APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel My Home

My Home

Pernikahan dengan Orlyn adalah kebahagiaan bagi Cein, tetapi sang istri justru merasa terjebak dalam sangkar tanpa rasa cinta. Di kala Cein berjuang keras meluluhkan dinginnya hati Orlyn, bayang-bayang masa lalu yang kelam terus mengusik mereka. Tak hanya itu, Cein juga harus bertahan di tengah perjuangan melawan penyakit jantung yang menggerogoti tubuhnya. Akankah rumah tangga mereka bertahan saat pengorbanan dan rasa sakit terus menguji keteguhan hatinya?
Bab
Bagikan

Bab 2

Orlyn membuka pintu kamarnya perlahan, setiap kali ditinggal Cein untuk kerja ke luar kota Orlyn selalu mengunci pintu kamarnya saat tidur.

"Lho, Kakak gak nginep?" tanya Orlyn dengan suara paraunya dan sibuk mengucek matanya.

"Enggak, aku gak bisa tidur kalau gak ada kamu disampingku," jawab Cein yang sukses membuat Orlyn blushing saat nyawanya saja baru terkumpul.

"Boleh ya gombalin orang bangun tidur?" protes Orlyn yang mencoba menutupi rasa berbunga-bunga di hatinya.

"Aku gak lagi gombalin kamu, Orlyn. Nyatanya memang aku gak bisa tidur kalau gak denger dengkuran halus kamu," ujar Cein yang terdengar sangat yakin dan mantap dengan ucapannya.

Orlyn menatap Cein yang sekarang juga sedang menatap dirinya.

"Ayo masuk! Kita tidur, ini masih jam 2 malam," ajak Cein yang kemudian menuntun Orlyn untuk menuju ranjang.

Orlyn menuruti ucapan Cein, keduanya lalu sama-sama naik ke atas ranjang.

"Kakak gak mandi dulu?" tanya Orlyn yang melihat Cein sudah akan menarik selimut untuk mereka berdua.

Cein melihat ke arah Orlyn lalu kemudian menggeleng sembari tersenyum tipis.

"Mandinya nanti dulu aja, aku butuh kamu malam ini."

Jantung Orlyn mendadak berdetak 2 kali lebih cepat. Ini tanda-tanda kalau Cein minta jatahnya lagi malam ini.

***

Tidak seperti biasanya pagi ini Cein telat bangun. Orlyn sudah selesai mandi dan bahkan sarapan juga sudah siap 10 menit lalu. Memang gak banyak yang Orlyn masak, cuma bubur ayam seadanya yang dia buat. Orlyn ingat kalau Cein suka banget sarapan bubur ayam buatannya. Cein bilang meskipun rasa kuahnya gak medok kayak penjual bubur di luaran, tapi karena Orlyn yang masak Cein jadi sangat suka kuah yang sedikit bening buatan Orlyn itu.

"Kak, kenapa belum bangun?" panggil Orlyn sedikit ragu-ragu sambil duduk di tepi ranjang.

Tidak ada respon apapun dari Cein. Sepertinya Cein tidur pulas dan membuatnya tidak mendengar panggilan Orlyn. Dengan memberanikan diri Orlyn lalu mengulurkan tangannya dan mengguncang badan Cein pelan.

"Kak, ini udah siang. Memangnya hari ini Kakak gak ke kantor?" tanya Orlyn sembari terus mencoba membangunkan Cein.

Beberapa detik berlalu tetap tidak ada respon apapun dari Cein. Sekarang ragu-ragu yang Orlyn alami tadi berubah jadi rasa takut. Tidak biasanya Cein seperti sekarang. Cein itu tipe orang siaga, jangankan di bangunkan sampai di goyang seperti ini. Mendengar Orlyn tidur dengan gelisah saja Cein langsung terbangun dan tidak bisa tidur lagi sebelum Orlyn tidur dengan nyenyak.

"Kak, bangun! Jangan buat aku takut bisa? Kak!"

Orlyn terus mencoba membangunkan Cein. Orlyn merasakan suhu tubuh Cein yang masih hangat, Orlyn dengan panik juga memegang dada Cein yang masih menunjukkan detak jantung walaupun pelan.

"Kak! Kak Cein!" panggil Orlyn lagi panik dan semakin meninggikan suaranya supaya Cein segera bangun.

"Itu serangan jantung saat tidur, sepertinya Pak Cein kelelahan dan mandi saat suhu tubuhnya masih tinggi. Sekarang Pak Cein sudah baik-baik saja, beruntung Ibu cepat bawa Pak Cein ke rumah sakit."

Mendengar penjelasan dari Dokter yang menangani Cein di IGD tadi sukses membuat Orlyn jatuh terduduk dengan lemas. Orlyn seperti tidak punya tenaga mendengar sang suami baru saja terbebas dari ancaman kematian mendadak.

"Terima kasih, Dok. Apa Cein sudah bisa dijenguk?" tanya mama Orlyn yang menggantikan Orlyn untuk menanyakan hal itu.

"Oh,,,sudah, Pak Cein juga sudah sadar. Tadi sempat tanya tentang Mbak Orlyn," terang Dokter itu lagi.

Mendengar itu Orlyn reflek berdiri dan tidak lagi menunggu penjelasan dari Dokter iu. Orlyn masuk ke dalam IGD dan menghampiri ranjang rawat dimana Cein berbaring dengan banyak kabel di dadanya yang dibiarkan telanjang.

Melihat Orlyn datang, Cein tersenyum tipis lalu kemudian melambaikan tangannya supaya Orlyn mendekat. Orlyn sendiri sudah mulai meneteskan air matanya cukup deras.

"Jangan menangis! Aku, gak apa-apa," ujar Cein dengan suara lembutnya seperti biasa.

Orlyn tidak mengindahkan ucapan Cein. Mengingat kalau suaminya itu tadi terkena serangan jantung membuat Orlyn tidak bisa menahan diri untuk tidak menangis. Orlyn berdiri mematung dengan wajah banjir air mata, Orlyn bahkan tidak memperdulikan dirinya sekarang ada dimana.

"Hei! Kenapa jadi makin kenceng nangisnya?" ujar Cein yang kemudian mencoba untuk bangun untuk menenangkan Orlyn.

"Kakak udah gak sayang sama aku ya? Kakak ngebebasin aku supaya bisa pergi dengan tenang gitu? Jahat banget si, Kak!"

Orlyn bicara di sela-sela tangisannya dengan suara putus-putus. Cein sendiri tersenyum tipis lalu kemudian menarik tangan Orlyn pelan untuk lebih mendekat. Cein mendudukkan Orlyn di tepi ranjang lalu kemudian dia peluk hangat.

"Sudah jangan nangis! Malu didengar orang, kita lagi di IGD ini."

"Gak urusan! Aku, mau nangis juga aku yang habisin air mataku sendiri kok."

Orlyn masih terus menangis, Cein terkekeh pelan dan mengusap pelan punggung Orlyn.

"Kamu juga, 'kan gak sesayang itu sama aku. Jadi kenapa harus menangis sampai kayak gini? Bukannya kamu seharusnya senang jadi gak ada yang mengekang kamu lagi."

Ucapan Cein sukses membuat Orlyn berhenti menangis. Orlyn melepas pelukan Cein lalu kemudian keduanya saling memandang satu sama lain. Cein kembali tersenyum dan membantu Orlyn menghapus air matanya.

"Aku benar, 'kan? Udah ah jangan nangis lagi! Aku, masih hidup dan sekarang udah mendingan. Aku, masih bisa melarangmu ini itu nanti," ujar Cein kembali berseloroh.

Diluar dugaan Orlyn bukannya berhenti menangis justru semakin keras menangis. Cein jadi bingung harus bagaimana sekarang. Mama dan Papa Orlyn yang baru masuk juga terdiam melihat putri mereka menangis sampai hampir meraung dan sibuk di tenangkan oleh sang suami.

***

"Terima kasih ya, Ma, Pa. Maaf jadi ngerepotin pagi-pagi," ucap Cein yang sekarang sudah turun dari mobil kedua mertuanya dan sedang di gandeng Orlyn yang sejak tadi cemberut dan melakukan gerakan tutup mulut.

"Kamu itu ngomong apa? Papa gak merasa di repotin, udah cepet masuk sana! Jangan lupa obatnya diminum! Orlyn buatkan suamimu makanan yang hangat dan berkuah ya! Jangan dibelikan fast food dulu," titah papa Orlyn sembari melihat ke arah Orlyn yang masih menggandeng suaminya dengan wajah ditekuk.

"Iya, papa bener, Orlyn," timpal mama Orlyn juga.

Orlyn melihat kedua orang tuanya bergantian. Kepalanya mengangguk samar mengiyakan, Cein sendiri melirik Orlyn dan kemudian menghela napas dalam.

"Sepertinya Orlyn masih marah," batin Cein.

Sepeninggal kedua orang tua Orlyn. Mereka berdua lalu masuk ke dalam rumah milik Cein yang dibeli khusus sesaat setelah menikah dengan Orlyn. Cein duduk di ruang tengah sedangkan Orlyn sibuk memasak makan malam. Karena terus di diamkan oleh Orlyn sejak siang tadi, Cein lalu berjalan perlahan menuju dapur. Dia memperhatikan punggung Orlyn yang sibuk memotong-motong sayur sekarang.

"Orlyn," panggil Cein.

Orlyn menoleh sekilas dan menghentikan pekerjaannya.

"Apa? Ada yang kakak butuhin?" tanya Orlyn masih datar dan terdengar ketus.

"Tidak ada."

"Terus kenapa kesini? Duduk aja di ruang tengah! Nonton tv kek, apa kek."

Orlyn lalu sibuk memotong sayuran lagi. Orlyn tidak lagi melihat ke arah Cein yang sekarang berjalan mendekat ke arahnya.

"Kamu masih marah?" tanya Cein yang tiba-tiba melingkarkan tangannya ke pinggang Orlyn dengan lembut.

"Jangan kayak gini bisa gak? Aku, lagi masak, Kak."

"Jawab dulu! Kamu marah?"

"Enggak."

"Lalu, kenapa kayaknya kamu nyuekin aku ya?"

Orlyn menghela napas dalam lalu meletakkan pisau yang dia pegang. Orlyn membalikkan badannya dan melihat ke arah Cein sekarang.

"Sadar gak kalau tadi di rumah sakit, Kakak nyakitin aku?" tanya Orlyn.

Cein menggeleng sembari menautkan alisnya bingung.

"Bagian mana?" tanya Cein polos.

"Semuanya! Dari pagi saat Kakak gak bangun saat aku bangunin, saat Kakak dibilang Dokter kena serangan jantung, puncaknya saat bilang aku gak sesayang itu hingga harus menangis tidak tahu tempat."

Orlyn menjelaskan dengan detail bagian-bagian dimana Cein menyakiti dirinya hingga membuat Orlyn sedikit marah.

"Bukannya yang terakhir bener?" ujar Cein lagi masih menatap Orlyn.

"Kakak! Kalau aku gak sayang gak mungkin aku panik saat kamu di rumah sakit tadi. Kalau aku gak sayang kamu buat apa aku nangis?"

Lagi-lagi Orlyn justru menangis sekarang, Cein sendiri tertawa kecil lalu kemudian merengkuh Orlyn erat.

"Aku, pikir kalau tiba-tiba aku gak ada kamu bakalan bahagia."

Ucapan itu masih Orlyn dengan jelas, tapi gadis itu masih sibuk menangis dan tidak menanggapi ucapan Cein.

***

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Alisha: Wanita yang Kau Sia-siakan
9.1
Dunia Alisha runtuh akibat perselingkuhan Rama, suaminya, dengan seorang aktris terkenal. Tanpa ada penyesalan dari Rama, Alisha memilih pergi dan bekerja sebagai pengasuh anak seorang CEO muda bernama Damar. Kelembutan hati Alisha perlahan memikat sang bos. Namun, saat hubungan mereka mulai dekat, Rama mendadak kembali dan memohon untuk rujuk. Alisha kini terjebak dalam dilema antara ketulusan Damar atau penyesalan mantan suaminya.
Sampul Novel Bali, Awal Baru Ibu Melindungi
8.2
Hidup Anggita runtuh seketika saat Farhan, sang ayah, tega mencoretnya dari daftar ahli waris demi Dahlia. Akibat tuduhan keji asisten tersebut, ia didepak dari rumah dan dicap mandul. Di tengah kehancuran, Anggita justru mendapati dirinya sedang hamil anak Sagara. Demi menyelamatkan sang bayi dari kekejaman keluarganya, ia menyamar lalu kabur ke Bali. Di pulau itu, ia bertekad menata hidup baru dan selamanya menutup lembaran masa lalu.
Sampul Novel Crossing Love
9.6
Trauma masa kecil membuat dunia Miya Tamama menjadi kelabu tanpa warna. Namun, kehadiran Tamama Kunai, seorang putra konglomerat sekaligus investor sekolah, mulai membawa perubahan besar di hidupnya. Di sisi lain, meski Miya selalu disayangi oleh kakaknya yang berprofesi sebagai dokter, Koko Tamama, ternyata ada sosok pria misterius yang diam-diam terus mengawasinya. Mampukah ketulusan sang pewaris takhta kekayaan menyembuhkan luka masa lalu Miya dan mengubah takdirnya?
Sampul Novel Kesalahan Semalam : Manisnya Suami Miliarder
9.0
Dikhianati tunangan dan sahabat membuat hidup Alina runtuh. Demi melunasi utang keluarganya, ia terpaksa menyerahkan kesucian kepada pria asing. Kini ia terikat pernikahan tanpa cinta dengan Nathaniel, miliarder dingin yang misterius. Di tengah ambisi balas dendam dan perjuangan harga diri, keteguhan hati Alina mulai goyah oleh perlakuan sang suami. Akankah ia tetap menuntut balas, atau justru jatuh cinta pada pria masa lalu kelam itu?
Sampul Novel Kuserahkan Suamiku Kepada Pelakor
8.6
Mengetahui suaminya berkhianat, seorang istri memilih langkah berani untuk menyudahi hubungan. Tanpa bimbang, ia menyerahkan lelaki itu kepada selingkuhannya secara langsung. Baginya, suami yang tidak setia hanyalah sampah yang tak pantas dipertahankan. Inilah kisah ketegasan seorang wanita dalam membuang masa lalu kelam demi menjaga harga diri, sekaligus merelakan pria pengkhianat tersebut jatuh ke tangan sang pelakor.
Sampul Novel Luka Terindah
9.7
Pengkhianatan besar menghancurkan pernikahan seorang wanita, membawanya pada pilihan sulit: bertahan atau melangkah pergi. Meski sang suami adalah teman masa kecilnya, hubungan lama itu ternyata tak menjamin kesetiaan. Sosok yang semestinya melindungi justru menggoreskan luka batin paling dalam. Kini, di tengah kehancuran hatinya, ia didera keraguan besar dan kesulitan untuk kembali memercayai laki-laki lain dalam hidupnya.