
Mengungkap Rahasia Ibu Mertua
Bab 2
Aku mengeluarkan gelang giok itu dan berkata dengan senyum kaku, "Selamat Hari Ibu." Sekalian, aku juga memberikan teh yang sudah kupersiapkan untuk ayah mertua. Meskipun ini Hari Ibu, menurutku tidak baik jika sampai mengabaikan ayah mertuaku.
Begitu melihat label harga pada gelang giok itu, mata ibu mertuaku langsung berbinar dan tersenyum semringah. Dia terus memuji Marcus karena sudah menikahi menantu yang baik. Ayah mertuaku pun tak henti-hentinya memuji kebaikanku.
Bahkan, ibu mertuaku yang biasanya bersikap dingin, kini tiba-tiba berubah. Dia mengambilkan sup untukku sambil berkata, "Sonya, makan yang banyak ya. Biar nanti bisa kasih kami cucu yang gemuk."
Aku meneguk sup di mangkuk sambil teringat masa lalu. Dulu, aku dan Marcus pernah memiliki seorang anak. Namun sayangnya, anak itu tidak bisa dipertahankan.
Malam itu, suasana terasa sangat hangat. Semuanya tampak bahagia. Melihat ayah mertua yang tampak begitu jujur dan baik hati, aku benar-benar tidak mengerti kenapa ibu mertuaku bisa begitu kesepian hingga melakukan hal seperti itu?
Aku tidak bisa langsung membongkar masalah ini, sehingga hatiku terus diliputi kegelisahan. Keesokan siangnya saat sedang memasak, aku mencari kesempatan untuk mengajak ibu mertuaku bicara.
"Bu, belakangan ini aku sering dengar kabar ada pria berkulit gelap yang sering muncul di kompleks perumahan sekitar. Menurut Ibu, kejadian itu benaran nggak ya?"
Ibu mertuaku yang sedang memotong sayuran langsung terhenti sejenak, tapi kemudian dia bersikap seolah-olah tidak terjadi apa pun. "Sekarang negara kita sudah terbuka dengan dunia luar. Ada pria kulit gelap yang datang, itu menandakan negara kita sudah kuat."
Melihat ibu mertuaku tetap tidak mau mengakuinya, aku pun menghentikan ucapanku. Aku tidak berani membayangkan bagaimana reaksi suami dan ayah mertuaku jika mereka tahu tentang hal ini. Namun setelah berpikir panjang, aku akhirnya memutuskan untuk berbicara dengan Marcus.
Suamiku langsung marah besar dan membanting sendoknya. "Kamu ngomong apaan, Sayang? Biasanya ibuku memperlakukanmu dengan baik, kenapa kamu malah fitnah dia begini?"
Aku hanya bisa terdiam tak bisa membela diri, "Itu sungguhan, Marcus! Aku benar-benar melihatnya. Aku juga sudah lama bingung sebelum memutuskan untuk memberitahumu."
Di saat itulah, ibu mertuaku muncul bagaikan seorang penengah yang baik hati untuk menenangkan Marcus, "Marcus, jangan bertengkar sama Sonya. Kalau ada masalah, bicarakan baik-baik."
Aku merasa sangat emosi. Selama bertahun-tahun menikah dengan Marcus, meskipun hidup kami bahagia, tapi setiap kali ada hal yang menyangkut ibunya, dia selalu membela ibunya habis-habisan!
Seperti yang sudah kuduga, begitu mendengar kata-kata ibu mertuaku, sikap Marcus langsung melunak, "Bu, Sonya bilang Ibu bawa seorang pria berkulit gelap ke rumah. Entah kenapa, dia selalu ngomong sembarangan!"
Ibu mertuaku berusaha untuk menenangkan Marcus. Entah apa yang dibicarakannya, tetapi emosi Marcus langsung mereda setelah mendengarnya. Aku tidak berani lagi membahas hal ini karena takut Marcus akan marah lagi.
Beberapa hari kemudian, suamiku bilang dia akan pergi dinas selama dua minggu. Namun yang tak kusangka, ibu mertuaku kembali membawa pria berkulit gelap itu ke rumah!
Dari kamar mandi, terdengar suara pancuran air yang bercampur dengan desahan yang membuat wajahku merah padam. Aku bahkan mendengar pria berkulit gelap itu bertanya, "Nyaman, 'kan?"
Kemudian, terdengar suara ibu mertuaku yang terdengar lemah, "Terlalu kuat!"
Wajahku langsung memerah karena merasa malu sekaligus kesal.
Kupikir setelah aku bicara dengan Marcus waktu itu, ibu mertuaku akan berhenti. Namun siapa sangka, dia malah kembali berhubungan dengan pria itu! Usianya sudah tua, tapi masih berani melakukan hal seperti ini tanpa merasa malu sedikit pun!
Tak lama kemudian, pria itu keluar dari kamar mandi sambil mengenakan handuk mandiku. Sementara itu, ibu mertuaku masih melanjutkan mandinya di dalam. Aku merasa jijik, tapi tetap mengikutinya secara diam-diam.
Yang tak kusangka, dia tiba-tiba berhenti dan berbalik. Aku sontak terkejut hingga langsung menabraknya. Aroma maskulin pria itu langsung menyelimutiku. Otot-otot kekarnya membuat jantungku berdetak kencang tanpa sadar dan aku bahkan bisa merasakan bagian tubuhnya yang menonjol!
Anda Mungkin Juga Suka





