APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Misi Rahasia sang Pewaris

Misi Rahasia sang Pewaris

Demi menyelidiki perusahaannya dari dalam, Zara yang merupakan pewaris takhta bisnis memilih menyamar sebagai karyawan biasa. Di tempat kerja, ia harus berhadapan dengan Arman, sosok manajer dingin yang penuh ambisi. Konflik meruncing ketika Zara mendeteksi ancaman internal yang membahayakan masa depan bisnis keluarganya. Di tengah situasi genting ini, ia dihadapkan pada pilihan sulit: membongkar identitas aslinya demi menyelamatkan aset berharga atau tetap bertahan dalam penyamarannya.
Bab
Bagikan

Bab 3

Hari itu terasa lebih berat dari biasanya. Zara melangkah masuk ke ruang kerjanya dengan pikiran yang penuh kecemasan. Setiap kali ia mencoba mengalihkan perhatian dengan tugas-tugas harian, bayangan percakapan antara Arman dan Pak Budi terus mengganggu. Ada sesuatu yang tidak beres, dan meskipun ia berusaha untuk tetap fokus pada pekerjaannya, rasa curiga itu semakin dalam.

Namun, ada hal lain yang membuatnya semakin terjepit: Rahmat. Karyawan senior yang sudah bekerja puluhan tahun di perusahaan ini, yang selalu tampak tenang dan bijaksana.

Sejak beberapa hari lalu, ia mulai memperhatikan Zara lebih intens, seolah ada sesuatu yang ingin ia sampaikan tanpa bisa langsung diungkapkan. Zara tahu bahwa Rahmat bukan tipe orang yang terbuka dengan sembarang orang, dan ia mulai merasa bahwa ada sesuatu yang lebih besar yang sedang terjadi di dalam perusahaan ini.

Saat jam makan siang tiba, Zara duduk sendirian di ruang pantry, mencoba untuk menenangkan pikirannya. Ketika ia sedang asyik mengaduk kopi, tiba-tiba Rahmat muncul di ambang pintu. Matanya sedikit gelap, seakan ada beban berat yang dibawanya.

"Zara, bisa bicara sebentar?" Rahmat berkata dengan suara pelan, namun nada yang mengalir cukup tegas. Tanpa menunggu jawaban, ia melangkah masuk dan duduk di kursi di hadapan Zara.

Zara menatapnya bingung. "Tentu, Rahmat. Ada apa?"

Rahmat tidak langsung menjawab. Ia mengamati sekitar, memastikan tidak ada orang lain di dekatnya. Kemudian ia menatap Zara dengan serius, matanya penuh perhatian. "Aku tahu kamu baru di sini," katanya perlahan, "tapi aku rasa kamu mulai melihat ada yang tidak beres dalam perusahaan ini."

Zara terdiam. Ia tahu bahwa Rahmat bukan orang yang gampang mencurigai. Jika dia berbicara seperti ini, berarti ada hal yang lebih besar yang sedang terjadi. "Maksudmu, ada masalah dengan perusahaan?"

Rahmat mengangguk pelan. "Aku sudah lama bekerja di sini, Zara. Sudah cukup banyak hal yang aku lihat. Tapi belakangan ini, ada kebijakan-kebijakan baru yang sangat merugikan perusahaan. Dan Pak Budi... dia tidak seperti yang terlihat di luar. Aku merasa ada sesuatu yang sedang ia rencanakan, tapi tidak semua orang menyadari."

Zara merasa darahnya berdesir. Hati kecilnya mulai merasakan ketegangan yang lebih dalam. Rahmat, yang selama ini tenang dan jarang berbicara banyak, mulai menunjukkan sisi lain yang serius. Ia memandang Rahmat dengan tatapan penuh pertanyaan. "Apa yang sedang kamu katakan, Rahmat? Apa yang sebenarnya terjadi?"

Rahmat mendekatkan tubuhnya, seakan ingin memastikan bahwa hanya mereka berdua yang mendengarnya. "Pak Budi... dia mengubah banyak hal. Beberapa keputusan yang aku lihat sangat merugikan. Banyak proyek yang diambil alih, banyak orang yang dipecat tanpa alasan yang jelas. Tidak ada transparansi lagi di perusahaan ini. Aku mendengar beberapa orang di level manajemen mulai curiga dan merasa terancam."

Zara menelan ludahnya. Ia merasa terjebak dalam kebingungannya sendiri. Di satu sisi, ia sudah merasa semakin dekat dengan Arman, dan ia tahu bahwa Pak Budi mungkin memanfaatkan posisinya untuk mencapai tujuannya sendiri.

Namun, di sisi lain, ia harus memilih apakah akan mengungkapkan informasi ini atau hanya diam dan melanjutkan penyamarannya. Keputusan ini tidaklah mudah. Jika ia bicara, ia bisa saja membuka rahasia yang akan mengubah segalanya. Namun, jika ia diam, maka ia turut serta dalam permainan yang semakin gelap ini.

"Apa yang harus aku lakukan, Rahmat?" Zara akhirnya bertanya dengan suara pelan, hampir tak terdengar. "Aku tidak tahu harus memilih yang mana. Semua ini terlalu rumit."

Rahmat menatapnya dengan penuh pengertian. "Zara, aku tahu kamu baru di sini, tapi kamu harus sadar. Semua orang di perusahaan ini sudah mulai merasa ada yang salah. Aku tidak tahu bagaimana kamu bisa terlibat di dalamnya, tapi aku hanya ingin kamu tahu, kita tidak bisa terus diam."

Zara menarik napas panjang, mencoba mengatur pikirannya. "Tapi aku... Aku tidak bisa begitu saja berbicara. Semua orang yang terlibat di sini, termasuk Pak Budi, memiliki kekuatan yang lebih besar. Mereka bisa menghancurkan siapa saja yang menghalangi mereka."

Rahmat mengangguk pelan. "Aku tahu kamu takut. Tapi ada satu hal yang harus kamu ingat, Zara. Jika kamu memilih untuk diam, kamu sama saja dengan menjadi bagian dari masalah itu. Ini tentang masa depan perusahaan, dan bahkan masa depan kita semua."

Zara merasa tertekan. Perasaannya seperti terombang-ambing antara rasa takut dan kewajiban moral yang semakin menekan. Ia tahu bahwa keputusan ini tidak hanya akan mempengaruhi dirinya, tetapi juga masa depan perusahaan yang ia cintai. Tetapi apakah ia siap untuk menghadapinya?

Saat mereka berdua terdiam, suara pintu terbuka. Pak Budi muncul dengan senyum yang tampak ramah, tapi Zara bisa merasakan ada ketegangan di matanya. Rahmat langsung berdiri dan beranjak, memberikan Zara kesempatan untuk berfikir lebih dalam.

"Zara," Pak Budi menyapa dengan senyuman yang tak berubah. "Ada yang ingin aku bicarakan denganmu sejenak."

Zara menatap Rahmat sejenak, seolah meminta izin untuk melanjutkan percakapan yang belum selesai. Rahmat hanya mengangguk pelan, lalu meninggalkan ruang pantry.

Pak Budi duduk di kursi yang baru saja ditinggalkan Rahmat, masih dengan senyum yang terlihat terlalu sempurna untuk Zara. "Aku baru saja melihat laporan yang kamu kerjakan. Aku terkesan dengan hasil kerjamu, Zara."

Zara mencoba tidak terlihat cemas, meski di dalam hatinya, ketegangan itu semakin mencekam. "Terima kasih, Pak Budi. Saya hanya berusaha melakukan yang terbaik."

Pak Budi mengangguk, lalu menatap Zara dengan lebih intens. "Aku ingin mengajukan beberapa ide tentang arah perusahaan ke depannya. Mungkin kamu bisa memberikan perspektif baru, mengingat latar belakang keluarga kamu yang cukup kuat di dunia bisnis."

Zara tersentak. Suara Pak Budi terdengar penuh perhitungan, seolah-olah ia sedang menilai lebih dari sekadar kinerja Zara. "Apa maksud Pak Budi?" tanya Zara, berusaha menyembunyikan kekhawatiran dalam suaranya.

Pak Budi tersenyum lebih lebar. "Aku rasa kamu punya potensi besar, Zara. Jangan terlalu cepat menilai, semua ini untuk kebaikan perusahaan, bukan hanya untuk kepentingan pribadi."

Zara merasa matanya sedikit terbuka. Kata-kata Pak Budi yang terkesan manis itu mulai terdengar seperti ancaman terselubung. Ia tahu bahwa semuanya tidak sesederhana itu. Ada agenda besar yang sedang berjalan, dan ia mulai merasa bahwa ia berada di pusatnya-terjebak antara pilihan yang semakin sempit.

"Pak Budi," Zara mulai berbicara dengan hati-hati, "saya rasa saya masih perlu waktu untuk memikirkan semua ini lebih lanjut. Saya ingin memahami lebih banyak sebelum mengambil keputusan."

Pak Budi memandangnya dengan tatapan tajam yang menyelidik. "Tentu, Zara. Aku tahu kamu masih perlu waktu. Tapi ingat, kesempatan seperti ini tidak datang dua kali. Jangan sampai kamu melewatkannya."

Dengan kata-kata itu, Pak Budi berdiri dan meninggalkan ruang pantry, meninggalkan Zara dengan perasaan yang lebih ragu dari sebelumnya. Ketika ia mendongak, Rahmat sudah tidak ada di sana lagi. Hanya ada suara detakan jam di dinding yang terdengar seperti gema dari ketidakpastian yang semakin dalam.

Zara kembali duduk, meresapi semuanya. Ia tahu satu hal dengan pasti: masa depannya kini terikat pada keputusan yang akan ia ambil. Dan ia hanya memiliki sedikit waktu untuk memilih jalan yang benar. Namun, setiap langkah yang ia ambil bisa menjadi langkah yang akan mengubah segalanya.

Dan saat itu, sebuah pesan masuk ke ponselnya. Pesan itu datang dari Arman.

"Zara, kita perlu bicara. Ada yang penting."

Zara menatap layar ponselnya dengan jantung yang berdebar. Apa yang akan terjadi selanjutnya?

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Menikah, Tapi Bukan Untuk Dicintai
9.6
Demi melunasi utang, Lana bersedia menjalankan misi dari Valerie untuk memikat ayahnya sendiri, Cedric Vellani. Rencana ini dibuat demi menggagalkan pernikahan pria kaya raya tersebut dengan wanita oportunis. Namun, menaklukkan Cedric yang berhati dingin tidaklah mudah. Lana justru terbuai oleh pesona sang target hingga kesepakatan rahasia mereka berubah menjadi cinta terlarang. Kini, di tengah rasa dikhianati yang dirasakan Valerie, Lana terjebak dilema antara uang atau cinta palsu.
Sampul Novel Cinta di Tengah Bahaya
9.2
Saat hamil lagi, sang istri menyerahkan seluruh tabungannya demi mendukung janji Arif Ravindra untuk berubah. Namun, ia justru mendapati kenyataan bahwa suaminya adalah bos mafia kaya raya yang memalsukan kemiskinan. Atas saran sahabat kecilnya, Lina Candra, Arif memilih menguji kesetiaan istrinya sekali lagi sebelum mengungkap identitas aslinya. Mengetahui cintanya selama ini hanya dijadikan bahan ujian dan dipenuhi kebohongan, sang istri memutuskan untuk pergi dan menolak hubungan tersebut.
Sampul Novel Impian Dongengku Hancur: Pengkhianatan Kejamnya
9.3
Sembilan tahun pernikahan indah seorang arsitek hancur setelah kecelakaan merenggut ingatan suaminya, taipan Adrian Wijaya. Di bawah kendali Helena yang licik, Adrian berubah kejam: membunuh adik sang istri, melumpuhkannya, hingga merebut pita suaranya untuk Helena. Pengkhianatan ini menyulut dendam membara. Setelah memalsukan kematian, sang istri siap bangkit menghancurkan kerajaan Adrian dan membalas semua kekejamannya.
Sampul Novel Istri Kampungan Kesayangan Presdir
9.1
Demi menghidupi adik-adiknya, Santi, seorang gadis desa, memutuskan mengadu nasib di kota besar. Takdir membawanya bertemu Bima, CEO tampan berjiwa Casanova yang sering bergonta-ganti kekasih. Biasa dikelilingi kemewahan, pertahanan Bima justru runtuh saat menghadapi ketulusan dan kepolosan Santi. Perbedaan latar belakang yang kontras ini menjadi awal mula kisah cinta tak terduga di tengah riuhnya kehidupan metropolitan.
Sampul Novel Ketika Cinta Tak Mendapat Musimnya
8.7
Tujuh tahun mendampingi Navish sebagai sekretaris sekaligus kekasih rupanya tidak menjamin kebahagiaan Cassia. Pengkhianatan Navish yang bertunangan dengan wanita lain membuat Cassia hancur dan berniat mundur. Meski Navish tiba-tiba membatalkan pertunangan itu secara publik, kejutan pahit menanti Cassia di sebuah acara lelang. Alih-alih dilamar, Cassia harus menghadapi kenyataan pahit saat sosok cinta sejati Navish muncul dengan wajah yang sangat mirip dengannya. Cassia pun tersadar bahwa selama ini dirinya hanyalah pengganti.
Sampul Novel MY CEO [Hate & Love]
9.5
Tiga tahun Mayleen terjebak dalam pernikahan menyiksa bersama Gu William. Prahara ini dimulai saat sang kakak, dokter Li Jancent, melakukan transplantasi jantung ilegal dari tunangan William demi menyelamatkan nyawa Mayleen. Demi membalas dendam, William menghancurkan karier Jancent dan menyandera dirinya, memaksa Mayleen bertahan di tengah siksaan demi melindungi sang kakak. Akankah keteguhan hati Mayleen sanggup mengubah kebencian mendalam William menjadi cinta?