APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Menikah Karena Mata

Menikah Karena Mata

Di hari pernikahan mereka, Abimana terkejut saat menatap mata Maheswari. Sorot mata itu sangat mirip dengan mendiang ibunya yang kerap hadir di alam mimpi. Maheswari sendiri awalnya hanya tahu bahwa Abimana adalah asisten dosen yang dijodohkan dengannya. Misteri barulah terkuak saat malam pertama: Maheswari rupanya menerima donor mata dari ibu Abimana. Fakta ini membuat Abimana kini didera dilema batin yang hebat antara perasaan cinta dan bayang-bayang masa lalu.
Bab
Bagikan

Bab 3

"Sayangnya, Pak Hery sedang ada pertemuan. Tapi... kalau kamu mau, mungkin saya bisa bantu?" Abimana menawarkan, meski ia tahu bahwa tawarannya kemungkinan besar akan ditolak.

Maheswari terlihat ragu sejenak, matanya menatap Abimana dengan tatapan menimbang-nimbang.

"Saya rasa... ini lebih baik saya diskusikan langsung dengan Pak Hery," jawabnya akhirnya, seperti yang diduga Abimana.

Abimana hanya mengangguk, mencoba untuk tidak memperlihatkan kekecewaannya. Namun, ia tak bisa membiarkan percakapan berhenti di situ. Ada sesuatu yang membuatnya ingin memahami lebih banyak tentang wanita ini, meski tahu Maheswari lebih suka menjaga jarak.

"Kamu yakin nggak mau coba diskusi dengan saya dulu? Mungkin saya bisa beri perspektif yang berbeda," tambah Abimana, kali ini dengan nada yang lebih ringan, seolah mencoba membuka kesempatan lain untuk bicara.

Maheswari terdiam sejenak. Dia tampak berpikir, dan Abimana tahu bahwa ini adalah momen di mana wanita itu berjuang untuk memutuskan apakah akan tetap menolak bantuannya atau menerima tawarannya-meski dengan enggan.

"Baiklah," ucap Maheswari akhirnya. "Tapi ini hanya sebentar."

Abimana tersenyum tipis. "Tentu, sebentar saja."

Maheswari berjalan mendekat dan duduk di kursi di seberang meja Abimana. Ia mengeluarkan catatan dari tasnya, meletakkannya di atas meja.

Saat itu, meski suasana tampak tenang, Abimana merasakan ada ketegangan di antara mereka. Bukan ketegangan yang buruk, tapi lebih seperti perasaan tak terucapkan yang menggantung di udara, sesuatu yang keduanya coba hindari namun terasa jelas hadir di sana.

Sambil membolak-balik halaman catatannya, Maheswari mulai menjelaskan tugas yang ingin ia konsultasikan. Namun, pikiran Abimana terus kembali ke hal-hal lain-tatapan Maheswari, cara suaranya sedikit berubah saat berbicara, dan bagaimana dia tampaknya berusaha keras untuk tetap menjaga jarak.

"Tugas ini cukup kompleks," ucap Maheswari saat Abimana mulai melihat catatannya.

Abimana menatap catatan yang dikeluarkan Maheswari dengan serius. Ia mulai membaca dengan teliti, mencoba menangkap inti permasalahan yang dihadapi Maheswari. Suasana di ruang dosen terasa hening, hanya diisi oleh suara lembaran kertas yang dibolak-balik dan sesekali bunyi pena Abimana yang menulis catatan.

"Jadi, sepertinya kamu menghadapi kesulitan dalam memahami hubungan antara teori dan praktik dalam tugas ini?" tanya Abimana, berusaha memecahkan kebekuan di antara mereka.

Maheswari mengangguk. "Ya, terutama dalam menerapkan teori ekonomi mikro pada studi kasus yang saya pilih. Saya merasa ada beberapa aspek yang saya belum benar-benar pahami."

Abimana menatap Maheswari, berusaha membaca ekspresi wajahnya. "Mungkin kita bisa mulai dengan membedah bagian yang paling membingungkan terlebih dahulu. Kadang-kadang, menguraikan masalah bisa membantu membuatnya lebih jelas."

Maheswari mengangguk, lalu mulai menunjukkan bagian-bagian tertentu dari catatannya. Abimana mengamati dengan seksama, mendengarkan penjelasan Maheswari tentang teori yang digunakannya dan bagaimana dia berusaha mengaplikasikannya dalam studi kasus.

"Dari apa yang saya lihat, mungkin masalah utama adalah dalam menerapkan teori ini pada konteks spesifik kasus kamu," kata Abimana setelah beberapa saat.

"Cobalah untuk lebih fokus pada variabel kunci."

Maheswari menulis beberapa catatan cepat, tampaknya mulai merasa lebih jelas. Namun, Abimana tidak bisa mengabaikan fakta bahwa dia masih merasa ada sesuatu yang belum sepenuhnya diungkapkan oleh Maheswari.

"Kalau ada yang ingin kamu diskusikan lebih lanjut atau ada pertanyaan lain, jangan ragu untuk bertanya," Abimana menawarkan bantuan dengan harapan bisa berbicara lebih lama dengan wanita itu.

Maheswari memandangnya sejenak, dan ada keraguan dalam tatapannya. "Saya... rasa itu sudah cukup untuk saat ini," ujarnya dengan hati-hati.

Maheswari mengemas catatannya, berdiri untuk pergi. "Terima kasih, Pak Abimana. Saya akan mempertimbangkan saran Anda."

Abimana tersenyum. "Sama-sama. Semoga diskusinya dengan Pak Hery nanti juga berjalan lancar."

...

Di sore hari menjelang malam, jalanan kota tampak sibuk dan penuh warna. Langit yang mulai gelap dihiasi semburat merah dan oranye, memberikan latar belakang dramatis pada keramaian di bawahnya.

Jalan-jalan utama dipenuhi kendaraan umum yang bergerak lambat, seperti bus dan angkutan kota, yang terjebak dalam kemacetan.Di dalam bus, suasana terasa sesak dengan penumpang yang berdiri dan duduk berdesakan.

Suara klakson dan mesin kendaraan bercampur dengan percakapan penumpang dan suara radio dari kendaraan yang lewat. Di luar jendela, lampu-lampu jalan mulai menyala, menciptakan pola berkilauan di atas aspal yang basah oleh sisa hujan sore.

Orang-orang di trotoar tampak terburu-buru, mencoba menyeberangi jalan di antara arus kendaraan yang tidak bergerak. Itulah yang dilakukan oleh Maheswari, dengan tubuh yang lelah serta beban bawaan selama kuliah membuatnya ingin segera merebahkan diri di kasur miliknya.

Sepanjang jalan menuju kompleks rumahnya, Maheswari sudah membayangkan betapa lezatnya masakan sang ibunda. Langkah kakinya semakin cepat saat rumah lantai dua dengan cat tembok biru muda itu sudah terlihat.

"Halo Bund, aku pulang!" Serunya dengan semangat seakan rasa lelahnya langsung menguap entah kemana.

"Anak bunda sudah pulang. Mandi dulu baru makan, ini sudah mau malam, keburu dingin," ujar wanita paruh baya itu pada putrinya.

"Iya-iya tapi habis itu temenin aku makan ya bund, kak Tara katanya pulang malam."

"Iyaa nanti bunda temani."

Maheswari meletakkan tasnya di sudut ruangan dan segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dari kelelahan seharian.

Ia merasa segar setelah mandi, menghilangkan lelah dari tubuhnya. Ketika ia keluar, aroma masakan dari dapur menyambutnya, menggugah selera.

"Selamat makan, Nak," ujar ibunya sambil duduk di kursi di seberang meja.

Maheswari mulai makan dengan lahap, menikmati setiap suapan makanan yang dimasak dengan penuh cinta oleh ibunya.

"Makanannya enak sekali, Bun. Terima kasih."

"Senang kamu suka. Ngomong-ngomong, gimana kuliah hari ini? Ada cerita baru?" Tanya sang bunda, Rini.

Maheswari menatap ibunya sejenak, merasa ada beban yang ingin ia ceritakan. "Ada, Bu. Tadi aku sempat diskusi dengan Pak Abimana. Dia membantu aku dengan tugas kuliah, walaupun awalnya aku agak ragu."

"Kalau ragu, kamu bisa berdiskusi lebih lanjut dengan beliau."

Maheswari tersenyum dan mengangguk. "Iya, Bu. Aku akan lakukan jika ada kesempatan bertemu dengan beliau."

Tiba-tiba, suara pintu depan berbunyi. Ayah serta kakaknya, Tara, baru pulang. Tara, yang terlihat kelelahan setelah seharian beraktivitas, menyapa mereka. "Halo, semua. Maaf, kami telat."

Maheswari berdiri dan memeluk kakaknya. "Tidak apa-apa, Kak. Ayo, makan malam dulu."

"Ayah mau langsung makan atau mandi dulu?" Tanya Rini pada suaminya. Sementara kedua anaknya langsung menyantap hidangan makan malam di atas meja.

"Langsung makan, keburu dihabisi sama dua anak ini," ujar Herman dengan nada bercandanya.

Malam itu gelak tawa memenuhi ruang makan, kondisi rumah yang ceria dan hangat semakin menambah kesan harmonis keluarga.

Hal inilah yang membuat Maheswari merasa lebih siap menghadapi tantangan berikutnya dalam kuliahnya maupun kehidupan cintanya kelak. Seiring dengan suasana malam yang semakin tenang di luar, keluarga kecil itu menikmati kebersamaan mereka, menguatkan ikatan yang selalu ada di tengah kesibukan dan kesulitan.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bukan Wanita Biasa
8.6
Madina kembali dipertemukan dengan Adnan, mantan suaminya yang dahulu mengusirnya akibat tuduhan selingkuh. Tiga tahun lamanya Madina berjuang sebagai kuli kasar lantaran ijazahnya dihancurkan. Kini, Adnan tiba-tiba mengajaknya rujuk. Pria itu berambisi merebut kembali putra mereka demi memperebutkan harta warisan. Di tengah luka masa lalu dan hadirnya sosok pria baru yang tulus, Adnan mencoba memulihkan nama baik Madina. Akankah Madina kembali atau memilih jalan barunya?
Sampul Novel Cinta Belum Berakhir
9.3
Lima tahun silam, Kanaya pergi demi pernikahan pilihan orang tuanya. Kini, takdir mempertemukannya lagi dengan Haitsam. Haitsam mendapat tugas berat untuk membimbing Kanaya mengelola bisnis ayah mertua wanita itu. Walau rasa cintanya masih membara, Haitsam harus menahan diri demi menjaga amanat atasannya. Akankah hubungan masa lalu mereka terungkap di depan suami Kanaya? Sebuah dilema penuh risiko kini membayangi mereka.
Sampul Novel Dihapus oleh Kebohongan dan Cintanya
9.8
Sepuluh tahun Aria berkorban demi kesuksesan Baskara, namun ia justru dicampakkan setelah sang suami berhasil. Demi memikat investor barunya, Aurora, Baskara tega melenyapkan identitas Aria dan menyekapnya di gudang gelap yang memicu fobianya. Puncaknya, ia membiarkan Aria disiksa penculik demi melindungi Aurora. Di tengah keputusasaan, Aria menghubungi Tante Evelyn, pengacara hebat yang siap menjemputnya dengan jet pribadi untuk menuntut balas atas semua pengkhianatan ini.
Sampul Novel Mengungkap Hati: Istriku Seorang Miliarder?!
9.7
Demi membalas budi, Melanie rela menikahi Ashton. Namun, ia hanya mendapat derita, bahkan sang suami tega berniat memeras darahnya tanpa empati. Kecewa dengan kekejaman itu, Melanie pun menuntut cerai demi harga diri. Di tengah proses perpisahan, rahasia besar terbongkar; Melanie ternyata seorang miliarder, memicu kehebohan publik. Saat situasi memanas, ia baru menyadari bahwa paman Ashton, Derek, selalu melindunginya secara diam-diam.
Sampul Novel Menikah dengan Tuan Muda Aneh
9.3
Demi menjalankan wasiat ayahnya, Sania terpaksa menyetujui pernikahan kontrak dengan Devandra Adiwiyatama. Hubungan ini mendapat penolakan keras dari Nyonya Hartati, ibu Devan. Meski begitu, Devan tetap menuntut Sania menjalankan perannya sebagai istri demi mendapatkan keturunan. Sania yang cemas tak mampu mengelak dari perjanjian tersebut. Akankah pernikahan tanpa cinta ini menumbuhkan perasaan tulus, atau Devan justru membuang Sania setelah ahli waris lahir?
Sampul Novel Pengantin Palsu Ceo Arogan
8.3
Nayla Putri Anissa terpaksa menjadi pengantin pengganti demi membiayai pengobatan sang ibu yang sakit jiwa. Ia menyamar memakai masker untuk menggantikan putri majikannya yang melarikan diri menjelang pernikahan. Di balik penyamaran ini, Nayla harus menghadapi Arga Dewantara, seorang CEO muda yang terkenal dingin dan arogan. Akankah rahasia besar ini tetap terjaga saat ijab kabul, atau justru Arga segera menyadari penipuan di balik cadar tersebut?