APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Nafkah Istri Pertama

Nafkah Istri Pertama

Demi mendapatkan keturunan, seorang istri rela mengizinkan suaminya menikah lagi. Sayangnya, niat tulus demi kebahagiaan keluarga ini justru menjadi awal dari penderitaan panjang. Kehadiran istri kedua ternyata membawa kehancuran bagi kedamaian rumah tangga mereka. Kini, ia harus tegar menghadapi kenyataan pahit akibat keputusan yang awalnya dianggap sebagai solusi terbaik untuk masa depan pernikahan mereka.
Bab
Bagikan

Bab 1

Maaf, sayang. Bulan ini Abi cuma bisa ngasih segini ke kamu. Maaf ya. Soalnya dalam kondisi hamil, Naura membutuhkan lebih banyak uang. Ami tidak marah kan?" Arsyad menyodorkan sebuah amplop coklat tipis kepada Ika istri pertamanya.

"Ya terimakasih, Bi. Masih bersyukur di kasih rezeki." Ika menerima amplop itu.

"Abi ke kamar mandi dulu ya?"

"Iya, Bi. Sementara Ami siapkan untuk makan malam.

Ya hari adalah jadwal Arsyad berkunjung kerumah tersebut, setelah menikahi Naura dua bulan yang lalu. Sesuai komitmen Arsyad, dua minggu bersama Naura, maka ia akan kembali ke rumah yang di diami Ika selama dua minggu juga.

Sepeninggal suaminya, Ika membuka amplop yang tadi di berikan Arsyad padanya.

"Satu juta lima ratus ribu rupiah. Setengah dari bulan lalu." Gumamnya lirih.

Jumlah itu jauh berbeda dari nominal bulan lalu. Bulan lalu Arsyad menyerahkan tiga juta. Total gaji Arsyad sebagai karyawan di perusahaan adalah tujuh juta. Biasanya dulu, enam juta selalu Arsyad serahkan pada Ika. Selebihnya Arsyad gunakan untuk kebutuhannya sendiri.

Namun setelah menikahi Naura. Semua jadi berbeda. Sesungguhnya Ika ikhlas dengan takdirnya. Namun apa yang terjadi sekarang adalah diluar dugaannya semula.

"Mi, bulan ini Abi cuma bisa seminggu bersama Ami. Itu juga melihat keadaan Naura. Apabila keadaannya tidak baik, Abi harus kembali padanya. Noura menuntut Abi untuk lebih sering bersamanya. Karena kondisinya yang sedang hamil muda. Maafkan Abi ya." Arsyad membelai rambut hitam panjang dan lurus milik Ika.

Ika diam sesaat, lalu tersenyum kecut.

"Aku mungkin harus lebih mengerti. Inikah takdir seorang istri yang tak bisa memberikan keturunan." Ika membatin.

"Maaf, Bi. Ami kebelet." Dengan sedikit menyembunyikan mukanya yang mulai memerah. Ia berlari ke kamar mandi.

Di cermin kamar mandi, Ika tidak bisa menahan bulir-bulir bening itu. Ia menyekanya perlahan.

"Sekarang semua terbagi dengan tidak adil. Hiks... Hiks... Ku kira dengan mengizinkanmu poligami akan menambah ladang pahala bagiku. Tapi mengapa semuanya harus seperti ini. Mulai waktumu yang hanya ku dapatkan sepertiga dalam sebulan, nafkah, dan mungkin saja cintamu yang tidak lagi terbagi rata antara aku dan Naura..." Kembali Ika menyeka air mata nya.

"Berbagi memang tak mudah. Namun demi bakti ku, dan juga agar kau mendapatkan momongan, aku ikhlas. Karena aku sadar, rahim ini belum mampu memberikanmu keturunan."

Ika melamun, teringat kembali kejadian beberapa bulan lalu.

***

Beberapa bulan yang lalu

Ika sibuk menyiapkan hidangan di meja makan. Biasa aktivitas yang akan ia lakukan apabila datang berkunjung ke rumah mertuanya. Ia akan membebaskan mertuanya dari tugas dapur. Dari memasak, beres-beres, mengepel hingga membersihkan kamar mandi.

Ika sama sekali tidak merasa di perbudak. Justru ia merasa bangga bisa melakukan itu untuk meringankan pekerjaan rumah sang mertua. Dengan begitu, akan menambah bakti terhadap orang tua bukan?

"Ika,..." Panggil Bu Melia

Ika menghentikan pekerjaannya,

"Ya, Bu." Tanggap Ika cepat.

"Bisa bantu ibu sebentar?"

"Tentu saja."

"Kamu ke pasar, ibu sudah membuat daftar barang belanjaan yang harus di beli."

Bu Melia menyodorkan sebuah kertas berisi daftar barang belanjaan.

"Ya baiklah. Tapi nih Ika belum selesai menyiapkan hidangan di meja makan."

"Tidak apa-apa. Nanti ibu yang akan menyelesaikannya.

"Oh ya. Baiklah, Ika bisa pergi sekarang."

"Terimakasih. Nih kunci mobilnya." Bu Melia mengeluarkan kunci mobil dari saku celananya.

"Tidak usah, Bu. Pakai sepeda motor saja, Bu. Lebih leluasa."

Kebiasaan mertuanya adalah membeli kebutuhan dapur di pasar tradisional. Tentu saja sepeda motor adalah pilihan yang pas.

"Ini uangnya." Bu Melia menyodorkan beberapa lembaran uang berwarna merah.

"Tidak usah, Bu. Pakai uang Ika saja."

"Ah, Ika. Ibu jadi tidak enak pakai uang kalian."

"Tidak apa-apa, Bu. Sesekali membeli kebutuhan orang tua sendiri."

"Aduuh terimakasih kalau begitu."

"Sama-sama, Bu."

Ika bergegas mengambil helm dan berjalan menuju sepeda motor matic miliknya.

Dengan cekatan ia mengendarai sepeda motor menuju ke pasar.

Di tengah perjalanan, Ika lupa kalau dompetnya tertinggal di meja ruang keluarga. Dengan cepat Ika segera berbalik arah.

Beberapa menit kemudian, ia sampai kembali di rumah mertuanya.

Tapi tunggu dulu, ketika ingin meraih dompetnya, Ika mendengar ada obrolan serius antara suami dan mertuanya. Perlahan Ika menguping pembicaraan mereka.

"Arsyad, apa kamu yakin ingin tetap mempertahankan istrimu?" Bu Melia bertanya kepada anak lelakinya.

Arsyad sejenak menghentikan aktivitasnya. Nasi yang baru saja ingin ia masukkan ke mulut, di letakkan kembali ke piring.

"Maksud ibu?"

"Maksud ibu, apa kamu masih mencintai Ika sepenuhnya?"

Dahi Arsyad berkerut.

"Tentu saja, Bu. Dia istriku. Tentu saja. Aku mencintainya." Jawab Arsyad sungguh-sungguh.

Wanita paruh baya di hadapannya melengos.

"Apa kamu tidak berpikiran ingin memiliki momongan."

Kali ini Arsyad tidak langsung menjawab, melainkan meneguk air putih yang telah di suguhkan oleh istrinya tadi sebelum ibunya menyuruh Ika sang istri untuk keluar membeli persediaan dapur yang mulai menipis.

"Tentu saja setiap pasangan ingin memiliki buah hati, Bu. Hanya saja terkadang butuh waktu untuk menunggu." Arsyad berusaha menenangkan diri.

"Ini bukan soal waktu, Nak. Tapi ini menyangkut masa depan. Tidak bisa selamanya kalian hanya berdua. Kamu butuh seorang anak."

"Bu, kami sudah sejak dulu menginginkan buah hati. Tapi apa mau dikata, Tuhan belum menganugerahkan." Ucap Arsyad lesu.

"Arsyad, sebaiknya kau dengarkan ucapan ibu."

"Aku selalu dengar ucapan ibu."

"Kali ini bukan hanya mendengar, tapi turuti. Kalau kau ingin masa depanmu ceria dengan hadirnya momongan. Lima tahun itu bukan waktu yang sebentar untuk menunggu Ika hamil. Namun nyatanya, perut Ika tidak kunjung bisa hamil cucuku. Ibu ini sudah menua, Arsyad. Sedangkan kau adalah anak ibu satu-satunya. Ibu ingin segera menimang cucu."

Arsyad diam beberapa saat.

"Lalu apa yang harus saya lakukan untuk membuat Ika cepat mengandung?"

"Kalau menunggu perempuan itu mengandung, sepertinya tidak akan menuai hasil, itulah yang kita lakukan selama ini."

"Jangan bilang seperti itu, Bu. Dokter bilang, Ika kemungkinan bisa hamil. Namun seperti yang saya bilang tadi. Kita mesti harus bersabar menunggu."

"Buka pikiranmu, Arsyad. Lima tahun apa tidak cukup untuk bersabar dan menunggu? Program kehamilan sudah di lakukan. Masih saja Ika tak kunjung mengandung. Itu menandakan rahim perempuan itu kering. Tidak mampu menampung benih darimu. Sebaiknya, turuti perkataan ibu. Kali ini saja, ibu mohon."

"Apa sebaiknya yang harus saya lakukan, Bu."

"Nikahi Naura...!"

"Apaaa??" Arsyad terbelalak

Ika yang sedang menguping tidak kuasa menahan bendungan bulir air mata yang jatuh dari sudut matanya.

"Aku tidak bisa menceraikan Ika, Bu. Dia istri yang baik. Aku menginginkan putra dari rahimnya."

"Kalau begitu kau melawan ibu. Tidak bisakah kau lihat Naura bahkan lebih cantik dan alim di banding Ika. Orang tuanya lebih terpandang dari pada orang tua Ika. Begitu juga dengan pendidikannya, yang jauh di atas Ika yang cuma lulusan SMA."

Ada rasa getir menusuk jantung, ketika Ika mendengar ucapan pedas dari bibir mertuanya.

"Sekali lagi ibu tegaskan, nikahilah Naura."

Lagi-lagi Arsyad terdiam cukup lama.

"Baiklah, Bu. Sepertinya ucapan ibu perlu di pertimbangkan. Dan juga aku tidak bisa mengambil keputusan sendiri. Aku harus meminta pendapat Ika."

Akhirnya terdengar juga lelaki itu bicara.

Bersambung...

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Ayah Mertuaku, Musuhku
8.3
Kehilangan suami membuat dunia Laras runtuh, tetapi perhatian hangat mertuanya menjadi kekuatan baru. Namun, Rizqan, sang kakak ipar, ternyata memendam perasaan mendalam padanya. Ketika malam berhujan mempertemukan mereka di ruang tamu, obrolan intim pun tak terhindarkan. Rizqan akhirnya menyatakan cinta rahasianya, memicu kebimbangan besar di hati Laras. Di tengah keheningan malam, keduanya pun hanyut dalam pesona terlarang yang melenyapkan kesedihan mereka.
Sampul Novel Gairah Pelarian Cinta
8.3
Di tengah keheningan yang menyelimuti, Cinta dan Robi saling berpandangan. Ketegangan di antara mereka mencapai puncak ketika Robi membalikkan tubuh Cinta hingga berada di posisi missionary. Dengan tatapan penuh permintaan, Robi menunggu persetujuan Cinta yang hanya mampu berbisik pelan. Perlahan, Robi menuntun kehormatannya memasuki tubuh Cinta, menembus selaput darah yang menjadi simbol penyerahan diri seutuhnya. Rasa sakit yang menusuk dijawab oleh belaian lembut dan ciuman hangat di kening. Cinta pasrah, menyerahkan segalanya pada lelaki yang telah merebut hatinya.
Sampul Novel IntroGirl & EkstroBoy
8.6
Hari-hari damai Meira di sekolah terusik sejak Deon hadir membawa sikap usilnya. Walau terus berseteru, Meira perlahan menemukan sisi hangat Deon yang sanggup mencerahkan dunianya. Di sisi lain, sosok Meira pun sukses melunakkan hati Deon Arkayuda. Ketika ikatan mereka kian erat, takdir justru menguji lewat perpisahan fisik yang tak terduga. Namun, cinta sejati mereka tetap bertahan, membuktikan bahwa perbedaan karakter mampu menyatukan hati selamanya.
Sampul Novel Keluar dari Kepompong
8.7
Tiga tahun berlalu, Emma Fowler pulang dan justru terlibat malam tak terduga bersama Nathan Tate. Nathan terpikat tanpa tahu siapa Emma sebenarnya. Harapan Emma hancur saat menagih janji pernikahan masa lalu; Nathan menolaknya dengan dingin dan menganggapnya sebatas saudara. Kecewa mendalam, Emma memilih mengakhiri hubungan sepuluh tahun mereka. Namun, ketika Emma bersiap pergi selamanya, Nathan berlutut memohon agar ia bertahan dan bersedia menepati janji lama mereka.
Sampul Novel Ketagihan Ibu Tiri
9.6
Kisah romansa modern khusus pembaca dewasa ini menyajikan narasi mendalam yang penuh emosi dan intrik. Alur ceritanya secara berani mengeksplorasi kompleksitas serta gairah dalam dinamika hubungan kontemporer. Melalui konflik yang memikat dan penggambaran karakter yang kuat, pembaca akan diajak menyelami sisi lain dari sebuah ikatan yang tidak terduga. Sebuah karya fiksi yang emosional sekaligus menantang.
Sampul Novel Menjinakkan Istri Tantrum
9.5
Lepas dari bayang-bayang keluarganya yang korup, Magnus memilih mengabdi pada dinasti Montgomery, penguasa industri lokomotif dunia. Ia lalu menikahi Cressa, putri bungsu keluarga konglomerat itu yang dikenal sangat temperamental. Di balik pernikahan aliansi ini, keduanya menyembunyikan ambisi serta rahasia pribadi yang saling bertolak belakang. Konflik pun mulai memuncak saat Cressa perlahan mengungkap jati diri Magnus yang sesungguhnya bukanlah putra koruptor biasa.