APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel My Sunshine

My Sunshine

Catherine dan Figo dikejutkan oleh wasiat perjodohan masa kecil dari mendiang orang tua mereka. Padahal, Figo telah menikah rahasia dengan Hakaci yang tengah mengandung. Sementara itu, Catherine juga sudah bertunangan diam-diam dengan Prima sebagai kado ulang tahun sang ibu. Kini, demi menjaga keutuhan cinta sejati dan pasangan masing-masing, kedua sepupu ini harus bersatu dan berjuang keras untuk menolak kesepakatan masa lalu tersebut.
Bab
Bagikan

Bab 3

Tanpa menghiraukan Mama yang dengan emosionalnya memanggil-manggilku dari balkon, aku terus melaju bersama Breva, mobil kesayangan. Bukan, tentu saja ini bukan hal yang biasa terjadi, percayalah. Walaupun terlahir sebagai anak semata wayang dari Mama dan Papa, tidak lantas membentukku menjadi anak yang tidak tahu tata krama atau semacamnya. Pure, ini karena Prima sudah menunggu di Titik 0 KM. Bagaimana mungkin, membiarkan beloved fiance menunggu terlalu lama di sana? Jujur, selain tidak sampai hati, aku juga mudah terbakar api cemburu. Mencegah lebih baik dari pada mengobati, kan?

Nah, kalau Mama saja bisa kuabaikan, bagaimana lagi dengan Figo yang hanya saudara sepupu? Ummm, yaaahhh, walaupun sekarang ini aku tidak bisa menganggapnya enteng sih. Bukan apa-apa. Bisa saja kan, akhirnya dia menerima perjodohan ini walaupun yang kutahu dia sudah punya pacar? Tidak tahu pasti yang mana tapi menurutku kalau bukan Shade ya Hakaci. Dua orang itu sih, yang terlihat dekat dengannya.

Maksudku, pasti menjadi masalah besar kan, kalau dia menerima? Ummm, pasti Mommy yang ambisius itu mati-matian membujuk Mama untuk meluluhkan hatiku. Wuaaahhh, bahaya! Bisa-bisa rumah yang selama ini selalu memberikan kedamaian dan kebahagiaan, terisi dengan perang dingin. Apa tidak memprihatinkan kalau seperti itu kejadiannya?

Twiiiwiiing, twiiiwiiing!

Twiiiwiiing, twiiiwiiing!

Sambil membelokkan mobil ke arah Malioboro, aku melirik Sweety, smartphone yang terletak di atas dashboard. Ternyata new chat dari Figo. Hemmm, dia pasti masih belum waras juga. Pasti, masih berpikir kalau aku enjoy atau bahkan happily menerima wasiat Papa dan Daddy. Hemmmhhh, Figo, Figo!

"Kamu, kapan dewasanya sih, Go?" aku bergumam jengkel pada bayangannya yang sibuk mondar-mandir dalam benak, "Emang, cuma kamu aja, yang shocked? Aku juga, tahu? Tapi kan harus main teror chat gitu juga, kan? Kayak aku yang tergila-gila sama kamu saja?"

Sejujur-jujurnya kuakui, ini bukan perkara ringan. Bisa saja Mama dan Mommy bersikukuh atau malah memaksa kami untuk tetap menikah, apa pun yang terjadi. Masalahnya jelas, surat wasiat … Aneh! Kok, selama ini Papa tidak pernah memberikan isyarat tentang perjodohan kami, ya? Tidak, seingatku tidak sama sekali. Bahkan, kadang-kadang Papa bersikap galak---dulu waktu aku dan Figo masih SMP--setiap aku ikut bermain layang-layang di lapangan. Bukan hanya itu, bahkan membonceng sepedanya pun Papa terlihat tidak senang. Masam begitu, wajahnya. Sungguh. Tak jarang juga, Papa memarahi Figo karena dia sering bersikap usil. Menakut-nakuti dengan belalang, kupu-kupu atau laba-laba, hewan yang membuat aku mengidap fobia serangga.

Wuaaahhh, ini pasti sandiwara, kan?

***

Prima sudah menungguku di bangku kayu dengan dua cup cokelat---sepertinya hangat, kulihat tidak ada pantulan es di lapisan luar cup---satu kotak martabak manis dan satu kantong kertas French Fries. Semua itu makanan favorit kami setiap lali hangout. Sumringah, Prima berdiri menyambut kedatanganku yang dengan tangan kosong tanpa secuil pun makanan. Ya, kalau dalam keadaan normal dan baik-baik saja sih, aku yang selalu menyediakan makanan plus minuman untuk kami. Bukan Prima. Ah, sekali-kali, tidak masalah bukan? Prima juga terlihat enjoy saja, kok.

No problem!

"Kamu ke mana dulu sih, Sweety?" Prima bertanya gemas, "Aku kan jadi khawatir?"

Tentu saja aku terharu, mendapatkan sambutan yang sehangat itu dari Prima, my beloved fiance. Duh, runyam juga rasanya otakku, setiap kali teringat perihal perjodohan crazy itu. Harus bagaimana aku menceritakan semua itu pada Prima? Bagaimana cara memulainya? Apa tidak membahayakan keharmonisan kami? OMG! Sepertinya Mama sudah keracunan tape ketan buatan Mommy, deh? Ah, mungkin Mommy terlalu banyak memasukkan ragi!

"Sorry Prim, tadi aku ada urusan dikit sama Mama." kataku sambil terus menepis kegelisahan yang malah semakin angkuh merajai hati, "Makanya sampai telat gini!" imbuhku meyakinkan, "Eh tapi sekarang sudah selesai kok, tenang sa---"

"Sweety, kamu kenapa?" tanpa kusangka-sangka sebelumnya, Prima memotong kata-kataku, "Ada apa Sweety, kok kamu kelihatan gelisah begitu?"

Dug!

Begitulah bunyi detak jantungku waktu mendengarkan semua pertanyaan Prima yang penuh dengan perhatian. Jadi, Prima tahu kalau aku porak poranda di dalam? Tapi dari mana dia tahu? Aku kan, sudah menutupinya dengan sikap santai dan ceria seperti biasa? Emmmhhh, sepertinya aku harus melakukan self healing nanti, begitu selesai mandi di rumah. Bahaya. Masa, calon dokter kok, gagal rileks? Ya, sebenarnya kalau ada yang patut untuk disalahkan sih, Mama lah orangnya. Siapa lagi? Mama, Papa, Mommy dan Daddy. Titik.

"Sweety, are you OK?" Prima mencolek lembut pucuk daguku, "Gimana, acara book hunting tadi, asyik?"

Fiyuuuhhh, leganyaaa!

Syukurlah, kalau Prima berpikir aku gelisah seperti ini hanya karena masalah kampus dan kawan-kawannya. Bukan apa-apa. Masalahnya, tidak mungkin kan, aku menceritakan masalah yang kuberi nama bom nuklir itu sekarang? Kalaupun bagi Prima tidak masalah, aku yang belum siap. Jangankan bercerita, kata-katanya pun aku tidak punya.

"Ummm, aku nggak apa-apa kok, Prim!" sahutku setelah menyeruput colelat hangat, "Nggak jadi beli buku tadi, sibuk bantuin Mama di rumah."

Prima memindai bola namaku, "Ooohhh, serius kamu nggak apa-apa? Kalau ada apa-apa, kamu selalu punya aku ya, Sweety? Jangan lupa itu!"

***

Beruntungnya aku punya Prima!

Orangnya simple dan easy going. Praktis, realistis dan tidak mudah cemburu. Sepertinya hampir berseberangan denganku sih tapi dia tidak pernah mempermasalahkan. Terpenting, aku menyayangi, mengasihi dan mencintainya selama-lamanya. Ah, satu lagi. Prima hanya menuntutku untuk selalu bersikap jujur, tidak ingkar janji apalagi sampai berkhianat. Itu saja, sungguh. Masalah aku mau apa, ini, itu tidak masalah selama masih dalam kebaikan dan tidak melanggar hukum. Hehe. Bagaimana, amazing tralala kan, calon suamiku?

Nah, sudah begitu bahagianya aku bersama Prima, masa malah harus hancur hanya demi Figo yang jauh dari kriteriaku, sih? Jauuuhhh sekali---seperti timur dan barat---dengan Prima. Dia memang selalu tampil bersih, rapi dan wangi tapi bukan karena suka berdandan apalagi mandi parfum, tidak sama sekali.

Catherines Note: Kalau sampai Mama memaksa aku untuk tetap nikah sama Figo, aku akan pergi. Kawin lari sama Prima. Prima pasti setuju dan otomatis kami bisa hidup bahagia selama-lamanya.

"Catherine?" Mama memanggil sambil mengetuk pintu kamar, "Catherine, buka pintunya dong, Mama mau bicara penting!"

Duh, apalagi sih, Mama?

Tidak bisakah Mama membiarkanku bernapas lega sebentar saja? Lagi pula, kenapa sih harus membahas tentang masalah itu terus? Tidak tahukah Mama, menyusun skripsi itu bukan pekerjaan yang mudah? Kalau bagi Mama mudah atau sangat mudah, bagiku sebaliknya, tentu saja. Heran, apa sih, bagusnya perjodohan? Di mana coba, letak kehebatan orang tua yang berhasil memaksa anaknya menikah dengan jodoh pilihannya? Tidak ada, kan? Ah, memangnya, mereka dulu juga dijodohkan?

Tok, tok, toookkk!

"Catherine, buka pintunya, Sayang?" kata Mama lagi dengan penuh harapan, "Itu, ada Mommy di bawah, mau ngajakin kaku beli cincin …!"

Duaaarrr …!

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dosen ku
9.8
Zahra, gadis sederhana berusia 22 tahun, bertekad hidup mandiri tanpa membebani ayahnya yang kaya dengan bekerja di perusahaan Alvino Daffa Haidar. Penampilan anggun Zahra yang syar'i dan natural sukses memikat perhatian. Sementara itu, Alvino dikenal sebagai pewaris dingin dari keluarga terkaya di Indonesia. Tanpa disangka, ayah Alvino telah merencanakan perjodohan dirinya dengan putri dari sahabat lamanya. Siapakah sosok wanita yang akan mendampingi takdir Alvino?
Sampul Novel Finally, I Love You
9.3
Penderitaan dari keluarga sendiri membuat hidup Hellena hancur bagai roller coaster. Di tengah desakan orang tuanya yang menuntut pernikahan secepatnya, sebuah jalan keluar yang tidak terduga tiba-tiba muncul. Pertemuan singkat dengan seorang lelaki asing menjadi titik balik kebahagiaannya. Pria misterius itu datang layaknya malaikat penolong yang siap merubah takdirnya. Tanpa ragu, Hellena mengambil keputusan nekat untuk menikahi orang asing yang baru ditemuinya tersebut.
Sampul Novel Gendutnya Istriku
9.2
Izzah merasa sangat tertekan akibat cibiran tentang tubuhnya setelah menikah dengan Arman. Meski berniat diet, usahanya dihalangi sang suami demi melindungi kehamilan yang baru diketahui. Sebagai mantan nakes dengan dua anak, Izzah merasa tidak butuh hamil lagi. Namun, bagi Arman yang pernah dituding mandul, janin ini adalah pembuktian dirinya. Ego keduanya pun berbenturan antara ambisi Arman memiliki anak dan hasrat Izzah untuk melangsingkan tubuh.
Sampul Novel Give Me Your Heart
9.1
Demi memperjuangkan cinta, Andrea Keyne Halim nekat merebut paksa pria impian dari sahabatnya sendiri. Namun setelah berhasil menikah, ia justru harus menelan pil pahit. Sang suami memperlakukannya dengan sangat dingin, mengabaikan kehadirannya, dan enggan menyentuhnya. Di tengah kesedihan yang mendalam, Andrea menyadari bahwa ia menginginkan hati suaminya, bukan sekadar status pernikahan. Sanggupkah Andrea bertahan menghadapi sikap membeku ini, ataukah ia akan memilih menyerah dan pergi?
Sampul Novel Jodoh yang ditakdirkan
9.3
Perceraian orang tua memisahkan Yunara dan Lunara sejak kecil. Mereka akhirnya bersua kembali tepat di hari pernikahan Yunara, saat Lunara datang mencari ayah mereka. Namun, pertemuan ini malah memicu kekacauan. Yunara terikat dengan pria asing yang sangat obsesif, sedangkan Lunara justru terlibat hubungan rumit dengan suami kakaknya. Akibat salah paham, rencana pernikahan Lunara pun batal. Kini, si kembar harus menentukan sikap: menyerah pada keadaan atau memperjuangkan cinta sejati mereka.
Sampul Novel Membunuh Masa Lalu
7.9
Kehilangan dan kerinduan mendalam adalah risiko nyata dalam percintaan. Saat kasih sayang pergi secara misterius, luka yang tertinggal sanggup meremukkan jiwa seseorang. Penderitaan inilah yang kini menjerat Jaya, setelah sosok yang sangat ia cintai lenyap begitu saja tanpa kejelasan. Kisah pilu yang dihadapi Jaya menjadi sebuah peringatan nyata tentang betapa hancurnya perasaan ketika ditinggalkan tanpa ada jawaban pasti.