APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel My Rental Woman

My Rental Woman

Alana terdesak biaya pengobatan ibunya. Di tengah kesulitan, dokter muda bernama Bernando Thomas menawarkan kesepakatan rahasia. Thomas baru saja kehilangan istrinya, Calista, yang wafat secara misterius di luar negeri tanpa diketahui orang tuanya. Karena wajah Alana sangat mirip dengan mendiang istrinya, Thomas berniat menyewanya untuk menyamar sebagai Calista. Sebagai imbalan, seluruh biaya medis ibu Alana akan ditanggung. Akankah Alana bersedia menjadi istri sewaan demi sang ibu?
Bab
Bagikan

Bab 3

Alana terbangun dari lelapnya tidur, dia menggeliat pelan seraya melirik jam dinding yang telah menunjukan pukul 17.00 sore.

"Astaga, aku sudah tidur berapa jam?" Alana buru-buru bangkit dari ranjang setelah mengetahui bahwa dia tertidur cukup lama. Akan tetapi tanpa dia sangka-sangka di saat yang bersamaan Bernando Thomas baru saja keluar dari kamar mandi yang seketika menyebabkan Alana tersentak dan oleng bahkan hampir jatuh.

Tetapi dengan segera Bernando Thomas meraih pinggang ramping Alana sehingga wanita yang berada di tepi ranjang itu pun tak jatuh.

Sayangnya, keberadaan Bernando Thomas yang tengah merengkuh pinggang Alana dan berada di jarak yang sangat dekat dengan wanita itu pun menyebabkan Alana bersemu. Terlebih lagi dengan keadaan Bernando Thomas yang tanpa atasan sehingga menampilkan tubuhnya yang kekar, bahkan roti sobek yang pun terlihat sangat jelas. Tak hanya itu, Alana juga terkesima dengan ketampanan laki-laki yang berprofesi sebagai dokter itu.

"Tam-Tampan," lirih Alana seraya menatap lekat dan teduh Bernando Thomas yang ada di hadapannya.

Sontak saja suara pujian Alana menyentak Bernando Thomas yang tengah merengkuh pinggang ramping Alana. Tanpa disangka-sangak senyum Bernando Thomas begitu tulus kala mendengar pujian lirih dari Alana. Laki-laki itu bahkan terkekeh kecil diimbuhi kekehan kecil.

"Terima kasih, kamu juga cantik," ujar Bernando Thomas kemudian dengan segera menegakkan kembali tubuh Alana yang sesaat lalu oleng.

Alana sontak tersipu malu kala mendengar pujian dari Bernando Thomas. Terlebih lagi kini tangan Bernando Thomas yang masih bertakhta di pinggang rampingnya itu.

"Kok kelihatannya malu-malu begitu sih?" tanya wanita paruh baya yang tak lain tak bukan adalah mama dari Bernando Thomas.

Sontak saja suara yang berada di ambang pintu itu menyentak Thomas dan Alana. Keduanya bahkan dengan segera menoleh kepada sang mama.

"Ma-mama?" suara Bernando Thomas terkejut.

"Kenapa Mama tidak ketuk pintu dulu?" tanya Bernando Thomas lagi dengan penuh penekanan.

Wanita paruh baya itu terkekeh kecil mendengar complain dari sang putra semata wayangnya. Lantas dengan segera menghampiri Bernando Thomas dan Alana yang berada di tepi ranjang.

"Kalau Mama tidak ketuk kan Mama bisa lihat kemesaraan Calista dan kamu yang masih malu-malu itu," ujar wanita paruh baya itu lalu kembali terkekeh kecil.

Alana sontak semakin tersipu malu mendengar penuturan wanita paruh baya itu, bahkan dia hanya menunduk.

"Sekarang kan Mama jadi tahu kalau kalian di Belanda belum membuatkan cucu untuk Mama," ujar wanita paruh baya yang sontak menyebabkan Calista dan Thomas tersentak kaget.

"Mama." Suara Bernando Thomas mulai mengeluh dan tatapannya pun berubah sedikit terusik.

"Ya kan? Ketahuan. Nanti kita bahas di meja makan. Mama dan Papa tidak ingin kamu dan Calista menunda-nunda. Mama dan Papa ingin kamu dan Calista gas saja," imbuh wanita paruh baya itu kemudian segera melenggang dari kamar putih salju.

Selepas kepergian wanita paruh baya itu, suasana kamar Bernando semakin hening. Terlebih lagi setelah mendengar penuturan sang mama yang ingin cucu. Wajah Alana juga menjadi merah bersemu, begitu juga dengan perasaan Alana yang semakin tak menentu. Apalagi dengan status Alana yang bukan siapa-siapa di keluarga terpandang itu.

"Jangan dipikirkan apa yang Mama katakan ya," celetuk Thomas yang menyentak lamunan Alana.

"Em... iya, Mas. Aku tidak memikirkannya," ujar Alana berusaha santai dan tidak memikirkan apa pun. Dia juga menutupi kegaduhan hatinya dengan senyum kecil di bibirnya.

"Mama memang begitu, tetapi aku harap kamu tidak terpengaruh sama sekali, Alana," imbuh Thomas kemudian segera diangguki oleh Alana dengan cepat.

"Kalau begitu, segera siap-siap ya. Kita akan segera turun dan makan malam bersama," imbuh Bernando Thomas dan segera diangguki Alana lagi.

"Iya, Mas."

Alana buru-buru melenggang ke kamar mandi dengan cepat meninggalkan Bernando Thomas di tepi ranjang. Wanita itu dirundung kecamuk hebat baik perasaannya juga benaknya.

'Mungkin aku akan bahagia jika semuanya menjadi nyata. Jika aku benar-benar istri dari seorang Bernando Thomas tetapi segalanya hanya bayangkanku saja,' batin Alana dipenuhi gelisah, kemudian helaan napasnya berat di balik pintu kamar mandi.

*

Tak lama setelah Alana membersihkan dirinya. Wanita itu segera melenggang menuju ke ruang makan. Terlebih lagi, Bernando Thomas juga meninggalkan pesan untuk segera turun.

Alana merasa asing di dalam rumah megah itu, terlebih lagi dia juga memandangi foto-foto Bernando Thomas dengan Calista yang bermesraan. Sungguh, perasaan Alana semakin runyam dan dirundung sendu.

'Sebenarnya ini bukan tempatku, aku tidak layak di sini. Aku orang asing, tetapi demi ibuku aku di sini,' batin Alana mengulang kata yang sering dia ucapkan seraya memandangi salah satu foto wedding Calista dan Bernando Thomas.

'Pak Dokter terlihat sangat mencintai istrinya,' batin Alana lagi kala melihat foto wedding itu dan semakin hancur perasaan Alana, karena Alana semakin tersadar bahwa dirinya tak bisa menggantikan Calista sebagai seorang istri bagi Bernando Thomas meskipun hanya pura-pura.

Alana menghela napasnya cukup panjang, setelahnya wanita itu pun kembali melenggang menuju ke ruang makan. Tetapi tanpa dia sadari, Alana melihat keberadaan Bernando Thomas yang berada tak jauh di hadapannya.

"Ma-Mas?" ujar lirih Alana yang kaget dengan keberadaan Thomas.

Bernando Thomas tersenyum laki-laki itu terlihat sendu kala sesaat lalu dilihatnya jelas Alana tengah memandangi foto weddingnya dengan sang istri, Calista. Sungguh, Bernando Thomas juga merasa bersalah karena dia menempatkan Alana pada posisi yang sulit.

"Maaf," ujar Bernando Thomas lirih seraya menghampiri Alana.

"Maaf untuk apa, Mas?" tanya Alana bingung.

"Maaf karena sudah membuatmu memerankan diri sebagai Calista, Alana. Maafkan aku," ujar Bernando Thomas dengan penuh kesenduan.

Alana tersenyum seraya menundukkan wajahnya untuk sedetik. Lalu wanita itu kembali menatap Bernando Thomas. "Tidak ada yang salah di antara semua ini, Mas. Aku dan Mas saling membutuhkan. Kita dipertemukan karena ini. Jadi, tidak apa-apa. Semuanya akan baik-baik saja," ujar Alana.

"Terima kasih, Alana. Aku berhutang banyak kepadamu," timpal Bernando Thomas kemudian mengusak kecil surai legam Alana yang sontak kembali menimbulkan suara gemuruh dalam dada Alana.

Sungguh, sikap Bernando yang tiba-tiba itu makin menyebabkan perasaan Alana dirundung tak menentu. 'Jantungku selalu berdebar kalau kamu selalu bersikap manis seperti ini, Bernando? Aku bahkan harus menyadarkan diriku bahwa aku hanyalah sebatas wanita sewaanmu,' batin Alana bergumuruh dan berusaha menyadarkan dirinya sendiri.

"Sekarang, kita turun ya. Papa dan Mama sudah menunggu di bawah," imbuh Bernando Thomas yang menyentak lamuanan Alana.

"I-Iya."

Tanpa pikir panjang lagi, Alana dan Bernando Thomas pun segera melenggang menuju ruang makan.

Ketika telah tiba di ruang makan, dilihatnya dengan jelas ruang makan yang telah terisi penuh dan kedua orang tua Bernando Thomas pun tengah menunggu mereka berdua di sana.

"Ayo duduk, Sayang! Kalian pasti lapar," ujar wanita paruh baya itu dengan segera meminta Alana untuk duduk di sampingnya.

"Mbok Rumi sudah menyiapkan makan malam untuk kita semua. Ada udang asam manis kesukaan kamu," imbuh wanita paruh baya itu.

Alana hanya mengangguk kecil seraya tersenyum kaku. "Iya, Ma. Terima kasih banyak," ujar Alana.

"Sama-sama, Sayang. Sekarang ayo makan malam dulu ya."

Setelah itu, area ruang makan menjadi hening sesaat dan fokus pada makanan mereka masing-masing.

"Bernando, Sayang. Mama sudah bilang kan tadi? Kamu harus segera memberikan cucu pada Mama dan Papa. Gas saja!" celetuk wanita paruh baya itu.

"Iya, Nak. Papa juga inginnya kamu segera punya momongan. Calista juga sangat matang untuk mengandung," sahut laki-laki paruh baya alias papa dari Bernando Thomas.

Lagi-lagi masalah cucu yang menyentak kepala Bernando Thomas. Laki-laki itu benar-benar muak mendengar permintaan dari kedua orang tuanya. Sungguh, Bernando Thomas tak pernah membayangkan jika kedua orang tuanya itu mengetahui hal buruk bahwa Calista telah tiada.

"Ma, Pa, please Beranando sudah pernah bahas ini. Bernando dan Calista belum siap," tegas Bernando seraya menghentakan sendok pada piringnya.

"Apa yang membuatmu belum siap, Nak? Mumpung Mama dan Papa bisa bantu rawat anak kamu suatu saat nanti, semuanya akan baik-baik saja. Jadi, tunggu apa lagi? Masa kamu mau menunggu sampai Papa dan Mama sudah tidak ada?" cecar wanita paruh baya itu.

Bernando semakin runyam mendengar penuturan sang mama. "Terserah Mama mau bilang apa, yang penting Bernando belum siap untuk memiliki anak," tegas laki-laki yang berprofesi sebagai dokter itu.

"Bernando harus ke rumah sakit sekarang. Ada pasien yang harus Bernando chek," imbuh Bernando dan segera melenggang meninggalkan ruang makan dengan penuh kesal.

Alana melihat ketegangan yang terjadi, perasaannya semakin kacau. Terlebih lagi me;ihat Bernando Thomas yang emosional, Alana juga tak bisa membayangkan betapa hancurnya perasaan Bernando kala mendapatkan tekanan dari orang tuanya.

'Andai saja jika kedua orang tua dia tahu bahwa Calista sudah tidak ada. Pasti tidak akan seperti ini,' batin Alana sendu.

"Nak," panggil wanita paruh baya itu yang menyentak lamunan Alana.

"Eh? Ya, Ma?"

"Maafkan Bernando ya. Dia mungkin sedang banyak pekerjaan di rumah sakit. Jadi, dia bersikap seperti itu," ujar Adya, tak lain tak bukan adalah ibu Bernando.

"Iya, Ma. Tidak apa-apa kok," timpal Alana secukupnya.

"Ya sudah, sekarang makan dulu ya. Ini habiskan udang asam manis kesukaan kamu," ujar wanita paruh baya itu seraya menyodorkan udang asam manis kepada Alana.

Alana hanya mengangguk dengan senyum kakunya. 'Bagaimana aku bisa makan udang sebanyak ini? Jika aku makan sebanyak ini, alergiku pasti kambuh,' batin Alana bergemuruh.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Hari-hari Dimanjakan Paman
8.7
Demi menghindari kencan buta yang buruk, Pamela nekat mencium pria asing tampan yang lebih tua bernama Agam. Tindakan ini membuat Agam menuntut pertanggungjawaban penuh. Pamela mencoba mengelabui Agam agar memejamkan mata lalu melarikan diri, tetapi rencananya gagal. Agam justru menangkap dan memanjakannya siang malam. Ketika Pamela kembali mencoba kabur, sang paman terus mengejarnya dan memastikan bahwa gadis itu tidak akan pernah bisa lolos dari genggamannya.
Sampul Novel Hati yang Remuk dan Mati
9.4
Pernikahan lima tahun Sheila dan Dave hancur saat sang mantan kekasih kembali memikat Dave. Melalui pesan provokatif dan bukti kemesraan mereka, termasuk kembang api biru di malam anniversary yang sepi, Sheila menyadari akhir dari hubungan mereka. Tanpa air mata, ia menandatangani surat perceraian. Lebih dari itu, Sheila meminta sekretarisnya menyiapkan pernikahan baru untuk Dave dan selingkuhannya, sebelum akhirnya terbang ke Veridia demi memberikan restu langsung bagi keduanya.
Sampul Novel Istri Cacat CEO
9.6
Christian Oliver, CEO sukses berusia 29 tahun, hidup dalam kekangan aturan ayahnya. Ia dilarang menjalin hubungan asmara karena telah terikat pernikahan sejak masa remaja dengan Olivia, anak dari sahabat sang ayah. Meski Christian telah menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk mencari keberadaan sang istri, usahanya selalu nihil. Ironisnya, tanpa pernah ia sadari, sosok Olivia yang dicarinya selama ini sebenarnya selalu berada sangat dekat di dekatnya.
Sampul Novel Rahasia Tersembunyi iPad Keluarga
9.2
Kehidupan harmonis seorang istri seketika runtuh setelah membaca pesan mencurigakan di iPad keluarga. Sempat menduga sang anak dalam bahaya, penelusuran di Reddit justru menuntunnya pada kenyataan pahit. Baskara, suaminya, ternyata menjalin hubungan gelap dengan konselor sekolah putra mereka. Pengkhianatan ini kian menyakitkan karena sang anak justru berpihak pada ayahnya. Berbekal panduan dari pengacara anonim, ia kini mulai menyusun rencana balas dendam dan mengumpulkan bukti.
Sampul Novel Terjerat Pesona Dokter Tampan
8.4
Bimo Aryo Sadewo, pria sederhana berusia 29 tahun, sangat gembira ketika sahabatnya menjodohkannya dengan Azkia Khairani Alfarizi. Bimo rupanya telah jatuh cinta pada Kia sejak pertama kali bertemu di Yogyakarta. Walau Kia bersikap dingin dan tidak peduli karena hatinya membeku akibat dikhianati di masa lalu, Bimo pantang menyerah. Akankah ketulusan hati Bimo mampu meluluhkan sikap Kia, atau ia justru memilih mundur karena cintanya yang tak berbalas?
Sampul Novel Tuan muda
8.7
Dalam dingin yang membekukan, Qin Shu yang hampir kehilangan kesadaran mendadak tersadar karena pelukan hangat dan tangisan pilu seseorang. Begitu membuka matanya yang sembap, ia terkejut mendapati Fu Tingyu berada sangat dekat dengannya. Pria tampan itu tampak begitu hancur dengan mata memerah dan air mata yang terus mengalir. Pemandangan langka ini membuat Qin Shu sangat terpukul, sebab ia sama sekali belum pernah melihat Fu Tingyu menangis histeris seperti itu.