APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel My Sunshine

My Sunshine

Catherine dan Figo dikejutkan oleh wasiat perjodohan masa kecil dari mendiang orang tua mereka. Padahal, Figo telah menikah rahasia dengan Hakaci yang tengah mengandung. Sementara itu, Catherine juga sudah bertunangan diam-diam dengan Prima sebagai kado ulang tahun sang ibu. Kini, demi menjaga keutuhan cinta sejati dan pasangan masing-masing, kedua sepupu ini harus bersatu dan berjuang keras untuk menolak kesepakatan masa lalu tersebut.
Bab
Bagikan

Bab 1

Tidak seperti biasanya, Mama sudah menunggu di gazebo sewaktu aku pulang dari kampus. Meskipun aneh tapi tetap saja merasa tersanjung dan langsung berjalan mendekat, setelah memarkir mobil persis di samping garasi. Sengaja tidak memasukkannya ke garasi karena sebentar lagi mau pergi lagi, ke toko buku. Ini, pulang sebentar untuk mengambil buku memo yang tertinggal di kamar. Aku mencatat semua buku yang mau kubeli di sana. By the way kapan lagi kan, Mama yang super duper sibuk dua puluh empat jam itu menyambut kepulanganku seperti ini?

"Hai Sayang!" Mama menyapaku dengan kelembutan dan kehangatan yang berjuta-juta kali lipat dari biasanya, "Sudah dari tadi lho, Mama nungguin kamu! Kok, lama banget tadi ke kampusnya?"

Sebenarnya aku deg-degan juga mendengar pertanyaan Mama yang seperti itu tapi jujur, takut untuk membuat kesimpulan. Maksudku, di kamar aku punya schedule board yang cukup besar, sebesar papan tulis di kampus dan kami memakunya dengan tembok di samping pintu kamar bagian dalam. Artinya, setiap kali Mama masuk ke kamar, pasti dia bisa melihat schedule board itu dengan jelas. Well, aku juga menulisnya dengan tulisan yang tidak bisa dikatakan kecil, kok. Sekitar tiga puluh lah kalau misalnya diketik di 'document'. Masa, Mama tidak tahu? Ummm, atau malah belum masuk ke kamarku sama sekali, hari ini?

CATHERINE'S MONDAY

Pagi: Kampus

Siang: Toko buku

Sore: Rumah Ranti

Malam: Di rumah sampai pagi

Nah, sudah jelas dan detail kan, aku menulis jadwal hari ini? Wuaaahhhh, jangan-jangan benar, Mama belum marambah kamarku sama sekali? Ckckckck, benar-benar SBM. Super Busy Mama.

"Maaf Ma, tadi aku ke toko buku dulu. Ini pun bukunya belum terbeli, catatan judul sama penulisnya ketinggalan di kamar." kataku menjelaskan sambil menyalami Mama yang tersenyum penuh pengertian, "Ada apa, Ma?"

Melihat raut wajah Mama yang berbinar-binar seperti itu, rasanya penasaran juga. Jadi, walaupun harus segera kembali ke toko buku, aku menyempatkan diri untuk bertanya. Prinsipku, penasaran adalah penyakit yang paling ganas dalam jiwa manusia. Minimal, menimbulkan penyakit hati yang bernama kepo dan itu bisa berakibat fatal. Salah satunya insomnia, sungguh. Kalau tidak percaya, buktikan saja sendiri. Hehe. Oke, jadi mengingat betapa bahayanya sesuatu yang bernama penasaran itu, takkan kubiarkan diri ini mengalaminya dalam jangka waktu lebih dari sepuluh menit.

"Ada apa, yaaa?" tanya Mama menggoda sambil menggoyang-goyangkan kepalanya yang terlihat lucu, "Pingin tahu aja atau pingin tahu bangeeet, tuuuh?"

Mama tertawa cekikikan setelah itu, membuat rasa penasaran dalam diriku kian membesar dan mengeras. Bukan apa-apa. Masalahnya, semenjak Papa meninggal tiga setengah tahun yang lalu, baru kali ini aku melihat Mama sebahagia ini. Sumpah, aku sampai berpikir, jangan-jangan Mama jatuh cinta lagi? Ingin menikah lagi? Ya, yaaahhh, meskipun tidak rela kalau hal itu terjadi, sih. Who knows?

"Ya, pingin tahu banget lah, Ma!" jujur, aku menjawab, "Ada apa sih, Ma?"

Saat ini Mama tersenyum simpul, menyelam hingga ke dasar bola mataku yang perlahan-lahan menjadi berair dan hangat, membuat seluruh tubuh ini merinding ngeri. Entah mengapa, rasa-rasanya kecurigaanku tadi mendekati kebenaran kalaupun tidak bisa dikatakan benar, Mama jatuh cinta lagi. Jadi, dia menjajaki perasaan dan penerimaanku terhadap pria pilihan hatinya. Ah, belum-belum aku sudah ill feel. By the way punya papa tiri itu seperti apa, sih? Semenakutkan berita-berita yang sering kubaca di media sosial atau tidak? Semenyakitkan itu kah?

"Catherine Alexandra!" panggil Mama dengan nada kesal sambil mengguncang-guncangkan pundakku, "Kok, malah bengong, sih?"

Geragapan, aku menyorot penuh mata Mama dengan mata yang semakin menghangat, "Eh enggg ummm maaf, Ma?"

Sekian detik kemudian, aku berusaha untuk menghalau kecurigaan dan ill feel yang tadi sempat mengikis ketenangan hati. Lebih baik mendengarkan dulu apa yang akan Mama sampaikan. Menyimak dengan sebaik-baiknya, apapun itu.

"Iya udah, udah dimaafin. Tapi kamu janji ya sama Mama, jangan suka bengong lagi ya, Sayang?" Mama menyahut tulus, "Kalau kamu suka bengong gini kan, Mama jadi khawatir, Catherine?"

Refleks, aku menggeleng-gelengkan kepala, meyakinkan Mama, "Nggak kok, Ma. Aku nggak suka bengong lagi. Mungkin tadi itu karena belum jadi ke toko buku!"

Baik Mama maupun aku sama-sama tersenyum setelah itu, senyum lebar yang berujung pada tawa kecil. Kami memang begini kalau sedang berdua. Saling menghadiahi senyum atau tertawa kecil bersama-sama. Kalau tidak, bercanda atau berbincang-bincang dari hati ke hati. Sebenarnya ini kebiasaan baru, sih. Terutama setelah aku mulai kuliah, tiga tahun yang lalu. Menurutku, bukan hanya karena itu saja sih tapi juga karena Papa meninggal dunia. Well, mungkin Mama bangga karena aku diterima kuliah di Fakultas Kedokteran Umum universitas negeri yang terkenal di Yogyakarta. Tapi meninggalnya Papa juga faktor yang cukup besar untuk Mama memberikan perhatian lebih padaku. Buktinya, setelah itu Mama menambah waktu untuk Family Time. Bukan hanya weekend tapi juga di sela-sela waktunya bekerja sebagai ahli gizi di rumah sakit-rumah sakit besar di seluruh pelosok Negeri.

"Catherine?" panggil Mama dengan nada serius setelah tertawa kami terhenti secara alami dan tanpa menunggu aku menyahut dia melanjutkan, "Kamu sudah besar sekarang, sudah saatnya kamu tahu …!"

Dug!

Begitulah bunyi detak jantungku setelah mendengar kata-kata pembuka Mama. Sudah besar, sudah saatnya aku tahu? Hei, what is that? Huaaa, benar kan, kecurigaanku tadi? Mama pasti mau menikah lagi kan, yang berarti akan ada seseorang yang bernama papa tiri dalam hidupku? Ya ampuuun! Kenapa harus sekarang, sih? Di saat aku sedang serius dan fokus menyusun TAS. Tugas Akhir Skripsi. Kenapa tidak besok saja, setelah aku lulus dan menikah dengan Prima. Jadi kan, sudah ada seseorang yang menjaga dan melindungiku? Eh! Tapi kan, Mama belum tahu soal hubunganku dengan Prima?

"Kamu kenapa, Sayang?" alih-alih melanjutkan penjelasannya, Mama justru bertanya padaku, "Kamu nggak apa-apa kan, Catherine? Ayo cerita sama Mama, ada apa, Sayang? Ada masalah apa, hemmm?"

Kali ini aku merasa Mama benar-benar perhatian jadi aku memberanikan diri untuk mengungkapkan isi hati dengan jujur, sejujur-jujurnya. Perlahan-lahan namun pasti aku menyusun kata-kata agar tidak menyinggung atau malah menyakiti hati Mama. Bagaimana pun kan, Mama itu harta kekayaan yang paling berharga dalam hidupku. Di bawah telapak kakinya, Allah ciptakan Surga.

"Mama?"

"Iya, Sayang?"

"Aku nggak keberatan kalau enggg Mama enggg misalnya Ma---"

"Walah, kamu kenapa sih Sayang, kok malah ang eng ang eng. Bicaralah yang jelas, yang tenang. Mama nggak apa-apa, kok."

Sejenak, aku memindai kejujuran kata-kata Mama, "Mama jangan nikah dulu ya, kalau aku belum lulus kuliah?"

Bukannya menanggapi, Mama malah tertawa terpingkal-pingkal, terjungkal-jungkal. Jujur, aku jadi kikuk dan bingung tapi mendadak kehabisan kata-kata. Speechless.

"Catherine, Catherine!" kata Mama sambil menyeka air matanya yang merembes, "Lha yang mau nikah itu siapa? Hahahaha. Cinta Mama cukup untuk Papa seorang, Sayang. Cinta sehidup semati, dunia akhirat. Hahahaha … Catherine, ada-ada saja?"

Rikuh sekaligus malu, aku bertanya, "Jadi, ada apa, Ma?"

Mama tersenyum simpul, manis sekali. Senyum yang mempertegas gambaran kebahagiaan yang terpancar penuh di wajahnya, "Catherine, dengerin baik-baik, ya?"

Dalam kebingungan sekaligus ketakutan yang mendera, aku mengangguk lalu tanpa menunggu detik-detik berganti, Mama mengatakan, "Sebenarnya, Papa dan Daddy sudah menjodohkan kamu sama Figo!"

Haaa, whaaat?

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dendam Mengubur Cinta
8.8
Setelah tujuh tahun bersama, aku meninggalkan Deon saat dia dipenjara demi bersama sahabatnya. Begitu bebas dan sukses kembali, Deon memaksaku menikah sebagai bentuk balas dendam. Di balik citra pernikahan yang harmonis, dia menyiksa batin dengan membawa wanita lain—termasuk adik kandungku—ke ranjang kami. Deon tidak pernah tahu bahwa demi membersihkan namanya, aku rela menyusup ke sarang mafia hingga kehilangan ginjal dan setengah hatiku. Kini, waktuku untuk bertahan hidup hampir habis.
Sampul Novel Gairah Liar Uncle Sam
9.6
Dalam keheningan malam yang menegangkan, Shila harus menahan rasa sakit dan gejolak gairah saat Sam menyentuhnya. Di tengah situasi berisiko tinggi ini, Sam memperingatkan Shila dengan bisikan lirih agar tetap diam. Mereka harus menyembunyikan hubungan terlarang ini dengan sangat hati-hati, sebab orang tua Shila berada sangat dekat dan bisa mendengar setiap suara di dalam rumah. Ketakutan akan ketahuan membuat hubungan rahasia mereka terasa kian mencekam.
Sampul Novel Janji Kita Hanyalah Debu
8.2
Sikap dingin Farel akhirnya membuat kesabaran Rania habis. Memegang janji masa lalu untuk pergi jika dikhianati, ia diam-diam menyiapkan perceraian dalam tiga puluh hari. Rencana itu kian mantap saat Rania berniat memberi kejutan ulang tahun di kantor suaminya. Alih-alih kemesraan, ia justru menyaksikan Farel bermesraan dengan Alena, mantan kekasihnya. Pengkhianatan nyata di depan mata ini menjadi titik balik bagi Rania untuk benar-benar melangkah pergi.
Sampul Novel My Bule Husband
8.1
Demi membalas budi, Naina yang sederhana terpaksa menikahi seorang miliarder asal Jerman. Ekspetasi pernikahan yang tenang sirna saat ia mendapati kenyataan pahit tanpa cinta. Suami bulenya yang dingin menganggap Naina tak lebih dari pengasuh bagi anaknya yang berumur tujuh tahun. Tak hanya itu, Steven, sang putra sambung, juga bersikap acuh dan menolak kehadirannya. Kini, Naina harus berjuang bertahan menghadapi perlakuan kasar dari dua sosok kaku tersebut.
Sampul Novel Satu-PD182
8.2
Sembilan kali baju wanita lain ada di loker suamiku, dan ia selalu berdalih. Kali ini, sepasang pakaian bayi ia sebut kepunyaan anak magang yang malang. Sambil merapikan dasinya, aku mengajaknya menemui pemilik baju itu. Wajahnya langsung pucat saat aku menuntunnya ke rumah tetangga baru kami yang mengaku lajang. Di sana, perempuan itu sedang menggendong bayi dengan gaun yang sangat aku kenali. Kebohongan suamiku akhirnya runtuh seketika di depan pintu rumah kami sendiri.
Sampul Novel Sembilan Pilihan, Satu Perpisahan Terakhir
8.7
Pernikahan perjodohan Bima denganku hanya menjadi alat untuk membuktikan cintanya pada Shania. Sembilan kali dia tega menelantarkanku demi perempuan itu, bahkan membiarkanku terluka di jalan tol saat badai. Kelelahan menjadi yang kedua membuat perasaanku mati rasa. Ketika Shania berniat mempermalukanku di galeri, aku membalasnya dengan berkelas. Di saat yang sama, Bima tanpa sadar menandatangani surat cerai yang kuselipkan, mengakhiri penderitaanku.