APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Menikah dengan Tuan Muda Aneh

Menikah dengan Tuan Muda Aneh

Demi menjalankan wasiat ayahnya, Sania terpaksa menyetujui pernikahan kontrak dengan Devandra Adiwiyatama. Hubungan ini mendapat penolakan keras dari Nyonya Hartati, ibu Devan. Meski begitu, Devan tetap menuntut Sania menjalankan perannya sebagai istri demi mendapatkan keturunan. Sania yang cemas tak mampu mengelak dari perjanjian tersebut. Akankah pernikahan tanpa cinta ini menumbuhkan perasaan tulus, atau Devan justru membuang Sania setelah ahli waris lahir?
Bab
Bagikan

Bab 3

"Siapa pagi-pagi menghubungiku? Berisik sekali. Aku masih ngantuk, tidak bisakah nanti saja menelponnya?"

Suara berisik dari benda pipih, yang berada di atas meja dekat tempat tidur, mengganggu tidur lelap Devan. Padahal Devan masih mengantuk. Rasanya tak rela melepaskan dekapan hangatnya, pada guling yang saat ini dipeluknya.

Devan menggerutu tanpa berniat untuk mengangkat telepon genggamnya. Berniat untuk mengabaikannya dan tidak memperdulikan. Tapi, baru beberapa detik benda itu diam. Benda pipih itu kembali bergetar, diiringi dengan suara yang cukup nyaring.

"Ya Tuhan! Benar-benar menyebalkan!"

Akhirnya dengan malas Devan meraih telepon genggamnya. Tangannya meraba-raba meja dan mendapatkan benda menyebalkan yang mengganggu tidurnya.

Tanpa membuka matanya Devan menempelkan benda pipih itu ke telinganya.

"Hm," gumam Devan menanggapi sapaan seseorang.

"Tuan, maaf saya mengganggu istirahat Anda. Saya hanya ingin menanyakan, apakah hari ini Tuan akan ke kantor atau ingin mengambil libur?" tanya seseorang diseberang sana.

"Memangnya ini jam berapa, Rey? Aku masih mengantuk. Kau ini mengganggu tidurku. Apa tidak bisa kau menghubungiku nanti-nanti. Setidaknya biarkan aku tidur barang sebentar saja," tutur Devan dengan suara malas. Matanya bahkan masih terasa lengket. Seperti direkatkan dengan lem. Sulit sekali untuk terbuka.

"Ini sudah jam setengah tujuh, Tuan."

"Apa? Setengah tujuh?"

Mata yang tadinya lengket langsung terbuka dengan sempurna. Ketika orang diseberang sana memberitahunya, sudah jam setengah tujuh.

"Kenapa kau baru menghubungiku sekarang, Reyhan! Akan sampai kantor jam berapa aku nanti?"

Devan benar-benar panik dan kesal dalam waktu bersamaan.

"Ck, siapa sih pagi-pagi bicara keras sekali. Sangat berisik, mengganggu orang tidur saja."

Suara serak seorang wanita mengalihkan perhatian Devan. Pria itu lantas mencari sumber suara tersebut. Yang ternyata ... itu adalah suara Sania yang sedang memeluk erat tubuhnya.

'Ya Tuhan! Apa yang sedang dilakukan gadis bodoh ini?' pekik Devan dalam hati.

Tubuhnya menegang saat itu juga. Debaran jantungnya kian mencepat, saat merasakan lingkaran tangan Sania memeluknya dengan erat. Belum lagi wajah Sania yang mendusel di bagian dadanya.

Itu sukses membuat Devan menahan nafas. Wajah pria itu sudah memerah, seiring bertambah cepatnya aliran darah yang memompa jantungnya. Darahnya berdesir hebat.

Tak hanya itu sesuatu dibawah sana tiba-tiba mengembang. Semakin Sania merapatkan tubuhnya dengan tubuh Devan. Itu semakin membuat pusaka yang tersembunyi milik Devan bereaksi.

"Apa terasa sangat nyaman?" Devan bertanya pelan pada Sania.

Lelaki itu sudah mematikan sambungan telponnya secara sepihak. Saat ini fokusnya terpusat pada Sania.

"Mm, ini sangat nyaman sekali. Dan juga hangat," gumam Sania memberikan jawaban.

Devan masih berusaha menahan napasnya. Untuk menekan gejolak dalam dirinya. Entah mengapa ada sesuatu yang aneh Devan rasakan saat ini. Sensasi asing yang membuatnya gelisah.

"Tapi, aku yang tidak nyaman. Kau memelukku begitu erat. Apa kau menganggap ku seperti guling? Guling hidup yang sangat nyaman dipeluk?" bisik Devan tepat di telinga Sania.

Merasakan napas hangat menerpa kulitnya. Sania seketika itu juga membuka matanya. Betapa terkejutnya dia, ketika mendapati dirinya sedang memeluk tubuh seseorang. Yang sudah pasti Sania bisa menebak pemilik tubuh itu siapa. Tuan Devan, pria yang kini menjadi suaminya.

"Aaaaaaaaa!" jerit Sania sambil melepaskan pelukannya. "Apa yang sudah Tuan lakukan? Bukankah semalam Tuan tidur di sofa? Kenapa bisa di sini, dan ... dan kenapa aku bisa memelukmu!"

Devan menutup telinganya yang terasa bising. Karena suara Sania yang sangat berisik.

"Cerewet sekali," gumam Devan.

"Oh aku tahu. Pasti Tuan mencari kesempatan 'kan. Supaya bisa melecehkanku saat aku sudah tidur!" Tuding Sania melontarkan tuduhan.

Devan yang tak terima pun melebarkan matanya. Menatap tajam pada Sania yang seenak jidat menuduhnya.

"Ck, ternyata selain bodoh kau ini juga amnesia. Dasar gadis tidak tahu malu." Devan mencibir dengan sinis.

"Apa katamu? Kau bilang aku tidak tahu malu? Hei Tuan ... siapa yang tidak tahu malu. Anda atau aku? Bukankah Anda bilang akan tidur di sofa dan menyuruhku tidur di ranjang. Lalu kenapa Anda sekarang berada di sini?"

Sania bicara dengan nada berapi-api. Devan membiarkannya begitu saja. Hanya mendengarkan Sania meluapkan kekesalannya.

"Tunggu ... jangan-jangan semalam, Anda sudah melakukan sesuatu padaku."

Sania panik seketika lantas memeriksa bagian tubuhnya. Namun, tidak ada yang aneh pada dirinya. Pakaiannya masih rapi dan tidak berubah sama sekali. Masih melekat sempurna pada tubuhnya.

"Apa kau sudah puas? Apa ada yang hilang dari tubuhmu? Tubuhmu ada yang lecet atau terluka? Tidak 'kan?"

Malu, itulah yang Sania rasakan saat ini. Sudah bicara panjang lebar dengan melontarkan kalimat tuduhan. Tapi, ternyata tidak ada yang terjadi pada dirinya.

"Kau sendiri yang memelukku. Kau juga yang menuduhku. Dasar wanita," sinis Devan mencibir.

Sania yang mengingat kejadian pada waktu membuka matanya tadi. Membuat semburat merah muncul di wajahnya. Sungguh Sania malu sekali.

"Kau tahu Nona Sania, aku terpaksa tidur satu ranjang denganmu. Kenapa ... itu karena aku tidak bisa tidur di sofa sana. Disana sangat tidak nyaman. Leherku bahkan terasa sakit karena berbantal pinggiran sofa."

Mendengar ucapan Devan membuat Sania merasa tidak enak. Timbul rasa bersalah dalam hatinya karena sudah bicara kasar. Bahkan sempat memberikan tuduhan yang tidak-tidak pada Devan.

"Semalam aku sudah memberi pembatas. Supaya kita tidur dengan jarak aman. Tapi entah kemana perginya guling yang kujadikan pembatas."

Mata Sania langsung beredar mencari keberadaan guling yang dimaksud Devan.

'Ya Tuhan! Itu gulingnya,' seru Sania dalam hati, saat menemukan guling yang tergeletak di lantai. Tepat di samping ranjang.

Sementara itu Devan masih berusaha mencari guling, yang semalam dijadikan pembatas olehnya. Karena guling itu jatuhnya di sisi tempat Sania tidur. Jadi, Devan tidak bisa melihatnya.

"Maafkan saya, Tuan. Saya yang salah," cicit Sania berinisiatif meminta maaf lebih dulu.

Devan melihat ke arah Sania dengan wajah yang sulit ditebak.

"Kau yakin meminta maaf padaku?" tanya Devan memicingkan matanya. Sania mengangguk pelan untuk meyakinkan Devan.

"Kenapa kau meminta maaf padaku? Apa kamu merasa bersalah?" Kali ini Devan bertanya dengan nada sinis.

"Tentu saja," jawab Sania pelan.

"Baguslah kalau kamu sadar, sudah berbuat salah. Aku tidak perlu repot-repot untuk membuatmu menyadari kesalahanmu."

Sania hanya bisa diam saja, mendengar setiap ucapan yang terlontar dari bibir Devan. Karena memang dirinya yang salah paham.

"Tapi, meskipun begitu. Aku tetap akan memberimu hukuman."

Ucapan Devan kali ini mampu membuat Sania menegakkan wajahnya.

"Hu-hukuman?" Sania terbata-bata saat mengulangi ucapan Devan.

"Ya. Aku akan memberikanmu hukuman." Tegas Devan dengan tatapan tajam. Tatapan yang mampu membuat tubuh Sanai menggigil.

Bagaimana tidak, hanya karena kesalahpahamannya. Devan akan memberikan hukuman?

'Ya Tuhan! Tolong selamatkan aku!' Sania hanya bisa merintih dalam hati. Meminta pertolongan pada Tuhan. Entah, Tuhan bisa mendengarnya atau tidak. Sania hanya bisa berdoa dan berharap ada keajaiban.

***

Dua orang wanita berbeda usia nampak duduk di ruang tamu. Dua cangkir teh hijau tersaji di atas meja, menemani obrolan keduanya. Nyonya Hartati namanya, berparas cantik meski usianya sudah tak lagi muda.

"Jelita, Ibu harap kamu bisa dekat dengan Devan dan membuatnya jatuh cinta. Hanya kamu satu-satunya wanita, yang Ibu harapkan menjadi menantu di keluarga ini. Tidak ada yang lain."

Nyonya Hartati berbicara dengan serius kepada wanita yang duduk di sampingnya. Wanita yang memiliki nama lengkap Jelita Amoria itu, tersenyum dengan begitu manis.

"Aku akan berusaha sebisa mungkin. Ibu jangan khawatir," ucap Jelita dengan percaya diri.

Jelita nampak begitu yakin bisa mendapatkan hati Devan. Karena menurutnya, tidak ada laki-laki yang bisa menolak pesonanya. Termasuk Devan.

"Kalian sudah saling mengenal sejak kecil. Meskipun pernah berpisah beberapa tahun. Ibu yakin, semua itu tidak menjadi masalah untuk hubungan kalian."

"Ah, tentu saja, Bu. Aku masih sama dengan Jelita beberapa tahun yang lalu. Aku masih menyayangi Devan seperti dulu."

Jelita bicara dengan senyum yang terus mengembang di bibirnya. Wanita yang kini berusia dua puluh satu tahun itu, terlihat begitu cantik dan anggun. Beberapa tahun hidup di negeri seberang untuk menuntut pendidikan, membuat Jelita terlihat berbeda. Lebih dewasa dan terlihat lebih modis.

Hal ini membuat Nyonya Hartati semakin menaruh harapan besar padanya. Untuk membuat Devan dan Jelita bersatu, dalam sebuah hubungan yang sakral. Lebih tepatnya, Nyonya Hartati ingin keduanya menikah.

"Oh iya, Bu. Dimana Devan? Kenapa aku tidak melihatnya sedari tadi?"

Jelita nampak memindai ke sana kemari, mencari keberadaan Devan.

"Hah! Entahlah. Ibu juga tidak tahu kemana dia."

Jelita mengerutkan keningnya mendengar ucapan Nyonya Hartati.

"Maksud Ibu ... apa Devan tidak ada di rumah?"

Nyonya Hartati mengangguk, membenarkan tebakan Jelita.

"Lalu kemana Devan, Bu? Apa dia sedang keluar kota?"

Nyonya Hartati tak langsung memberikan jawaban. Wanita itu justru meraih ponselnya.

"Sebentar, Ibu akan coba untuk menghubunginya dan menyuruhnya pulang. Semoga saja dia mau mendengar ucapan ibu kali ini."

***

Bersambung ....

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Jauh di Luar Jangkauanmu
9.5
Pengorbanan Delia selama sepuluh tahun untuk mantan suaminya berujung sia-sia hingga perceraian menjadi jalan keluar. Tiga bulan setelah berpisah, ia terlahir kembali menjadi sosok mengagumkan: CEO merek terkenal, desainer ternama, sekaligus pemilik tambang sukses. Ketika keluarga sang mantan memohonnya untuk kembali, Delia yang kini dicintai oleh Caius yang sangat berkuasa hanya memandang mereka dengan rendah. Bagi Delia, mereka tak lagi selevel karena kini ia berada jauh di luar jangkauan.
Sampul Novel Bukan Pelayan Biasa
8.8
Hari kelulusan Amanda Felicia berubah menjadi duka mendalam saat kedua orang tuanya tewas dalam kecelakaan tragis. Keadaan kian berat ketika Fanny, sahabat karibnya, harus pindah ke luar negeri. Demi bertahan hidup di tengah keterpurukan, Amanda memutuskan bekerja menjadi pelayan di rumah seorang miliarder bernama Alexander Mattew. Sayangnya, Alex yang berhati dingin terus mempersulit pekerjaannya agar ia tidak betah. Sanggupkah Amanda bertahan menghadapi segala tekanan dari majikannya?
Sampul Novel Di Ranjang Majikanku
8.3
Binar baru memulai pekerjaannya sebagai asisten rumah tangga di kediaman keluarga kaya raya. Namun, ia justru tidak sengaja menyaksikan sang tuan sedang memuaskan diri di kamar. Ketegangan meningkat saat Binar kembali tertangkap basah menguping pertengkaran sang majikan dengan istrinya. Kemarahan pria itu memicu serangkaian kebetulan yang tak terduga. Binar pun kini semakin terjerat dalam pusaran hubungan terlarang yang melibatkan dirinya dan sang majikan.
Sampul Novel DIARY_LIANA
8.4
Liana Salsabila, mahasiswi pintar asal Medan, harus kehilangan rahimnya akibat dipaksa keguguran dengan minuman beracun oleh kekasihnya. Trauma mendalam ini kian berat karena hubungan asmara rahasia tersebut dijalani tanpa restu dari orang tuanya, Arbi dan Fitri, yang merupakan pengusaha saham terpandang. Kini, setelah ditinggalkan begitu saja dalam kondisi terpuruk, Liana harus bersiap menghadapi kemarahan besar keluarganya saat rahasia kelam ini akhirnya terbongkar.
Sampul Novel Mengungkap Cinta: Pernikahan Kilat dengan Seorang Taipan Rahasia
9.6
Elyse terkejut saat melihat pria berkuasa di TV yang sangat mirip Adrian, suami kontrak satu tahunnya. Walau awalnya berniat cerai, kebersamaan mereka membuat Adrian ingin pernikahan ini menjadi nyata. Namun, segalanya berubah saat identitas asli Adrian sebagai taipan terbongkar. Konflik pun memuncak ketika rahasia tentang anak mereka terungkap, memicu perselisihan besar mengenai kejujuran serta masa depan cinta mereka.
Sampul Novel Ilusi Cinta: Mengungkap Topeng Kekasihku yang Licik
8.9
Karlee dikhianati oleh sang tunangan. Di tengah rasa hancur, ia bertemu Brian Olson yang memikat. Pertemuan semalam membawa mereka pada pernikahan kontrak yang terburu-buru. Brian terlihat sangat tulus, tetapi itu semua hanyalah tipu muslihat yang direncanakan. Begitu tahu dirinya mengandung, Karlee yang murka menuntut perceraian. Brian kini didera penyesalan mendalam dan memohon kesempatan kedua agar mereka tidak terpisahkan selamanya.