
Operasi Rahasia, Dokter Sadis
Bab 2
Tubuhku tiba-tiba kaku, suaraku bergetar nyaris seperti tangisan, “Dokter Jimmy...”
“Jangan khawatir, ini pemeriksaan normal.” Jimmy menegaskan lagi.
Melihat Jimmy yang fokus dan serius, tak sedikit pun terlihat ekspresi mesum. Barulah aku pelan-pelan menjadi rileks.
“Gimana dengan hasilnya? Tadi Anda bilang … pria bakal sangat menyukainya, apa maksudnya?”
Muncul harapan dalam hatiku. Alangkah baiknya kalau nggak perlu operasi, karena aku juga takut.
Jimmy tak langsung menjawab, melainkan jarinya menyelusup perlahan ke dalam.
Aku langsung mengerang dan tubuhku pun bergetar.
“Cantik sekali,” ucap Jimmy.
“Apa?” Suaraku bergetar.
“Kau lihat sendiri.”
Jimmy tiba-tiba berjalan ke ujung ranjang, lalu menarik gorden di depan dinding untuk memperlihatkan cermin di belakangnya.
Aku melihat diriku di depan cermin tanpa persiapan apa pun.
Pipiku memerah, tatapanku kosong, bajuku terangkat, rok juga terangkat, kakiku terbuka lebar, jari kakiku melengkung, tanpa tersembunyi dan … sangat menggoda.
Aku melihat ada bercak air di bagian bawah.
“Lihat nggak? Merah-merah, sedang mekar.”
Suara Jimmy terdengar jauh lebih rendah dan serak.
Aku menyadari dia juga sedang melihat bagian terintimku dari cermin.
Perutku tiba-tiba mengencang. Seketika aku tersadar dan merapatkan kakiku dengan malu.
Jimmy baru mengalihkan pandangannya dari cermin dan berkata, “Ini pusaka. Aku nggak sarankan kau operasi.”
Bukannya penasaran sama maksud “pusaka”, tapi malah kagum. Masa kini ada dokter yang lebih memilih kejujuran daripada uang? Profesional sekali!
Beberapa saat kemudian, aku baru tersadar dan bertanya, “Pusaka?”
“Iya, pusaka yang bakal menyenangkan dan mematikan pria.”
Pipiku memanas dan seketika aku nggak tahu gimana bereaksi, “Nggak … nggak mungkinlah.”
Jimmy bertanya, “Kau pernah berhubungan seks dengan pacarmu nggak?”
“Pernah.”
“Dia nggak pernah memujimu?”
“Aku merasa jelek, jadi tiap kali aku matikan lampu supaya dia nggak lihat.”
Mendengar ini, Jimmy mengangguk dan berkata, “Memang kenikmatannya akan berkurang tanpa lihat secara langsung, tapi dia pasti akan merasakan perbedaannya saat berhubungan denganmu.”
Sambil berbicara, Jimmy membimbingku untuk mengingat.
“Coba kau pikir-pikir, apakah nafsu pacarmu sangat kuat dan nggak tega mengeluarkannya sehabis berhubungan?”
Aku menahan rasa maluku, lalu berusaha mengingat dan mataku berbinar. “Sepertinya gitu. Dia kayaknya pernah puji aku bagus sekali.”
“Kalau gitu benarlah.” Jimmy menganggukkan kepalanya lagi.
Aku bertanya dengan ragu, “Dok, apa aku beneran pusaka?”
Jimmy menjawab, “Gini saja, kau istirahat dulu. Nanti kita cek lagi. Kalau berhasil, berarti kau memang pusaka. Jadi, nggak usah operasi lagi.”
Aku segera menyetujuinya.
Jimmy berbalik dan meninggalkan tempatnya untukku. Dia bahkan menarik gorden untukku.
Melihat ada tisu di samping, aku segera mengambilnya dan membersihkan diriku sendiri.
Setelah itu, aku pun keluar.
Aku belum menghabiskan air yang dituangkan Jimmy untukku. Sekarang aku merasa haus, jadi aku ambil dan meminumnya.
Anda Mungkin Juga Suka





