APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel PANTHER & DEA

PANTHER & DEA

Sejak kecil menjadi pembunuh bayaran yang menghabisi orang tuanya sendiri, Panther jenuh dan ingin pensiun. Namun, hartanya dikuras habis oleh mafia Edward Elmund. Demi bertahan, ia menculik Natalia, putri Edward, tapi sang ayah enggan membayar tebusan. Di tengah pelarian, Sophie yang dicintainya malah berkhianat demi harta. Saat terpojok, Dea, informan lamanya, datang membantu meraih kebebasan. Layakkah Panther hidup normal setelah masa lalunya?
Bab
Bagikan

Bab 1

Di dalam salah satu gerbong kereta api, terlihat para penumpang duduk berjejer memenuhi kedua sisi tempat duduk. Dua orang wanita terlihat sedang berbicara sambil memamerkan cincin dan gelang indah mereka. Beberapa pria dan wanita tampak berpakaian kerja yang rapi. Seorang pria kaya mendengus sombong sambil memperlihatkan rantai emas tebal yang menggantung di lehernya dan beberapa penumpang lainnya terlihat sibuk dengan telepon genggam atau sekedar diam sambil mengantuk.

Dua orang pria dari tempat duduk yang berseberangan terlihat saling bertatapan sejenak. Mata mereka menyorotkan sebuah arti. Tak lama, terlihat seorang dari mereka memberi isyarat dengan menganggukkan kepala. Secara bersamaan, keduanya langsung berdiri. Seseorang bergerak menghadap ke arah kanan dan lainnya menghadap ke arah kiri. Tangan mereka mengeluarkan senjata api berwarna hitam yang segera ditodongkan pada semua orang di kedua sisi gerbong kereta api.

“Jangan bergerak,” teriak seorang di antara mereka. “Serahkan semua dompet, telepon genggam dan barang berharga kalian.”

Para penumpang dalam gerbong terkejut mendengar teriakan itu dan kemudian melihat ke arah mereka berdua dengan tatapan penasaran. Setelah menatap senjata api yang digenggam oleh kedua pria itu, desah nafas tertahan para penumpang segera terdengar dari seluruh penjuru dalam gerbong kereta. Raut wajah ketakutan dan tidak percaya menghiasi wajah-wajah para penumpang.

Kedua perampok terlihat menurunkan tas ransel mereka masing-masing, membukanya dan mengarahkan mulut tas yang terbuka ke satu per satu penumpang. Di hadapan senjata api, beberapa penumpang yang ketakutan terlihat buru-buru mengeluarkan dompet mereka dan melemparkannya ke dalam tas ransel perampok. Wajah pria yang memakai gelang emas segera berubah menjadi pucat.

“Telepon genggam, jam tangan, dompet dan juga cincin,” teriak seorang perampok sambil menggerak-gerakkan ujung senjata apinya pada seorang penumpang di depannya. Tanpa daya semua benda-benda itu segera berpindah tangan.

Seorang penumpang muda dengan rambut dicat berwarna merah dan bergaris kuning, terlihat marah dan menolak untuk memberikan apa pun juga pada perampok itu. “Aku tidak memiliki apa pun. Tembak saja aku kalau kamu berani,” tantang pemuda itu. “Aku bertaruh, senjata apimu itu palsu. Ayo semuanya ikut melawan. Jangan takut.”

Perampok itu tersenyum mengejek. Tanpa ragu, ia mengarahkan senjata apinya pada paha pemuda itu dan menembaknya. Senjata api tersebut terdengar berbunyi sayup saat pelurunya muntah melalui sebuah lubang peredam suara yang terpasang pada ujung senjata api. Raut wajah pemuda yang marah segera berubah terkejut dan berikutnya berubah menjadi wajah yang meringis kesakitan. Teriakan dan rintihan keluar dari mulutnya, terdengar penuh penderitaan. Ia menekuk tubuhnya dan kedua tangannya menggenggam pahanya yang kini sudah berlubang dan mengalirkan darah segar.

“Kamu yang memintanya kawan. Jangan salahkan aku,” kata perampok berwajah bengis itu dengan enteng dan tersenyum mengejek.

Sebelah tangan perampok itu bergerak kembali untuk memukul pemuda yang kesakitan itu tepat di kepalanya dengan menggunakan gagang senjata api. “Hayo siapa lagi yang mau bertindak sebagai jagoan?” kata perampok itu terlihat senang.

Seketika semua penumpang menjadi ketakutan dan buru-buru mengeluarkan dompet mereka bahkan sebelum tas perampok itu mendekati mereka. Saat yang lainnya sibuk mengeluarkan harta mereka, seorang pria yang memakai jaket kulit berwarna hitam, masih terlihat duduk dengan santai sambil mengeluarkan dua buah sarung tangan kulit berwarna hitam dan memakainya dengan tenang. Pria itu memakai sebuah topi polos berwarna biru yang menyembunyikan sebagian wajahnya.

“Serahkan dompetmu,” sahut seorang perampok yang sudah tiba di depan pria itu, sambil mengacungkan senjata apinya pada wajah yang tertutup topi.

Kepala pria itu bergerak sedikit dan matanya menatap tajam pada perampok tersebut. Di dalam bola matanya tidak terlihat sepercik pun ketakutan. Mendadak, kedua tangannya bergerak sangat cepat menangkap senjata api perampok di depannya. Dalam satu gerakan tangan yang cepat, arah senjata api tersebut sudah berbalik pada perampok tersebut. Dengan sedikit dorongan dari lengannya ke depan, moncong senjata api langsung melekat pada bahu perampok tersebut. Wajah perampok tersebut terlihat terkejut dan terpana sesaat karena kecepatan dari gerakan yang terjadi. Tangannya sendiri masih memegang senjata api, meski ikut digenggam oleh tangan pria itu juga.

“Syutt...Syutt....Syuttt...”

Senjata api itu mengeluarkan suara tembakan halus tiga kali dan punggung belakang perampok itu bergetar ke belakang beberapa kali terkena hentakan peluru. Hanya terdengar suara desahan tertahan dari mulut pria itu dan matanya yang menatap tidak percaya. Tubuhnya kemudian terjatuh di atas lantai kereta api masih dengan sebelah tangannya tergenggam oleh pria bertopi biru. Pria itu segera berdiri dari tempat duduknya dan menarik senjata api dari tangan perampok.

“Hei, perampok,” panggilnya pada perampok lain di sudut gerbong yang masih mengumpulkan bagiannya. Perampok yang dipanggil segera berbalik. Ia melihat seorang pria yang berdiri dengan senjata api mengarah padanya dan temannya yang terjatuh di lorong kereta api.

Detik berikutnya, ia segera mengangkat senjata api di tangannya dengan cepat. Namun, sebuah sengatan peluru panas segera menyengat jari tangannya dan membuatnya berteriak kesakitan. Senjata api ditangannya terlempar jatuh dari genggamannya dan mendarat di atas lantai kereta api. Tidak berhenti sampai di sana, sebuah tembakan mengenai senjata api itu dan membuatnya meluncur berputar ke sudut gerbong kereta api, memasuki bagian bawah kursi penumpang.

Perampok tersebut berteriak kesakitan. Ia menatap pada tangannya yang sudah berlumuran darah dan jari tengahnya sudah terkoyak hingga terlihat tulang putihnya. Jari telunjuknya kini tergantung pada sedikit daging yang tersisa. Sebuah rasa panas mendadak menyengat pahanya. Membuatnya terjatuh sambil berteriak kesakitan.

Semua penumpang di sana hanya dapat terdiam melihat hal yang berlangsung begitu cepat. Pria bertopi biru berjalan tiga langkah dan menghadap pada seorang penumpang, pria berumur lima puluhan. Ia mengacungkan senjata api pada dahi penumpang itu.

“Keluarkan senjata apimu dengan dua jari.”

“Aku... aku tidak mengerti...” kata pria tua itu terlihat ketakutan.

Pria bertopi biru menatapnya dan mengarahkan senjata api pada paha pria itu lalu menembaknya.

“Baiklah, baiklah!!!” teriak pria itu mengeluarkan sebuah senjata api yang terselip di belakang punggungnya sambil meringis kesakitan.

Ia segera menyambut senjata api tersebut dan membuangnya sejauh mungkin ke ujung gerbong kereta api.

“Pegang lututmu,” perintahnya.

Tanpa daya, pria setengah baya itu menurutinya.

Pria itu segera melayangkan tangannya yang memegang bagian bawah senjata api pada siku pria setengah baya dari arah berlawanan. Teriakan keras dari pria itu segera terdengar menyayat hati. Para penumpang wanita menutup mata ketakutan. Lengan pria tersebut dalam sekejap sudah menggantung, mengarah ke arah yang tidak semestinya. Tampak bagian sikunya telah patah atau terlepas dari sendi siku.

Jari-jari tangan pria bertopi biru segera menyentuh senjata api ditangannya dan dengan gerakan cepat, bagian-bagian senjata api tersebut berlepasan satu per satu dan jatuh berserakan ke atas lantai kereta api.

Selesai membuat senjata api itu menjadi rangkaian-rangkaian kecil, ia bergerak ke dekat pintu keluar kereta api. Melipat tangannya dan bersandar dengan tenang sambil melihat pemandangan di luar kereta api yang sedang bergerak. Para penumpang masih terdiam, hanya menyisakan suara erangan kesakitan dari ketiga perampok itu dan seorang pemuda berambut merah yang melawan tadi.

Mendadak, terdengar sebuah lagu My Heart Will Go On yang di bawakan Celine Dion dari dalam tas ransel perampok yang terjatuh di atas lantai kereta. Pemuda bertopi biru melihat sekeliling dan menatap pada seorang pria berbadan besar dengan wajah brewokan dan tubuh bertato yang terlihat mencoba menghindari tatapannya.

“Kupikir, itu bunyi telepon genggammu,” sahut pria itu ringan. “Sebaiknya kamu mengangkatnya.”

“Iya, iya...” jawab pria berbadan besar yang segera membungkuk dan berjalan ke arah tas ransel.

Ia buru-buru merogoh ke dalam tas tansel dan mengeluarkan sebuah telepon genggamnya yang sedang berbunyi. Pria itu kembali melayangkan pandangannya keluar dari kaca jendela pintu kereta api, terlihat tidak peduli. Para penumpang terlihat bergerak perlahan-lahan setengah ketakutan sambil mengoper tas ransel perampok itu di antara mereka dan mengeluarkan kembali dompet serta harta benda mereka.

Tepat saat kereta api berhenti dan pintu keluarnya terbuka, pria itu telah lenyap.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Palsu, Dendam Sejati Telah Dimulai
9.6
Vano, tunanganku, tega mendorongku ke kolam hingga nyaris tenggelam demi bermesraan dengan selingkuhannya, Melodi. Setelah aku selamat, ia malah berbohong bahwa aku terpeleset demi nama baiknya. Diliputi kemarahan mendalam, aku memutuskan pura-pura amnesia untuk menghancurkannya. Aku mengaku sebagai kekasih musuh bebuyutannya, Bahar Adijaya. Melihat kepanikan di wajah pucat Vano, aku tahu rencana balas dendamku yang mematikan kini resmi dimulai.
Sampul Novel Dendam Menantu Miskin
8.5
Rendra Gumilar, seorang buruh pabrik miskin, harus merelakan rumah tangganya hancur setelah dipaksa bercerai oleh Tuan Brata, mertuanya yang sombong. Kehilangan istri tercinta, Viona, dan bayi mereka yang masih sangat kecil tidak membuat Rendra putus asa meski telah diusir dan direndahkan. Ia bertekad untuk bangkit dan meraih kesuksesan demi membawa pulang keluarganya. Mampukah Rendra membuktikan kemampuannya di depan sang mertua, atau ia justru akan kehilangan mereka selamanya?
Sampul Novel GADIS BIASA VS BOSS MAFIA
8.6
Anne Mary, gadis jenius 18 tahun, menyaksikan cinta pertamanya dihabisi oleh bos mafia kejam, Marcio Lamparska. Dituduh sebagai pelaku, ia diculik ke Spanyol untuk ditempa menjadi petarung. Di tengah rencana balas dendamnya, benih cinta justru tumbuh di hati Anne untuk Marcio. Situasi kian rumit saat musuh Marcio yang posesif, Iosef, datang menyelamatkannya. Kini, Anne yang telah menjelma jadi pembunuh tangguh harus memilih antara dendam masa lalu atau cinta.
Sampul Novel Hot Love - Birahi Anak Yakuza
8.2
Kenzo, pewaris tunggal pemimpin Yakuza, menolak dijodohkan demi mengejar perempuan Rusia misterius yang ditemuinya di kafe. Penolakan ini memicu konflik besar hingga Kenzo tertembak, lalu diselamatkan oleh Alena, wanita yang ia cintai. Namun, hilangnya Alena membuat Kenzo frustrasi dan mengacau di Hong Kong hingga menyulut perang gangster. Saat melarikan diri bersama kakak angkatnya, Sakura, Kenzo tak tahu bahwa Alena sebenarnya adalah anak dari calon mertuanya sendiri.
Sampul Novel Jenderal Kau Tidak Tahu Malu!
9.0
Mireya Herlambang, penembak jitu terbaik dari organisasi Galaxy Hitam di kota Irich, mengemban tugas mematikan dari pimpinannya. Dia ditargetkan untuk melenyapkan Arnold Aksara, jenderal berhati dingin dan kejam. Misi berisiko tinggi ini ia ambil demi membalas dendam atas kematian keluarganya. Namun, di tengah upaya pembunuhan tersebut, Mireya justru dihadapkan pada dilema besar. Akankah ia berhasil mengeksekusi sang jenderal, atau malah jatuh hati pada pesona targetnya?
Sampul Novel SANG MATAHARI
9.1
Menyusuri belantara misterius yang sarat keajaiban, Aria Stormheart melangkah mantap sebagai petualang sejati. Dengan pedang bercahaya yang selalu siap di pinggangnya, ia siap menghadapi segala rintangan di dunia fantasi ini. Di sepanjang jalan, perasaan cemas dan gembira berbaur di dalam hatinya. Namun, tekad kuat Aria tidak pernah goyah. Setiap jengkal langkah yang diambilnya menjadi bukti nyata dari keberaniannya menantang bahaya.