APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Naluri Lelaki

Naluri Lelaki

Eric Damian sukses besar dalam karier berkat kerja kerasnya, tetapi kehidupan asmaranya justru berjalan rumit. Di balik gelimang harta dan pencapaiannya, hati Eric telah tertutup rapat bagi perempuan lain. Naluri cinta dan ketertarikan mendalamnya hanya tertuju pada satu sosok wanita, yakni Dewi Bela. Kisah ini mengikuti perjuangan gigih Eric demi menaklukkan hati sang pujaan dan meraih kebahagiaan sejati bersamanya.
Bab
Bagikan

Bab 3

"Bel, saya boleh lagi tidak bertanya pada kamu," tanya Eric kian membuuat Bela menegang dia takut jika dia salah menjawabnya seolah dia sedang diintrogasi aparat saja seakan dia juga orang yang terdakwa malam itu.

"Ehm, Iya Pak. Bapak mau ngomong apa Pak?" tanya Bela yang kian gugup terlihat sekali kekikukannya yang benar-benar ketara.

"Tapi kamu harus janji, apapun yang saya bilang ini kamu jangan marah ya," tanya Eric lagi.

"Iya, saya janji Pak!" yakin Bela seakan memberi lamp hijau akan ucapan dari Eric.

"Bilang saja kalau memang Bapak mencintai aku, " gumam Bela yang sangat berharap dalam hatinya.

"Oke kamu janji ya, Bel...! Sebenarnya saya sudah lama memendam rasa ini, hanya saya takut kamu marah dan benci sama saya, apalagi kita satu kantor, takut jadi semua pekerjaan kita berantakan," tukas Eric serius.

"Memangnya Bapak mau bilang apa sih Pak!" tukas Bela menjadi bingung namun dia tahu jika romannya Eric ingin mengutarakan akan perasaannya yang dia juga harapakan selama ini karena bagaimanapun dia adalah seorang wanita yang mampu menunggu kepastian darinya saja.

"Ehm, kamu mau kan jadi kekasih saya?" tanya Eric meraih tangan Bela yang tiba-tiba mendingin.

" Apa? Bapak tidak salah ngomong kan? " tanya Bela tidak percaya karena dia juga sangat menginginkannya.

"Iya saya serius Bel..., " ucap Eric penuh dengan keyakinan terhadapnya.

" Tapi Pak, saya kan," ucap Bela gugup dia tidak menyangka apa yang menjadi pengharapannya selama ini terkabul karena dia juga memiliki rasa yang sama dengan Eric.

"Karena itu aku ajak kamu ikut untuk temani aku, karena selama ini tidak ada waktu untuk bicara lebih luas sama kamu," alasan Eric tersenyum lembut namun mampu membuat Bela merespon jika dia juga mmencintai pria yang berparas tampan itu.

"Tapi Pak_" ucap Bela terbungkam karena Eric lebih cepat membungkam bibir ranumnya dengan bibir sensual atasannya itu. Bela terdiam dan Eric tahu apa jawaban dari wanita yang dia taksir itu bahkan Bela memilih untuk menutup kedua matanya menikmati lumatan lembut dari sang Bos eksekutif muda itu.

Eric melepaskannya dia tersenyum angkuh membuat Bela tertunduk malu, lalu Eric kembali meraih dagu ranum miliknya dan kembali melumat habis bibir merah jambu yang terlihat merah alami itu.

Eric mencoba meregangkan bibir Bela namun Bela masih terdiam, Bela tidak tahu harus berbuat bagaimana untuk membalasnya, Karena baru inilah dia mendapatkan sentuhan pertamanya.

Eric menyelesaikan sentuhan itu dia memandang Bela secara intens memegang pipi Bela yang terlihat kikuk saat itu Eric tahu jika ini pertama kali bagi wanita yang sangat dia cintai itu.

"Kamu tidak marahkan Bel? Kamu maukan jadi pacar aku. aku berharap suatu saat kamu akan mencintai aku Bel, kumohon terimalah cintaku ini," ucap Eric mengiba.

Namun Bela masih diam membisu seolah-olah dia tidak mampu untuk menjawabnya.

"Ehm, sebenarnya Pak, saya juga sangat menyukai Bapak bahkan sedari dulu pertama kali saya ikut bergabung kerja di tempat kita ini, dan saya juga sangat mengharapkan cinta Bapak itu ada untuk saya, " lirih Bela dalam hatinya.

Bela hanya bingung mau jawab apa.

"Iya Pak, aku tidak marah kok, namaya juga manusia punya hak masing-masing di cintai dan mencintai," jawab Bela tersipu malu.

"Itu artinya kamu mau kan? "

"Iya Pak, biarlah nanti waktu yang menjawabnya," tukas Bela bingung ingin menjawab apa.

"Sesungguhnya saya belum pernah mengalami namanya jatuh cinta, saya mohon juga Bapak mengerti keadaan saya,"

Eric kembali memberi sentuhan lembut di bibir ranum Bela, tanpa sadar Eric melingkarkan tanganya tepat di pinggang Bela dari samping bawah, tangan kanan Eric menjalar melingkarkan ke tanganya tepat di atas pundak Bela dan merangkulnya lebih rapat lagi.

Lumayan lama Eric bermain di sana, Bela hanya mengeluarkan napas tidak karuan, dengan bimbingan Eric, Bela pun mulai membalas serangan dari Eric. Bela hanya mengikuti naluriny saja, dengan terbawa suasana Eric semakin ganas dan merapatkan pelukanya pada Bela, sehingga dia merasakan gundukan gunung kembar Bela yang berukuran standar itu tepat di dadanya , dia semakin tidak karuan dia memutar- mutar kepalanya sendiri ke kiri dan kanan, sungguh luar biasa betapa ganasnya first kiss mereka.

" Kring.....Kring.....Kring....."

Bunyi hanphone Bela memecahkan suasana mereka berdua

Eric menghentikan dia terkesiap.

" Siapa yang telepon Bel?"

" Ibu kost," Bela sambil melihat hanphonenya

" Halo Ibu...."

"Sudah sampai belum Nak?"

"belum Bu, ini masih di tengah jalan,"

" Ya sudah hati-hati di jalan Nak,"

" Iya Ibu," ujar Bela sambil menutup teleponnya.

" Terimakasih sayang, sudah membuat saya semakin semangat bekerja, mulai saat ini jika kita di luar jangan panggil Bapak lagi,"

" Trus panggil apa dong,"

"Iyah, panggil sayang apa kek,"

" iya sayang," ucap Bela akrab bercampur bahagia

Bela sudah merasa terjawab apa yang dia inginkan sejak dari dulu yaitu kelak menjadi kekasih dari Eric.

" Yuk, jalan lagi,"

" kakinya sudah tidak pegal lagi kan?" ucap Bela tersenyum manis.

" Ayo! " ujar Eric sambil kembali menyempatkan mencium singkat pipi Bela.

Selama di perjalanan merekapun asik mengobrol layaknya sepasang yang sedang pacaran, dan selama di perjalanan itulah mereka mengakrapkan diri sehingga mereka terlihat pacaran sudah lama.

Sesampai di kota Semarang waktu itu kurang lebih jam 10 malam, mereka pun langsung mencari penginapan seputaran tempat mereka ikut Thender itu, cukup lama mereka bolak balik mencari penginapan itu, sudah ada 2 tempat mereka mencari penginapan namun semua penginapan itu penuh.

Setelah sekian lama mencari penginapan mereka pun melihat sebuah hotel yang agak jauh dari tempat tujuan mereka.

Eric langsung memasukkan mobilnya ke parkiran dan meraka berdua langsung menuju Loby resepsionis hotel itu.

" Selamat malam Pak,"

" Selamat Malam, ada yang bisa kami bantu ?" sapa salah seorang resepsionis dengan ramah.

" Apakah di hotel ini masih ada kamar yang kosong?"

" Masih ada 1 kamar lagi Pak, tempat tidurnya 1 ukuran jumbo dengan dilengkapi tv, AC dan Wifi tapi tempatnya di lantai paling atas," tutur resepsionis itu dengan ramah karena yang hotel yang di tuju oleh mereka tergolong jauh dari keramaian lagi pula Hotelnya bukanlah bintang 5 yang seperti di harapkan oleh mereka berdua.

"Namun sebelumnya mohon maaf Pak, apakah Bapak dan Mbak ini suami istri?"

" Ehm, Iya kami suami istri, " tukas Eric menjawabnya sambil melihat ke arah Bela dengan memperlihatkan senyumannya.

"Baik Pak! Mohon di tunggu dulu ya Pak, kamarnya sedang disiapkan dulu," tukas resepsionis itu dengan ramah seraya melipatkan tangannya mungkin itu adalah selogan dari Hotel itu bisa bersikap ramah dengan pengunjung Hotel tersenyum.

Mereka pun duduk di sopa Loby hotel itu,

"Sayang, kok kita 1 satu kamar sih," tanya ragu Bela pelan dia masih terlalu dini menerima cinta dari seorang yang baru menjadi kekasihnya itu.

" Iyakan, tidak apa-apa!"

" Tidak nyamanlah, kalau kita tidur satu kamar,"

" Terus kita mau nginap di mana kan, sudah beberapa hotel kita cari dari tadi,hanya ini yang ada kamarnya walau hanya 1, kalau kamu takut aku bisa tidur di Sofa saja kok, sayang! ini sudah jam 11.00 malam sayang, kita mau istirahat kapan lagi kita istirahatnya, apa lagi besok kita mau lanjut lagi kerja pagi," ujar Eric merayu Bela.

"Iya sudah, tidak apa! Tapi jangan macam-macam nanti ya," peringat Bela mencubit pinggang Eric yang meringis walau tidak sakit.

" Iya tenang saja, pasti aman kok!" yakin Eric

" Permisi Pak Bobby, kamarnya sudah siap, Ayo saya antar Pak, Ibu."

"Baik ....Mbak, Yuk...... sayang kita ke kamar, sudah capek banget nih...!" Eric meraih tangan kekasihnya itu dan menggandengnya.

Di lorong menuju lantai atas Eric merasa sangat bahagia dan sesekali Eric melihat wajah Bela tersenyum, mereka terlihat sangat mencintai satu dengan yang lainnya dan Bela hanya berharap jika Eric itu adalah belahan jiwa kelak.

" Silakan masuk Pak, Ibu. Ini kartu kamarnya. Selamat beristirahat,"

" Baik Mbak,"

Eric dan Bela masuk ke kamar itu dan segera mengunci pintunya

Bersambung....

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bangkit Dari Luka: Istri Yang Terbuang
8.1
Cinta tulus Jilly selama tiga tahun hancur saat Elton tega membuangnya ke laut demi menyelamatkan Rachel. Menghadapi pengkhianatan kejam sang suami, Jilly memilih menyembunyikan kehamilannya dan berencana kabur dari pernikahan toksik mereka. Ketika Elton akhirnya berhasil melacaknya dalam keadaan kacau dan memohon maaf demi anak mereka, hati Jilly telah membatu. Baginya, sosok ayah dari bayinya sudah lama mati sejak hari di mana Elton lebih memilih nyawa wanita lain.
Sampul Novel Cahaya di Antara Bayang-Bayang
8.7
Ibadah rutin di bulan Ramadan belum mampu mengikis kehampaan di hati Amir. Hidupnya baru berubah arah setelah ia bertemu Sheikh Ibrahim, sosok guru spiritual misterius yang menuntunnya keluar dari kegelapan batin. Di tengah perjalanan religius ini, iman Amir diuji secara hebat. Melalui interaksinya dengan seorang anak jalanan dan wanita misterius, ia mulai memahami arti sejati dari cinta serta pengorbanan. Inilah kisah perjuangan menemukan cahaya hidup.
Sampul Novel Escaping The Madhouse
9.7
Alana, seorang gadis yang dijual oleh ibu tiri dan pacarnya ke sebuah pasar gelap yang menjual wanita-wanita muda untuk dijadikan budak seks. Beruntungnya, sebelum naik ke tempat pelelangan, Lana kabur dengan mengelabui para penjaga meskipun pada akhirnya dia tetap ketahuan. Mereka mulai mengejar Lana yang berlari dengan pakaian yang sangat terbuka dan juga bertelanjang kaki. Dia berlari dan menemukan sebuah rumah yang sangat mewah, kemudian menaiki pagarnya untuk menghindari kejaran orang-orang itu. Sayangnya, Lana tidak tahu rumah seperti apa yang dia masuki. Sekali dia masuk kedalam, dia tidak akan pernah bisa keluar lagi dari rumah itu. "Apakah ini adalah malam keberuntunganku? aku mendapatkan wanita tanpa membuang uangku. Diaz, Charlotte, bawa dia ke kamarku dan persiapkan semuanya." "Bantu aku untuk membalas dendam, sebagai bayarannya kau bisa menggunakan tubuhku sesukamu." "Lana, aku akan membantumu pergi dari tempat ini dan lepas dari cengkraman Jeffrey. Kamu tidak pantas diperlakukan sebagai alat pemuas oleh Jeffrey, malam iuni kau harus pergi setelah aku memberi tanda padamu. Jangan khawatirkan aku."
Sampul Novel Istri Bayaran Yang Menyembuhkan Penyakitnya
9.0
Demi menyembunyikan kelemahannya, Valerian DeVere memutuskan menyewa seorang istri bayaran. Di luar dugaan, pernikahan kontrak ini justru membawa kesembuhan bagi penyakit kronis yang dideritanya. Namun, seiring berjalannya waktu, hubungan bisnis tersebut berkembang menjadi ikatan yang rumit dan berbahaya. Kini, Valerian dihadapkan pada keraguan besar: apakah dirinya benar-benar telah sembuh, atau justru sedang terjebak dalam pusaran konspirasi gelap yang mengancam jiwanya?
Sampul Novel Madu Pemberian Ipar
8.8
Kehadiran Runi menghancurkan pernikahan Yanto dan Viana. Didorong rasa benci pada Viana, sang adik ipar menjebak Yanto dengan Feyla hingga ia nekat berpoligami. Menolak dimadu, Viana memilih bercerai demi harga diri walau terluka. Di saat Viana mulai bangkit menata hidup baru yang lebih bahagia, Yanto beserta orang-orang yang telah mengkhianatinya justru harus menghadapi karma pahit akibat perbuatan mereka.
Sampul Novel Mertua Awal Pembawa Petaka
9.3
Yatim piatu sejak lama membuat Kanaya tumbuh menjadi sosok mandiri. Kariernya sebagai asisten CEO pun terbilang sukses. Namun, di tahun keempat pernikahannya dengan Lukman, mereka belum juga dikaruniai anak. Kehidupan Kanaya seketika runtuh saat mendapati sang suami tampan diam-diam telah berpoligami. Luka hatinya kian perih karena ibu mertuanya sendiri ternyata merestui pernikahan kedua Lukman. Sanggupkah Kanaya menghadapi badai pengkhianatan ini?