
Mutiara yang Tersia-siakan
Bab 7
"Pasien keguguran dan pendarahan hebat, dia sangat membutuhkan transfusi darah!"
"Di bank darah nggak ada golongan darah A!"
"Kalau nggak segera ditransfusikan, nyawa pasien akan terancam!"
Pearly kehilangan terlalu banyak darah dan kesadarannya sudah mengabur. Dia hanya bisa merasakan tubuhnya dipindahkan ke sana kemari, sementara suara-suara darurat samar-samar masuk ke telinganya.
"Ambil darahku! Golongan darahku A."
Sebuah suara jernih menembus pendengarannya. Pearly mengerahkan seluruh tenaga untuk membuka matanya dan melihat jelas pemilik suara itu. Wajahnya terasa familier, tetapi dia tidak bisa mengingat namanya.
Pearly akhirnya teringat...
Saat Pearly hendak membuka mulut untuk mengucapkan terima kasih, seluruh tenaganya habis dan dia pingsan.
Saat terbangun, hari sudah berganti. Pearly menatap cairan infus cukup lama sebelum perlahan merasakan hangat tubuhnya kembali. Namun, dia jelas bisa merasakan ada sesuatu dalam dirinya yang sudah diambil pergi.
Dua perawat masuk untuk mengganti perban. Mereka tidak menyadari bahwa Pearly sudah bangun dan asik mengobrol sambil bergosip.
"Kamu tahu nggak? Seluruh kamar inap VIP di lantai atas sudah dipesan semua sama Tuan Kayden"
"Aku sudah dengar, katanya perempuan itu seorang influenser perjalanan, wajahnya lumayan cantik, tapi katanya dia sudah pernah bercerai."
"Lalu kenapa? Lagi pula, CEO menyukainya. Dia sampai nekat siaran langsung dan pura-pura bunuh diri karena lagi emosi. Siaran baru berjalan kurang dari sepuluh menit dan pergelangan tangannya baru tergores sedikit, tapi Tuan Kayden langsung panik datang ke tempatnya."
"Jadi video yang heboh di internet itu memang Tuan Kayden, ya?"
"Tentu saja... Dia masuk ke ruang siaran langsung dan memeluk perempuan itu. Pria tampan dan wanita cantik, benar-benar seperti di drama-drama."
Setelah mengatakannya, salah satu perawat menurunkan suaranya.
"Kudengar info dari dalam, perempuan itu sudah hamil."
Perawat yang lain terkejut. "Pantas saja tadi pagi aku lihat Tuan Kayden membeli belasan macam sarapan untuk dibawa ke atas, ternyata supaya dia bisa memilihnya..."
...
Tangan Pearly perlahan meraba perutnya. Detak jantung di sana sudah tidak ada lagi.
Mungkin bayinya tahu bahwa dirinya dan ibunya sama-sama tidak disambut oleh ayah kandungnya, sehingga memilih untuk pergi...
"Eh, kenapa kamu menangis?"
Perawat akhirnya menyadari Pearly sudah bangun. Perawat itu segera menghapus air mata Pearly dan menenangkannya.
"Jangan bersedih, kamu masih muda. Yang terpenting sekarang adalah memulihkan kondisi tubuhmu. Perlu aku hubungi keluargamu?"
Pearly menggeleng pelan, lalu bertanya, "Orang yang kemarin mendonorkan darah untukku, di mana dia?"
"Oh, dia itu dokter magang di rumah sakit kami. Demi menyelamatkanmu kemarin, dia sampai menyumbangkan 800 ml darah. Kemungkinan besar dia sedang beristirahat di rumah beberapa hari ini."
Perawat lain juga menimpali, "Aku belum pernah melihat seseorang begitu nekat demi menyelamatkan orang lain. Benar-benar anak muda yang gegabah! Setelah kamu keluar dari rumah sakit, kamu harus berterima kasih padanya."
Pearly baru bisa keluar dari rumah sakit sembilan hari kemudian.
Selama beberapa hari itu, dia terus mendengar dari berbagai orang tentang kisah cinta Tuan Kayden di kamar inap VIP lantai atas bersama kekasihnya.
Untuk menghindari bertemu dengan Kayden, Pearly berusaha sebisa mungkin untuk tidak keluar dari kamar inapnya selama dirawat.
Namun, untuk mengurus kepulangan, dia tetap harus turun tangan sendiri.
"Pearly Scott"
"Iya..."
Begitu mendengar namanya dipanggil, Pearly segera bergegas ke loket depan untuk membayar biayanya.
Di lorong, Kayden yang sedang menunggu lift bersama Lilly tertegun sesaat.
"Sepertinya aku mendengar nama Pearly."
"Mana mungkin..." Lilly menepuk bahunya. "Ini di rumah sakit, sementara Pearly sedang berkuliah. Bagaimana mungkin dia dirawat di sini?"
"Benar juga." Kayden pun melangkah masuk ke lift.
Tepat saat pintu lift menutup, Pearly selesai membayar dan keluar sambil membawa sekantong obat. Melihat lift baru saja naik, dia enggan menunggu, jadi Pearly berbalik menuju tangga.
Pengacara sudah menunggunya di bawah, sambil membawa akta cerai yang baru selesai diurus.
Pearly hanya mengambil dokumen yang menjadi miliknya. Kemudian, dia mentransfer biaya pengiriman ratusan ribu lewat bank digital kepada pengacara.
"Sisanya, tolong Anda kirimkan saja padanya."
Anaknya dengan Kayden sudah tiada. Kini, setelah menerima akta cerai, hubungan mereka pun benar-benar berakhir. Hati Pearly merasa lega.
Sebenarnya, ketua tim bantuan ke Arreca sudah mengizinkan Pearly untuk memulihkan diri di dalam negeri sebelum berangkat. Namun, Pearly menolak.
"Aku masih muda dan tubuhku sehat. Aku nggak bisa menjadi beban tim."
Namun, pada hari keberangkatan, rekan-rekan seperjalanannya tetap merawat Pearly dengan penuh perhatian. Mereka membawakan seluruh barang bawaannya, bahkan membelikan tiket prioritas agar dia bisa naik pesawat lebih awal.
"Ini kartu telepon lokal. Begitu pesawat mendarat, kita akan saling menghubungi lewat nomor ini."
Ketua tim menyerahkan kartu telepon itu kepada Pearly dan hendak mengingatkannya bahwa kartu lamanya bisa disimpan, tetapi Pearly sudah lebih dulu membuang kartu lamanya ke tempat sampah.
"Anak ini... apa kamu nggak akan menghubungi keluarga dan teman-teman di dalam negeri?"
Pearly menggeleng, lalu menoleh sebentar untuk melihat Kota Bliyle di balik jendela besar.
'Kayden, seumur hidup ini kita tidak akan pernah bertemu lagi.'
Anda Mungkin Juga Suka





