APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Mr. Tatto Wants Me

Mr. Tatto Wants Me

Trauma masa kecil akibat kekejaman ibunya membuat Denis membenci wanita. Ia melampiaskan dendam dengan menjebak dan mempermainkan hati mereka demi kepuasan semu. Terbiasa berganti pasangan tanpa cinta, hidupnya yang dingin mulai terusik saat ia bertemu seorang DJ di kelab malam. Akankah takdir baru ini menghentikan obsesi gelap dan misi balas dendamnya? Sebuah romansa dewasa yang mengupas luka masa lalu dan pencarian jati diri.
Bab
Bagikan

Bab 1

Sepasang roda sekuter merah muda dengan sebuah box besar bergambar pizza yang merekat erat di setiap sisi—terus bergerak menggerus aspal sore ini, si pengendara tak kalah menggemaskan saat tubuh mungilnya dibalut jaket merah muda dengan nama punggung berlogo toko pizza, tapi ini bukan pekerjaan pertama Marra, sebab ia bisa menjelma menjadi pekerja apa saja dimulai pagi buta hingga jam malam. Bukan masalah, gadis itu akan mengaku jika ia keturunan Hulk yang paling kuat saat melakukan segala hal meski bertubuh mungil.

Sekuter memasuki komplek perumahan mewah, ia sudah sering melewati bagian ini di sudut-sudut kota Manila, si penghafal jalan yang baik karena terbiasa berkeliling mengirim beragam hal selain pizza, hampir sebagian besar pengusaha berskala menengah di Manila mengenal seberapa rajinnya seorang Marra Acosta, ia memang tupai kecil yang melompat gesit dari satu tempat ke tempat lain setiap hari. Ia bisa menggantikan pekerjaan orang lain, berhenti dengan mudah saat lelah karena sebagai seorang part time Marra tak menerapkan kontrak, bahkan si pemilik usaha tak bisa menekan hal seperti itu padanya. Ia benar-benar pekerja freelance sejati.

Sekuter menepi di depan gerbang setinggi hampir dua meter, Marra turun dan melepas helm, pelindung kepala saja masih kebesaran untuknya, tapi si tupai kecil tak pernah memusingkan hal yang tak perlu didebatkan, ia hanya tahu bekerja dan mendapat uang.

"Itu belnya," ucap Marra. Ia mengeluarkan dua kotak pizza bertumpuk dari box di belakang sekuter dan menghampiri gerbang, menekan bell seraya menunggu seseorang menerima orderan di tangannya.

Tak berselang lama sebuah pintu di sisi gerbang terbuka, gadis cantik dengan dress polkadot hitam abu-abu muncul dan tersenyum.

"Ah, permisi." Marra menyapa. "Aku pengantar pizza." Ia mengulurkan barang di tangan.

"Baiklah, ini uangmu. Terima kasih sudah mengantarnya tepat waktu, teman-temanku baru saja mengeluh di dalam."

Marra mengangguk. "Selamat menikmati, aku permisi."

"Ya." Pintu kembali tertutup rapat, Marra memasang helm lagi, ia merogoh saku jaket dan membuka lipatan kertas berisi daftar pemesan pizza hari ini, baris terakhir. "Racher Art?" Marra menerawang. "Aku pernah mendengarnya beberapa kali, mari kita lihat maps." Ia beralih membuka ponsel. "Ah, ternyata di sana, tak jauh dari tempat ini." Marra kembali melanjutkan urusannya untuk pizza terakhir.

***

"Kenapa tiba-tiba mendung, apa prakiraan cuaca hari ini salah?" Jose menatap situasi di luar melalui kaca tebal di ruang utama Racher Art, ia bahkan memegang pembersih kaca. "Kapan pizza yang kuinginkan datang?"

"Apa pizza bisa terbang atau berjalan sendiri?" Suara tersebut berasal dari seorang wanita di sisi pria bertatto, mereka duduk di sofa tak jauh dari posisi Jose. Sebotol wine dengan tiga gelas sloki, sebungkus rokok serta pemantik tergeletak di permukaan meja. Wanita itu menyulut ujung rokok nan sudah tersemat di bibir. "Mungkin kau harus mengoceh pada si pengantar pizza karena dia membuatmu kelaparan."

Jose berkacak pinggang menatapnya. "Kau benar, Bianca. Harus kumarahi habis-habisan sampai dia menangis."

Bianca tersenyum miring, sembari menyesap rokoknya ia bersandar pada dada bidang berbalutkan kaus hitam yang melekat di tubuh pria bertatto. "Apa rencanamu malam ini?"

"Tidak ada." Denis mengangkat gelas sloki berisi sedikit wine, ia meneguknya hingga habis.

"Kalau begitu mari bertemu di 24night."

"Tentu."

Jose menyingkir menuju ruang lain dari gedung dua lantai milik sahabat sekaligus bosnya, tak berselang lama terdengar suara sekuter berhenti di depan Racher Art, buru-buru Jose berlari keluar karena siap memaki si pengantar pizza yang berdiri memunggungi seraya melepas helm.

"Denis, lihatlah bagaimana pekerjamu akan memaki pengantar pizza," ucap Bianca seolah siap menikmati kemarahan Jose, tapi Denis sama sekali tak melihat ke arah temannya sementara Jose sudah berkacak pinggang di belakang gadis pengantar pizza yang baru membuka box besarnya.

"Hey, kenapa kau begitu lama? Hampir tiga puluh menit sejak aku memesannya di aplikasi, apa kau tak memprioritaskan pelangganmu?" Jose memulai ocehannya. "Apa kau—" Bibir pria itu terkatup rapat saat Marra menoleh dan tersenyum.

"Aku benar-benar minta maaf dan bukan sengaja melakukannya, sekali perjalanan aku mengantar ke enam tempat dan kau mendapat bagian terakhir. Lalu, saat perjalanan menuju kemari hampir saja sekuterku menabrak anjing kecil di tengah jalan, ternyata kaki anjing itu sudah terluka, sepertinya dia sudah disiksa." Marra menghela napas berat, memasang tampang menyesal karena mengingat lagi anjing kecil tadi, ia bahkan tak bisa membawanya pulang ke rumah.

"Ah begitu." Jose melunak, ia bahkan tersenyum, lalu mengusap tengkuk. "Aku sudah salah paham, aku harus minta maaf padamu."

"Bukan masalah besar." Marra memberikan kotak pizzanya.

"Uang, ya?" Jose meraba saku celana. "Ada di dalam, tunggu sebentar." Ia buru-buru masuk dan meletakan kotak pizza di permukaan meja, membuat kening Bianca berkerut karena ekspresi Jose justru tampak senang, ke mana perginya amarah itu?

"Denis, berikan uangmu." Saat Denis baru menarik dompet dari saku celana, Jose buru-buru merebutnya. "Kenapa gadis itu menggemaskan sekali."

"Apa? Bukankah kau sempat memarahinya tadi, sekarang berubah?" tanya Bianca.

"Dia terlalu manis untuk dimaki-maki, dia seperti lolipop." Jose keluar dan memberikan selembar uang yang diambilnya dari dompet Denis. "Ambil saja kembaliannya."

Mata Marra membesar. "Benarkah? Tadi kau begitu kecewa padaku, jadi harus kuberikan kembaliannya." Ia merogoh saku jaket.

"Tidak, tidak perlu. Aku bersungguh-sungguh. Anggap saja permintaan maafku karena sudah keterlaluan."

"Hey, sudah kubilang semua itu bukan masalah." Marra tersenyum, ia menarik tangan Jose dan meletakan uang kembalian di sana. "Semoga kau menikmati pizzanya, aku harus kembali sekarang." Ia menengadah ke langit. "Sudah hampir hujan." Ia memakai helm dan bergegas duduk di jok sekuter, tapi baru saja memutar kunci, hujan turun sekaligus deras. Marra bergegas menyingkir di sisi Jose.

"Nona pengantar pizza, sepertinya kau harus bertahan sebentar di sini," ujar Jose, mungkin ia akan menikmati momen sederhana ini.

"Tidak bisa, aku harus segera mengembalikan sekuter dan pulang ke rumah. Apa kau tak memiliki jas hujan di dalam sana?" Marra menoleh ke belakang, tampak sepi manusia, ia memicing pada Jose seperti curiga akan sesuatu. Hujan seperti ini dan mereka hanya berdua, ia memikirkan kemungkinan terburuk yang terjadi seraya menyilang tangan di dada, upaya melindungi diri. "Tidak! Tidak boleh!" Marra mulai galak.

"Apa?" Jose mengangkat sepasang tangannya. "Sungguh, aku bukan pria jahat. Apa yang kau pikirkan?"

"Kalau begitu pinjamkan aku jas hujanmu."

"Sebentar, aku akan mengeceknya di dalam." Jose menyingkir, ia tak peduli pada aktivitas Bianca serta Denis di sofa. Wanita itu entah sejak kapan sudah duduk di pangkuan Denis, mengalungkan tangan sembari mengusap lembut wajah laki-lakinya sebelum saling memagut bibir penuh gairah.

Sementara Jose mencari sesuatu, ia menemukan sebuah jas hujan milik Denis di laci tempat eksekusi tatto, tapi menatapnya begitu lama. "Apa aku harus meminjamkan benda ini pada gadis itu?" Ia tersenyum simpul, lantas menggeleng. "Tidak, lebih baik dia terjebak hujan di sini. Bukankah kami bisa mengobrol sebentar, dia bisa menjadi teman bicara saat Denis serta Bianca membuat panas suasana." Jose menutup laci. "Aku pria baik, aku takkan melukai gadis pengantar pizza itu." Ia penuh percaya diri dan kembali menghampiri Marra seraya memasang wajah penuh sesal, berpura-pura.

"Kau memilikinya, bukan?" tanya Marra, tapi melihat Jose menggeleng membuat gadis itu mendesah kesal. "Kau serius? Sudah mencari dengan benar?"

"Tentu, aku sudah melakukannya dari sudut ke sudut. Jadi, Nona. Kau harus bertahan sebentar di sini, mari masuk."

Marra menggeleng cepat. "Tidak mau."

"Aku tidak sendirian di sini, ada bosku serta temannya."

"Semua laki-laki?"

"Tidak, dia Bianca, teman kencan bosku. Mereka ada di sana dan siap menikmati pizza yang kau bawa." Jose menunjuk pada sofa di sisi kanannya, jika dari pintu utama Racher Art memang takkan terlihat karena tertutup tirai yang membentang sepanjang dua meter, hanya dibuka jika ingin.

"Benarkah? Kau tidak berbohong?" tanya Marra skeptis.

"Kau bisa mengeceknya sendiri."

Marra melangkah ragu, tapi tetap memberanikan diri masuk, saat ia menoleh ke sisi kirinya—gadis itu hampir mengumpat karena menyaksikan sepasang manusia sibuk bercumbu, ia bergerak mundur. "Tidak mau, apa yang akan mereka lakukan selanjutnya? Kau menipuku, ya?"

"Haish." Jose mendengkus, ia berkacak pinggang dan menoleh ke kanan. "Hey! Bisakah kalian berhenti melakukan itu, kalian membuat gadis ini tak nyaman, dia tamuku. Jika ingin melanjutkannya—naiklah ke atas."

Bianca menjauhkan wajah dari Denis, ia menatap jengkel pada Jose. "Sejak kapan karyawan mengatur bosnya, kau tak lihat perbuatan karyawanmu itu, Denis?"

"Biarkan saja."

Jose tersenyum miring, ia merasa menang sekarang, lantas kembali menatap Marra. "Mereka takkan melakukan hal itu lagi, jadi masuklah."

"Apa boleh aku duduk di sana saja, aku tak ingin bergabung dengan mereka." Marra menunjuk ruang kosong di sisi kaca tebal.

"Tentu, aku akan mengambil dua kursi, tunggu sebentar." Jose kembali bersemangat, ia menata dua kursi di sisi kaca seperti berada di sebuah kafe. "Duduklah, kau mau minum kopi?"

"Kau tak punya racun atau narkoba, kan?" Gadis itu belum sepenuhnya percaya.

"Tidak sama sekali."

Marra mengangguk ragu, ia memberanikan diri masuk kembali dan duduk di kursi.

"Aku akan membuat kopi untukmu." Saat Jose menyingkir, Marra menoleh ke kanan, tadi ia tak terlalu memperhatikan sepasang manusia di sofa karena terkejut, tapi sekarang Marra bisa melihat jika pria berkaus hitam yang disebut 'bos' oleh Jose memiliki banyak tatto memenuhi kedua lengan hingga pergelangan tangan, bahkan kulit lehernya hampir saja tak terlihat.

Pria itu menoleh ke arahnya, membuat mereka beradu pandang selama beberapa detik sebelum Marra memutus kontak dan mengalihkan fokus untuk membuka ponsel.

"Hey, apa yang kau lihat? Aku di sini." Bianca mengarahkan wajah Denis agar melihatnya lagi. "Selama kau bersamaku, jangan pernah melihat ke arah lain. Oke?"

***

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bodyguard I'm In Love
9.7
Sejak pandangan pertama, Jhon Christy langsung terobsesi pada Aleta Louison hingga perasaan itu berubah menjadi obsesi yang gelap. Dia bahkan rela meninggalkan kehidupan lamanya yang bergelimang harta demi menjadi pengawal pribadi Aleta di Rusia. Bagi Jhon, tujuan utamanya hanyalah berada di dekat gadis itu. Dia bertekad menyembuhkan sisi psikopat dalam diri Aleta dan menuntunnya agar bisa kembali menjalani kehidupan normal seperti wanita lainnya.
Sampul Novel Buku Harian TKW
8.6
Impian pernikahan indah Rendra Pradhana dan Maya Septa dibayangi masa lalu kelam. Tragedi kematian Lastri yang melibatkan ayah Rendra memicu kebencian mendalam dari keluarga Maya. Walau berhasil bersatu, badai ekonomi dan konflik tiada henti menguji kesetiaan mereka, hingga memaksa Maya mengadu nasib sebagai TKW di Malaysia. Apakah kutukan leluhur Mbah Karso yang menentang hubungan mereka benar-benar nyata? Mampukah kekuatan cinta mereka bertahan melawan takdir yang begitu kejam?
Sampul Novel Dijodohkan dengan CEO tanpa Hati
8.5
Satu bulan menikah, Ana Puspita Ningsih tak pernah disentuh Louis Kusnadi. Pernikahan paksa ini menyatukan dua insan yang berbeda drastis. Ana adalah sosok penyayang yang tulus menolong sesama, sedangkan Louis merupakan CEO sombong yang suka menindas. Meski bergelimang harta, Louis sangat kikir dan terus menyakiti hati sang istri. Kini, Ana harus berjuang bertahan hidup menghadapi sikap suaminya yang sangat dingin dan gampang murka.
Sampul Novel Ipar Tercinta
8.1
Wasiat terakhir sang kakak sebelum mengembuskan napas terakhir menjungkirbalikkan dunia Diraya Paramitha. Di usianya yang masih sangat muda, Dira dituntut mengemban tanggung jawab besar sebagai ibu sambung bagi keponakannya sekaligus istri baru bagi Wira Dharmawan. Pernikahan mendadak ini menguji kedewasaannya. Akankah benih cinta yang tulus tumbuh di antara mereka seiring waktu, ataukah hubungan ini selamanya bertahan hanya demi menunaikan kewajiban terhadap sang anak?
Sampul Novel ISTRI TERCINTA BOS BESAR
9.7
Elitta kehilangan kekasih dan kasih sayang ayah akibat ulah Vivian. Setelah pertunangannya batal, sang ayah memaksanya menikahi pria yang dianggap miskin. Vivian merasa di atas angin, hingga ia menyadari suami Elitta adalah Vito Vincent Ravello, CEO Sunmart sekaligus mantan kekasih yang dulu ia buang. Kini Vivian bertekad merebut Vito kembali. Mampukah Elitta menjaga pernikahan dan pria yang dicintainya dari rencana jahat Vivian?
Sampul Novel Kawin Kontrak dengan CEO Kejam
8.3
Elle, gadis dua puluh dua tahun, tak pernah merasakan arti rumah yang aman. Ayahnya—sosok yang seharusnya melindungi—justru menjadikannya budak, memaksanya menari telanjang di klub demi memenuhi keinginan gila sang lelaki. Derita demi derita ia telan; permohonan tak pernah didengar, hanya caci maki dan pukulan yang ia terima. Namun malam ini, tekadnya membara: ia tak akan lagi menjual tubuhnya, tak akan lagi tunduk pada teror sang ayah. Malam ini adalah malam terakhir. Saat ia melangkah keluar dari klub, sebuah pertemuan tak terduga dengan CEO yang dikenal kejam dan dingin mengubah takdirnya. Pria itu menawarkan tawaran yang tak bisa ia tolak—sebuah pernikahan kontrak. Namun di balik perjanjian itu, tersembunyi permainan kuasa, obsesi, dan hasrat yang semakin dalam. Bisakah Elle lepas dari cengkeraman ayahnya, atau justru terjerat dalam bahaya baru yang lebih membara?