
Para Pria yang Diculik ke Desa Wanita
Bab 3
Kampung halaman Franky juga sudah mendesaknya. Ada seorang bujangan berusia lima puluhan yang menyukaiku. Dia telah mentransfer 60 juta ke rekening pria idaman itu. Katanya orang itu akan mentransfer 100 juta lagi setelah barang tiba.
Ck, ck, ck! Pria memang pelit. Masa hanya membayar 160 juta untuk membeli manusia.
Berbeda dengan Bibi Livia, yang punya banyak uang. Dia saja rela membayar 200 juta.
Kembali ke topik, mendaki gunung itu bagus.
Aku bertanya kepada Franky, "Apakah kamu juga suka mendaki gunung?"
Franky tampak sangat bersemangat. Dia menjawab, "Suka banget, aku paling suka mendaki gunung. Setiap liburan, aku pasti akan mendaki beberapa gunung."
"Kebetulan sekali, aku juga menyukainya. Aku juga suka mendaki beberapa gunung setiap liburan. Lihat, ini gunung yang akan aku daki beberapa hari lagi. Kamu mau ikut?"
Aku mengiriminya foto dan mengajaknya dengan penuh antusias. Aku membalasnya dengan cara yang sama.
Franky tidak mau menyerah. Dia juga mengirimkan beberapa gambar dan mengatakan dia ingin pergi ke sini.
Terus aku harus menurutinya? Aku kan nggak bodoh. Dia sudah mengatur segalanya. Pendakian gunung itu bohong, menipuku dan menjualku ke bujangan tua itu baru rencana nyata.'
"Nggak bisa dong, aku kan sudah membuat rencananya. Kalau nggak, kamu temani aku dulu saja, lalu nanti aku baru temani kamu?"
Aku sudah mengalah banyak. Toh asal bisa sampai di Desa Wanita, Bibi Livia punya banyak cara untuk menghadapinya.
Pria di ujung ponsel sedang merasa dilema karena di ponsel menunjukkan bahwa dia sedang mengetik selama beberapa menit sampai akhirnya dia mengirimkan pesan, "Oke, begitu saja."
Itu memang sudah keharusan.
Aku merasa senang dan gembira. Aku menyenandungkan sebuah lagu, lalu mengirimkan emoji oke kepada Bibi Livia dan memberitahunya, "Tiga hari kemudian, pria berkulit putih ini akan diantar ke rumahmu."
Anda Mungkin Juga Suka





