APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Menjaga Kesucian Untuk Wanita Lain

Menjaga Kesucian Untuk Wanita Lain

Menjelang hari pernikahan, sebuah rahasia besar terungkap. Komitmen Damar selama lima tahun tanpa hubungan fisik ternyata bukan demi menjaga kondisi jantung kekasihnya, melainkan demi kesetiaannya pada sang mantan, Sinta Lestari. Mengetahui pernikahan ini hanyalah amanah wasiat mendiang ayahnya dan Damar telah membangun hidup baru bersama Sinta, sang protagonis mengambil langkah drastis. Ia menukar posisi pengantin wanita dengan Sinta, menjual seluruh sahamnya, lalu pergi ke luar negeri untuk berobat.
Bab
Bagikan

Bab 3

"Aku ... aku tanda tangan."

Dengan susah payah, aku memaksakan kata-kata itu keluar dari mulutku. Demi tetap hidup, aku harus berkompromi dengannya. Begitu aku mengiyakan, ekspresi Damar pun mulai melunak.

Dia menuangkan segelas air hangat, menyuapkan obat ke mulutku, bahkan menyiapkan sebutir permen dengan "penuh perhatian". Aku tidak peduli pada belas kasihan palsunya.

Begitu obat kutelan dan tubuhku mulai sedikit membaik, aku langsung bergegas ke lantai yang penuh pecahan kaca. Kesedihan yang kutahan sejak tadi akhirnya tumpah.

Dengan tangan gemetar, aku memunguti potongan-potongan foto yang sudah hancur berkeping-keping. Lalu dengan hati-hati, kuambil kantong kecil dari koper dan memasukkannya ke dalam sana.

Ibuku meninggal saat aku masih kecil. Penyebabnya karena penyakit jantung bawaan yang kambuh lagi. Waktu itu ayahku baru saja memulai usaha dari nol. Dia tidak punya cukup uang untuk menyembuhkan ibu. Sampai akhir hayatnya, ayah selalu merasa sangat bersalah pada ibu.

Kemudian, saat rumah sakit mendiagnosaku mewarisi penyakit yang sama, ayah pun mulai bekerja siang dan malam tanpa henti. Semua itu agar aku bisa memiliki tubuh yang sehat. Sebagai bentuk penebusan, sekaligus kompensasi.

Sayangnya, hidup tak pernah sejalan dengan harapan. Karena beban kerja yang terlalu berat, ayah pun akhirnya tumbang. Sebelum wafat, dia memercayakan perusahaannya kepada tangan kanannya di dalam manajemen. Dia meminta orang itu untuk menjagaku dengan imbalan berupa saham dan kekuasaan penuh atas perusahaan.

Orang itu adalah Damar. Beginilah cara dia menjagaku.

Melihat aku dilanda kesedihan, dia masih saja melontarkan sindiran tanpa rasa bersalah. "Cuma foto-foto saja, apa perlu sampai segitunya?"

Aku menyimpan potongan foto itu dengan hati-hati, lalu menatapnya lagi tanpa ekspresi. "Semasa hidup, ibuku nggak suka berfoto. Ayah sibuk bekerja. Itu satu-satunya foto kami bertiga bersama."

Wajah Damar mendadak terdiam dan bibirnya menegang. "Kamu nggak bilang."

Pandangan dinginku menyapu dirinya. Aku tidak ingin berdebat lagi. Namun tampaknya, dia tidak tahan melihat sikapku yang datar. Dia tiba-tiba menarikku dari lantai dan menyeretku ke tempat tidur di kamar.

Melihat aku menundukkan kepala tanpa lagi memandangnya, Damar tampaknya mulai sadar bahwa tindakannya barusan memang keterlaluan. Dia mengulurkan tangan hendak menyentuh pipiku, mungkin berniat menghiburku. Namun baru saja tangannya terangkat, sudah kutepis keras.

Wajahnya langsung menggelap. Dia pun tidak lagi mencoba membujuk. Dalam pikirannya, mungkin aku hanya sedang bersikap manja.

Dia kembali menyodorkan surat pemindahan aset beserta pulpen ke hadapanku. "Tanda tangan. Nanti aku ajak kamu perbaiki foto itu."

Kali ini, aku tidak lagi berdebat dengannya. Aku hanya mengambil pulpen dengan diam dan menuliskan namaku di kontrak itu dengan tenang. Sikapnya yang memberikan hukuman dulu, lalu memberi penghargaan ini ... benar-benar menjijikkan.

Padahal kalau dia berbicara baik-baik sejak awal, aku pasti tetap akan menandatanganinya. Lagi pula, aset-asetku sudah kupindahkan ke luar negeri sejak awal. Yang dia dapatkan hanyalah kontrak kosong.

Aku hanya tidak menyangka Damar sampai menggunakan cara seekstrem ini. Apa dia tidak tahu, bahwa kontrak yang ditandatangani di bawah tekanan atau paksaan dapat dianggap tidak sah secara hukum?

Ketika dia menyinggung soal pernikahan, aku baru sadar akan maksud sebenarnya. Mata penuh perhitungan itu begitu jelas, tapi mulutnya masih saja bicara dengan nada seolah-olah penuh cinta.

"Besok kita menikah. Gimana kalau hari ini kita langsung urus surat nikahnya? Dengan begitu, kamu resmi jadi istriku."

Aku menatap matanya, langsung menyingkap maksud busuk di balik ucapannya. "Supaya setelah sah menikah, semua tindakanmu bisa disebut masalah keluarga, begitu?"

"Kamu masih marah ya?" Damar mengerutkan kening. Dia memang tidak pernah suka saat aku membantahnya.

"Aku cuma kesal karena kamu nggak sepemikiran denganku. Lagi pula, setelah menikah uangku akan jadi uangmu juga. Kenapa cuma tanda tangan saja kamu bersikap seolah nyawamu yang diambil? Kalau kamu memikirkanku sedikit saja, kamu nggak akan menjual saham itu diam-diam!"

"Sebagai pasangan suami istri, kita seharusnya satu kesatuan. Kamu malah sembunyi-sembunyi, seolah-olah mau menelan harta sendiri. Jadi wajar dong kalau aku kasih kamu sedikit hukuman."

Aku ingin membantahnya, tapi Damar justru memaksakan diri membelai rambutku dengan lembut, lalu memegangi wajahku dan menatapku dalam-dalam seakan-akan tulus. "Aku 'kan nggak benar-benar membiarkan kamu mati. Jadi ini salahmu."

Mendengar kalimat itu, semangatku langsung hilang. Aku terbaring lemas di tempat tidur, bahkan untuk bertengkar pun rasanya tidak ada tenaga. Kenapa dulu aku tidak pernah menyadari bahwa dia bisa sebegitu tak tahu malu?

Dulu, saat kami baru kenal, dia sangat baik padaku. Dia selalu menemaniku bolak-balik ke rumah sakit, keluar rumah membelikan obat saat hujan deras, dan bahkan saat dia sibuk sekalipun, dia pasti akan datang setelah kutelepon.

Ditambah lagi ayahku sangat menghargainya, membuatku memiliki rasa percaya dan simpati sejak awal. Namun setelah semua tentang perselingkuhannya terbongkar, rasanya aku langsung tersadar sepenuhnya.

Sikap Damar yang semakin kasar padaku ternyata bermula sejak aku mulai terus-menerus mengalah. Tujuannya sejak awal pun sudah jelas ingin mengincar semuanya dariku. Melihatku diam dan tak bersuara, Damar akhirnya tampak mulai jengkel.

"Kalau kamu nggak mau ngurus surat nikah sekarang, ya sudah. Tetap di sini sampai hari pernikahan nanti, baru boleh keluar."

Aku tidak langsung paham maksud ucapannya. Sampai akhirnya dia keluar dari kamar dan pintu dikunci dari luar. Aku langsung bangkit dari tempat tidur dan bergegas ke pintu.

Gagang pintu berguncang hebat saat kutarik dengan kuat. Perasaan panik dan gelisah menyesaki dadaku.

"Damar! Kamu takut aku laporin kamu, makanya kamu ngurung aku, ya?! Aku nggak akan melaporkan kamu, tolong buka pintunya! Lepaskan aku keluar!"

Penerbanganku akan segera terlewatkan kalau aku terus terkurung di sini. Aku tidak mau membuang waktu lebih lama lagi, apalagi berpura-pura manis terhadap pria sepicik dia.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Altair Onder de
9.4
Akibat campur tangan dewa yang menukar tubuh mereka tanpa izin, Altair dan Claretta terjebak dalam situasi ganjil. Rasa murka Altair meredam saat melihat Claretta menangis merindukan kehangatan seorang ibu. Di tengah embusan angin dan guguran kelopak bunga, mereka saling memahami luka masing-masing. Keduanya pun sepakat menerima takdir baru ini. Altair melepas identitas lamanya, sementara Claretta berjanji merawat ibu Altair dengan tulus sebelum cahaya memisahkan mereka selamanya.
Sampul Novel Antara Sahabat dan Cinta
9.5
Lima tahun bersahabat sejak SMP, hubungan erat Rania, Ray, dan Gia kini menghadapi ujian berat di kelas tiga SMK. Di tengah kepungan tawa dan air mata khas remaja, perasaan cinta yang lama terpendam mulai mengusik kebersamaan mereka. Mitos bahwa persahabatan lawan jenis tak pernah murni tanpa rasa asmara seolah menjadi nyata. Kini, mereka dihadapkan pada pilihan sulit: menyatakan cinta dengan risiko merusak geng, atau tetap diam selamanya.
Sampul Novel Cinta Lama yang Membawa Duka
9.7
Demi menemui cinta pertamanya tanpa dicurigai, seorang suami tega memanfaatkan putra kandungnya yang berusia enam tahun sebagai kedok. Namun, keputusan egois itu berujung petaka saat sang anak disuruh membeli salep luka bakar dan tewas ditikam orang asing di jalan. Di tengah kedukaan mendalam Susi yang menangisi kematian putranya, sang suami justru menelepon dengan penuh amarah. Dia menuduh sang anak telah melukai selingkuhannya dan menuntut bocah yang telah tiada itu segera pulang untuk meminta maaf.
Sampul Novel Love Me Om
9.4
Demi orang tua, Lala terpaksa menerima perjodohan dengan Ray yang berperangai kasar. Namun, segalanya berubah setelah pesta lajang di vila Daniel. Pertemuan tersebut membangkitkan kembali rasa cinta lama Lala pada Daniel hingga mereka hanyut dalam keintiman. Kasih sayang Daniel menyadarkan Lala untuk memperjuangkan kebahagiaannya sendiri dan membatalkan pernikahan. Akankah Ray melepasnya begitu saja, dan mampukah Daniel menyambut cinta tulus Lala?
Sampul Novel Mengandung Anak Tuan Serigala
8.6
Dunia Fang Yi Lan, mahasiswi kedokteran jenius, runtuh saat memergoki pacarnya berselingkuh dengan adik tirinya. Alih-alih dilindungi, sang ayah malah memaksanya menikahi pria hidung belang. Yi Lan memilih kabur dan tidak sengaja menemukan pria tampan yang terluka parah. Saat tak sadarkan diri, pria itu berubah menjadi serigala hitam. Meski ketakutan, insting medis Yi Lan tetap menolongnya. Namun, serigala itu justru menandai lehernya dan menyerang Yi Lan demi memperoleh keturunan.
Sampul Novel Puncak Nafsu Ayah Mertua
7.9
Aku masih menatap tubuh tegapnya, otot dadanya bergerak seirama napas berat. Kulitnya mengilat memanggil jemariku, membuat tubuhku bergetar hanya dengan memandang. Saat dia mendekat, aura panas menyapu seluruh tubuh. Tangannya menyentuh pahaku, membuka kakiku pelan. Aku menahan napas—tubuhku sudah siap sebelum dia benar-benar menyentuhku. Bibirnya mendarat di perutku, menggoda, lalu naik perlahan. Dadaku menunggu. Ciumannya hangat dan basah, lidahnya melingkar di putingku dengan gerakan lambat. Aku mencengkeram sprei, desahku memenuhi ruangan. Dia berbisik, menyedot kuat hingga aku mengerang. Setiap jilatan terasa seperti aliran listrik. Aku tak sanggup menahannya lagi. 'Jangan berhenti,' bisikku, sementara dia tertawa pelan dan semakin dalam, membuatku lupa segalanya.