APKDock Logo
Sampul Novel Menikahi Suami Sahabatku

Menikahi Suami Sahabatku

8.0 / 10.0
Demi wasiat mendiang Kartika, Azriya Aurora bersedia menikahi Gavriel Erlando. Namun, keputusan ini membawanya ke dalam pusaran penderitaan. Ia harus mengasuh dua anak tiri yang mendakwanya sebagai pembunuh, sekaligus menghadapi kelicikan mertuanya. Puncaknya, Azriya diusir akibat fitnah keji. Di tengah keterpurukan, ia mengendus keterlibatan kakak iparnya dalam konspirasi gelap Keluarga Erlando. Sanggupkah Azriya bertahan mengungkap misteri ini, ataukah ia memilih menyerah?

Menikahi Suami Sahabatku Bab 1

Denting alat medis yang berada di ruangan putih ini semakin membuat telinga berdengung. Apalagi di ranjang tersebut tengah terbaring tubuh lemah seorang wanita muda. Peluh keringat terus membasahi pelipis seorang Dokter cantik yang bertugas di sana, bola mata hitam itu menatap layar yang menunjukkan denyut jantung yang tidak beraturan. Dalam hatinya, ia terus berdoa agar keajaiban segera datang.

"Ayolah, Kartika. Austin dan Adolf masih kecil, dia masih butuh kamu," ucapnya pelan.

Sekuat mungkin kelopak mata itu menahan luapan cairan bening yang hampir menetes, juga hatinya yang terus menjerit memanggil nama Kartika, sahabatnya.

"Dokter, tekanan darahnya naik!" seru salah satu perawat.

'Gawat! Ini bisa berakibat fatal pada jantungnya. Oh, Tuhan ... tolong selamatkan sahabatku,' batin Dokter muda tersebut.

Ia terus beradu dengan banyak alat dan suntikan obat, hingga beberapa menit kemudian keajaiban berkenan memihak kepadanya. Perlahan , layar monitor itu menunjukkan perubahan. Hingga lambat laun Kartika mulai meraih kesadaran.

"Azriya ...."

"Iya, Ka. Ada yang sakit? Atau kamu mau bertemu suamimu? Aku akan memanggilkan nya."

Kartika hanya mengangguk, sehingga Azriya lantas beranjak keluar.

Ceklek!

"Kartika gimana, Riya?!" tanya Gavriel, suami Kartika.

Sorot matanya memandang penuh harap kepada gadis berwajah cantik dengan setelan jas putih tersebut. Beberapa kali Azriya juga tampak menghela napas kasar.

"Aunty Azriya, Mommy ku mana? Kata Daddy, Mommy lagi di dalam sama Tante, kok Tante keluar sendiri? Nggak sama Mommy?" tanya Austin.

Putra pertama Kartika itu sangat pintar, bocah berusia enam tahun tersebut begitu lucu dan polos. Ah, hampir saja Azriya mengeluarkan air mata kala menatap wajah yang sangat mirip dengan sahabatnya itu.

"Syukurlah, Kartika sudah sadar. Dia berhasil melewati masa kritisnya, dan dia ingin bertemu dengan Anda, Pak," ucapnya sembari menatap Gavriel.

Lelaki tampan itu langsung mencium kening putranya, dengan suara pelan ia mengatakan akan menemui sang Mommy di dalam. Baru setelahnya Gavriel mengekor di belakang Azriya memasuki ruangan berbau obat itu.

"Sayang, gimana keadaan kamu? Apa yang kamu rasakan?" tanyanya sembari menggenggam erat jemari lentik istrinya.

"Dad ... maaf."

"Nggak, kamu jangan minta maaf. Kamu juga jangan memikirkan apa-apa dulu, aku cuma mau kamu sembuh. Sudah, itu saja."

Azriya melihatnya sambil sesekali mengecek detak jantung Kartika, beruntung semuanya normal. Namun, saat ia meletakkan telapak tangan pada kaki sahabatnya tersebut, entah kenapa rasanya sangat dingin. Bahkan dirinya sudah tidak menghiraukan pembicaraan antar dua kekasih tersebut.

Dengan perlahan, Azriya menaikkan telapak tangan hingga sampai pada betis. Sungguh! Bahkan ini rasanya lebih dingin dari pada es. Gegas ia menekan tombol yang berada tepat di sisi ranjang Kartika, hingga beberapa saat kemudian Dokter Andreas kembali masuk.

"Tuan, maaf. Tapi kami harus melakukan pengecekan lagi kepada pasien," ucap Andreas.

"Ada apa memangnya, Dokter?"

Andres mengalihkan pandangannya kepada Kartika yang sudah mendongak ke atas, pupil mata itu hampir tenggelam, dan terdengar suara dengkuran lirih dari mulutnya. Gavriel juga menyaksikan hal itu, tetapi ia hanya bisa menggeleng seolah menolak kejadian di depannya.

"Kami tidak bisa menjelaskan sekarang, Tuan. Tapi ini genting sekali!"

Alhasil Gavriel beranjak keluar, setelahnya Azriya membantu Andreas melakukan penanganan kepada Kartika. Raut tegang itu bersamaan dengan tubuh Kartika yang semakin mengejang.

Hingga sudah hampir satu jam, keadaan Kartika semakin parah. Wanita berwajah pucat itu antara sadar dan tidak, tetapi mulutnya terus memanggil-manggil suaminya.

"Panggilkan saja suaminya, Dokter!" ucap Andreas.

"Baik," sahut Azriya.

Dokter muda itu berlari ke arah luar dan meminta Gavriel masuk. Entah sebuah kebetulan atau bukan, tetapi Kartika langsung meraih kesadarannya. Mungkin, inilah yang dinamakan kekuatan cinta.

"Dad ... a-aku, aku punya permintaan," ucap Kartika dengan suara lirih.

"Apa, Sayang? Kamu mau apa, hem?"

"Waktuku sudah tidak banyak lagi, kasihan Austin dan Adolf. Aku ... aku juga nggak tega meninggalkan kamu sendirian."

"Kamu bicara apa, Ka?! Waktu apa? Kamu itu akan sembuh. Kalau kamu kasihan sama kami, berarti kamu harus sembuh!"

Kartika menggeleng, ia lantas menggenggam erat tangan suaminya.

"Carilah Mommy baru untuk Austin dan Adolf, Dad. Aku nggak bisa menemani anak-anakku, setidaknya mereka jangan sampai kehilangan kasih sayang."

"Kamu bicara apa, Kartika!"

Semua mata lantas mengalihkan pandangannya melihat pemandangan pilu tersebut. Bagaimana bisa ada wanita setulus ini? Bahkan di akhir hayatnya yang ia pikirkan adalah kebahagiaan orang lain.

"To-Tolong ...."

Gavriel terus menggelengkan kepala dengan air mata yang tiada henti menetes. Beberapa detik kemudian, Kartika mengalihkan pandangannya kepada Azriya. Tangan lemah itu berusaha menggapai jemari sahabatnya, hingga membuat Azriya tersentak.

"Tolong jaga anak-anakku, Azriya. A-Aku nggak bisa mempercayai orang lain selain kamu. Tolong ...."

"Kamu akan menjaga mereka sendiri. Kamu akan sembuh, Ka."

"Aku sudah nggak kuat. Tolong jaga anakku, a-aku titip Austin dan Adolf."

Hanya itu yang terus Kartika gumamkan, ia terus meminta Azriya menjaga kedua putranya. Hingga akhirnya Azriya mengangguk lantaran tidak tega.

"Menikahlah dengan Azriya, Dad. Dia gadis yang baik, dia akan menjaga anak-anakku dari marabahaya," pinta Kartika untuk yang kesekian kalinya.

"Kamu ngomong apa, Ka?! Nggak! Aku nggak mungkin mengkhianati kamu!" pekik Gavriel.

"Bukan, ini bukan pengkhianatan. Ini adalah permintaan terakhirku, Dad. Tolong ...."

"Jangan siksa aku, Ka ...."

"Tolong, Dad!" ucap Kartika dengan penuh penekanan.

Hingga hampir lima menit Gavriel meraung pilu dalam tangisnya, akhirnya lelaki itu mengangguk pasrah. Kartika yang melihat suaminya menganggukkan kepala lantas tersenyum senang, dan meminta ijab qabul dilaksanakan sekarang juga di hadapannya.

Andreas yang merupakan Kakak kandung Azriya, langsung mengambil alih menjadi wali adik semata wayangnya tersebut. Dokter tampan itu langsung menjabat tangan Gavriel dan melantunkan ijab qabul, hingga keduanya sah secara agama dengan mahar sebuah cincin pemberian Kartika.

"Argh ...!"

Kartika memekik hebat dengan napas yang semakin tersendat. Monitor detak jantung tersebut semakin menunjukkan grafik tidak beraturan. Sampai pada akhirnya alat canggih itu hanya menunjukkan garis lurus.

"Tidak ... ini nggak mungkin!" pekik Azriya.

"Ada apa?!" tanya Gavriel yang tidak dihiraukan oleh siapapun.

"Dokter! Tolong Kartika!" teriaknya kepada Andreas.

Andreas langsung mengambil alat kejut jantung dan mengoperasikannya. Bibirnya terus bergumam mengumandangkan doa untuk kesembuhan pasiennya, tetapi takdir berkata lain. Tubuh Andreas sontak melemas, ia menggelengkan kepala menatap sendu kepada Azriya.

"Maaf ... Tuan Gavriel, Nona Kartika dinyatakan meninggal pada pukul sepuluh pagi waktu Indonesia bagian barat, setelah mengalami gagal jantung."

Deg!

Gavriel luruh ke lantai dengan tangis yang langsung pecah. Raungannya terdengar pilu, bahkan sangat menyayat. Ia terus mengguncang tubuh kaku istirnya, tetapi mata indah itu tetap enggan terbuka.

***

Sore hari.

Rintik hujan membasahi area pemakaman, tetapi Gavriel tetap enggan beranjak dari pusara sang istri. Ia terus memeluk nisan bertuliskan nama Kartika itu dengan luapan air mata yang kian deras.

"Hujannya semakin deras. Kamu tidak mau pulang?" tanya Azriya.

Hening! Sama sekali tidak ada jawaban dari lelaki itu.

"Gav, Austin dan Adolf sudah menunggu di mobil."

"Andaikan kau tidak menyetujui permintaan Kartika, pasti dia masih hidup! Pergilah ... aku tidak butuh kau menungguku."

Deg!

Lanjut Membaca

Daftar Isi Menikahi Suami Sahabatku

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel Bidadari Untuk Tuan Mafia
9.3
Silvana Aramazd, gadis lembut bercadar yang terbiasa hidup tenang, harus menikahi Don Vincent Corleane. Pernikahan ini bukan sekadar perjodohan bagi sang pemimpin mafia yang kejam, melainkan jalan keluar dari dunia hitam yang kelam. Di sisi lain, persatuan mereka menjadi kunci untuk menguak misteri di balik kematian orang tua Silvana. Mampukah Silvana bertahan mendampingi Vincent di tengah benturan dua dunia mereka yang jauh berbeda?
Sampul Novel Mati Untuk Hidup
9.6
Saat mengembuskan napas terakhir akibat kanker stadium akhir di rumah sakit, wanita ini justru menghadapi kenyataan pahit dari keluarganya. Tepat di hari ujian universitas anaknya selesai, sang suami malah memeluk mantan kekasihnya di hotel dan berjanji akan menyingkirkannya. Di tempat lain, anaknya mabuk di bar sambil mengeluhkan sikap protektif ibunya, sementara sang mertua sibuk menjelek-jelekkannya kepada tetangga. Kini, tanpa ada lagi bantahan darinya, mereka semua akhirnya mendapatkan kebebasan yang mereka impikan.
Sampul Novel SAMANTHA
8.7
Menjalin kasih sejak kelas sepuluh, hubungan Samuel dan Anantha mulai retak di tahun kedua. Kesibukan Samuel memimpin OSIS membuat jarak di antara mereka, sementara Anantha sibuk menyembunyikan kariernya sebagai novelis daring. Keadaan kian memburuk dengan kemunculan Viola, sahabat kecil Samuel yang kini menyita seluruh fokusnya. Merasa dikesampingkan dan dikhianati oleh prioritas baru sang kekasih, Anantha kini dihadapkan pada pilihan sulit: bertahan atau menyudahi asmara mereka.
Sampul Novel Sebuah Penyesalan
8.4
Steven Alessio terpikat sosok wanita asing hingga terperosok dalam misteri pembunuhan istrinya sendiri. Bertekad menuntut balas, ia justru terjerat dalam pusaran keluarga wanita itu. Di tengah situasi tersebut, Steven terpaksa menyaksikan satu demi satu aib serta rahasia kelam keluarganya terbongkar. Lewat rentetan aksi dan ketegangan, ia tiba pada titik balik menyakitkan yang memaksanya menghadapi arti penyesalan terdalam.
Sampul Novel Tingkat Nol Cinta
9.7
Aturan ketat di firma NCA melarang keras hubungan asmara demi melindungi rahasia kekuasaan. Lucía Vega dan Bruno Ortega, dua agen profesional yang terbiasa hidup tanpa privasi, terjebak dalam sistem dingin ini. Namun, percikan cinta yang tak terduga muncul di antara mereka. Kini, keduanya dihadapkan pada pilihan sulit: tetap patuh pada regulasi perusahaan atau nekat mengejar asmara yang mengancam karier mereka di tengah pengawasan yang sangat ketat.
Sampul Novel Yang Kucintai adalah Duri
9.3
Rumah tangga dalam novel Yang Kucintai adalah Duri menyimpan rahasia kelam. Sang istri, yang diam-diam telah sembuh dari kebutaan, berpura-pura tidak tahu saat menemukan kamera pengawas di rumahnya. Suatu hari, ia bersembunyi di lemari dan menyaksikan suaminya membawa selingkuhan. Meski suaminya membela dirinya dari hinaan wanita itu, sang istri yang telanjur kecewa memutuskan keluar dari persembunyian, menghubungi kakaknya, dan setuju untuk pergi ke luar negeri.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan