
Meski Lupa Ingatan, Hati Tak Bisa Bohong
Bab 3
Kring, kring, kring ....
"Halo?" Mataku sulit dibuka karena masih merasa kantuk, kepalaku pun terasa berat dan pusing.
"Maggie! Kamu lagi ngapain?" Itu suara Sachi, sahabat terbaikku. "Aku terbang tujuh jam penuh cuma buat jadi pengiring pengantin, tapi sekarang bahkan pintu hotel pun aku nggak bisa masuk!"
"Dan satu lagi, pengantinnya ternyata Yuki? Siapa itu? Kalian berdua lagi main-main sama aku ya?"
Aku langsung terbangun sepenuhnya. "Siapa yang menikah?"
"Apa maksudmu?" Sachi lebih kaget dariku. "Bukannya hari ini kamu dan Oscar menikah?"
Peluh dingin langsung membasahi punggungku. Aku segera membantah, "Oscar siapa? Kamu 'kan tahu aku ini jomblo dari dulu."
"Ya ampun, kalian sudah pacaran lima tahun. Foto prewedding kalian bahkan digantung di tembok rumahmu!" Sachi merasa frustrasi.
Aku cepat-cepat bangun dari tempat tidur dan mulai mencari di sekeliling kamar. Tidak ada apa-apa. Tidak ada satu pun barang milik pria.
"Yang di tembok itu fotoku sendiri." Aku menjawab tanpa daya. "Tempat tidurku bahkan tempat tidur single."
"Mana mungkin!" seru Sachi. "Tunggu di rumah, aku ke sana sekarang!" Dia langsung menutup telepon.
Begitu masuk ke rumahku, dia langsung memarahiku habis-habisan, menuduhku pura-pura amnesia untuk menakutinya. Namun, setelah dia melihat isi kamar dengan jelas, dia juga terdiam. Mulutnya terus bergumam, "Nggak mungkin ...."
"Akan aku buktikan!" Sachi tiba-tiba ingat saat menemaniku dan Oscar pemotretan prewedding, dia sempat mengambil beberapa foto dan mengunggahnya ke media sosial.
Dalam foto itu, aku mengenakan gaun pengantin warna putih, menggandeng seorang pria tampan dengan kacamata berbingkai emas yang mengenakan jas hitam. Kami berdua tampak tersenyum bahagia.
Aku tertegun. Aku sama sekali tidak mengenal pria tampan di foto itu. Tidak ada satu pun ingatan ataupun emosi yang terhubung dengannya. Namun, entah kenapa, air mata menetes begitu saja di sudut bibirku.
Saat aku mengangkat tangan untuk menghapus air mata itu, tiba-tiba sebuah pemikiran muncul di kepalaku. "Sachi! Apa mungkin aku punya saudara kembar yang terpisah sejak lama? Mungkin ... mungkin adik kembarku yang akan menikah?"
Sachi tampak benar-benar pasrah. "Kamu berantem sama dia ya?"
Aku mulai panik. "Kamu masih nggak percaya? Aku benaran nggak kenal siapa itu Oscar!"
Sachi mengamatiku, ekspresinya semakin serius. "Jangan-jangan kamu benaran hilang ingatan. Apa baru-baru ini kepalamu terbentur?"
Dia buru-buru mengambil ponselku dan mencari kontak Oscar, tetapi dia tidak menemukan nama itu.
Akhirnya, dia menggunakan ponselnya sendiri dan menelepon Oscar. Begitu tersambung, terdengar suara lembut dari seberang. "Halo?"
"Oscar, ada apa sih? Maggie bilang dia nggak kenal kamu! Dan sekarang kamu malah menikah sama wanita lain?" Sachi langsung menyerangnya dengan pertanyaan.
Pria di ujung sana diam selama dua detik, lalu menjawab dengan nada kaku, "Maaf ... ini siapa ya?"
Sachi langsung naik pitam. "Oscar! Kamu kira kamu aktor? Pandai sekali bersandiwara! Masa kamu nggak kenal suaraku?"
"Maaf, salah sambung ...." Sebelum Oscar selesai berbicara, terdengar suara perempuan lemah dan batuk keras dari seberang. "Kak, siapa?"
Oscar terdengar gugup, buru-buru menjawab, "Bukan siapa-siapa ... salah sambung saja."
Sebelum Sachi sempat membalas, sambungan telepon sudah diputuskan.
"Ada yang nggak beres." Sachi langsung berlari keluar. "Tunggu aku di rumah. Aku akan cari tahu apa yang sebenarnya terjadi."
Dia bersikeras ingin mengungkap kebenaran, sementara aku sama sekali tidak punya semangat. Aku memang tidak pernah tertarik pada orang asing.
Anda Mungkin Juga Suka





