APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Nilakandi

Nilakandi

Enam tahun lamanya, Diwana tersiksa oleh mimpi berulang tentang gadis bergaun biru beraroma harum dan berlonceng, yang tak boleh ia sentuh atau ajak bicara karena aturan gaib. Batas antara khayalan dan kenyataan runtuh saat ia bertemu Nilakandi, sosok nyata yang sangat mirip dengan perempuan dalam tidurnya. Pertemuan ini perlahan menyingkap rahasia besar serta takdir misterius yang selama ini menyelubungi kehidupan Diwana.
Bab
Bagikan

Bab 1

Perempuan bergaun biru itu memandang kearah lautan lepas berwarna jingga di depannya dengan sendu. Tangan yang mungil terkulai begitu saja di kedua sisi tubuhnya. Bibirnya mengatup rapat, helai demi helai rambut itu terurai menari-nari mengikuti alunan lagu sang anila.

Tatapannya nampak kosong, namun disaat yang bersamaan juga nampak penuh dengan kebimbangan. Beralaskan pasir pantai yang basah, kakinya tetap memaku tatkala diterpa ombak yang menyapa. Sepertinya ia tidak keberatan sama sekali saat dingin air laut berusaha mengusik jemari kakinya. Tak ada kicau burung bernyanyi, tak ada musik mengalun mengiringi.

Perlahan matanya terpejam menikmati detik demi detik waktu yang berlalu, menyisakan tanda tanya besar pada sosok yang mengamatinya sejak tadi.

"Cantik," batin laki-laki yang entah sejak kapan mengamati gadis misterius itu dalam diam. Senyum mengembang di bibirnya, seakan sudah tertahan sejak lama. Bait-bait puisi kerinduan tertulis jelas di wajahnya yang masih tersipu meski hanya dengan menyaksikan gadis itu dari kejauhan.

"Aku benar-benar ingin menyapamu, gadis bergaun biru," batinnya lagi. Sebait puisi tentang kerinduan tiba-tiba sayup-sayup terdengar ditelinganya, entah suara siapa itu.

Lihatlah, matahari bersinar malu-malu di ufuk sana.

Apakah rindumu sudah mencair olehnya?

Ataukah justru kian menggebu?

Karena sepertinya candumu tak ada obatnya.

Maaf, datang lagilah lain kali.

Dosa atau doa, ada hutang yang harus kau lunasi.

Suara ombak mengalun merdu mengiringi siapapun yang tengah merindu. Ada aturan-aturan tertentu yang menghalanginya, sebesar apapun celengan rindunya untuk sang gadis yang tertahan.

Namun ia hanyalah manusia biasa yang pada akhirnya, pertahanannya runtuh juga. Dari jarak sekitar sepuluh kaki, bau harum unik mulai menyeruak membuat lelaki itu memejamkan matanya, menghirup kuat-kuat aroma yang memabukkan itu. Aroma yang bisa membuat siapa saja gila bahkan hanya dengan membayangkannya sekalipun.

Kelopak-kelopak bunga warna-warni bertebaran disekeliling si gadis bergaun biru, menampakkan cahaya kebiruan yang berpendar dengan teratur. Sehelai kelopak bunga mawar berwarna biru itu jatuh tepat di tangan sang lelaki yang sudah menengadah. Kemudian, aroma memabukkan itu menguat lagi seiring hembusan angin yang beradu.

"Lagi. Harum ini lagi. Aku ingin serakah. Kumohon, ijinkan aku mendekat menyetuhmu," pinta si lelaki memelas walau jelas tak terdengar.

Sepertinya angin memang sengaja bermain-main dengan keduanya, mungkin berharap mereka segera bertegur sapa. Bahkan angin dan ombak pun tak sabar menunggu dua insan itu bertemu lebih dari sekedar hanya beradu pandang. Kemudian sekali lagi, harum khas yang memabukkan itu menyeruak ke indera sang perindu.

Kata Kahlil Gibran, apa yang kita sentuh adalah bagian dari nafsu kita. Mungkin benar, lelaki itu buktinya. Tampaknya ia benar-benar memilih serakah meskipun ia tentu sangat tahu apa konsekuensi atas tindakannya.

Dirematnya kelopak bunga ditangan, pendiriannya pun seketika runtuh. Bulat sudah tekadnya untuk meredakan kerinduan, mengikuti nafsunya. Perlahan ia melangkahkan kaki mendekat, bermaksud mengikis jarak diantara mereka, atau bahkan menyapanya.

Satu langkah.

Gemerincing lonceng-lonceng kecil terdengar ditelinganya, sedikit berisik tapi entah kenapa tetap merdu. Tepat ketika derak-derak lonceng terakhir berbunyi, keheningan pun menyambut memaksa ia kembali melangkah.

Dua Langkah.

Tubuhnya sedikit terhuyung tapi hati memimpinnya lagi, ia hanya patuh mengikuti. Belum terlambat untuk berputar arah dan kembali, tapi ia tak punya niat itu barang sedikitpun.

Tiga langkah.

Aroma yang memabukkan perlahan menghilang, tergantikan aroma air laut yang bersua dengan matahari. Entah kenapa terasa sangat menyejukkan disaat langkahnya mulai terasa berat seakan sesuatu menahannya dari belakang. Tapi sekali lagi, tak bisa diungkapkan dengan kata-kata seberapa besar inginnya melepas rindu. Sekalipun dengan mempertaruhkan segala yang dimilikinya saat itu.

Empat langkah.

Kini wajah gadis itu semakin terlihat jelas sejelas kerinduan yang seringkali menghantui perasaannya. Kerinduan yang seakan tengah memekik ditelinga meminta untuk segera dilepaskan. Kerinduan yang bahkan matahari pun tak bisa mencairkan. Tak tertahan lagi, keserakahan menguasai ego lelaki itu yang kemudian menyapa dengan berdehem pelan.

"Ekhm, halo." Suara bariton itu memecah keheningan, membuat Gadis Bergaun Biru menoleh pelan kearah sang empunya suara. Laki-laki itu bahagia, bak akhirnya berjumpa dengan musim semi setelah melewati musim dingin yang panjang.

Untuk sepersekian detik berikutnya yang terjadi hanyalah kebisuan berbumbu debur ombak yang berperang menuju daratan. Tatapan kosong sang gadis pun bertemu dengan netra sang lelaki, seperti biasanya. Seberkas cahaya jingga membelai satu sisi wajahnya, cantik sekali.

Tak henti-hentinya lelaki itu memuji ciptaan indah tuhannya dalam hati. Gadis itu kemudian tersenyum manis, tapi entah kenapa matanya tidak demikian. Terbersit kepiluan dari sorot netra cokelat yang sedikit berkaca-kaca itu.

Lalu hal yang paling Diwana takutkan pun dimulai, sepuluh detik berikutnya gadis itu perlahan memudar dari pandangan. Sesuatu yang seperti kabut asap mengelilinginya tiba-tiba, dan sejurus kemudian… melenyapkannya. Semua terjadi hanya dalam hitungan detik, seperti tipuan sihir magis yang mengelabui mata.

"Tidak… Tunggu. Kumohon jangan pergi lagi… Biru..." teriak lelaki itu yang entah kenapa hanya bisa terpaku ditempat dimana ia berdiri.

Tangannya mencoba melambai namun tiada guna, bermaksud mencegah Gadis Bergaun Biru pergi. Ia hanya bisa menatap nanar gumpalan asap mengepul yang masih sedikit tersisa di udara.

Sekitar lima detik kemudian ia tiba-tiba bisa bergerak lagi dari tempatnya, tak lagi terpaku. Tapi buat apa jika yang dirindu bahkan sudah tak terlihat lagi, lenyap tepat di depan matanya.

"Biru…" Begitulah ia selalu memanggil gadis itu, karena gaunnya tentu saja.

"Biru…."

"Biru….." isaknya dalam sendu.

"KAK..? KAK DIWA...?

"DIWANA…?!"

PLAKK

"Bangun, Kak. Kakak serem ih, ngigau si hantu lagi, kan? Udah ditungguin Bunda dibawah dari tadi, udah jam delapan nih. Cepet turun buat sarapan bareng sebelum bunda ngomel."

"DEK?! BARUSAN KAMU NAMPAR KAKAK YA?"

Diwana yang baru saja terbangun dari mimpinya pun melotot memandang tak percaya kearah si adik jahil yang berdiri didepannya tanpa dosa. Yang ditatap pun seketika terkejut saat siasatnya terbongkar, dengan sigap ia segera melarikan diri dan setengah berlari keluar kamar kakak laki-lakinya.

"AIDEN!!" teriak Diwana tepat saat Aiden membanting pintu.

Namun sayang, yang dipanggil sudah terlanjur lenyap di balik pintu kamarnya. Saat Diwana mulai sadar sepenuhnya, mimpi yang baru saja menghantui perlahan muncul dari memorinya. Lengkap adegan demi adegan, kata demi kata, emosi demi emosi.

Bahkan bau harum dari mimpinya seakan ikut menyeruak ke dunia nyata, karena Diwana berani bersumpah bahwa ia masih bisa merasakan sedikit aroma memabukkan itu sekarang di kamarnya. Harum memabukkan itu terasa menguar mengikutinya keluar dari alam mimpi, tak bisa diterima akal sehat siapapun yang mendengar kenyataan itu.

"Biru, aku sudah rindu lagi."

----

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel 3 LEGION
9.6
Kedamaian tiga bangsa kini terancam akibat hadirnya sosok misterius dari masa lalu. Tokoh ini memegang kunci penting yang menghubungkan masa lalu dengan masa depan. Ia juga menjadi figur sentral yang akan mengungkap kebenaran di balik sejarah kelam Legion yang lama tersembunyi. Lewat petualangan penuh misteri ini, identitas asli sang pendatang akan membongkar rahasia besar yang telah lama terkubur rapat dari dunia mereka.
Sampul Novel Feng Na Na
9.4
Terbangun dengan pakaian kuno, aku merasakan nyeri hebat akibat guncangan di dalam kotak kayu. Padahal, memori terakhirku adalah mati mengenaskan akibat pengkhianatan tunanganku sendiri. Rasa sakit ini menegaskan bahwa aku tidak bermimpi. Ketika mencoba bangkit, aku terkejut mendapati diriku berada di dalam sebuah peti mati. Bagaimana mungkin aku bisa kembali bernapas setelah pembunuhan itu? Misteri apa yang sebenarnya sedang terjadi pada hidupku sekarang?
Sampul Novel Jodoh Serigala Putih yang Ditolak Sang Alpha
8.2
Pameran seni perdanaku hancur saat Baskara, Alpha pasanganku, melindungi wanita lain di media. Demi aliansi baru, dia mengabaikan ikatan kami, meremehkan karyaku, dan mencuri ide bisnis triliunanku. Setelah empat tahun dihina sebagai Omega penurut, kesabaranku habis. Melalui dokumen palsu yang dikira pengalihan hak seni, aku menjebaknya untuk menandatangani Ritual Penolakan. Kesombongan sang Alpha akan menjadi senjata yang menghancurkan dirinya sendiri.
Sampul Novel Misteri Desa Purnama
8.8
Niat Aldi melepas penat kuliah di Desa Purnama yang sunyi berujung petaka. Kedatangannya di sana justru membangkitkan kekuatan supranatural misterius dari dalam dirinya. Kini, ia terjebak di tengah rentetan teror gaib mencekam yang berada di luar nalar manusia. Akankah Aldi berhasil selamat dari ancaman mistis di desa terpencil tersebut, ataukah perjalanan liburan ini akan selamanya menjadi mimpi buruk yang tiada akhir?
Sampul Novel Terjerat Birahi Direktur Dingin
8.2
Dikhianati sang tunangan hingga tewas tertabrak truk, Raisa Anastasya bangkit kembali dalam tubuh baru beridentitas sama. Berbekal paras menawannya, ia bertekad melakukan balas dendam. Namun, takdir berubah rumit ketika Zefan, direktur dingin yang mabuk, merenggut kesuciannya akibat salah orang. Terjerat dalam gairah malam yang adiktif dengan bosnya, Raisa kini dihadapkan pada pilihan sulit: menuntaskan dendamnya atau menyerah pada takdir baru.
Sampul Novel The Witcher of Mallacht
9.1
Dunia gempar akibat ulah Le Delleraz, penyihir misterius yang menyebar kutukan dan kobaran api. Usai mencuri barang berharga, ia kini jadi buronan yang paling dicari. Dalam pelarian itu, langkahnya terus dibayangi oleh Laccuan Holt, seorang pemburu tangguh yang tak kenal lelah. Namun, ambisi Laccuan bukanlah menegakkan keadilan. Ia bertekad memburu Le Delleraz ke mana pun ia bersembunyi demi bisa memiliki sang penyihir sepenuhnya.