APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel MOLLY, She Will Be Love

MOLLY, She Will Be Love

Molly merasa jenuh dengan rutinitas kuliah yang monoton dan sikap protektif sang kakak. Demi mengubah hidupnya sebelum lulus, ia menyusun rencana nekat untuk mendekati seorang dosen muda. Namun, langkah ini justru membawanya ke dalam situasi rumit. Molly kini terjebak di antara dua pria yang bersaing ketat demi memenangkan hatinya. Kedua lelaki tersebut sama-sama terpikat oleh pesona unik Molly, memicu perebutan cinta yang penuh dengan lika-liku tak terduga.
Bab
Bagikan

Bab 3

Setelah satu minggu Molly berusaha tampil lebih elegan juga dewasa saat ke kampus. Ia pun merasa tidak nyaman. Anin bahkan sampai tertawa geli melihat Molly yang kembali tampil apa adanya. Cenderung cuek dan bergaya boyish. Dengan gaya pakaian yang lebih ke arah casual, Molly justru tampak natural dan cantik.

Ia berjalan menuju ke kantin kampus setelah turun dari mobil Banyu. Seperti pagi-pagi lainnya saja. Banyu sebenarnya sudah ingin membelikan Molly kendaraan, supaya bisa sendiri jika ingin kemana-mana, tapi Molly menolak karena ia tak suka jika banyak orang yang ingin berteman dengannya karena harta atau apa yang ia punya dan kenakan. Pakai supir pun, Molly tak mau. Jadilah Banyu setiap pagi mengantar adik iparnya itu ke kampus.

"Capek pake sepatu hak tinggi, Mol?" Anin terkekeh. Di sebelahnya sudah ada pacar Anin yang tampak cekikikan juga.

"Iya," jawab Molly singkat sambil meminum kopi yang sempat ia beli di kedai kopi dekat kampus bersama Banyu.

"Diantar Kak Banyu lagi?" tanya Kyle yang berperawakan blasteran Sunda dan Belanda itu. Molly mengangguk.

"Repotin Kakak ipar lo banget sumpah." rengut Anin.

"Mol, gue comblangin sama sepupu gue mau nggak? Biar ada yang antar jemput lo," ucap Kyle serius. Molly melirik lalu memutar kedua bola matanya malas seraya menggeleng.

"Gue punya inceran lain," sahut Molly yang mendapat reaksi terkejut dari kedua temannya itu.

"Siapa?" tanya Anin bingung. Molly diam.

"Lihat aja nanti." Lalu tatapan Molly mengarah pada segerombolan orang yang berpakaian rapi. Kemeja lengan pendek warna putih dengan dua lidah berkancing pundak di kanan kiri, dua kantung berkancing kanan dan kiri juga, serta celana warna biru dongker, berjalan bergerombol.

"Siapa mereka?" tanya Molly bingung.

"Oh ... Anak kampus lain, kampus kita ngadain seminar manajemen, anak ekonomi yang bikin,tentang pemasaran global apalah namanya, beberapa kampus diundang, termasuk mereka. Anak jurusan manajemen transportasi. Kalau yang pakai seragam kayak gitu si, yang gue tau mereka udah magang diperusahaan maskapai udara." Kyle menjelaskan dengan gamblang. Molly ber-OH-ria. Ia lalu beranjak. Merapikan pakaiannya hendak menuju ke dalam kelas, sedangkan Anin bilang ia akan menyusul.

"Molly!" suara seseorang memanggilnya. Ia menoleh. Napasnya terhenti seketika. Melki sudah berdiri di belakangnya. Molly berbalik badan perlahan, langsung memasang senyum manis.

"Pagi, Pak," sapa Molly santai.

"Pagi!" jawab Melki ketus sambil melirik sekilas ke Anin dan Kyle yang diam mematung. Aura dingin langsung terasa. Seperti jelmaan Dementor dosen bernama Melki ini.

"Udah baca email dari kampus," tanya Melki dengan tatapan menusuk. Molly menggeleng. Di tangan kanannya, Melki memegang satu buku tebal, dan tangan lainnya ia masukan ke saku celana bahan yang ia kenakan. Kemeja motif garis-garis horizontal berwarna abu-abu tipis yang ia masukan ke celana, juga, kancing pergelangan tangan yang dipasang, membuat sosok itu tampak rapi sekali. Bahkan, membuat tubuh atletisnya begitu tercetak sempurna. Pembawaannya yang kaku, membuatnya seolah tak tersentuh.

"Baca! Saya tunggu di ruang dosen sepuluh menit lagi!" lalu Melki berjalan menuju ke area gedung dosen fakultas ilmu komunikasi tanpa senyum.

Molly menatap kedua temannya.

"Dia,target gue Nin, Kyle," ucap Molly pelan.

"Gila lo! Dementor mau lo gebet!" mulut Anin dibekap Kyle dengan tangannya.

"Menantang ...." sahut Molly berbisik. Kyle menggelengkan kepala, Anin mengerjapkan matanya. Molly membuka email di ponselnya. Kedua matanya terbelalak seketika.

"Hah! Pak Melki, d-dosen ... p-pembimbing skripsi gue?" Molly tampak lemas. Ia terduduk di kursi. Menghentak-hentakkan kaki laku mengusap wajahnya kasar. Ia menoleh ke kedua temannya yang justru tertawa.

"Mampos ... lo gebet itu Dementor. Mamam deh lo Mol," Anin tertawa.

"Gue ke sana ya, Bye," Molly beranjak, kemudian setengah berlari menuju ke arah gedung dosen, pikirannya sudah tak karuan.

Ia memikirkan rencana apa yang harus ia jalankan demi kelancaran tujuannya menggebet Melki. Dosen berusia dua puluh tujuh tahun dengan predikat sadis dari para mahasiswanya.

***

Tok ... tok ... tok ...

"Permisi Pak," sapa Molly dengan suara pelan sambil menyembulkan kepalanya dari balik pintu.

"Masuk!" ucap Melki. Kedua matanya masih sibuk mengetik sesuatu di laptopnya. Molly langsung duduk di kursi di hadapan meja kerja Melki.

"Siapa yang suruh kamu duduk! Berdiri!" ucap Melki ketus. Molly berdiri seketika.

"Ish," Molly menggerutu. Melki bergeming, acuh dan masih berekspresi datar.

Suara mesin pencetak terdengar, lalu muncul selembar kertas. Melki memberikan itu Molly yang masih berdiri.

"Duduk!" pinta Melki sambil menatap ke Molly yang mencoba tersenyum. Sekedar memberikan kesan pertama yang baik untuk target gebetannya.

"Jangan senyum-senyum. Saya nggak suka!" ketus Melki. Molly tak gentar.

"Senyum itu sebagian dari ibadah lho, Pak, saya seneng tersenyum," timpal Molly.

"Suka senyum apa tebar pesona!" tatap Melki dengan jemari saling menggenggam dan ia letakkan di atas meja.

"Suka senyum lah, Pak," jawab Molly masih berusaha santai. Akan susah menggebet Melki kalau ia juga ketus.

"Mahasiswi seperti kamu ini nih, yang suka senyum-senyum tebar pesona ke dosen laki-laki biar dilancarkan skripsinya. Modus. Tapi saya nggak akan terpancing. Saya nggak suka mahasiswi nggak punya otak!"

Molly menatap tajam ke arah Melky. Ia terus berusaha tenang menghadapi ke lemesan mulut pria di hadapannya. Ia mencoba acuh atas ucapan Melki.

"Ini harus saya isi, Pak? Kapan dikumpulinnya? Harus banget pakai materai?" Molly berbicara dengan kedua mata membaca isi kertas yang diberikan Melki. "Skripsi saya kan masih masuk disemester delapan,sekarang masih masuk ke seminar dulu, 'kan?"

"Yang dosen di sini siapa. Yang akan jadi pembimbing kamu siapa. Yang nanti dampingin kamu sidang siapa!" Melki tak mau kalah bicara.

"Pak Melki, tapi ... " ucap Molly dengan tenang.

"Isi. Besok kasih ke saya lagi!" ucap Melki sambil kembali menatap layar laptopnya.

"Sekarang boleh keluar!" lanjut Melki lagi tanpa melihat ke arah Molly. Molly beranjak. Ia membuka pintu ruangan Melki. Langkah kakinya mendadak berhenti. Ia menoleh ke dosennya itu.

"Pak Melki," panggil Molly.

"Hm," jawab Melki tanpa menatap ke Molly.

"Kalau dampingin saya di pelaminan mau Pak? Saya siap kok," lanjut Molly sambil berjalan pelan keluar ruangan.

"Saya sudah tunangan. Tunangan saya lebih cantik dari kamu. Maaf. Cari target kamu yang lain!" jawab Melki masih saja ketus.

Molly berdiri di depan pintu yang sudah ia buka, kembali menatap Melki.

"Sebelum janur kuning melengkung. Boleh dong, saya gebet Pak Melki? Mana coba tunangannya, saya mau tahu. Kenal deh, Bye Pak," ucap Molly begitu berani. Lalu pintu tertutup.

Ia berjalan terburu-buru karena kesal. Bisa-bisa gagal rencananya.

"Sialan, dosen resek. Dementor. Mulut cabe. Mulut jahanam!" Molly kesal. Ia berjalan tanpa melihat kanan dan kiri. Hingga ia menabrak seseorang.

"Sorry ... sorry," ucap Molly lalu bergeser ke sisi kiri hendak berjalan menuju ke kelasnya.

"Molly?" suara seseorang memanggilnya. Molly menghentikan langkah. Ia berbalik dan melihat sosok tersebut, mencoba mengingat siapa pemilik suara itu. Seorang pria dengan seragam putih dan celana biru dongker itu menatapnya sambil tersenyum.

"KAMA?" sapa Molly begitu terjekut. Pria itu tersenyum dengan kedua tangan yang masuk ke dalam saku celananya. Menganggukkan kepala.

Pria itu masih terus saja tersenyum, seolah berniat melakukan hal tersebut untuk di lihat Molly. "Hai Mol, apa kabar?" tanyanya.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Pengantin Sempurna Sang CEO: Kesepakatan dengan Iblis yang Menyamar
8.1
Leyla kerap dituduh sebagai penggoda licik yang ambisius. Namun, sebuah pernikahan mendadak dengan Colton, miliarder playboy yang baru dikenalnya, menggemparkan publik. Hubungan yang semula dikira murni transaksi bisnis tanpa cinta ini mulai berubah saat Colton memperlihatkan sisi rapuhnya di sebuah pesta. Leyla pun tersadar bahwa seluruh pertemuan hingga pernikahan mereka sebenarnya adalah skenario matang yang telah dirancang Colton sejak awal.
Sampul Novel Dusta dan Kenikmatan
8.5
Seorang gadis polos didera keraguan karena belum siap mengemban peran sebagai ibu. Di tengah kebimbangan tersebut, sang kekasih terus membujuknya dengan kata-kata manis hingga ia akhirnya menyerahkan kesuciannya. Namun setelah mendapatkan apa yang diinginkan, pria itu justru pergi dan menghilang tanpa kabar. Kini, sang gadis harus menghadapi kenyataan pahit, meratapi nasibnya yang malang sendirian akibat pengkhianatan kejam dari lelaki yang sangat ia percayai.
Sampul Novel Istri Polos sang Milyarder
8.6
Akibat ulah orang tak bertanggung jawab, Cantika tak mampu membayar biaya pengobatan ayahnya. Demi melunasi utang medis tersebut, ia terpaksa menikah sebagai istri kedua seorang miliarder dan bersedia mengandung anaknya. Namun, pernikahan impiannya justru berubah menjadi siksaan yang kejam layaknya neraka. Akankah perempuan polos ini sanggup bertahan menghadapi penderitaan tersebut, atau ia akan memilih melarikan diri demi meraih kembali kebebasannya?
Sampul Novel Kakak Ipar Rasa Pacar
7.9
Niat Nadia memberikan kejutan ulang tahun untuk Raka berujung pahit saat memergoki sang tunangan berselingkuh dengan kakak kandungnya, Tania. Pernikahan yang diimpikan pun hancur seketika. Setelah diusir dari rumah, Nadia menemui kakak iparnya, Darren, untuk membeberkan perselingkuhan tersebut. Sama-sama dikhianati, mereka sepakat bersatu demi membalas dendam. Namun, saat rencana mulai dijalankan, kedekatan mereka justru menumbuhkan benih cinta yang tak terduga.
Sampul Novel Karier Magang Putri Presdir
8.6
Hari pertama magang langsung berubah menjadi drama kantor yang kacau. Rekan kerja baru dengan percaya diri mengeklaim dirinya sebagai putri presdir, memicu aksi penjilatan dari semua staf. Sementara itu, sang protagonis justru difitnah kejam sebagai selingkuhan seorang pria tua. Merasa sangat kesal dengan tuduhan palsu tersebut, ia langsung menelepon sang presdir—yang sebenarnya adalah ayah kandungnya sendiri—untuk melaporkan situasi tidak adil ini.
Sampul Novel Luka Yang Tak Termaafkan
8.5
Tujuh tahun pernikahan Celeste Marvina hancur seketika akibat fitnah kejam Ivana Greer. Diusir tanpa sepeser pun uang oleh mertuanya atas tuduhan selingkuh, ia kehilangan segalanya. Namun dua tahun berselang, Celeste bangkit menjadi direktur teknologi yang sangat berpengaruh. Dia kembali bukan demi cinta lama, melainkan untuk merebut kembali harga dirinya dan membalas dendam. Kini, giliran Celeste yang memegang kendali penuh untuk menghancurkan para pengkhianat.