APKDock Logo
Sampul Novel PEDIHNYA JADI ISTRI KE DUA PAK DOSEN

PEDIHNYA JADI ISTRI KE DUA PAK DOSEN

9.7 / 10.0
Menjadi istri kedua membawa penyesalan mendalam bagi Rania. Penulis ini berusaha pergi demi mendapatkan perceraian, tetapi sang suami yang berprofesi dosen terus menerornya. Saat berjuang menuntut keadilan, ia bertemu Yudha. Sosok yang terlihat tulus itu rupanya menyimpan niat buruk. Di tengah kepedihan dan pengkhianatan baru, mampukah perempuan tangguh ini bertahan, bangkit melawan, serta menyelesaikan badai hidupnya dengan cara yang elegan?

PEDIHNYA JADI ISTRI KE DUA PAK DOSEN Bab 1

Lembayung senja menghias jagat raya, membangkitkan seluruh manusia dari segala keluh kesah yang membahana.

Menggelar sajadah dan bersujud tunduk, patuh, taat juga tawadhu pada ketentuan TuhanNya.

Rania menginjakkan kaki di bandara Samsoedin Noor dengan bahagia. Kerinduannya pada kota kelahiran abah demikian menyelusup pori-pori hatinya dan membuatnya tak berdaya.

Rania di terima menjadi salah satu mahasiswi di sebuah perguruan tinggi swasta di kota itu.

Banjarmasin, kota seribu sungai dengan ribuan mimpi, harapan, cita-cita juga kenangan. Banjarmasin yang masyarakatnya agamis namun tak ekstrim terhadap agama lain.

Banjarmasin adalah kota paling familiar menurut Rania.

Ia bangga, mimpinya menjadi salah satu mahasiswi universitas itu tercapai kini.

Menjadi mahasiswi fakultas hukum strata 1, lucu memang, sedang ia sendiri sudah menempuh S2 ekonomi di kotanya.

Tapi apapun alasannya mimpi adalah cita-cita yang didekap hingga menembus alam bawah sadar.

Bukan hanya untuk sekedar memahami ilmu hukum agar dirinya tak buta hukum. Namun lebih dari itu. Ada 'hope' yang sedang ia gambar dalam perjalanannya.

Harapan tentang kesuksesan, harapan tentang pembuktian, harapan tentang mewujudkan kerinduan dan harapan tentang terwujudnya pembalasan.

Rania dengan tegap mendorong trolli menuju taxi yang telah ia pesan. Ringan langkahnya menuju sebuah rumah yang di kontraknya melalui media online.

Sebuah rumah mewah dengan perabotan mewah.

Rania sengaja memilih rumah itu bukan hanya sekedar untuk sebuah kenyamanan namun lebih dari itu.

Rania ingin merasa nyaman di rumah yang ia sewa. Merasa nyaman saat menulis dan nyaman saat menjamu kawan.

Rania ingin benar-benar berhasil dengan cita-citanya.

Memasuki perumahan elite di jalan A. Yani membuat Rania merasa perlu membawa pandangannya mengawasi sekeliling. Rumah-rumah bertingkat nan megah.

Dinding putih dan gerbang berpagar tinggi, ornamen minimalis ditambah dengan hiasan sebuah mobil mewah yang sedang dibersihkan oleh sopir pribadi.

Gambaran sorga dunia yang disulam demikian indah.

Rania turun tepat disebuah rumah bertuliskan A. 36.

Seorang wanita bergaun indah disamping sebuah toyota nampak anggun tersenyum ke arahnya.

Rania membalas senyum renyah wanita itu.

"Saya ibu Rumi pemilik rumah ini."

"Oh, saya Rania bu, " suara Rania renyah.

Wanita tersebut membimbing Rania masuk rumah berornamen bunga matahari tersebut. Ruang tamunya sedikit nampak naik dibanding ruangan yang lain. Di ruang keluarga sebuah sofa tanpa sandaran di hamparkan begitu saja di tengah ruangan. Ada karpet berbulu tebal berwarna hijau muda, menutupi sedikit saja kaca lebar yang terhampar dilantai. Ada hiasan tiga dimensi bernuansa kolam ikan di bawahnya.

Rania bangga dengan rumahnya. Setara dengan uang dua puluh juta yang ia berikan satu hari yang lalu untuk sewa rumah ini selama satu tahun.

Rania tidak lagi perduli dengan harga. Honor menulisnya terlalu besar bila hanya untuk bilangan dua puluh juta saja.

Dalam sebulan ia bisa tuntas menulis 10 judul novel. Bila satu novel berharga 200 USD belum termasuk bonus harian, royalti dan koin dari pembaca maka dalam sebulan ia bisa dapatkan lebih dari empat puluh juta hanya dengan menulis novel.

Rania tak perduli dengan letih yang kadang mengoyak-ngoyak dirinya, yang ia tahu ia harus kuat berjuang demi nama baik dan kesetaraan kehormatan di mata masyarakat.

Ia habiskan kesehariannya untuk menulis dan memintal doa pada Tuhan, ia yakin suatu hari apa yang ia pintal akan berbentuk. Dan inilah saatnya.

Inilah saat dimana dirinya merasa punya waktu membuktikan bahwa ia berharga dan layak dihormati.

Ia layak diperebutkan dan diperjuangkan. Ia layak dibanggakan dan dihargai.

Bila hari kemarin ia meminta karena memang ia sedang tak memiliki apapun untuk digunakan. Rania lelah berkejaran dengan hutang dan riba, maka meminta adalah jalan yang ia tempuh. Demi hidupnya, demi anak yang diasuhnya.

Tak malukah dirinya? Malu... pasti. Namun akan lebih malu lagi bila dunia mencatat namanya sebagai wanita tuna susila yang menggadaikan harga diri demi rupiah.

Hari ini, ketika ia berada di bulan ke tiganya melalui kontrak eksclusive bersama sebuah media online. Hari ini adalah hari kemenangan dimana dirinya benar-benar berjaya.

Ia telah memiliki sebuah mobil mewah, memiliki tas bermerk, kosmetik para artis dan perawatan tubuh yang intensive.

Hidup telah ia menangkan.

Hidup telah ia genggam.

"Kalau begitu saya pulang dulu ya mbak.."

"Rania, "

"Oh iya mbak Rania. Ini surat perjanjiannya, semoga saja betah."

"InsyaAllah betah, bu." jawab Rania lugas.

Ia mengantar ibu Rumi keluar dari rumah yang ia sewa. Kemudian Rania berkemas membereskan pakaian yang di bawanya. Sambil sesekali ia benamkan wajahnya diantara ranjang empuk kamar barunya.

Dua kakinya terjuntai di ujung ranjang, ia menghubungi satu nomor di ponselnya.

"Hallo, saya Rania, yang kemarin sempat buat janji."

"Saya butuh dua orang asisten rumah tangga,"

"Iya jadi..."

"Bisa kan ?"

"Oke, terimakasih."

Rania menghela nafas panjang kemudian mendekap bantal harum, merapatkannya di dadanya. Menekan tombol on pada remote AC yang tergeletak di ujung ranjang.

Sebelum tidur ia berujar, tak ada yang tidak mungkin bila Allah mengijinkan.

Keyakinan pada kekuatan Tuhan harus melekat kuat, hingga dalam kondisi apapun seorang hamba tidak akan kehilangan pegangan.

Lamat-lamat, dingin AC dan harum pewangi ruangan menyeruak seluruh sisi kamar. Mata indah Rania terpejam, bulu mata lentiknya pun mengatup, rapat.

Bayangan tentang hari esok berkejaran di mimpinya, bayangan tentang kemenangan dan tantangan baru, Rania sadar, ia harus mempersiapkan diri dengan matang. Ia tidak boleh rebah apa lagi tergelincir.

Titian itu harus ia lewati dengan hati-hati, bersahaja dan meninggalkan kesan sombong. Berguna namun tidak mudah di guna-guna, bermanfaat namun tidak mudah di manfaatkan.

Sepiring soto banjar dengan sesendok penuh sambal terhidang di piring tebalnya.

Dalam tidurnya ia telah berkelana, menghirup aroma segar soto banjar yang nikmat nian.

Rania tersenyum, mengenang orang pertama yang memperkenalkan dirinya pada soto banjar di anjungan pasar.

********

"Hey, tumben jalanan di Banjarmasin ini menjadi macet, mungkin karena sekarang warganya menjadi makmur dan berkecukupan. Hingga jumlah mobil semakin bertambah. Jumlah motor makin banyak dan jalanan menjadi sesak."

Dulu Banjarmasin tidak macet seperti ini. Macet memang seringkali menjengkelkan namun macet juga bisa dikaitkan dengan kehidupan masyarakat yang mulai mapan atau juga tata kota yang kurang baik berjalan.Entahlah.

Macet yang menggoda membuat beberapa caci maki muncul, untung saja hari hujan hingga terik matahari tak menimbulkan keresahan. Diantara macet Rania menyempatkan diri menghafal beberapa surah yang belum ia tuntaskan.

Rania menuju kampus tempat ia diterima bersekolah kembali. Kuliah di fakultas hukum. Universitas swasta ternama di kota ini. Universitas yang menjadi mimpi jutaan anak di luar sana. Universitas berkelas, begitu Rania selalu menyebutnya dengan bangga.

Wuih... mimpi-mimpi dirancang indah olehnya. Mimpi yang sudah dirajut ribuan menit yang lampau baru kini diijinkan terjadi.

Rencana manusia tidak akan pernah lebih baik dari rencana taqdir Tuhan. Memang demikianlah kenyataannya.

Dan beberapa bulan terakhir ini Rania memang disibukkan untuk menjelajah rencana Tuhan yang sudah dipahami, selalu tidak terduga.

Termasuk dengan jadwal kuliahnya tahun ini, ia adalah bagian dari tidak terduga nya rencana Tuhan.

Rencana untuk kuliah di fakultas hukum sudah Rania gagas lima tahun yang lalu,dengan segala tatanan kesempurnaan namun tidak berhasil, Tuhan berkata lain.. saat itu ia tidak ditaqdirkan untuk kuliah di fakultas hukum seperti inginnya,ia tidak ditaqdirkan membalas siapapun meski ia sangat ingin, ia hanya diijinkan menatap perjalanan itu dari jauh meski ia sangat sakit. Hari itu dalam ketidak mengertian nya tentang taqdir dan keniscayaan Tuhan ia sempat protes pada cita-cita yang tidak diijinkan terjadi. Dan hari ini ia didatangkan kembali dalam keadaan yang telah benar-benar siap. Dalam keadaan dimana seluruh komponen kekuatan itu telah bersatu, lahir dan batin. Secara materi Rania telah mampu mencukupi dirinya dan secara batin pun Rania telah benar-benar kuat. Tuhan memang luar biasa.

Rania tidak pernah menyangka bahwa dirinya akan dikirim Tuhan hari ini, taqdir nya kali ini memaksa dirinya untuk mengesampingkan segala aktivitasnya dan hanya memusatkan pada tujuannya untuk datang kemari.

Memenuhi keniscayaan Tuhan, Tuhan memang serba artistik, banyak hal tidak terduga yang sangat erat dengan sebuah keniscayaan. Sebagai seorang hamba sekali lagi, tugas kita hanya tunduk, taat dan patuh saja. Andai hari itu Rania membalas, mungkin ia tidak akan berada di kata 'menang' karena saat itu ia tidak punya amunisi apapun selain hanya modal nekat dan rasa sakit. Berperang tanpa amunisi sama halnya dengan bunuh diri.

Namun hari ini Tuhan membuktikan bahwa Ia begitu Maha Pengasih.

Kita tidak bisa memaksa bunga untuk mekar sesuai hitungan dan ilmu kita namun kita bisa saja menemuinya tumbuh mekar di luar dugaan. Saat itulah keniscayaan Tuhan sedang berjalan.

Rania, tersenyum mantap dari belakang kemudinya.

Kampus megah yang sering didatanginya beberapa tahun yang lalu itu berdiri menjulang.

Ia menatap atapnya dengan sebuah harapan, ia akan berhasil, berhasil mengambil ilmunya dan berhasil memangsa sasarannya.

Singa yang kemarin tidur itu hari ini telah terbangun serta siap memangsa siapapun yang main-main dengan hidupnya.

Rania turun dari mobil mewahnya, ia tegap menggamit tas branded dan sepatu Natasya, langkahnya ringan, tubuh rampingnya bergoyang.

Sesekali ia tundukkan wajahnya ketika melewati gerombolan mahasiswa yang melihatnya.

Usianya kini sudah tidak muda lagi namun jangan disangka, kemapanan wanita cantik yang mungkin berusia tidak muda, sangat menggoda dibandingkan wanita cantik yang baru bisa bernafas dan menatap dunia. Rania menjanjikan kemapanan itu untuk semua yang mendekatinya.

"Ruang mahasiswa baru dimana ya mbak ?"

"Oh, disana kak." ucap gadis kecil itu menunjuk satu ruangan yang berjajar dengan ruang lainnya.

"Terimakasih, " kemudian Rania melangkah pergi.

Teduh yang tercipta karena hujan yang hanya turun sesaat kemudian reda telah menciptakan sebuah dialektika indah.

Di kampus ini dulu ia menunggu cintanya berbalas, di kampus ini dulu ia meratapi nasibnya, dikampus ini juga ia memilah antara kata setius dan berpura-pura serius.

Kali ini ia kembali datang dengan keteguhan hati dan kemantapan diri.

Perjalanannya menuju kampus baru tempat ia menimba ilmu telah sampai di tempatnya. Hari pertama dimana ia akan minta penjelasan pada panitia penerima mahasiswa baru.

Rania menarik nafas panjang, menahan kemudian menghembuskannya perlahan-lahan.

Berat memang namun harus ia jalani.

Gadis itu telah melewati ribuan perjalanan

ia mengayunkan langkahnya bukan hanya dengan kakinya, ia melangkah dengan tangannya, dengan perasaannya juga dengan fikirannya.

Ia menembus semua batas yang tak pernah bisa ditembus oleh hati-hati yang kosong dan terapung-apung

Ribuan belantara telah ia lewati

Ribuan derita telah ia lalui

Dan ia telah berhasil

Menjadi peri tanpa tongkat bintang

Menjadi peri tanpa mahkota.

Gadis itu, Rania namanya. Kemunculannya mungkin akan menakutkan mereka yang pernah menggunakan hidupnya sebagai permainan.

akan menyeramkan bagi mereka yang pernah bermain-main dengan dosa.

Meskipun Rania datang hanya untuk menuntaskan rindu nya.

Rindu pada dosen baik bermata teduh yang dulu sering menolongnya.

Kedatangannya hanya untuk menuntaskan dendamnya, dendam pada dosen yang pernah melingkarkan cincin kecil di jari manisnya lalu kemudian memangkas bukan hanya jemarinya tapi sekaligus dengan pergelangan tangannya.

Rasa sakit yang hanya bisa Rania ceritakan pada Tuhan.

Rania hari ini datang menuju kampus dengan pilihan menjadi baik atau menjadi busuk.

Bersahabat saja dengannya bila kalian merasa bukan musuhnya.

Desis suara angin ..... di telinga-telinga yang dingin.

#cerita ini hanya fiksi belaka bila ada kesamaan nama dan tempat semua diluar kesengajaan penulis.

Lanjut Membaca

Daftar Isi PEDIHNYA JADI ISTRI KE DUA PAK DOSEN

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel Dosa Berbalut Cinta
8.6
Saschya terjebak dalam neraka pernikahan penuh kekerasan bersama Adnan, sosok suami yang tega menyiksanya demi membalas dendam kepada mertua. Di tengah penderitaan fisik dan batin yang tiada henti, orang dari masa lalu Saschya mendadak hadir kembali. Apakah kedatangan sosok tersebut akan menjadi penyelamat yang membebaskannya dari jeratan kejam Adnan, atau justru memicu prahara baru dalam kehidupannya yang telah hancur?
Sampul Novel Jadi Wanita
9.1
Sota, pemuda malas berusia dua puluh tahun, lebih memilih menganggur dan sibuk dengan gawainya meski ia sangat cerdas dan licik. Kebiasaan buruk ini membuat ibunya, Artisa, merasa sangat khawatir. Sebagai pekerja keras yang juga punya sisi licik, Artisa bertekad mengubah tabiat putranya secara total. Ia pun mengambil langkah ekstrem dengan mengubah fisik Sota. Akankah rencana drastis Artisa berhasil mengubah jati diri sang anak melalui transformasi tubuh ini?
Sampul Novel Kekasihku Meninggalkanku di Hari Pernikahan
8.0
Hari pernikahan Cherish hancur seketika saat Diego pergi begitu saja setelah menerima sebuah telepon. Kejadian itu membuat nenek Cherish murka hingga muntah darah dan akhirnya meninggal di rumah sakit tanpa ada yang membantu. Di tengah kedukaan di kamar mayat, Diego justru menghubungi Cherish untuk meminta donor darah bagi Zoey yang terluka. Dengan tegas, Cherish mengakhiri hubungan mereka dan pergi. Kini, Diego bersujud di bawah guyuran hujan, memohon kesempatan kedua dan rela memberikan segalanya demi Cherish kembali.
Sampul Novel Mafia In The Night
8.0
Demi ambisi besarnya, William, putra seorang bos mafia kejam, siap melakukan apa saja. Namun, sebuah pengkhianatan merenggut nyawa sang ayah, Ferdinand. Rosemary yang merupakan istri Ferdinand akhirnya mulai menyadari sisi gelap suaminya yang selama ini tersembunyi. Di tengah duka, William bertekad membalas dendam sekaligus membersihkan nama ayahnya dari fitnah. Meski jalannya dihalangi oleh seorang polisi wanita, William takkan mundur hingga peluru terakhir menyelesaikan segalanya.
Sampul Novel Penguasa Abadi Sepuluh Ribu Binatang
8.3
Suasana khidmat menyelimuti Puncak Lundao di Pulau Sepuluh Ribu Binatang saat puluhan ribu anak belia berkumpul. Para murid baru yang baru mendeteksi akar spiritual ini menyimak dengan saksama petuah tetua berjubah hijau. Sang tetua mengisahkan awal mula sekte yang dirintis oleh Wan Beast Immortal Li. Tokoh legendaris itu awalnya hanya kultivator biasa asal Kerajaan Qin di Alam Qianyang sebelum akhirnya berhasil meraih keabadian.
Sampul Novel Penyesalan CEO Cantikku yang Dingin
9.2
Clayden Ardhanesa, dahulu dikenal sebagai Bradford, rela melepas kejayaannya di puncak dunia demi menikahi wanita yang dicintai. Ia memilih melindungi sang istri dari balik layar hingga wanita itu sukses. Namun setelah berhasil, sang istri justru menganggap Clayden tidak berguna dan meminta cerai. Saat nama Clayden kembali bergema di panggung dunia, sang mantan hanya bisa bersimpuh menyesali keputusannya sambil menangis tanpa henti.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan