APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pedang Kebenaran Sejati Seri 3

Pedang Kebenaran Sejati Seri 3

Setelah bertemu orang tuanya, Permana Brata fokus menyembuhkan Ki Sasmaya. Pemegang Pedang Kebenaran Sejati ini ingin membalas kebaikan gurunya. Namun, ia harus menghadapi kelompok Musto Ireng yang meneror lewat perampokan dan penculikan. Demi menyelamatkan dunia persilatan dari kehancuran akibat ulah para pemberontak kejam tersebut, Permana segera bertindak untuk menghentikan kekacauan yang terjadi.
Bab
Bagikan

Bab 1

Permana terus menyusuri pantai utara. Di dekat pantai utara, tepatnya di Dukuh Talokan, jauh di sebelah di utara Pulungwarih, Ki Sasmaya tinggal. Menurut kabar terakhir yang diperoleh Permana dari para pendekar dari golongan putih, Ki Sasmaya tinggal di sebuah rumah sahabatnya yang bernama Ki Bingleng. Di kalangan persilatan, Ki Bingleng ini dijuluki Pendekar Bisu karena jarangnya dia bicara. Dia tidak banyak bicara bukan karena tidak tahu apa-apa, tapi justru karena terlalu banyak pengetahuan yang ada di kepala. Untuk mengeluarkan berbagai pengetahuan sekaligus bukan hanya dibutuhkan satu lidah, atau satu mulut, tapi mungkin ribuan. Lebih dari satu mulut baru memadai untuk mengeluarkan segala pengetahuan yang dimiliki Ki Bingleng.

Ki Bingleng pernah menggemparkan dunia persilatan karena ilmu silatnya yang aneh. Sebuah jurus yang sampai sekarang tidak ada yang tahu namanya, sulit dicari tandingannya. Sehingga para pendekar dari dunia persilatan merasa segan padanya. Baik dari golongan hitam atau golongan putih, sama-sama menghormati Ki Bingleng.

Sudah sejak kecil Ki Bingleng menjadi sahabat Ki Sasmaya. Pada masa kecil, mereka sama-sama bengal. Bedanya, Ki Sasmaya lebih parah. Sehingga Ki Sasmaya sampai menderita sebuah penyakit yang sampai sekarang belum ditemukan obatnya. Kecuali kalau usaha Permana nanti berhasil, maka obat itu baru bisa dikatakan: telah ditemukan.

Permana percaya pada ayahnya, Baron Smith. Ayahnya pasti tidak akan berbohong, atau bermain-main dengan temuannya. Sudah puluhan tahun dia keliling dunia. Menjelajahi setiap jengkal tanah yang ada hutannya untuk mencari tanaman obat. Kini salah satu temuannya, akan digunakan Permana untuk mengobati gurunya, Ki Sasmaya.

Sebelum kembali ke tanah asalnya, –Tanah Hijau— Baron Smith memang belum merasa yakin benar bahwa sakit Ki Sasmaya bisa disembuhkan dengan salah satu ramuan obat yang dia temukan di bumi pertiwi ini. Tapi Baron Smith tetap merasa yakin bahwa dengan berbagai takaran yang tepat, maka kemungkinan besar penyakit Ki Sasmaya bisa disembuhkan.

Memang begitulah kenyataannya. Khusus untuk penyakit yang diderita Ki Sasmaya, baik Permana maupun Baron Smith belum tahu apakah nantinya bia disembuhkan atau tidak. Hanya saja, berdasarkan pengalaman Baron Smith selama ini, kemungkinan besar bisa disembuhkan dengan salah satu resep pengobatan yang dia temukan.

Nanti setelah bertemu Ki Sasmaya, Permana ingin segera menyatakan maksudnya. Pendekar Pedang Biru yakin bahwa Ki Bingleng pasti tidak akan tinggal diam. Si Pendekar Bisu itu pasti akan memberikan bantuan kepada Permana. Baik berupa pemikiran, maupun tindakan secara langsung. Sebagai seorang pendekar yang cerdas otaknya itu, pasti sangat membantu Permana.

Menjelang matahari di atas kepala, Permana duduk di atas sebuah batu, di bawah pohon kelapa yang tumbuh di pantai utara. Angin yang bertiup menerpa wajah si Pendekar Budiman Pedang Biru. Rambutnya yang agak panjang tertiup angin, bergerai-gerai.

Pendekar muda itu memandang ke laut lepas. Pandangan matanya menembus cakrawala di utara sana. Seolah-olah bisa menembus sampai nun jauh di sana. Di Tanah Hijau, asal-usul ayahnya.

Dia teringat kata-kata ayahnya sebelum pulang. Baron Smith pernah bercerita padanya bahwa di Tanah Hijau sana Permana memiliki seorang saudara. Seorang kakak perempuan bernama Jeanne Smith. Ayah Permana ingin mempertemukan Jeanne dengan Permana suatu saat nanti. Entah kapan, Baron Smith belum bisa memastikan. Entah di mana, laki-laki dari Tanah Hijau itu belum bisa memastikan. Yang jelas, sudah ada niat dari orang tua itu untuk mempertemukan kedua anaknya. Yang berbeda asal-usul dan berbeda pula ibundanya.

Ada satu kemiripan antara Permana dengan Jeanne, begitu kata Baron Smith kepada Permana. Keduanya memiliki mata biru. Yang berbeda dengan orang-orang di Tanah Jawa. Selain biru pada bola matanya yang sama, ada kemiripan wajah antara Jeanne dengan Permana. Hanya tingginya saja mungkin yang berbeda. Jeanne mungkin memiliki tinggi yang lebih dibandingkan Permana. Atau paling tidak, mungkin keduanya memiliki tinggi yang sama.

Dari keterangan ayahnya, Permana waktu itu timbul sebuah keinginan untuk bertemu dengan kakak perempuannya. Itu sebuah keinginan yang wajar. Seseorang ingin bertemu orang tuanya, atau saudaranya merupakan sebuah keinginan yang wajar. Karena hal itu sifatnya naluriah, manusiawi, dan masuk akal. Walaupun Jeanne hanya saudara tiri lain ibu, tapi dalam benak Permana sudah terasuk seperti saudara sekandung yang memiliki ayah dan ibu yang sama.

Nyatanya demikian.

Memang begitulah yang tertanam di benak Permana. Pendekar muda berwajah tampan itu sudah merasakan bahwa Jeanne sama dengan saudara kandungnya, walau sebenarnya memang bukan saudara kandung. Jeanne adalah saudara satu-satunya –begitu menurut pengakuan Baron Smith— yang bertempat tinggal nun jauh di sana. Itu yang membuat Permana merasa sedih juga. Keinginan untuk bertemu sudah menggebu-gebu, namun tidak mungkin dirinya segera bertemu. Untuk perjalanan ke sana saja butuh waktu berminggu-minggu, atau mungkin berbulan-bulan kalau dalam pelayaran banyak rintangan.

Walaupun keinginannya untuk bertemu dengan Jeanne sangat kuat, tapi Permana tetap harus menahan diri. Karena sekarang ada satu hal yang harus segera dia selesaikan. Menyembuhkan penyakit gurunya.

Tiba-tiba Permana teringat tentang penyakit yang diderita gurunya. Sebuah penyakit aneh gara-gara Ki Sasmaya menelan ramuan daun wisarum pada masa mudanya. Permana ingat cerita gurunya tentang penyakit aneh itu. Pada masa muda, Ki Sasmaya memang termasuk pendekar jahat dari golongan hitam. Untuk membuat tubuhnya kebal dari segala racun dan kalau terluka cepat sembuh, Ki Sasmaya menelan ramuan daunan-daunan dipadu dengan daun wisarum. Hasilnya memang benar, Ki Sasmaya waktu muda dulu kalau terluka mudah sekali sembuhnya. Atau cepat sembuhnya. Kalau terkena racun, tubuhnya sudah kebal. Kebal dari segala bentuk dan macam racun. Racun yang paling ganas dan mematikan sekalipun, tidak akan berpengaruh apa-apa bagi Ki Sasmaya. Tapi sayang, semua itu ada akibat buruknya. Bahkan akibat yang sangat buruk bagi Ki Sasmaya di masa tuanya sekarang.

Dalam jangka waktu sekitar lima puluh tahun setelah minum ramuan daun-daunan dan daun wisarum, maka Ki Sasmaya terserang sebuah penyakit yang aneh. Yang belum tersembuhkan sampai sekarang. Jadi ada dua akibat yang mesti dialami oleh seseorang yang pernah minum ramuan pengebal tubuh dari racun itu. Pertama, khasiat ramuan itu akan lenyap setelah lima puluh tahun. Kedua, akan tumbuh noda hitam dimulai dari ujung jari-jari kaki. Noda hitam itu semakin lama akan semakin merambat. Bila Ki Sasmaya mengeluarkan tenaga dalam, maka noda hitam itu akan semakin bertambah. Akan semakin meluas. Bila seluruh tubuh telah terkena noda hitam itu maka Ki Sasmaya akan cepat mati. Akan tewas akibat serangan balik dari ramuan daun-daunan dan daun wisarum tersebut.

Bercermin dari penyakit yang dialami gurunya, Permana jadi merenung. Ya…, ternyata perbuatan buruk di masa muda kadang-kadang harus dipetik pada masa tuanya. Karena yang ditanam pada masa muda itu perbuatan buruk, maka yang dipetik di masa tuanya adalah hasil yang buruk pula. Bahkan hasil buruk itu berupa bencana yang menyedihkan. Mungkin orang yang mengalaminya tidak sesedih orang lain yang melihat.

***

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cold-hearted girl
9.4
Nyawa seorang ilmuwan jenius terancam bahaya besar setelah ia berhasil menciptakan sebuah penemuan krusial. Demi keselamatannya, seorang pembunuh bayaran wanita yang tangguh ditugaskan dalam misi khusus untuk melindunginya. Namun, di tengah situasi menegangkan yang mengintai mereka, benih asmara justru tumbuh. Pertemuan intens ini memicu konflik batin dalam diri sang gadis, saat dedikasi profesionalnya perlahan berubah menjadi cinta mendalam.
Sampul Novel Dark in Antares City
9.3
Dunia kini dicekam teror Eaters, predator mirip manusia yang berubah jadi monster pemangsa daging saat malam tiba. Di tengah situasi mengerikan ini, Rio Rosswel harus menyaksikan ibunya tewas mengenaskan oleh makhluk bercakar tajam tersebut. Sambil bersembunyi di dalam lemari, ia terpaksa menahan tangis serta amarahnya. Kejadian traumatis itu memicu dendam mendalam, hingga Rio bersumpah akan membasmi seluruh Eaters dari muka bumi.
Sampul Novel Ditinggal Kekasih Mafia
9.0
Dante Alvarado, bos mafia berdarah dingin, menutup rapat hatinya setelah dikhianati mantan kekasih yang memilih pria lain. Namun, kebenciannya pada wanita diuji saat seorang gadis misterius tiba-tiba mengaku sebagai calon istrinya di hadapan publik. Keadaan kian kacau ketika sang mantan kembali hadir membawa pernyataan cinta. Amarah Dante pun meledak. Akankah momen ini meruntuhkan prinsip teguhnya, atau justru menyeretnya ke dalam pusaran permainan maut yang jauh lebih berbahaya?
Sampul Novel Jahatnya Pacar Kakakku
9.5
Rencana menghadiri festival musik bersama sahabat berubah menjadi mimpi buruk mengerikan dalam novel horor ini. Akibat salah paham, kekasih Calvin mengunci sang protagonis di toilet, menuduhnya menggoda pacar orang, lalu menyiksanya secara sadis. Korban disiram air pel, ditampar, dilucuti, hingga kulitnya disolder dengan tulisan hinaan. Saat Calvin tiba, adiknya sudah tidak dikenali lagi, sementara pelaku berdalih mengira korban hanyalah adik angkat, bukan adik kandung Calvin.
Sampul Novel Menghadapi Kematian di Depan Mata
8.3
Saat kurir pria mabuk mendatangi rumahnya, sang protagonis memilih melapor polisi dibanding menghubungi kedua kakaknya. Di kehidupan lalu, panggilan darurat itu membuat kakak-kakaknya mengabaikan pertunjukan adik angkat mereka, Hilda, yang berujung insiden tragis. Akibatnya, sang protagonis disiksa sebagai pelampiasan amarah. Kini, setelah terlahir kembali di hari yang sama, ia membiarkan kakak-kakaknya fokus mendukung Hilda. Namun, keputusan itu justru mendatangkan penyesalan mendalam bagi mereka.
Sampul Novel Merebutmu Kembali
9.3
Sebagian orang berusaha pulih dari trauma, sedangkan yang lain memilih menghindar. Chandani kini berada di persimpangan jalan ketika kenangan masa lalu yang menyakitkan mendadak kembali membayanginya. Ironisnya, pria yang menjadi penyebab luka batinnya justru datang membawa lamaran pernikahan. Haruskah ia menerima pinangan tersebut atau kabur demi kedamaiannya? Di tengah situasi pelik ini, kegelapan justru tampak menjadi satu-satunya penentu arah takdirnya.