
Pak Edward, Istrimu Ingin Cerai
Bab 7
Dua rekan kerja di samping Clara terlihat mundur hingga ke dinding sambil melirik Vanessa.
Vanessa juga menatap ke arah Clara.
Namun kemudian, dia mengalihkan pandangannya dengan dingin. Dia menganggap Clara hanya sebagai angin lalu. Dia pun memasuki lift dengan masih ditemani para eksekutif.
Begitu pintu lift tertutup, dua rekan kerja Clara menghela napas lega. Mereka mulai bergosip dengan penuh semangat.
“Harusnya cewek barusan itu pacar Pak Edward, ‘kan? Astaga, cantik banget, yang dipakai barang bermerek semua, pasti mahal, tuh! Wajar sih anak ‘horang’ kaya. Auranya beda sama kita-kita, sikapnya juga tenang dan percaya diri.”
“Ya, aku juga merasa seperti itu!”
Sambil berbincang-bincang, mereka bertanya lembut pada Clara, “Clar, gimana menurutmu?”
“Ya,” ucapnya singkat dan datar sembari menundukkan pandangannya.
Vanessa sebenarnya adalah anak haram dari ayah Clara.
Menyebut Vanessa sebagai anak haram mungkin kurang pas.
Bagaimanapun, saat Clara berusia delapan tahun, ayah bersikeras menceraikan ibunya dan menikahi ibu Vanessa. Itu dilakukan ayahnya agar ibu Vanessa tidak menderita lagi.
Setelah orang tuanya bercerai, dia bersama ibunya yang depresi tinggal bersama nenek dan paman dari pihak ibu.
Selama bertahun-tahun, bisnis paman semakin terpuruk, sedangkan bisnis Keluarga Gori berkembang pesat tiap harinya.
Dengar-dengar, ayah selalu memberikan yang terbaik untuk Vanessa. Entah berapa banyak uang yang dihabiskan untuk merawat Vanessa. Semua itu ayah lakukan untuk menebus penderitaan yang Vanessa alami sewaktu kecil.
Vanessa sendiri bisa memenuhi harapan. Berdasarkan kabar yang beredar, dia menjadi sosok wanita yang luar biasa.
Vanessa yang mulanya adalah anak haram, kini menjadi putri sah keluarga kaya.
Setelah lebih dari sepuluh tahun berlalu, aura yang dimiliki Vanessa sebagai putri dari keluarga kaya semakin kuat, bahkan lebih kuat dari dirinya yang dulu adalah putri asli keluarga kaya.
Clara awalnya mengira mereka tidak akan pernah berhubungan lagi satu sama lain.
Namun takdir berkata lain. Tuhan seperti lebih sayang pada Vanessa.
Hubungan antara Clara dan Edward bagaikan pungguk merindukan bulan. Tidak peduli seberapa keras dia berusaha, Edward tidak pernah memperhatikannya. Namun, saat pertama kali melihat Vanessa, Edward langsung jatuh cinta pada pandangan pertama.
“Clara, kamu nggak apa-apa?” tanya rekan kerja dengan khawatir saat melihat wajah Clara memucat.
Clara pun tersadar, lalu berkata, “Nggak apa-apa, kok.”
Dia dan Edward akan segera bercerai. Entah siapa yang nanti akan Edward cintai, dia tak lagi memedulikannya.
Pada hari itu, Clara tidak lagi memperhatikan apa yang terjadi antara Edward dan Vanessa.
Clara bekerja lembur hingga waktu mendekati pukul sembilan malam. Saat pekerjaannya hampir selesai, ponselnya berdering. Layar ponselnya muncul nama Raisa Geraldine, sahabatnya.
Clara mengangkat telepon dan diberitahu kalau Raisa sedang mabuk. Clara lantas diminta untuk menjemputnya di restoran dan membawanya pulang.
Clara buru-buru menyelesaikan dokumen terakhir lalu mengambil kunci mobil dan bergegas meninggalkan perusahaan.
Dua puluh menit kemudian, Clara tiba di restoran.
Begitu turun dari mobil dan hendak berjalan menuju pintu, terlihat seorang gadis kecil berjalan keluar dari tempat parkir di seberang.
Clara terdiam sejenak saat melihat wajah gadis kecil itu.
‘Elsa?’
‘Bukankah seharusnya Elsa sedang sekolah di Latvin? Kenapa malah… apa mungkin dia ikut pulang bersama Edward?’
Status dan jabatan Clara di perusahaan memang terbilang rendah. Dia tidak memiliki akses untuk mengecek dokumen penting dan rahasia perusahaan. Meski begitu, dia tahu Edward masih memerlukan waktu untuk menyelesaikan pengembangan pasar bisnisnya di Latvin.
Dia mengira kepulangan Edward hanya untuk sementara karena harus menangani beberapa urusan.
Dia tidak menyangka putri semata wayangnya juga ikut kembali ke Marola.
Clara tidak tahu pasti kapan mereka tiba. Namun, karena pagi tadi dirinya melihat Edward, besar kemungkinan kalau mereka sudah kembali sehari lalu.
Meski begitu, sampai detik ini Elsa masih belum menghubunginya sekadar untuk memberitahu kepulangan mereka.
Setelah memikirkannya, Clara mencengkeram erat tasnya. Dia memerhatikan gadis kecil yang melompat kegirangan di depannya. Dia diam-diam mengikutinya.
Setibanya di lobi restoran, terlihat Vanessa dan beberapa teman mereka muncul di ujung koridor.
Clara pun segera menghindar ke sisi lain. Kemudian, dia mendengar putrinya memanggil Vanessa dengan gembira. “Tante Vanessa!” panggil gadis kecil itu sambil berlari ke arah Vanessa dan memeluknya.
Clara duduk di sofa membelakangi merekam memanfaatkan tanaman hias dan sandaran kursi untuk menutupi tubuhnya.
“Loh, Elsa juga ikut pulang?” tanya Vanessa.
“Tante ‘kan pulang ke Marola, aku sama ayah nggak rela ditinggal gitu aja. Ayah langsung menyelesaikan pekerjaannya lebih awal dan membawaku pulang. Lagian, kami juga sengaja pulang sehari sebelum ulang tahun Tante, supaya nggak melewatkan ulang tahun Tante!” celoteh Elsa.
“Ini hadiah dariku dan juga ayah. Kalung ini kubuat sendiri bersama ayah. Selamat ulang tahun Tante Vanessa,” imbuh Elsa.
“Wah, ini buatan kalian sendiri? Pasti butuh waktu dan usaha membuatnya. Elsa memang hebat, Tante suka banget sama hadiahnya. Makasih Elsa!” jawab Vanessa.
“Syukurlah kalau Tante suka,” timpal Elsa.
Elsa kemudian memeluk Vanessa sembari bersikap manja, berkata, “Seminggu nggak ketemu Tante rasanya kangen banget. Untung aja masih bisa telepon Tante, kalau nggak, mana mungkin aku bisa bertahan di Latvin.”
“Aku juga kangen sama Elsa.”
Pada saat ini, terdengar suara langkah kaki datang mendekat.
Clara terdiam mematung.
Yaps, suara langkah kaki itu berasal dari Edward.
Meski tidak melihat sosok pria itu, Clara hafal betul dengan irama suara langkah kakinya.
Alasan kenapa Clara begitu yakin, karena selama tujuh tahun pernikahan, dia selalu menunggu kedatangan Edward tiap hari.
Irama langkah kaki Edward sama persis dengan wataknya, konstan, mantap dan tenang. Bahkan ketika berhadapan dengan anggota Keluarga Anggasta yang dekat dengannya, dia tetap tenang dan tampak acuh, seolah-olah dia akan tetap seperti itu meski langit runtuh sekalipun.
Awalnya Clara mengira tidak ada seorang pun atau tidak ada apa pun di dunia ini yang akan mengubah pikiran pria itu.
Namun dia salah.
Semenjak kemunculan Vanessa, semua berubah …
Belum sempat memikirkannya lebih jauh, lamunan Clara pun harus pecah saat mendengar suara Elsa.
“Ayah!” teriak Elsa.
Teman-teman yang ada di sana juga ikut menyapanya.
Edward hanya mengangguk, lalu berkata pada Vanessa, “Selamat ulang tahun.”
“Ya,” jawab Vanessa sambil tersenyum.
“Ayah, bukannya Ayah udah menyiapkan hadiah lain buat Tante Vanessa? Cepat kasih sekarang!” timpal Elsa.
Suasana tiba-tiba menjadi hening. Selanjutnya, salah satu teman Edward terkekeh seraya menundukkan kepala. Dia mencubit gemas pipi Elsa, berkata, “Itu hadiah yang ayahmu siapkan khusus untuk Tante Vanessa. Mungkin, ayahmu ingin memberikannya secara langsung pada tante. Kita nggak usah ikut campur ya, haha.”
Yang lain pun ikut tertawa.
Namun, Edward segera berkata, “Sudah Ayah kirim.”
“Hah? Kapan?” tanya Elsa lalu lanjut berkata, “Ayah diam-diam ketemu sama Tante Vanessa tanpa aku, huh!”
Teman-teman Edward lantas tertawa terbahak-bahak saat mendengarnya.
Tanpa sadar, Clara teringat akan kejadian di perusahaan pagi tadi saat Vanessa berkunjung ke Anggasta Group.
Bisa jadi saat itu Edward memberikan hadiahnya.
Vanessa tampak tersenyum canggung, lalu berkata, “Kita jangan lama-lama di sini, ayo naik ke atas.”
Suara langkah kaki mereka pun mulai menghilang.
Pikiran Clara seolah menjadi kosong.
Hatinya sakit hingga terasa di sekujur tubuh. Butuh waktu yang lama baginya untuk tersadar. Dia masuk ke dalam lift dalam diam, berniat untuk ke atas dan membawa sahabatnya turun.
Ruangan tempat Raisa makan sebenarnya masih satu lantai dengan ruangan yang Edward pesan.
Saat memapah Raisa masuk ke dalam lift, langkah kaki teman Edward, Gading Perkasa, pun terhenti.
Anda Mungkin Juga Suka





