
Mereka Menyesal Setelah Aku Menikah
Bab 4
"Kirana, kamu benar-benar bisa melakukan apa saja demi harga dirimu yang menyedihkan itu."
"Kalau kamu memang begitu ingin menikah, bagaimana kalau langsung pilih salah satu pria di tempat ini buat kamu nikahi?"
Donny pura-pura berbaik hati memberikan saran. Namun, aku tahu jika dia sengaja melakukannya untuk mempermalukanku.
Detik berikutnya, Donny mengambil mikrofon dan berkata kepada semua orang di tempat itu, "Kirana Atmaja, putri sulung Keluarga Atmaja, sedang mencari suami saat ini juga."
"Asal laki-laki, boleh langsung daftar. Kalau ada yang cocok, bisa langsung digelar pernikahannya sekarang juga."
"Ada yang mau coba? Bu Kirana ini sangat setia dan penuh cinta. Dia sudah mengejarku tanpa henti selama bertahun-tahun."
Para tamu mulai ramai berbisik-bisik. Bahkan, ada yang mengeluarkan ponsel untuk memotret.
Wajahku terasa panas. Aku menggigit bibir bawahku dengan rasa terhina.
Aku memang pernah mengejar Donny selama bertahun-tahun. Namun, Donny selalu menerima semua perlakuan baikku dan hanya memberikan jawaban yang tidak jelas.
Berkali-kali dia menginjak-injak ketulusanku.
Angin dingin bertiup melewatiku.
Dari hati sampai tubuhku terasa dingin membeku.
Benar-benar ada orang yang menanggapi perkataan Donny dan menyatakan ingin menikahiku.
Donny membawa seorang pria naik ke atas pelaminan. Usianya sekitar 40 sampai 50 tahun, bahkan terlihat lebih tua dari ayahku.
Dia tersenyum mesum dengan deretan gigi kuningnya.
"Bu Kirana memang berkulit putih dan cantik, ya?"
Haris dan Bayu mendorongku sambil berteriak-teriak ke arah pria itu.
Aku merasa begitu mual sampai tidak bisa berkata apa-apa.
Melihatku yang tidak tahu diri, Bayu pun berkata, "Ini kan lebih cepat daripada kamu menyewa aktor. Cepat nikah saja, jangan mempermalukan Keluarga Atmaja lagi."
Tasya juga ikut bicara, "Kak Kirana, jangan bikin keributan lagi. Kami sudah pilihkan yang terbaik untukmu. Apa lagi yang membuatmu nggak puas?"
Aku menatap orang-orang munafik itu sambil mengepalkan tinju.
"Urusan pernikahanku, bukan hak kalian untuk memutuskan."
Tiba-tiba aku teringat, jika aku baru saja mendaftarkan pernikahan kemarin. Saat ini, buku nikah itu ada di tas pernikahanku.
Aku buru-buru melangkah maju, mengambil tas, mengeluarkan sebuah buku merah dari dalam tas itu, membukanya, lalu melemparkannya ke hadapan mereka.
"Ini buku nikahku dengan suamiku. Sudah kubilang, dia cuma belum datang saja."
Bayu tertegun untuk sesaat. Wajahnya menunjukkan ekspresi aneh, lalu setelah kembali ke akal sehatnya, dia tertawa terbahak-bahak.
"Kirana, aktingmu benar-benar total, ya?"
"Kamu tahu siapa pria dalam foto ini? Berani-beraninya kamu mengedit fotonya jadi suamimu?"
Donny juga mengambilnya dan melihatnya sekilas.
Semua orang yang hadir tertawa mengejek.
"Kamu cari lokakarya mana untuk bikin buku nikah palsu ini? Bahkan, hasil edit fotonya pun nggak masuk akal. Itu kan Pak Ferdy dari Grup Fauzan? Kemarin, aku masih minta waktu untuk bertemu dengannya demi membahas kerja sama."
"Dia bilang, dia baru saja menikah dan sedang sibuk menemani istrinya."
"Kamu bilang itu suamimu? Benar-benar bikin orang ketawa ngakak."
Aku teringat kemarin. Pria itu memang menemaniku mencoba gaun pengantin seharian. Ponselnya terus berdering. Aku dengan penuh pengertian menyuruhnya pergi terlebih dahulu untuk bekerja. Namun, dia bersikeras ingin menemaniku sampai selesai.
Kemudian, Tasya menatapku dengan tatapan iba. "Kak Kirana, mencintai tapi nggak bisa memiliki itu bukan salahmu. Tapi, kalau kamu malah memaksakan diri untuk mengarang skenario dan berakting sendiri, itu cuma akan membuatmu terlihat seperti seorang badut."
Tito akhirnya tidak tahan lagi. Dia naik ke atas pelaminan, menarik tanganku dan menyeretku turun dari pelaminan.
"Cukup, Kirana. Kamu masih belum merasa cukup mempermalukan diri hari ini?"
Akan tetapi, Donny malah menarik tanganku, tidak membiarkanku pergi.
"Bukankah kamu bilang dia sudah hampir sampai?"
"Apa kami nggak boleh melihat pengantin pria yang legendaris itu? Kalau begitu, bukankah kedatangan kami hari ini jadi sia-sia?"
Bayu dan Haris juga menahan dan menarikku agar tidak pergi. Dalam dorong-mendorong itu, aku nyaris terjatuh dari tangga pelaminan.
Tepat di saat aku mengira aku akan jatuh tersungkur seperti orang yang benar-benar malu total dan kehilangan sisa-sisa harga diriku hari ini ….
Seorang pria memelukku erat-erat. Aroma kayu pinus yang segar dan harum menyelimutiku.
"Maafkan aku, Sayang. Aku terlambat."
Anda Mungkin Juga Suka





