APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Nilakandi

Nilakandi

Enam tahun lamanya, Diwana tersiksa oleh mimpi berulang tentang gadis bergaun biru beraroma harum dan berlonceng, yang tak boleh ia sentuh atau ajak bicara karena aturan gaib. Batas antara khayalan dan kenyataan runtuh saat ia bertemu Nilakandi, sosok nyata yang sangat mirip dengan perempuan dalam tidurnya. Pertemuan ini perlahan menyingkap rahasia besar serta takdir misterius yang selama ini menyelubungi kehidupan Diwana.
Bab
Bagikan

Bab 3

Diwana masih duduk terdiam di kasur kamar rumah sakit memandangi infus yang terpasang di tangan. Otaknya tak berhenti berkelana sambil memikirkan satu demi satu kemungkinan yang bisa terjadi. Jantungnya berdegup cukup kencang, membuat nafasnya ikut sedikit memburu, khawatir.

"Bun, Dokter Tano kenapa lama banget ya? Katanya beliau tuh teman Bunda?" tanyanya lembut pada bunda yang duduk di sofa. Tapi keburu disahut duluan oleh sang adik.

"Santai dong, Kak. Grogi ya? Baca-baca majalah gini nih biar santai kaya aku, ah elah grogian amat hahaha," ledek Aiden sambil tertawa kecil. Tapi semua juga tahu kalau suaranya sedikit bergetar. Diwana tahu Aiden sebenarnya tak kalah cemas darinya.

Diwa hanya tersenyum melihat Aiden sedang menutupi wajah khawatirnya dengan pura-pura membaca majalah yang bahkan tidak ia balik halamannya sejak lima belas menit yang lalu. Berjudul Kumpulan Resep MPASI Praktis Balita.

"Bentar lagi, Kak. Baru juga beberapa jam yang lalu kan ngabarinnya. Dokter Tano pasti memprioritaskan kamu." Bunda bersuara. Ia tengah megupas apel di samping Aiden, tangannya sedikit bergetar dan kecemasan terlihat jelas diwajahnya.

Kabar mengejutkan itu memang baru beberapa jam yang lalu. Tapi hidup Diwana seakan benar-benar bergantung padanya.

Seorang korban kecelakaan pagi itu terdaftar sebagai anggota organisasi donor organ yang menaungi Diwana. Setelah belasan tahun menunggu, apa yang ia tunggu akhirnya tiba. Iya, donor jantung.

Sekitar empat jam sebelumnya, Dokter teman bunda-Dokter Tano-mengatakan akan memproses semuanya dengan cepat dan segera memberi kabar. Semua tentu tidakk semudah itu, karena proses dan syarat-syarat pendonor begitupun calon penerima donor harus lolos checklist yang tidak sedikit. Inilah yang mereka khawatirkan. Tapi setidaknya Diwana sebagai calon penerima donor sedang dalam kondisi prima dan sehat.

Tetapi waktu seakan berjalan semakin lambat semakin Diwana menantikannya. Ah, bulan September yang mendung terasa sangat sendu. Langit tentu mendukung suasana menegangkan itu. Hari bersejarah yang tak akan pernah Diwana lupakan sepanjang hidupnya.

Tanpa orang lain tahu, hati Diwana sesungguhnya sedang berkecamuk kecil. Bagaimana bisa ia bahagia diatas duka orang lain yang bahkan mungkin sedang menangis meratapi nasib korban itu sekarang?

Ada rasa bersalah yang mencuat di dadanya, tentu saja. Tapi apa salahnya? Ia juga ingin hidup. Diwana yakin sang pendonor inipun akan senang ia hidup. Begitulah ia menyemangati ragunya, berusaha membuang perasaan bersalah yang hampir menguasainya.

Saat kita berlari di gurun, tentu air yang kita cari.

Saat kita terombang ambing dilaut lepas, tentu daratan yang kita tuju.

Dan saat kita sakit, tentu sembuh yang kita mau.

"Semoga cocok, semoga cocok, semoga cocok," bisik Diwana lirih dengan mata terpejam, yang ternyata tertangkap oleh telinga Aiden.

"Tenang, Kak. Aku yakin pasti cocok. Denger-denger korbannya cedera kepala, jadi semoga organnya baik-baik aja. Kondisi kakak kan juga lagi fit banget, no worry." Ia tersenyum tulus, tidak menyebalkan seperti biasanya.

"Kamu kok tumben pake aku-kamu ke Kakak? Biasanya juga pake lo-gue?" tanya Diwana bermaksud bercanda pada Aiden yang masih fokus pada majalah yang dipegang.

"Yaa.. ya nggak papa. Aku mau insyaf aja hehe," jawab Aiden sekenanya.

"Ai, kamu.. takut nggak bisa baikin Kakak lagi ya?" Entah kenapa kalimat Diwa terdengar pilu. Semuanya tiba-tiba hening selama beberapa saat. Bahkan burung diluar sana seakan ikut berhenti berkicau.

Bunda yang sedang mengupas apel pun berhenti dan berdiri.

"Bunda keluar dulu ya sebentar, mau nemuin Dokter Tano," pamit bunda dengan mata berair, tertangkap sangat jelas dimata kedua anaknya. Diwa dan Aiden tahu bunda bohong, tentu saja.

"Hmm.. kenapa aku bisanya bikin orang sedih sih," gerutu Diwa saat bunda sudah pergi. Disambut hening lagi sejurus kemudian.

"Dek, kalau donornya nggak cocok, kakak nyerah deh. Hidup bolak-balik rumah sakit nggak enak, mau bebas aja. Sebentar pun nggak papa deh. Pengen hidup diluar dengan bebas sebentar aja, abis itu nyusul ayah."

"Kak-"

"Kalau cocok pun, siapa bilang Kakak bisa bertahan waktu OP nanti? Kakak juga takut, Kakak tuh nggak sekuat itu, iya nggak sih?" Lanjutnya dengan terkekeh miris.

"Kak Diwa...."

"Titip Bunda ya kalo nanti kak-"

"KAK DIWANA...!!" Aiden tau-tau menghambur memeluk kakaknya. Melemparkan majalah MPASI-nya begitu saja ke lantai. Diwa diam-diam tersenyum dibalik punggung adiknya itu seraya membalas peluknya.

"Kamu nangis?" Tanya DiwaNA saat mendengar isakan tangis Aiden, merasa sedikit tak percaya.

"Gue cancel deh pake aku-kamu ke Lo. Malah bikin melow kan jadinya," gerutu Aiden dibalik punggung kakaknya, sambil menyerot sedikit ingus tentu saja.

"Cie, meluk aku nih? Sweet banget sih adek aku satu ini utututu..." ledek Diwana. Buru-buru Aiden melepaskan pelukannya, dan ekspresi menyebalkan Aiden pun kembali, ia menatap Diwa tajam.

"Denger ya, nggak usah sok-sokan nitip-nitip bunda segala. Lo nggak akan kemana-mana. Males banget dititip-titipin, gue bukan kurir paket..!" omel Aiden tanpa menatap kakaknya. Ia lantas menghamburkan diri ke sofa lagi, menutup wajahnya dengan majalah yang terbalik.

"Aid-"

"Apa? Nggak usah melow lagi deh. Nyesel gue meluk Lo. Tuhan... please hapus memori meluk kak Diwa, Tuhan..." ucapnya penuh drama.

"Ih, tadi tuh moment terindah aku sebagai kakak kamu tau nggak?"

"Nggak. Nggak denger, gue nggak lihat... nggak denger...!!" teriak Aiden salah tingkah.

"Hmm.. Thankyou," ucap Diwa lirih, dibalas anggukan oleh sang adik, kemudian hening lagi.

"Udah nemu resep yang cocok belum, Dek?" tanya Diwa tiba-tiba, disambut kerutan didahi sang adik, lalu menunjuk majalah yang terbalik dengan dagunya.

"Tuh..."

"DIWANA NYEBELIN DERURINDU...!"

Belum sempat Aiden memukul kakaknya dengan bantal sofa, pintu kamar tiba-tiba terbuka. Kehangatan di ruangan itu tiba-tiba lenyap tergantikan kelam yang sejenak menyeruak. Detak jantung mereka seakan terdengar satu sama lain. Nafas Diwana rasanya hampir sesak karena detak jantungnya mulai berirama tak beraturan. Ia benar-benar tegang setengah mati.

Dokter Tano dan bunda masuk bersamaan ke ruangan. Dibelakangnya ada seorang perawat laki-laki membawa beberapa alat medis dan berkas-berkas di troli medis. Perawat itu kemudian berjalan menghampiri Diwana, seraya mengambil satu berkas yang entah apa isinya.

Begitu dokter Tano tersenyum kearah Diwana, semua tahu apa kabar dibaliknya. Kabar bahagia yang diantarkan melalui senyuman itu adalah yang Diwana tunggu-tunggu selama dua puluh tahun penuh.

Kehangatan pun kembali, menyeruak memenuhi ruangan. Senyum bunda juga mengembang, raut wajahnya seakan berkata 'Akhirnya, anakku..'.

Hanya raut wajah Aiden tak terdefinisikan. Ia hanya menghambur memeluk kakaknya lagi yang kini hanya diam terpaku. Sebutir air mata tertahan di sudut mata, hingga akhirnya jatuh saat hangat peluk Aiden dirasakannya.

"Ah, aku akhirnya akan benar-benar hidup?"

----

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel 3 LEGION
9.6
Kedamaian tiga bangsa kini terancam akibat hadirnya sosok misterius dari masa lalu. Tokoh ini memegang kunci penting yang menghubungkan masa lalu dengan masa depan. Ia juga menjadi figur sentral yang akan mengungkap kebenaran di balik sejarah kelam Legion yang lama tersembunyi. Lewat petualangan penuh misteri ini, identitas asli sang pendatang akan membongkar rahasia besar yang telah lama terkubur rapat dari dunia mereka.
Sampul Novel Feng Na Na
9.4
Terbangun dengan pakaian kuno, aku merasakan nyeri hebat akibat guncangan di dalam kotak kayu. Padahal, memori terakhirku adalah mati mengenaskan akibat pengkhianatan tunanganku sendiri. Rasa sakit ini menegaskan bahwa aku tidak bermimpi. Ketika mencoba bangkit, aku terkejut mendapati diriku berada di dalam sebuah peti mati. Bagaimana mungkin aku bisa kembali bernapas setelah pembunuhan itu? Misteri apa yang sebenarnya sedang terjadi pada hidupku sekarang?
Sampul Novel Jodoh Serigala Putih yang Ditolak Sang Alpha
8.2
Pameran seni perdanaku hancur saat Baskara, Alpha pasanganku, melindungi wanita lain di media. Demi aliansi baru, dia mengabaikan ikatan kami, meremehkan karyaku, dan mencuri ide bisnis triliunanku. Setelah empat tahun dihina sebagai Omega penurut, kesabaranku habis. Melalui dokumen palsu yang dikira pengalihan hak seni, aku menjebaknya untuk menandatangani Ritual Penolakan. Kesombongan sang Alpha akan menjadi senjata yang menghancurkan dirinya sendiri.
Sampul Novel Misteri Desa Purnama
8.8
Niat Aldi melepas penat kuliah di Desa Purnama yang sunyi berujung petaka. Kedatangannya di sana justru membangkitkan kekuatan supranatural misterius dari dalam dirinya. Kini, ia terjebak di tengah rentetan teror gaib mencekam yang berada di luar nalar manusia. Akankah Aldi berhasil selamat dari ancaman mistis di desa terpencil tersebut, ataukah perjalanan liburan ini akan selamanya menjadi mimpi buruk yang tiada akhir?
Sampul Novel Terjerat Birahi Direktur Dingin
8.2
Dikhianati sang tunangan hingga tewas tertabrak truk, Raisa Anastasya bangkit kembali dalam tubuh baru beridentitas sama. Berbekal paras menawannya, ia bertekad melakukan balas dendam. Namun, takdir berubah rumit ketika Zefan, direktur dingin yang mabuk, merenggut kesuciannya akibat salah orang. Terjerat dalam gairah malam yang adiktif dengan bosnya, Raisa kini dihadapkan pada pilihan sulit: menuntaskan dendamnya atau menyerah pada takdir baru.
Sampul Novel The Witcher of Mallacht
9.1
Dunia gempar akibat ulah Le Delleraz, penyihir misterius yang menyebar kutukan dan kobaran api. Usai mencuri barang berharga, ia kini jadi buronan yang paling dicari. Dalam pelarian itu, langkahnya terus dibayangi oleh Laccuan Holt, seorang pemburu tangguh yang tak kenal lelah. Namun, ambisi Laccuan bukanlah menegakkan keadilan. Ia bertekad memburu Le Delleraz ke mana pun ia bersembunyi demi bisa memiliki sang penyihir sepenuhnya.