APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Obat Posesif Untuk Ratu Es

Obat Posesif Untuk Ratu Es

Sebagai Ratu Es, aku memendam rahasia kelainan PGAD yang menyiksa. Ketika menghadiri gathering di Puncak tanpa membawa obat penekan hormon, aku justru terjebak dalam kamar sempit bersama bosku yang kaku, Dhimas Pakpahan. Di tengah gairahku yang mendadak tak terkendali, Dhimas hadir memberikan sentuhan intim serta menghajar rekan mesum yang nyaris melecehkanku. Namun kini, ketakutan baru melandaku saat Dhimas dengan posesif mengklaim bahwa hanya dirinyalah satu-satunya obat bagi tubuhku.
Bab
Bagikan

Bab 3

Gisela Soegiharto POV:

Tubuhku benar-benar menyerah. Otot-ototku terasa seperti jeli, tidak mampu menopang bobotku sendiri. Aku hanya bisa bersandar pada Dhimas, tangannya masih memegang bahuku dengan kuat. Aku merasa seperti boneka kain yang tak berdaya di tangannya. Rasa malu membakar wajahku, tapi itu kalah dengan badai di dalam diriku.

Gairah itu kini mengamuk, jauh melampaui rasa sakit. Itu adalah kebutuhan primal yang mencengkeram setiap inci keberadaanku. Aku menginginkannya. Aku menginginkan Dhimas. Aku menginginkan kelegaan yang hanya bisa dia berikan, meskipun aku tahu itu salah, memalukan, dan tidak profesional. Tapi tubuhku tidak peduli pada profesionalisme.

"Gisela, jawab aku," suaranya lagi, rendah dan tegas. "Ada apa denganmu?"

Aku hanya bisa menggelengkan kepala, air mata masih mengalir deras. Tidak ada kata yang bisa keluar dari bibirku. Lidahku terasa kaku, tenggorokanku tercekat. Aku terlalu malu, dan terlalu rentan.

Dia mengamati wajahku, tatapannya tajam, mencari jawaban. Aku tahu dia sedang menganalisaku, memproses setiap detail kecil: tubuhku yang gemetar, napasku yang terengah-engah, mata yang berkaca-kaca, dan mungkin, bahkan aroma tubuhku yang kini terasa berbeda. Aroma gairah.

Dhimas adalah pria yang cerdas. Dia tidak akan mudah tertipu dengan alasan "masuk angin" atau "lelah." Dia pasti sudah menyadari sesuatu.

Tiba-tiba, dia menghela napas panjang. Matanya terpejam sesaat, seolah sedang mengambil keputusan penting. Ketika dia membukanya lagi, tatapannya berubah. Ada sesuatu yang baru di sana: pemahaman. Dan sesuatu yang lebih gelap, lebih posesif.

"Masuk," perintahnya, suaranya kini lebih lembut, tapi tetap mengandung otoritas. Dia tidak lagi bertanya. Dia memerintah.

Dia tidak menunggu jawabanku. Lengannya melingkari pinggangku, dan dia menarikku agar berdiri tegak. Aku tersandung, tapi dia menopangku dengan kuat. Tubuhku menempel padanya, dan sensasi itu meledak lagi. Aku merasakan kekerasan otot-otot di perutnya, kehangatan tubuhnya yang besar, dan dadanya yang bidang.

Napasku tersangkut di tenggorokan. Gelombang panas membanjiri bagian bawah tubuhku. Gairah itu berteriak lebih keras lagi. Aku merasakan orgasme lain datang, tanpa peringatan, tanpa perlawanan. Aku melengkungkan punggungku ke belakang, tak bisa menahan.

Sebuah erangan rendah keluar dari bibirku. Aku merasa ingin mencakar dinding, merobek pakaianku sendiri. Rasa malu campur aduk dengan kebutuhan yang mengerikan.

Dhimas tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya menarikku lebih dekat, satu tangannya kini menyentuh punggung bawahku, seolah menopangku agar tidak jatuh. Tangannya yang lain kini menekan pinggangku, memastikan tubuhku tetap menempel padanya. Ini adalah sentuhan yang, entah kenapa, terasa begitu familiar, begitu tepat.

Dia tidak lagi mencoba membantuku berdiri. Dia memegangku dengan tujuan. Dia memelukku, menekan tubuhku yang gemetar ke tubuhnya. Aku bisa merasakan detak jantungnya yang kuat dan stabil di dadaku. Itu adalah sauh di tengah badai.

"Ayo, Gisela," bisiknya, suaranya kini lebih dalam, lebih serak. "Kita duduk."

Dia membimbingku, setengah menyeretku, ke tepi tempat tidur terdekat. Aku tidak punya tenaga untuk melawan, atau bahkan untuk berjalan sendiri. Kakiku hanya mengikuti, atau lebih tepatnya diseret.

Saat kami duduk, dia tidak melepaskan pelukannya. Justru, dia memutar tubuhku agar aku duduk menyamping di pangkuannya, wajahku menghadap ke arahnya. Tubuhku yang gemetar kini bersandar sepenuhnya padanya. Paha-pahaku terbuka sedikit, dan aku bisa merasakan kekerasan di pangkuannya.

Jantungku berdegup kencang, memukul-mukul rusukku seperti burung yang terperangkap. Aku tahu. Aku tahu apa yang sedang terjadi padaku. Dan dia tahu juga. Aku bisa melihatnya di matanya. Aku bisa merasakannya dari caranya memegangku, caranya menatapku.

"Obatmu?" tanyanya, suaranya sangat rendah sekarang, hanya untuk telingaku.

Aku hanya bisa menggelengkan kepala, air mata kembali mengalir. "Lupa," bisikku, suaraku parau.

Dia menghela napas lagi, kali ini terdengar lebih berat. "Sial," desisnya.

Tiba-tiba, dari kamar sebelah, suara-suara itu kembali. Kali ini, lebih jelas. Desahan. Tawa genit. Dan kemudian, suara ranjang yang berderit.

Mataku melebar panik. Tidak. Ini tidak bisa terjadi. Aku sudah tahu betapa sensitifnya aku terhadap suara-suara itu. Dan sekarang, aku berada di pangkuan Dhimas, tanpa obat, dengan gairah yang mengamuk, dan suara-suara itu...

Tubuhku bereaksi instan. Gelombang lain yang lebih kuat menghantamku. Orgasme keempat datang, dan kali ini, aku tidak bisa menahan erangan yang lebih keras. Kepalaku mendongak, punggungku melengkung, dan lenganku mencengkeram bajunya erat-erat.

Dhimas segera bertindak. Tangannya yang satu menekan punggungku, menarikku lebih dekat padanya. Tangannya yang lain naik ke belakang kepalaku, menekan wajahku ke lehernya.

"Sstt," bisiknya, suaranya rendah dan mendominasi. "Jangan bersuara. Ada orang lain di sini."

Aku bisa merasakan kehangatan kulit lehernya, mencium aroma tubuhnya yang begitu maskulin dan memabukkan. Itu adalah campuran keringat, aftershave, dan sesuatu yang lebih primal. Itu membuat gairahku semakin tak terkendali.

Aku mencoba melawan. Aku mencoba mendorongnya. Ini salah. Ini sangat salah. Tapi tubuhku yang lemas tidak punya kekuatan. Aku seperti terperangkap di antara otot-ototnya yang keras, tak bisa bergerak, tak bisa bernapas.

Suara-suara dari kamar sebelah semakin intens. Desahan yang lebih dalam, sentuhan-sentuhan yang lebih berani. Itu semua seperti racun yang menyuntikkan dirinya ke dalam darahku, membuatku semakin gila.

Aku merasakan orgasme datang lagi dan lagi, tanpa henti, setiap kali dipicu oleh suara-suara itu, oleh sentuhan Dhimas, oleh aroma tubuhnya. Ini adalah siksaan yang mengerikan, puncak dari PGAD-ku. Tubuhku terus-menerus mencapai klimaks, tapi tak pernah benar-benar puas. Itu hanya memperpanjang penderitaan.

Air mata membasahi leher Dhimas. Aku tahu aku basah kuyup di antara kakiku, dan dia pasti merasakannya. Aku tahu betapa memalukannya ini. Tapi aku tidak bisa menghentikannya. Aku tidak bisa menghentikan air mataku, dan aku tidak bisa menghentikan tubuhku.

Aku hanya bisa berdoa agar orang-orang di sebelah tidak mendengar erangan-eranganku yang samar, yang berhasil kutahan sebagian besar. Aku berharap dinding kayu tipis ini cukup untuk menutupi kehinaan dan penderitaanku. Aku berharap ini segera berakhir. Tapi aku tahu, ini baru permulaan.

Dhimas menahan kepalaku di lehernya, tangannya mengelus rambutku dengan gerakan menenangkan, tapi di saat yang sama, sangat posesif. Seolah dia ingin meleburkanku ke dalam dirinya.

"Tenang, Gisela," bisiknya, napasnya hangat di telingaku. "Aku di sini."

Kata-katanya, meskipun seharusnya menenangkan, justru terdengar seperti sebuah deklarasi. Sebuah deklarasi bahwa dia kini memegang kendali. Atas diriku. Atas tubuhku. Dan yang paling menakutkan, atas rahasia tergelapku.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dendam yang Terpendam: Cinta Sang CEO Terhalang Takdir
7.9
Zeesya Aleena Lawrence terbangun dari koma panjang dan mendapati pacarnya berkhianat. Di masa sulit ini, ia jatuh cinta pada pria misterius yang sangat mencintainya. Sialnya, kebahagiaan itu sirna saat rahasia masa lalu terbongkar. Pria tersebut rupanya dalang di balik tragedi berdarah yang menimpa keluarga Zeesya. Kini, ia menghadapi pilihan sulit antara menjaga cintanya atau menuntut balas atas takdir tragis keluarganya.
Sampul Novel Harta, Tahta, Anak Tungal Kaya Raya
9.4
Ella terjepit perasaan rumit pada William, sahabat kecilnya yang kini jadi pewaris tunggal nan kaya raya. Walau menganggap Ella sangat berharga, hati William justru tertambat pada Camelia. Situasi Ella kian menyiksa saat dituding merusak hubungan mereka, sementara William abai pada kepedihan batinnya. Akankah William tetap menjaga Ella, ataukah kehadiran Camelia akan menghancurkan persahabatan masa kecil mereka selamanya?
Sampul Novel Kau Pilih Dia, Aku Bawa Anakmu Pergi!
9.7
Malam sebelum pernikahan megah dua keluarga mafia, Jeny menemukan pesan mesum dari Via di ponsel Leo. Meski Leo berjanji setenang mungkin untuk memutuskan hubungan dengan adik mendiang wakilnya itu, pengkhianatan nyata terjadi di hari pernikahan mereka. Saat janji suci hampir diucapkan, Leo memilih pergi menyelamatkan Via yang mengancam bunuh diri. Ditinggal sendirian di altar, Jeny memutuskan mengakhiri hubungan mereka selamanya. Ia menghilang tanpa jejak, membawa pergi anak Leo yang sedang dikandungnya.
Sampul Novel Lupakan Aku
8.0
Sita merajut kisah cinta yang indah dengan Raka, cinta pertamanya semasa kuliah. Di balik kebahagiaan mereka, sebuah tembok besar menghadang. Sita yang berasal dari keluarga biasa menyadari perbedaan status sosial yang sangat jauh dengan Raka, sang pewaris pengusaha kaya. Perbedaan kelas ini menjadi ujian berat bagi hubungan mereka. Sanggupkah cinta mereka bertahan tanpa restu, ataukah jurang kasta ini akan memisahkan keduanya untuk selamanya?
Sampul Novel My Bule Husband
8.1
Demi membalas budi, Naina yang sederhana terpaksa menikahi seorang miliarder asal Jerman. Ekspetasi pernikahan yang tenang sirna saat ia mendapati kenyataan pahit tanpa cinta. Suami bulenya yang dingin menganggap Naina tak lebih dari pengasuh bagi anaknya yang berumur tujuh tahun. Tak hanya itu, Steven, sang putra sambung, juga bersikap acuh dan menolak kehadirannya. Kini, Naina harus berjuang bertahan menghadapi perlakuan kasar dari dua sosok kaku tersebut.
Sampul Novel Penikmat Sepupu Sendiri
8.7
Bagi miliarder Casanova Ethan Eduardo, wanita hanyalah hiburan di sela bisnis legal dan ilegalnya. Namun, dinginnya hati Ethan mulai terusik oleh ketulusan cinta sang sepupu, Ruby Seraphina Vogue. Hubungan terlarang mereka menghadapi jalan buntu karena restu keluarga tidak berpihak pada mereka. Terlebih, orang tua Ruby telah menyiapkan perjodohan dengan pria lain. Akankah Ethan bersedia membuka diri dan memperjuangkan Ruby di tengah rintangan keluarga?