APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Menikahi Ayah Kekasihku

Menikahi Ayah Kekasihku

Celeste terpaksa menikahi taipan berkuasa, Dominic Mercer. Namun, pernikahan ini menjadi mimpi buruk saat ia menyadari bahwa suami barunya adalah ayah kandung Adrian Mercer, pria yang menjadi kekasih rahasianya selama tiga tahun. Kini Celeste terjebak dalam dilema besar di rumah tangga barunya yang dingin. Ia harus memilih antara jujur atau terus bungkam. Jika rahasia ini tercium oleh Dominic yang kejam, bahaya besar siap menghancurkan hidup Celeste dan Adrian.
Bab
Bagikan

Bab 3

Malam itu, Celeste terbaring di ranjang luas yang kini menjadi miliknya-ranjang yang seharusnya menjadi simbol kebanggaan sebagai istri Dominic Mercer. Namun, bagi Celeste, tempat ini lebih terasa seperti jeruji besi yang mengurungnya dalam pernikahan yang tidak diinginkannya.

Langit-langit kamar yang tinggi tampak begitu jauh, seolah-olah mengingatkannya betapa kecil dan tak berdayanya ia di dalam dunia yang kini harus ia jalani.

Pikirannya terus melayang pada tatapan Adrian sebelum ia pergi-tatapan penuh luka, penuh kekecewaan. Apakah ia kini membencinya? Ataukah Adrian masih berharap ia akan berubah pikiran?

Ketukan pelan di pintu membuatnya tersentak.

Celeste menegakkan tubuhnya dengan gugup. Ia tahu hanya ada satu orang yang bisa datang ke kamarnya pada malam seperti ini.

Benar saja, saat pintu terbuka, Dominic berdiri di ambang pintu.

Pria itu masih mengenakan kemeja putihnya, dengan lengan yang tergulung hingga siku. Rambutnya tampak sedikit berantakan, tetapi ekspresinya tetap tajam dan penuh kendali.

Celeste menggenggam selimutnya erat. "Apa kau membutuhkan sesuatu?"

Dominic menutup pintu dengan perlahan sebelum berjalan mendekat. Ia tidak langsung menjawab, hanya mengamatinya dalam diam, seperti sedang menilai setiap ekspresi yang melintas di wajahnya.

"Apa kau takut padaku?" akhirnya pria itu bertanya, suaranya rendah tetapi tajam.

Celeste menggigit bibirnya. "Aku tidak tahu," jawabnya jujur.

Dominic mengangkat alisnya, seolah tertarik dengan jawabannya. "Kau tidak perlu takut, Celeste," katanya, lalu meraih dagunya dengan lembut, memaksanya untuk menatapnya. "Selama kau setia padaku."

Celeste menahan napas. Ada sesuatu dalam caranya berbicara yang membuatnya merasa seolah-olah ia sedang diperingatkan.

Dominic mendekat, dan Celeste bisa merasakan kehangatan tubuhnya yang begitu dekat. "Aku tahu Adrian datang menemuimu tadi," katanya pelan.

Jantung Celeste berdetak lebih kencang. "Dia hanya ingin berbicara," jawabnya cepat.

Dominic tersenyum kecil, tetapi tidak ada kelembutan di sana. "Tentu saja."

Pria itu lalu mengangkat tangan Celeste, membelai jari-jarinya dengan sentuhan yang seharusnya lembut, tetapi terasa seperti belenggu.

"Aku tahu Adrian mencintaimu," katanya, matanya tetap mengunci milik Celeste. "Tapi aku tidak akan membiarkan siapa pun mengambil apa yang sudah menjadi milikku."

Celeste menelan ludah. "Aku bukan barang, Dominic."

Senyum Dominic tidak luntur. "Tidak," katanya. "Tapi kau adalah istriku."

Saat ia menekankan kata terakhir itu, Celeste tahu bahwa Dominic tidak hanya sedang mengingatkannya tentang statusnya-ia sedang mengukuhkan kepemilikannya.

Lalu, seolah-olah percakapan tadi tidak pernah terjadi, Dominic menurunkan tangannya dan melangkah mundur.

"Istirahatlah, Celeste," katanya sebelum berbalik dan keluar dari kamar, meninggalkannya dengan napas yang masih tersengal.

Namun sebelum pintu tertutup sepenuhnya, ia sempat melontarkan satu kalimat lagi.

"Dan ingat... aku tidak suka dikhianati."

☆

Keesokan paginya, suasana rumah terasa lebih mencekam daripada biasanya. Para pelayan tampak lebih diam dari biasanya, seolah takut akan ada badai yang meledak kapan saja.

Celeste tahu alasannya.

Saat ia turun ke ruang makan, Adrian sudah ada di sana. Duduk di ujung meja, mengenakan kemeja hitam dengan kancing atas yang terbuka, memperlihatkan leher kuatnya.

Mata mereka bertemu, dan Celeste bisa merasakan ketegangan di antara mereka.

Namun sebelum ada yang bisa berbicara, Dominic muncul, berjalan santai ke dalam ruangan dengan keanggunan yang selalu dimilikinya.

Tanpa berkata apa-apa, ia menarik kursi dan duduk di samping Celeste, lalu mengangkat cangkir kopinya dengan tenang.

"Jadi," kata Dominic sambil mengaduk kopinya perlahan. "Apa yang kalian bicarakan tadi malam?"

Celeste langsung menegang.

Adrian menyandarkan tubuhnya ke kursi, menatap ayahnya tanpa ekspresi. "Aku hanya ingin mengucapkan selamat pada Celeste atas pernikahannya."

Senyum kecil terbentuk di bibir Dominic. "Bagus," katanya. "Karena aku ingin memastikan bahwa tidak ada kesalahpahaman di antara kita."

Adrian tertawa kecil, tetapi tidak ada kebahagiaan di dalamnya. "Oh, tidak ada kesalahpahaman, Ayah," katanya dengan nada sarkastik. "Semuanya sangat jelas."

Dominic menaruh cangkir kopinya dengan tenang, lalu bersandar. "Senang mendengarnya."

Celeste merasakan napasnya tercekat. Ia tahu ini bukan sekadar percakapan biasa-ini adalah pertempuran tersembunyi di antara dua pria yang sama-sama ingin mengklaimnya.

Ia merasa seperti berada di tengah badai yang siap meledak kapan saja.

Dan entah bagaimana, ia tahu bahwa ini baru permulaan.

☆

Hari itu, Celeste mencoba menghindari Adrian sebisa mungkin. Ia tahu semakin banyak mereka berbicara, semakin berbahaya situasinya.

Namun, saat ia berjalan di sepanjang koridor menuju perpustakaan, sebuah tangan menariknya dengan cepat ke sudut ruangan yang lebih sepi.

Celeste terkejut saat mendapati Adrian berdiri di depannya.

"Kita harus bicara," katanya, suaranya lebih rendah dari biasanya.

Celeste menggeleng panik. "Adrian, ini berbahaya-"

"Aku tidak peduli," potongnya tajam. "Kau tidak bisa terus seperti ini, Celeste. Aku tahu kau tidak bahagia dengan pernikahan ini."

Celeste memejamkan mata, berusaha menahan air mata yang mengancam jatuh. "Itu tidak penting. Aku sudah membuat keputusan."

Adrian mengangkat tangannya, menyentuh wajah Celeste dengan lembut. "Katakan padaku satu hal, Celeste," bisiknya. "Jika aku menyuruhmu pergi bersamaku sekarang... akankah kau ikut?"

Celeste terdiam.

Ia ingin mengatakan iya. Ia ingin mengatakan bahwa ia akan meninggalkan segalanya dan pergi bersamanya.

Tetapi bayangan wajah Dominic muncul dalam pikirannya.

Pria itu tidak akan pernah membiarkannya pergi begitu saja.

Ia bukan hanya suaminya sekarang-ia adalah pemiliknya. Dan jika ia berani mengkhianatinya, Celeste tahu ia akan membayar harga yang sangat mahal.

Akhirnya, dengan hati yang berat, ia menarik diri dari Adrian dan menggelengkan kepalanya.

"Aku tidak bisa."

Ekspresi Adrian berubah. Dari harapan menjadi kekecewaan yang dalam.

Ia mundur selangkah, menatapnya dengan luka yang jelas di matanya.

"Kau memilihnya," katanya dengan suara dingin.

Celeste tidak bisa menjawab.

Dan saat Adrian pergi, Celeste tahu bahwa keputusannya hari ini akan mengubah segalanya.

Tetapi pertanyaannya adalah... apakah ia telah memilih dengan benar?

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Ketika Pernikahan Palsu Menjadi Nyata
8.1
Akibat kesalahpahaman warga saat menolong Aveline Laurent di hutan, Kapten Leon Hartmann terpaksa menikahinya. Padahal, Aveline sudah bertunangan dan Leon tengah menjalin kasih dengan seorang dokter. Di luar dugaan, pernikahan formalitas ini justru menyingkap rahasia gelap serta pengkhianatan dari pasangan masing-masing. Di tengah balutan misteri, benih cinta perlahan tumbuh di antara Leon dan Aveline, meski bayang-bayang masa lalu masih terus membelenggu hati mereka.
Sampul Novel Michael Obsession
9.7
Michael Yates Hutomo sekian lama mengobsesi Casandra dan menunggu momen pas untuk merebutnya. Peluang itu hadir saat usaha Casandra di ambang kehancuran. Michael bersedia menolong, tetapi ia menuntut pernikahan sebagai imbalan. Demi melindungi aset keluarganya, Casandra terpaksa melepaskan sang kekasih. Walau fisiknya kini dalam cengkeraman miliarder itu, Casandra bertekad kuat bahwa hati dan cintanya tidak akan pernah bisa Michael miliki.
Sampul Novel My Perfec Husband
9.6
Avril terjebak dalam situasi buntu ketika seorang pria menyodorkan penawaran mutlak yang tak mungkin ia elak. Hanya ada dua pilihan rumit bagi Avril: menyerahkan dirinya seutuhnya atau bersedia dinikahi oleh pria tersebut. Tekanan dari ucapan yang dingin dan penuh kuasa itu membuat Avril didera keraguan mendalam. Apakah ia akan tunduk pada paksaan ini karena terdesak keadaan, ataukah sebenarnya ada keinginan dari dalam lubuk hatinya untuk menerima tawaran itu?
Sampul Novel Saat Istriku Memilih Mati
8.0
Kematian mendadak sang istri yang mengakhiri hidupnya sendiri menyisakan kepedihan mendalam bagi suami dan ketiga anak lelaki mereka yang masih kecil. Tanpa peringatan apa pun, rahasia kelam di balik keputusan tragis ini perlahan terkuak. Sang suami, yang awalnya merasa telah membangun keluarga yang ideal, kini harus menghadapi dampak buruk dari perilakunya selama ini. Di bawah tekanan dari pihak mertua, ia kini hanya bisa menyesali kesalahan masa lalu yang mustahil untuk ia ubah kembali.
Sampul Novel TAWANAN CEO KEJAM
8.3
Di hadapan Kaisar yang berhati dingin, Adelia bersimpuh tanpa daya memohon kebebasan. Dendam membara akibat kecelakaan tragis sang adik telah mengubah Kaisar menjadi sosok kejam yang terobsesi mencari sang pelaku. Kini, Adelia terperangkap dalam sangkar emas tanpa jalan keluar. Kaisar bersumpah tidak akan pernah melepaskannya, menjadikan gadis malang itu sebagai tawanan utama untuk menuntaskan amarahnya yang tak berkesudahan.
Sampul Novel Young Master, Please be Dignified
9.0
Zhou Zui Yu, wanita penyendiri berjuluk 'Burung Gagak', harus menghadapi hancurnya reputasi setelah dua kali gagal menikah akibat dinilai terlalu membosankan. Di tengah keterpurukannya, seorang tuan muda terhormat dari negara tetangga bernama Ming Yu tiba-tiba datang untuk melamarnya. Walau ditolak mentah-mentah, Ming Yu tidak menyerah. Ia rela membuang gengsi dan martabatnya demi meluluhkan hati dingin Zui Yu dalam kisah romansa dewasa yang penuh perjuangan ini.