APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Moments And Memories

Moments And Memories

Evelina, siswi pintar dan menawan yang menutup rapat hatinya, dipertemukan kembali dengan Nox Cyril. Meski Nox adalah pemuda kaya yang trauma masa kecilnya belum sembuh, Evelina justru hilang ingatan tentangnya. Hubungan mereka kian rumit dengan kehadiran Lucas si model top, Frans sang ahli IT, serta Owen pewaris medis. Dapatkah ingatan masa lalu Evelina kembali? Akankah perasaan terpendam mereka terungkap di balik rahasia lama?
Bab
Bagikan

Bab 3

Evelina yang sedang bertanya kepada Nox dan dia menjawabnya.

“Sebenarnya, aku ...."

Di kala itu, Rissa sudah kembali setelah ia mengambil dompetnya. Kemudian, Rissa langsung menghampiri Evelina dan memanggilnya. “Eve!”

****

~ Kilas balik ~

Setelah beberapa menit kemudian...

Setelah sekian waktu berlalu, akhirnya Rissa menemukan dompetnya. Kemudian, dia pun kembali ke tempat Evelina bahwa sang sahabatnya sudah menunggunya. Rissa pun berjalan mendatanginya dan dia terhenti dari jalannya, ketika melihat Evelina bersama dengan seseorang lelaki. Dia pun berjalan dengan perlahan-lahan tanpa diketahui oleh mereka berdua dan Rissa menyadarinya bahwa lelaki tersebut adalah orang yang sangat dikenal olehnya. “Nox?”

“Apa yang sedang dia lakukan bersama dengan Eve? Apa jangan-jangan dia ingin mendekati Eve???” panik Rissa. Ia langsung bergegas mendatangi Evelina.

~ Akhir kilas balik ~

****

Rissa berpura-pura untuk melihat Nox pada saat itu. Kemudian, dia menoleh ke arah Nox dan berpura-pura terkejut ketika melihatnya.

“HEI NOX!!! APA YANG SEDANG KAU LAKUKAN DI SINI?” teriak Rissa kepada Nox.

“Hei, kenapa kau berteriak kepadaku? Aku hanya sedang menunggu seorang bocah saja,” sahut Nox dengan kesal.

“APA KAU KIRA AKU AKAN PERCA—“ terputusnya perkataan Rissa.

Di sela pembicaraan Rissa, datanglah seseorang lelaki lain, yaitu Franss Vessalius menghampiri Nox. Franss yang berlari dia terlihat lelah dan berkata, “Nox ma-maaf sudah lama me-menunggu ... aku kira k-kau akan meninggalkanku sendirian.“ Napas Franss terengah-engah ketika sedang berbicara kepada Nox.

“Kau lama sekali! Aku sudah menunggu berjam-jam dan hampir diserang oleh seorang ‘monster',” seringai Nox.

“Monster?” tanya Rissa dan Franss bersamaan.

Franss pun menyadari bahwa ada Rissa dan Evelina di sini, dia tidak sadar karena habis berlari dengan ngos-ngosan.

“Kita bertemu lagi Evelina, Rissa!” sapa Franss.

Evelina membalas sapaan dari Franss, sedangkan Rissa mengacuhkannya. Evelina sedang memakluminya bahwa Rissa sedang kesal kepada Nox, dia pun membujuknya untuk segera pulang ke rumah.

“Rissa ayo kita pulang!” ajak Evelina.

“Benar, daripada aku berbicara pada bocah tengik ini!” kata Rissa sambil menatap Nox.

Kemudian, Evelina berpamitan kepada mereka berdua. “Kami duluan, hati-hati di jalan Nox ... Franss!”

Evelina dan Rissa telah meninggalkan mereka berdua dan Rissa sambil menggandeng lengannya Evelina. Rissa yang terlihat lengket kepada Evelina, membuat Franss berbicara. “Lihatlah! Kelakuan Rissa yang begitu lengket kepada Evelina,” kata Franss yang memberi kode kepada Nox.

Tin...tin...

Pada saat itu, Nox yang mendengar suara klakson dari mobil jemputannya dan ia pun mengajak Franss.

“Ayo ... kita pulang,” ajaknya. Lalu,Mereka berdua masuk ke dalam mobil jemputan Nox dan mobil tersebut pun mulai jalan.

Di sisi lain, Evelina dan Rissa pun sampai di rumah mereka. Rissa akhirnya melepaskan lengan Evelina. Mereka pun berpamitan satu sama lain dan melabaikan tangan.

“Sampai jumpa, Eve!” pamit Rissa.

Di kala itu, Evelina terdiam dan dia tidak membalas perkataan Rissa. Dia pun berkata, “Rissa ... No—“ Tapi Evelina tidak jadi bertanya kepada Rissa.

“No? Apa?” tanya Rissa.

Evelina dia menggelengkan kepalanya dan dia berkata bukan apa-apa. Evelina yang ingin mengatakan sesuatu kepadanya, tapi tidak jadi. Rissa menyadari hal tersebut. Tapi Rissa membalas senyuman saja kepada Evelina. Lalu, Mereka masuk ke rumah masing-masing dan Evelina dia menghela napas yang terlihat lelah.

“Aku pulang ...,” sapa Evelina kepada ibunya.

Ibu Evelina pun membalas sapaan Evelina dan menyuruhnya untuk lekas mandi karena mereka segera makan malam. Setelah selesai mandi, Evelina mengeringkan rambutnya yang basah. Evelina mengeluarkan buku dari tasnya yang dia pinjam tadi di perpustakaan sekolah.

Brakk...

Bunyi dentuman dari buku yang dia letakkan di mejanya, berbunyi sangat keras karena bukunya lumayan berat dan tebal. Evelina pun mengecek buku tersebut dan dia baru menyadarinya bahwa dia meminjam buku yang begitu banyak. Dia tidak menyangka bahwa buku yang dipinjam olehnya cukup banyak. Jadi, tidak heran Rissa berkomentar pada saat tadi pagi.

“Coba kita lihat, buku apa saja yang barusan aku pinjam ...,” gumamnya sambil memilah buku tersebut.

“Ada novel Sherlock Holmes, Her Last Word, Time Return, ... dan terakhir ‘‘You’re My Butterfly’’?”

Ketika Evelina ingin membuka buku itu, tiba-tiba ia dipanggil oleh ibunya untuk makan malam dan dia menutup kembali buku “You’re My Butterfly”. Evelina pun keluar dari kamarnya dan menuju ke ruang makannya, di situ ada ayah dan ibu Evelina yang sedang menunggunya untuk makan bersama. Setelah Evelina sampai di meja makan dia melihat bahwa menu makan malam ini agak mewah dan berkata kepada ibunya.

“Ibu ... apakah ini tidak terlalu berlebihan?” tanya Evelina.

“Tidak, karena hari ini adalah hari pertamamu menjadi siswa SMA. Jadi kita harus merayakannya,” jawab ibu Evelina.

“Tapi ...,” sahut Evelina.

“Benar, kata ibumu. Lagian, kau masuk ke sekolah unggulan yang hanya bisa dimasuki anak orang kaya dan pintar. Menurut ayah itu luar biasa karena ujian masuknya sangat sulit,” kata ayahnya.

“Ini tidak seberapa dengan kamu yang mendapat beasiswa di jadi tidak masalah,” sahut ibunya sambil memandang Evelina.

Ketika mendengarkan perkataan orang tuanya, Evelina tidak dapat menolak tawaran dari ibu dan ayahnya. Dia menerima tawaran tersebut, Evelina yang merasa tidak nyaman terhadap orang tuanya. Karena keuangan keluarganya sederhana, dia pun menerimanya karena sudah dimasakkan sup iga oleh ibunya. Kemudian, gadis itu duduk pada kursinya dan memakan menu makan malam yang dimasak oleh ibunya itu.

Setelah selesai makan, Evelina pun merapikan piring dan membersihkannya dan ayahnya yang sedang membaca koran sambi duduk, ia bertanya kepada anak gadisnya tentang kehidupan hari pertamanya di SMA bagaimana. “Hmm ... lingkungan sekolahnya bagus dan orang-orang terlihat ramah,” jawab Evelina.

Mendengar jawaban dari Evelina, sang ayah terlihat tenang. Tapi di saat itu, Evelina masih melanjutkan perkataannya.

“Oh ya! Di kelasku sepertinya banyak anak-anak dari keluarga terkenal ...,” lanjutnya.

Sang ayah wajahnya terlihat gelisah dan bertanya dengan ragu-ragu, “Apakah mereka seorang gadis?”

“Tentu saja bukan, karena sekolahku adalah SMA umum dan di kelasku ada seseorang model terkenal kalau tidak salah namanya ... Lucas Aland?” jelas Evelina sambil bertanya-tanya.

Sang ayah mendengar perkataan anaknya itu membuat terkejut sampai koran yang dibacanya tersebut terjatuh.

“Sayang! Anak kita berteman dengan lelaki!” bilangnya menatap istrinya.

“Bukankah itu wajar? Anak kita sudah remaja,” jawab istrinya.

Ayahnya pun ingin menasihat kepada anaknya, tapi ketika ingin berbicara kepada Evelina. Dia sudah tidak ada di ruang makan tersebut, bahwa Evelina sudah masuk ke dalam kamarnya sejak tadi.

“Aishhh ... dasar gadis itu,” pekik ayahnya.

Evelina yang sudah berada di kamarnya sedang menghela napas, karena dia tahu pasti omelan ayahnya pasti cukup panjang kalau masalah tentang lelaki. Dia pun duduk di kursi belajarnya dan ingin membaca buku yang tidak sempat dibacanya. Dia membuka satu halaman pada novel “You’re My Butterfly” merasakan familiar saat melihat dan memegangnya.

“Aku rasa pernah membaca buku ini di suatu tempat, tapi aku tidak terlalu ingat,” pikirnya.

Setelah membaca buku tersebut berjam-jam yang masih setengah cerita dari buku "You're My Butterfly", dia melihat jam dindingnya yang menunjukkan bahwa sudah hampir larut malam. Dia pun menuju tempat tidur dan gadis itu sudah mematikan lampunya. Pada saat itu, Evelina sudah membaringkan dirinya pada tempat tidurnya dan dia sambil berpikir tentang sesuatu.

“Kupu-kupu itu membuat kehidupan orang terdekatnya menjadi lebih berwarn,a tapi suatu saat dia tiba-tiba saja menghilang di kehidupan orang lain,” jelasnya.

“Itu menyedihkan, pasti orang terdekatnya merasa sedih. Ketika seseorang yang berharga tiba-tiba menghilang, itu sangat menyakitkan. Sudahlah! Lebih baik aku tidur saja."

Kemudian, gadis itu mulai menutup kedua matanya setelah banyak berpikir tentang novel yang dibaca olehnya tadi. Gadis itu akhirnya tertidur dan terlarut dalam tidurnya.

Di kala itu, Evelina berada di pepohonan seperti sebuah taman. Dia melihat anak laki-laki dan anak perempuan perempuan sambil bercanda ria. Tiba-tiba anak kecil itu menghilang dan langit begitu gelap serta turun hujan. Kemudian, Evelina melihat ada lelaki memakai seragam SMP, lelaki itu berdiri di tengah hujan yang begitu deras. Dia menyentuh pohon tersebut sambil menangis dia berkata, “Aku merindukanmu, kau di mana?”

Saat itu, Evelina berjalan dengan perlahan bahwa ia mendekati lelaki itu dan memegang bahunya. Lelaki itu menoleh ke arahnya dan berkata kepada Evelina sambil tersenyum tipis.

“Aku merindukanmu, Eve ...,”

Evelina terkejut saat melihat lelaki itu mengetahui namanya dan dia pun terbangun. Dia menyadari bahwa yang dilihatnya tadi itu hanya mimpi saja dan berkata, “Siapa lelaki itu?”

BERSAMBUNG

Author note:

Lagi-lagi Evelina memimpikan tempat yang sama? Apa maksud dari semua itu?

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bukan Gadis Simpanan
9.2
Carl Davidson gemar menjahili Samantha Walker sejak kecil dengan menaruhnya di meja tinggi hingga menangis. Kebiasaan unik ini bertahan hingga Carl sukses menjadi miliuner otomotif. Kini, ia tidak hanya mendudukkan Samantha di meja, tapi juga membawanya ke ranjang. Di tengah stigma buruk masyarakat yang melabelinya sebagai gadis simpanan, mampukah Samantha mempertahankan kehormatannya dan bersanding dengan Carl di pelaminan?
Sampul Novel Cinta Ellina
9.7
Mimpi Ellina sangat sederhana: ia ingin menikah di hari Valentine dan hidup bahagia selamanya. Namun, keceriaan perempuan ramah ini seketika sirna saat suaminya hanya memberi kebahagiaan palsu. Bayang-bayang cinta pertama sang suami terus mengusik pernikahan mereka, membuat Ellina berada di titik terrapuhnya. Kini, ia dihadapkan pada ketidakpastian. Akankah sang suami kembali ke masa lalu, ataukah impian indah Ellina akan terwujud?
Sampul Novel Dua Sisi
8.1
Kegagalan asmara yang bertubi-tubi, mulai dari menyukai gurunya sendiri hingga terpikat kekasih orang, membuat CEO ADITAMA Group, Revan Aditama Perkasa, mati rasa terhadap cinta dan pernikahan. Di tengah apatismenya, sang ayah justru menuntutnya menikahi seorang wanita dari Suku Anak Dalam. Revan menentang keras rencana itu. Baginya, menikahi perempuan yang dianggap primitif tersebut sangat tidak masuk akal dan bertolak belakang dengan kehidupan modernnya yang serbaintelektual.
Sampul Novel Hati Seorang Perempuan
9.3
Senjahari Semesta Alam dengan ikhlas merelakan dirinya diceraikan oleh suaminya sendiri demi menikahi Mega Mentari--anak perempuan pemilik perusahaan yang mengaku dihamili oleh suaminya sendiri, Abimanyu Wicaksana. Sementara itu Halilintar Sabda Alam-- kakak sulung Mega Mentari. Pemilik beberapa perusahaan properti raksasa negeri ini, jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Senja, yang diperkenalkan oleh mertuanya sebagai adik bungsu Abimanyu. Abimanyu yang merasa dijebak sebagai kambing hitam dalam masalah hamilnya Tari, terus berusaha mencari kebenaran yang sesungguhnya agar bisa meraih kembali hati Senja. Sementara Sabda yang awalnya jatuh cinta pada Senja, menjadi salah faham saat secara tidak sengaja memergoki Abimanyu memesrai Senja bukan seperti seorang kakak terhadap adiknya, melainkan seperti seorang laki-laki yang tengah mabuk asmara. Sabda yang gelap mata malah akhirnya menjebak Senja dan menanamkan benihnya dirahim Senja. "Saya mohon, jangan memperlakukan Saya seperti ini. Saya punya salah apa pada Bapak? Laki-laki sejati tidak akan menggunakan kekuatannya untuk memaksakan dirinya terhadap seorang perempuan. Saya mohon jangan mengotori saya. Demi Allah saya bersumpah, saya tidak seperti apa yang ada dalam pemikiran, Bapak." (Senjahari Semesta Alam) "Salah kamu adalah, karena kamu telah menjadi duri dalam daging dalam rumah tangga adik saya! Kamu fikir saya tidak tahu akan hubungan terlarang kamu dengan Abimanyu? Kalian berdua itu incest, dan itu amat sangat menjijikkan! Kita lihat saja, setelah ini kamu masih bisa memandang dunia dengan kepala tegak, atau kamu akan melata seperti ular di kaki Saya!" (Halilintar Sabda Alam)
Sampul Novel KAMINI (Wanita Penuh Kasih Sayang)
9.4
Pasca melahirkan anak untuk Dirandra Ekadanta dan istri pertamanya, Kamini Citra Kirana diusir begitu saja. Meski dibuang dengan uang kompensasi agar tidak kembali, ia pergi membawa sebuah rahasia besar yang memicunya untuk bangkit. Lima tahun berselang, takdir justru menyeret Kamini kembali ke hadapan masa lalu dan keluarga yang dahulu mencampakkannya. Mampukah ia menghadapi situasi rumit ini? Akankah rahasia yang ia simpan rapat selama ini mengubah segalanya saat mereka bertemu lagi?
Sampul Novel Ketika Hati Yang Tulus Dibalas Dengan Luka Yang Dalam
9.8
Demi sang kakek, Rania rela bertahan dalam pernikahan yang penuh kebohongan. Namun, kehancuran batin tak terhindarkan ketika ia melihat pengkhianatan Arkana, suaminya. Di balik kepedihan itu, rahasia lama dan perasaan tersembunyi mulai terkuak. Inilah perjuangan seorang wanita untuk bangkit dari luka mendalam, membuktikan kekuatannya setelah sekian lama berkorban dalam senyap.