APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel My Teacher My Husband

My Teacher My Husband

Kim menghadapi situasi pelik ketika dipaksa menikah oleh orang tuanya demi menyelamatkan aset pribadi. Walau sempat menentang, ia akhirnya mengalah demi sang ibu. Kejutan besar menanti Kim saat mengetahui bahwa sosok calon suaminya ternyata adalah Alvin, gurunya sendiri di sekolah. Kehidupan pernikahan mereka pun diuji oleh perbedaan usia dan cara pandang yang bertolak belakang, membuat hubungan guru dan murid ini selalu diwarnai konflik bagai air dan api.
Bab
Bagikan

Bab 2

"Kimmy!!!''

Suara teriakan itu menggelegar ke seluruh penjuru kelas. Siapa lagi kalau bukan teriakan kedua sahabatnya yang tercinta dan tersayang, Hani dan Jeje.

"Kalian berdua bisa nggak, sih, jangan teriak-teriak gitu," omel Kim pada keduanya.

"Hmm, nggak bisa," jawab Hani dan Jeje barengan.

"Arggh," dengus Kim dengan wajah kesal, dan terlebih dahulu melangkah menuju kelas.

Melihat ekspresi Kim, kedua sahabatnya itu malah tertawa sambil mengekor di belakangnya. Benar-benar melelahkan. Andai saja ada lift menuju lantai tiga, pasti itu sangat menyenangkan.

"Eh, semuanya, ada berita terbaru, nih!" teriak Karin heboh saat memasuki kelas.

"Apaan?''

"Denger-denger, sih, ada Guru baru yang akan gantiin posisinya Pak Anto buat ngajar Bahasa Inggris sama Matematika," jelas Karin.

"Gurunya cowok, apa cewek?" tanya Hani ikutan nibrung.

"Cowok, ganteng!!!" Karin menjawab dengan semangat menggebu-gebu layaknya hendak berperang. "Dan lo, jangan naksir," tambah Karin ketus sambil menunjuk ke arah Hani.

"Ishh," decis Hani.

"Mangsa baru," ujar Niken menambahkan dengan tingkah centilnya.

Yap, Niken dan Karin, mereka berdua adalah musuh bebuyutannya Kim and friend's. Karena mereka berdua selalu mencari masalah dengan mereka bertiga.

"Tapi, gue denger-denger, sih, Gurunya killer," ujar Karin menambahkan.

Pada saat yang bersamaan, tiba-tiba Bapak Dicky memasuki kelas, membuat semua siswa dan siswi yang tak terletak pada tempatnya berlari menuju kursi masing masing.

"Aduh, si Bapak bikin kagetan, deh, ah,'' ujar Niken masih dengan kebiasaannya yang memalukan itu.

"Maaf, saya ke sini cuma mau kasih tau, kalau pelajaran Bahasa Inggris dan Matematika di kelas ini akan di gantikan oleh Guru yang baru," jelas Pak Dicky.

"Oke, Pak."

"Kalian tunggu saja di dalam," ujar Pak Dicky menambahkan, sebelum kembali meninggalkan kelas.

Dan benar saja, tak berapa lama setelah Pak Dicky keluar dari kelas, tiba-tiba seseorang masuk. Hingga semua pandangan seisi kelas tertuju padanya. Terutama para siswi yang tak sempat berkedip. Ya, nggak sempat berkedip gara-gara yang masuk adalah seorang cowok ganteng.

"Selamat pagi semua," sapanya saat memasuki kelas dan menuju meja Guru.

"Pagi, Pak," jawab seisi kelas serentak.

"Astaga, ganteng amat.''

"Malaikat guyss."

"Pingin gue kantongin ni Guru."

"Ke KUA yok, Pak."

Itulah sederetan kata-kata yang keluar dari mulut para siswi yang memuji-muji Guru yang saat ini sedang berhadapan dengan mereka. Maklum sajalah, ABG labil, nggak bisa melihat cogan sedikit saja langsung pada heboh.

"Aduh, ganteng amat tu Bapak. Sayang amat kalo di panggil, Bapak," bisik Hani pada Kim yang ada di sebelahnya.

"Udah punya gebetan belum, ya?'' Jeje ikut-ikutan.

"Ganteng, sih, ganteng. Tapi, killer guys," tambah Kim pada Hani dan Jeje .

"Baiklah, sebelum pelajaran saya mulai, saya akan perkenalkan diri dulu. Nama saya Alvian Dika Geraldi, kalian bisa panggil saya Pak Alvin, umur 21 tahun. Mulai hari ini, saya akan menggantikan Bapak Anto untuk mengajar Bahasa Inggris dan Matematika," jelas Alvin. "Ada pertanyaan lagi?" tanya Alvin.

"Udah punya pacar belum, Pak?'' tanya Jeje bersemangat.

"Je, pertanyaan lo nggak bermutu banget, sih," Umpat Kim atas pertanyaan yang di lontarkan Jeje. Memalukan sekali sikapnya ini .

"Jawab, dong, Pak. Itu pertanyaan penting loh."

"Saya masih single,'' jawab Alvin yang sontak langsung membuat para siswi satu kelas heboh. Iya, heboh ngutak-ngatik Ponsel masing-masing, buat kepoin akun Facebook, Path, Instagram, Line, WA dan lain-lain milik Pak Alvin.

"Oke, kalau gitu saya absen kalian dulu," ujar Alvin sambil membuka buku absen .

"Ardylan Dewanta."

"Hadirr, Pak."

"Adji nugraha."

"Hadir...."

"......"

"Crista Hani Febrika."

"Me, Pak."

"Jena Fika Anastasya"

"Hadirr ,Pak"

"Kimberly Hana Affandi"

"Hadir...."

'Jadi, dia?" batin Alvin menatap ke arah Kim.

"Eh, guys. Itu Pak Alvin ngapain ngeliatin gue gitu banget, ya, bikin merinding. Apa make up gue ketebalan atau eyeliner gue yang berlepotan?" tanya Kim pada kedua sahabatnya karena merasa kalau Alvin sedang memperhatikannya.

"Ah, nggak, kok," jawab Jeje sambil mematut-matut wajah Kim.

"Trus, apa yang salah sama gue?" Kim Bingung sambil menggaruk-garuk tengkuknya yang tak gatal.

"Naksir kali, tuh," jawab Jeje sambil tertawa seolah meledek Kim

"Ih, Jeje," desis Kim kesal.

"Ehem, ada masalah apa di sana?'' tanya Alvin karna mendengar suara ribut-ribut dari arah meja Kim dan Jeje.

"Nggak ada kok, Pak," elak Kim dan Jeje.

"Jangan mengobrol lagi. Sekarang buka buku LKS kalian, kita akan langsung mulai pelajaran," terang Alvin pada seisi kelas.

---000---

Tepat saat waktu menunjukkan pukul sepuluh, bel berbunyi. Itu tandanya waktu istirahat datang. Ada rasa lega yang di tunjukkan semua isi kelas. Karena apa? Ternyata wajah tampan Alvin berbanding terbalik dengan caranya mengajar. Benar-benar menakutkan.

"Oke, pelajaran kita hari ini sudah berakhir. Lusa kita ulangan, dan nggak ada penolakan. Terima kasih," jelas Alvin sambil meninggalkan ruang kelas.

"Hufft, gila, tuh, Guru," umpat Kim setelah Alvin meninggalkan ruang kelas.

"Dua jam brasa enam jam," sahut Hani.

"Hmm, suasana kelas yang hangat mendadak jadi mencekam, kayak kuburan," tambah Jeje.

"Kita ke kantin, yok, haus, nih," ajak Hani.

"Yok, tapi kalian berdua duluan aja. Pesenin strawbery smoothies buat gue, ya. Kebelet, nih," ujar Kim yang berlalu pergi meninggalkan Hani dan Jeje dengan sedikit berlari keluar dari kelas menuju toilet.

Setelah mengeluarkan hasrat manusiawinya, Kim hendak menyusul kedua sahabatnya ke kantin.

Tapi, pada saat ia berjalan di lorong kelas, tiba-tiba

''brugghh''

Seseorang bertabrakan dengannya, dan tak lain ialah gurunya sendiri, Alvin.

"Aduh," Kim meringis karna lututnya sempat mencium lantai. "Maaf, Pak, nggak sengaja," tambah Kim meminta maaf, saat ia lihat siapakah orang yang ada di hadapannya saat ini. Ya, meskipun ia merasa tak bersalah.

"Kalau jalan lihat-lihat," ujarnya dingin.

"Lah, perasaan Bapak yang nabrak, deh," balas Kim tak mau kalah.

"Kalau menurut kamu saya yang nabrak, dan saya yang salah, trus kenapa kamu barusan minta maaf?"

"Cuma basa-basi doang kali, Pak.''

Mendengar ucapan Kim, bukannya memberi respon atau berkomentar, Alvin malah berlalu pergi begitu saja.

"Gini, nih, yang bikin sakit hati, tanpa bicara apa-apa main pergi aja,'' sungut Kim menuju ke kantin sambil mengumpat kesal.

"Kenapa, lo?'' tanya Hani pada Kim yang tampak kesal.

''Bayangin aja, itu Guru killer tadi dia yang nabrak gue, eh, malah gue yang di omelin," jelas Kim masih dengan wajah kesalnya.

"Pak Alvin?'' tanya Jeje.

"Siapa lagi."

"Hwaa.., mau juga dong, di tabrak Pak Alvin," ujar Hani dengan tingkah lebaynya.

Pada saat itu, tiba-tiba ponsel Kim yang ada disakunya berdering. Iapun segera merogoh sakunya.

"Mama," gumam Kim saat melihat nama yang tertera di layar ponsel, dan seketika menggeser ponselnya ke kanan.

"Ya, Ma?"

"Pulang sekolah kamu langsung kesini, ya, Mama sama Papa mau kenalin kamu sama calon suami kamu," jelas Mama.

"Hari ini?''

"Iya," jawab Mama.

"Hmm, gimana kalau Mama sama Papa aja yang nemuin, aku males,'' balas Kim.

"Mau, semua aset-aset kamu kembali di ambil?"

"Iya, iya. Ntar, aku kesana." Kim langsung menutup sambungan telfon bersama mamanya.

"Lo kenapa?" tanya Jeje melihat raut kesal di wajah Kim.

"Iya, kenapa, sih?" Hani ikut-ikutan.

"Nggak, cuman Papa Mama ngajakin ketemuan sama sahabat-sahabat mereka. Ngebosenin banget, kan," jawab Kim bohong. Ya kali ia jawab jujur, kalau mau ketemuan sama cowok yang bakal di jodohin buat dia. Pasti mereka bakal ketawa ngakak, masa iya keluarganya yang modern ngikutin jejaknya Siti Nurbaya.

"Oohhh," sahut Hani dan Jeje berbarengan

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Di Antara Tangis Anakku dan Diam Suamiku
9.8
Kiyano sekarat di koridor rumah sakit usai dipaksa menyerahkan jantungnya demi Sheilla, cinta pertama suaminya. Di ambang ajal, putra mereka yang berusia enam tahun memohon pertolongan sang ayah. Alih-alih peduli, sang suami menuduh istrinya berbohong dan mengusir anak mereka. Demi menyelamatkan ibunya, bocah itu menyerahkan Kalung Penjaga Umur miliknya untuk menyewa kamar. Namun, Sheilla sengaja menghalangi kamar tersebut demi menempatkan anjing peliharaannya atas izin suaminya.
Sampul Novel Dicerai suami karena mandul
9.1
Safina berniat memberikan kejutan istimewa untuk Reza pada hari pernikahan mereka. Namun, momen spesial itu berubah menjadi mimpi buruk saat ia memergoki sang suami berselingkuh di rumah sendiri. Alih-alih menyesal, Reza justru memutuskan untuk menceraikan Safina. Dengan kejam, ia menjadikan kondisi Safina yang mandul sebagai alasan perpisahan. Kini, Safina harus berjuang menghadapi kenyataan pahit akibat pengkhianatan suaminya.
Sampul Novel Dipaksa Menikahi CEO Kejam
8.4
Sejak kecelakaan fatal merenggut ibunya saat ia berumur delapan tahun, Fallen harus memikul kebencian sang ayah. Sebagai hukuman, ayahnya tega memaksa Fallen menikahi CEO dingin dan kejam, sembari mengutuknya agar hidup menderita sebagai pembunuh. Di tengah pernikahan tanpa cinta dan luka masa lalu, sebuah rahasia besar di balik tragedi masa kecilnya mulai terungkap, membawa kenyataan yang sangat pahit.
Sampul Novel Ibu untuk Yana
8.8
Sibuk menikmati status duda dan memiliki satu anak yang begitu cantik, enggak ada angin serta badai, Mama tercinta justru menjodohkan dirinya dengan seorang gadis polos berumur delapan belas tahun. Akankah ia terima, atau menolaknya??
Sampul Novel Istri Rahasia Sang CEO
9.3
Demi kesembuhan ibunya, Arana Salingga dihadapkan pada tawaran tak terduga dari pengusaha kaya, Danendra Danu Atmaja. Danendra bersedia melunasi seluruh biaya medis tersebut, asalkan Arana mau menjadi istrinya. Tawaran ini membuat Arana bimbang setengah mati. Selain sudah mempunyai kekasih, ia juga heran mengapa CEO sukses itu bersikeras menikahi gadis biasa dari kelas sosial yang jauh berbeda. Rahasia apa yang sebenarnya disembunyikan Danendra?
Sampul Novel Kesabaran seorang istri
9.4
Dalam ikatan pernikahan yang hampa akan kasih sayang, seorang istri harus tegar menghadapi kekerasan fisik serta mental dari suaminya. Walau terus didera hinaan kejam setiap hari, ia tidak menyerah dan tetap setia mendampingi. Di balik remuknya perasaan, ada harapan besar bahwa kebaikan tulusnya kelak bisa menyentuh dan mengubah sikap dingin sang suami. Sebuah drama mengharukan tentang ketabahan luar biasa dan pengorbanan tanpa batas di tengah cobaan hidup yang begitu berat.