra yang dikira indah justru berujung pada siksaan fisik dan batin yang kejam. Saat hidupnya hancur, Danielo Chris hadir. Atasan Rindu yang memiliki trauma masa lalu terhadap kekerasan itu menawarkan sebuah jalan keluar berupa kontrak pernikahan. Kini, Rindu dihadapkan pada pilihan sulit: terus bertahan dalam ancaman maut suaminya, atau mengambil keputusan nekat demi meraih kebebasan.
Sampul Novel GADIS PENURUT TUAN MAFIA
7.9
Calvin memimpin kartel mafia kejam yang berbisnis ganja hingga senjata ilegal tanpa terendus polisi. Anggota keluarganya bahkan sangat sadis terhadap musuh. Namun, kekejaman Calvin goyah saat ia bertemu gadis jelita yang sangat penurut seperti robot. Meski memiliki masa lalu yang kelam, ketulusan senyum gadis itu perlahan meluluhkan hati sang bos mafia. Mampukah jalinan asmara unik ini bertahan di tengah kejamnya dunia kriminal mereka?
Sampul Novel Hasrat Terlarang Suamiku
8.5
Lima tahun pernikahan Selin hancur setelah melihat Edward berselingkuh di pusat perbelanjaan. Pengkhianatan sang suami meninggalkan luka mendalam dan dilema besar bagi dirinya. Kini, ia dihadapkan pada dua pilihan sulit untuk menentukan masa depannya. Selin harus memilih antara mengubah penampilannya demi merebut kembali hati Edward dari sang pelakor, atau melangkah pergi demi mempertahankan martabat dirinya yang telah dihancurkan.
Sampul Novel Obat Omega Tak Dikehendaki Sang Alpha
9.7
Tiga tahun aku tulus menyembuhkan kutukan Alpha Kaelan, tetapi ia mengkhianatiku demi Lila saat hari ulang tahunku. Terhasut kelicikan Lila, Kaelan menyiksa keluargaku atas fitnah keji. Ketika ia memaksaku kembali, aku memilih memutuskan ikatan kami. Kini, aku berpaling ke kawanan musuh demi bersatu dengan pasangan takdir sejatiku yang baru saja terbangun dari koma panjangnya.
Sampul Novel The Romance Empress
8.2
Kebahagiaan Kang Mi Irene hancur setelah dinobatkan sebagai Permaisuri kedua. Setiap malam, ia dirundung pilu karena harus mendengar Raja Xie memanggil nama 'Permaisuri' saat bersama wanita lain. Kabarnya, sang Raja begitu terpukul atas kematian istri pertamanya, Permaisuri Jie. Mengapa Irene yang harus menanggung luka ini? Di depan pintu Aula Raja, ia hanya bisa menangis dalam diam, meratapi nasibnya yang malang tanpa ada yang mendengar.