APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel MURIDKU KENIKMATAN KU

MURIDKU KENIKMATAN KU

Pak Bowo, seorang duda yang juga seorang guru, menyembunyikan hasrat gelap di balik seragam dan wibawanya. Sesuatu dalam diri setiap murid cantik yang duduk di depan kelas selalu berhasil menggoda pikirannya. Perlahan, ia merancang rayuan berbahaya untuk menundukkan mereka. Setiap kata yang diucapkannya bukan lagi sekadar pelajaran, melainkan ajakan memasuki dunianya yang penuh kepatuhan. Di ruang tertutup, otoritasnya berubah menjadi alat untuk menyalurkan nafsu yang selama ini terpendam. Bagaimana seorang pendidik bisa menjelma menjadi penguasa atas kepolosan yang ia inginkan?
Bab
Bagikan

Bab 1

Namaku Bowo, usia 35 tahun, dan sudah lebih dari satu tahun aku menjalani hidup sebagai duda. Setelah pernikahanku berakhir, aku mencoba membangun kehidupan yang baru, mengisi hari-hariku dengan kesibukan mengajar di sebuah SMA di Bandung. Tapi, meskipun sibuk, ada kalanya aku merasa sepi. Rumah terasa sunyi, dan di saat-saat tertentu, kesepian itu datang menghantam lebih keras dari biasanya.

Di sekolah, aku mengajar banyak murid, dan di antara mereka ada beberapa yang menarik perhatianku. Sebagai seorang guru, aku tahu batasan yang harus kujaga, tapi kadang, godaan itu terasa begitu dekat. Salah satu murid yang sering membuatku tak tenang adalah Siska. Gadis ini memiliki pesona yang berbeda dari teman-temannya. Dia berusia 17 tahun, tetapi cara bicaranya, caranya berpakaian, dan tatapan matanya yang centil seolah-olah sengaja diarahkan untuk menarik perhatianku.

Setiap kali dia ada di kelas, aku bisa merasakan kehadirannya. Cara dia duduk di bangku paling depan, cara seragamnya sedikit lebih ketat dibandingkan murid lainnya, dan senyum kecil yang sesekali dia lemparkan ke arahku, semuanya terasa seperti godaan yang sulit diabaikan.

Siang itu, saat jam pelajaran hampir selesai, pikiranku mulai terusik lagi. Siska terlihat lebih mencolok dari biasanya, duduk di barisan depan sambil sesekali menatapku dengan tatapan yang sulit kuabaikan. Aku berusaha fokus pada materi yang kuajarkan, tapi pikiranku terus melayang pada hal-hal yang tak seharusnya.

Saat bel istirahat berbunyi, aku memutuskan untuk memanggilnya.

"Siska, nanti setelah istirahat, tolong ke ruang guru ya. Ada yang Bapak ingin bicarakan."

Dia hanya tersenyum tipis, sedikit mengangguk, lalu beranjak keluar dari kelas. Aku tahu apa yang sedang kupikirkan seharusnya tidak terjadi. Aku tahu peran sebagai guru harus tetap dijaga. Namun, kesepian dan perasaan yang tak terkatakan kadang mengambil alih logika.

Di ruang guru, aku menunggu sambil memikirkan apa yang akan kubicarakan dengannya. Aku berusaha mencari alasan yang tepat agar pertemuan ini tidak terlihat mencurigakan. Setelah beberapa menit, akhirnya Siska muncul, mengetuk pintu dan melangkah masuk dengan tatapan yang seolah tahu apa yang sedang terjadi.

"Kamu tahu kenapa Bapak panggil ke sini?" tanyaku, berusaha terdengar tenang meski ada ketegangan dalam suaraku.

Dia hanya tersenyum, lalu duduk di kursi di depanku.

"Apa Bapak merasa ada yang salah dengan saya?" jawabnya, nadanya menggoda, penuh kepercayaan diri.

Aku terdiam sejenak. Situasi ini semakin sulit dikendalikan, dan aku tahu aku harus menjaga jarak.

"Kamu sering terlihat berbeda di kelas. Cara kamu bertingkah, kadang terlalu... mencolok," jawabku, mencoba membingkai permasalahan tanpa terlalu terang-terangan.

Dia mendekat sedikit, menatapku dengan tatapan tajam,"Mencolok? Atau Bapak tertarik?"

Di ruang guru ini, suasana terasa sedikit lebih hangat ketika Siska, muridku yang centil dan ceria, duduk di depanku. Rambutnya yang panjang dan hitam berkilau tergerai, dan senyumnya yang manis selalu bisa membuat hariku lebih cerah. Aku sering kali menjadikannya sebagai contoh murid yang berprestasi, meskipun tingkahnya kadang mengundang perhatian lebih dari sekadar guru dan murid.

Hari itu, setelah menyelesaikan beberapa tugas administratif, aku memutuskan untuk mengajak Siska berbicara,"Siska, bagaimana kalau kamu datang ke rumahku setelah pulang sekolah? Kita bisa belajar bersama, dan aku bisa membantumu dengan beberapa pelajaran yang mungkin belum kamu pahami"

Dia menatapku dengan mata besar yang penuh antusias.

"Serius, Pak? Boleh banget!" jawabnya dengan semangat. Hatiku berdebar mendengar jawabannya. Ada sesuatu yang berbeda saat melihatnya begitu bersemangat.

Setelah sekolah selesai, aku pulang lebih awal dan mempersiapkan segalanya. Aku tidak ingin ini hanya menjadi sesi belajar biasa. Aku ingin menciptakan suasana yang lebih intim, di mana kami bisa lebih dekat. Beberapa snack ringan sudah siap di meja, dan aku berharap Siska suka.

Tak lama setelah aku sampai di rumah, suara ketukan di pintu membuatku terbangun dari lamunan. Ketika membuka pintu, Siska sudah berdiri di sana, mengenakan baju kasual yang menonjolkan sosoknya yang ramping. "Hai, Pak!" sapanya ceria, dan aku merasakan getaran yang berbeda di antara kami.

Aku mengundangnya masuk dan duduk di ruang tamu. Percakapan kami berjalan hangat, dan aku bisa merasakan ketegangan di antara kami semakin meningkat. Siska terlihat nyaman dan percaya diri, sering kali menatapku dengan tatapan yang sedikit menggoda. Aku berusaha fokus pada pelajaran, tetapi pikiranku mulai melayang ke arah yang lebih dalam.

"Jadi, apa yang ingin kamu pelajari hari ini?" tanyaku sambil mencuri pandang ke arah Siska yang sedang memainkan ujung rambutnya.

"Hmm, mungkin kita bisa mulai dengan matematika, tapi...." Dia berhenti sejenak, senyumnya semakin lebar.

"Aku juga mau tahu, Pak, apakah ada pelajaran lain yang bisa kita lakukan?"

Pertanyaannya membuatku tersentak. Aku tahu ada banyak hal yang bisa kami diskusikan, dan lebih dari itu, ada banyak hal yang ingin aku tunjukkan padanya. Dengan suara pelan, aku menjawab,"Tentu saja. Ada banyak hal yang bisa kita eksplorasi bersama"

Kami melanjutkan obrolan yang semakin menjurus ke hal-hal yang lebih personal. Tawa dan candaan membuat suasana semakin hangat, dan tanpa sadar, jarak di antara kami semakin dekat. Aku bisa merasakan ketegangan yang menggairahkan, seperti ada magnet yang menarik kami satu sama lain.

"Pak, bolehkah aku bertanya?" Siska tiba-tiba bertanya dengan nada nakal.

"Apa pak Bowo tidak merasa kesepian? Maksudku, di rumah ini..."l"

Dia tidak menyelesaikan kalimatnya, tetapi tatapannya menyiratkan lebih dari sekadar pertanyaan biasa. Aku mengernyit, merasakan jantungku berdegup kencang.

"Aku... tidak tahu. Mungkin sedikit," jawabku, berusaha menjaga nada suaraku tetap tenang meski hatiku bergetar.

"Kalau begitu, mungkin aku bisa membantu menghilangkan rasa kesepian itu," ujarnya sambil tersenyum genit, dan aku merasakan ada sesuatu yang mengalir di udara.

Malam itu, pelajaran kami mengambil arah yang berbeda, dan semua yang terjadi menjadi momen yang sulit untuk dilupakan.

Aku menatap Siska sejenak, merasakan kehangatan yang memenuhi ruang tamu. Suasana ini membuatku merasa nyaman, dan entah kenapa, ada dorongan untuk membuka diri.

"Kamu tahu, Siska," ucapku perlahan.

"sejak aku menjadi duda hampir setahun yang lalu, hidupku jadi terasa cukup sulit."

Siska mengangguk, wajahnya penuh empati.

"Aku bisa membayangkan itu, Pak. Pasti rasanya berat ya?" Dia mengatur posisi duduknya, seolah semakin mendekat untuk mendengarkan lebih baik.

Aku melanjutkan,"Banyak yang berubah. Kadang aku merasa kesepian dan kehilangan. Rasanya seperti ada bagian dari diriku yang hilang, dan itu cukup menyakitkan."

Setiap kata yang kuucapkan keluar dengan mudah, seolah Siska adalah tempat yang aman untukku menumpahkan semua isi hati.

"Apakah bapak tidak ingin mencari seseorang untuk berbagi? Mungkin seorang teman?" Siska bertanya, suara lembutnya mengusik pikiranku.

Aku terdiam sejenak, berpikir,"Kadang aku merasa ragu. Takut tidak menemukan seseorang yang bisa mengerti atau menerima diriku dengan semua kekuranganku"

Dia tersenyum dengan cara yang menggoda"Tapi, Pak, kadang kita hanya perlu mencoba. Bagaimana kalau aku menjadi teman yang bapak cari? Aku bisa mendengarkan, dan mungkin... bisa lebih dari itu?"

*****

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Kembar Tiga: Ayah Presdir untuk Ibu
8.0
Akibat konspirasi jahat yang merusak kehormatannya, Claire Adhitama terpaksa meninggalkan rumah. Enam tahun berlalu, ia kembali bersama tiga anak kembarnya yang masih kecil untuk membalas dendam. Tak disangka, anak-anaknya yang cerdik justru menemukan ayah kandung mereka yang kaya raya dan menculiknya pulang demi mendukung sang ibu. Saat berhadapan dengan tiga replika dirinya, sang presdir menyudutkan Claire dengan senyuman hangat, menantangnya untuk memiliki anak keempat, yang langsung ditolak keras oleh Claire.
Sampul Novel Kupu-kupu Sang Miliarder
9.2
Di balik gemerlap malam pesisir Jakarta, Niela berjuang menjaga kehormatannya di tengah cemoohan. Namun, desakan sang ibu memaksanya masuk ke dunia kelam hingga bertemu Darren Alvaro Prayudha. Demi menyangkal cinta pandangan pertama yang hadir, sang miliarder memutuskan menawan Niela. Hubungan rumit ini justru perlahan mengungkap rahasia jati diri Niela yang misterius. Mampukah Darren akhirnya mengakui perasaan aslinya?
Sampul Novel Maafkan Aku Mam
9.5
Pesona fisik Andre yang atletis seketika menyulut hasrat terpendam sang tante. Sejak berjumpa di toko Albert, rasa penasaran terus membayangi pikirannya hingga kini memuncak dalam sentuhan penuh damba. Andre pun memilih pasrah dan menyerahkan dirinya secara utuh malam itu. Dengan perlahan, ia menanggalkan pakaiannya demi menggoda sang tante yang sudah tidak sabar lagi untuk menuntaskan seluruh rasa penasaran yang mengusik hari-harinya.
Sampul Novel Masa Depan Kita
7.9
Dalam kisah romantis modern ini, seorang tokoh utama memilih memendam perasaan cintanya dalam-dalam. Ia memutuskan untuk terus menyembunyikan rasa itu dari siapa pun demi melindungi sosok yang sangat ia sayangi. Pengorbanan tulus ini ia lakukan dengan ikhlas demi menjaga kebahagiaan dan menghargai orang yang paling berharga dalam hidupnya, meskipun ia sendiri harus menapaki jalan yang sunyi.
Sampul Novel MENGGODA CEO KEJAM
8.3
Kepergian sang ibu menyisakan luka bagi Reaneta Alisha, terlebih saat tahu ayahnya berselingkuh dengan gadis sebayanya. Dipicu amarah, Rea berniat merebut Logan Asher Maverick, miliarder kaku yang dipuja oleh selingkuhan ayahnya itu. Namun, memikat Logan rupanya tidak semudah bayangannya. Begitu rencana terselubung Rea terendus, situasi pun berbalik menjadi penuh ancaman dari Logan yang murka. Kini, taktik godaan Rea justru berisiko menghancurkan dirinya sendiri.
Sampul Novel Sang Taipan Berdarah Dingin
7.9
Setelah tujuh tahun menjalani latihan keras, Arabella kembali untuk membalas dendam. Kemarahannya memuncak saat melihat bibinya bergelimang harta sementara kembarannya menderita. Mengandalkan kecerdasan luar biasa, ia menghancurkan bisnis sang bibi dan melindungi saudaranya dari perundungan. Sempat dipandang sebelah mata, jati dirinya terungkap ketika keluarga elite dan laboratorium nasional menyanjungnya. Asher, taipan kejam, justru terpikat dan mulai mengejar cinta si jenius.