APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Mendadak Disuruh Nikah

Mendadak Disuruh Nikah

Demi menggantikan sang adik angkat, Raihan terpaksa menikahi Nico dari keluarga Kuiper. Pernikahan mendadak ini bahkan hanya dipersiapkan dalam waktu dua hari. Nico sendiri awalnya tidak menyangka bahwa sosok yang menjadi istrinya ternyata sangat menawan. Pesona Raihan pun sukses memikat Nico setelah mereka sah menikah. Meski Raihan mengizinkan Nico menyentuhnya, ia sempat gemetar saat didekap dengan agresif. Raihan lalu meminta Nico untuk memulai malam pertama mereka secara perlahan.
Bab
Bagikan

Bab 3

Sedari tadi Nico hanya bisa terdiam memandang gadis yang kini duduk di hadapannya dengan lingerie yang sangat menggoda. Tidak bisa ia pungkiri, ia begitu terpesona akan wujud gadis yang kini telah menjadi istrinya. Ia memandang lagi dari ujung kepala hingga ke ujung kuku kaki gadis itu, benar benar cantik, itulah yang ada di benak Nico. Ia tak menyangka adik Barack Adhinata secantik itu. Ya, memang Nico pernah bertemu dengannya saat mereka masih kecil dan adik Barack memang sangatlah cantik tapi ini benar-benar di luar ekspektasi Nico.

Kini pandangan Nico fokus ke wajah Raihan, di telusurinya wajah jelita tanpa cacat sedikit pun. Mata, jidat, alis, hidung, terutama bibir seksinya yang merona, Nico bisa membayangkan bagaimana nikmatnya menyantap bibir bawah sintal milik gadis yang duduk di hadapannya saat ini.

Raihan menaikan sebelah alisnya. “Kenapa kau diam saja?” tanyanya, memecah keheningan di ruangan itu dan menyadarkan Nico dari kekagumannya.

“Aku… “ Nico mulai bersuara namun terdengar ragu, “aku hanya tidak menyangka saja istriku seperti ini…”

Kening Raihan mengerut, “seperti ini? Memangnya aku seperti apa?”

“Aku... hanya tidak menyangka kau secantik ini.”

“Cantik? Maksudmu aku cantik?” Raihan tampak kebingungan, baru kali ini ada pria memujinya secara terang-terangan.

“Iya, kau sangat cantik,” ucap Nico jujur.

Setelah mengatakan itu, Nico bisa merasakan wajahnya memerah karena malu. Ia juga tak mengerti mengapa ia bisa sejujur itu tapi Nico harus akui betapa memesonanya Raihan. Gadis itu memang begitu cantik.

“Um… terima kasih…” Raihan yang tak kalah tersipunya memalingkan pandangannya ke arah lain dan itu membuatnya semakin terlihat manis.

Suasana kembali diam beberapa menit. Setelah memuji Raihan, Nico merasakan atmosfer di ruangan itu benar-benar canggung. Ia bingung bagaimana memulai malam pertamanya dengan Raihan. Sebenarnya, ini bukanlah pengalaman pertamanya menghabiskan malam bersama dengan wanita tapi Nico tidak tahu bagaimana harus bersikap karena ia bukanlah tipe pria yang agresif pada wanita.

“Maaf… aku… hanya tidak tau saja bagaimana memulai.”

Raihan yang mendengar pernyataan Nico barusan tertegun lalu beberapa detik kemudian ia malah tertawa geli. “Kenapa kau harus bingung?” tanyanya, “sekarang aku adalah istrimu, kau bisa bebas melakukan apa saja pada diriku,” lanjutnya dengan tatapan tajamnya yang menantang.

“Kau bilang… aku bisa bebas melakukan apa saja pada dirimu? Apa kau mengijinkannya?”

“Ya, tentu saja,” jawab Raihan, “kita sekarang adalah suami istri, kenapa aku tidak boleh mengijinkanmu?”

Nico yang seakan mendapat lampu hijau dari Raihan tiba-tiba saja maju dan memeluk Raihan seperti hewan liar yang menyergap mangsanya. Raihan yang terkejut seperti tidak bisa berbuat apa-apa, tubuh langsingnya terasa ringkih di pelukan tubuh Nico yang cukup atletis.

“Tu-tunggu…!” Raihan menahan dada Nico, mencoba menghentikan Nico yang tampak tak sabaran.

“Kenapa?” tanya Nico menatap bingung ke mata Raihan, “bukannya aku bebas melakukan apa saja?”

“Iya, tapi…” sahut Raihan, ekspresi wajahnya sedikit ketakutan “bisakah kita melakukannya pelan-pelan?”

“Seperti apa?”

“Mungkin… kita bisa memulainya… dengan ciuman…”

Nico menatap dalam mata tajam indah milik Raihan. Seakan membaca maksud istrinya, ia mulai sedikit melonggarkan pelukannya dan pelan-pelan mendekatkan bibirnya ke bibir Raihan hingga kedua bibir itu menempel satu sama lain. Di awali oleh ciuman lembut lalu berubah menjadi lumatan dan isapan. Kedua tangan Raihan melingkar ke leher Nico saat ciuman mereka semakin dalam. Ciuman Nico kini turun ke dagu lalu ke leher.  

“…Nic… hhhh…”

Raihan melenguh seakan terbuai oleh ciuman Nico. Wajahnya mendongak saat Nico begitu menikmati leher milik Raihan. Cium, jilat, isap, Raihan hanya bisa mendesah dan membiarkan Nico bermain di leher sensitifnya. Raihan pun tak mengerti dengan apa yang ia rasakan, rasanya darahnya semakin berdesir saat bibir Nico mengabsen tiap inci kulitnya, belum tangan Nico yang mulai bergerilya meraba pahanya. Sejujurnya, ini pertama kalinya Raihan merasakan sentuhan intim dari seorang pria dan juga ia tak bisa menafikan bahwa ia menikmatinya walau ia sebenarnya cukup malu mengakuinya.

Tok tok tok

Tok tok tok

“Nico!” Raihan meminta Nico menghentikan aksinya.

“Ya? Kenapa?”

“Kau tidak mendengar suara ketukan pintu?”

Mereka berdua terdiam saling berpandangan lalu terdengar suara ketukan pintu lagi. Nico melepaskan Raihan dan beranjak untuk melihat siapa gerangan yang mengganggunya saat ia baru saja memulai malam pertamanya melalui lubang intip pintu.

“Siapa?” tanya Raihan.

“Kakakmu…”

Nico segera membuka pintu dan sosok pria berwajah dingin itu berdiri persis di depan pintu bersama ajudannya yang terus setia berdiri di belakang pria itu..

“Kak Barack…”

Barack memberikan isyarat pada Raihan. Raihan yang langsung mengerti lalu masuk ke dalam kamar.

“Bisakah kita bicara sebentar?” tanya Barack.

Nico mengambil cardlock sebelum menutup pintu kamarnya. “Apa?” tanyanya, jujur ia merasa sangat terganggu oleh kedatangan Barack. Padahal dengan susah payah dia berhasil memulai untuk lebih intim dengan istrinya bahkan ia kini memulai untuk melakukan malam pertamanya.

“Maaf kalau aku mengganggu,” kata Barack tanpa merasa salah sama sekali, “aku hanya mau memberitahumu, bisakan kau membiarkan Raihan istirahat malam ini?”

Nico mengernyit tak paham. “Maksudmu?”

“Sebelum pernikahan kalian berlangsung, Raihan baru saja pulang dari perjalanan jauh… dia pasti lelah,” terang Barack, “untuk malam ini saja…”

Nico mengerti maksud Barrack. “Baiklah,” ucap Nico terpaksa, “Ada lagi?”

“Tidak ada,” jawab Barack, “Baiklah, hanya itu yang mau aku sampaikan…”

Barack berbalik dan akhirnya pergi meninggalkan Nico.  

***

Kini Nico duduk di bar. Menikmati alunan musik jazz yang lembut dan segelas minuman. Jas putih yang ia kenakan di pernikahannya masih melekat di tubuhnya. Jam menunjukkan  hampir pukul dua subuh. Ya, di malam pengantinnya ia menghabiskan waktu di bar itu. Bukan maksudnya ia meninggalkan Raihan sendiri di kamar hotel namun ia tak akan bisa menahan hasratnya untuk bercinta bila ia kembali ke kamar mereka. Raihan begitu menggoda hasrat kelaki-lakiannya, belum lagi lingerie yang dikenakannya mampu membuat milik Nico terasa sesak dibalik celananya.

“Nico, apa yang kau lakukan di sini?” tiba-tiba terdengar suara Jeremy. Jeremy yang juga menginap di hotel yang sama dengan Nico langsung menghampiri Nico. Ia heran melihat kehadiran sahabatnya di bar itu, bukannya malah menghabiskan malam pengantin bersama istrinya.

“Seperti yang kau lihat… minum dan menikmati musik…”

“Bukan itu maksudku,” sanggah Jeremy yang masih menatap bingung ke arah sahabatnya, “maksudku, ini adalah malam pertamamu bersama istrimu. Kenapa kau malah meninggalkannya dan minum di sini?”

“Yeah, karena aku tidak akan bisa menahan untuk tidak bercinta dengannya.”

“What?” Jeremy terperangah sambil tertawa mendengar jawaban Nico yang mulai kacau, entah karena mulai mabuk atau mengantuk karena waktu sudah mendekati subuh. “Bagaimana istrimu, apa dia cantik?”

“Ya, dia sangat cantik.”

“Benarkah?”

“Ya, dia gadis terindah yang pernah kutemui.”

“Wow, sepertinya kau sudah melupakan Olive rupanya.”

“Ck…” Nico mendecak jengkel.

Tiba-tiba Nico teringat Olive tapi sebenarnya ia cukup heran, begitu terpesonanya ia akan kecantikan Raihan hingga ia melupakan Olive. Sejenak ia berpikir, apakah dengan menikahi Raihan adalah jalan ia untuk bisa melupakan Olive dan itu pertanda ia memang tak akan berjodoh dengan Olive? Tapi, Nico tak bisa membohongi perasaannya, hatinya masih milik Olive saat ini.

Aish, Nico menggerutu dalam hati. Andaikan saja Jeremy tidak menyebut nama Olive, ia tak akan mengingat gadis itu. Sahabatnya itu benar-benar tidak bisa memahami dirinya. Mengapa Jeremy sering membahas Olive apalagi malam ini adalah malam pengantin untuk Nico.

Nico meneguk minumannya, musik jazz yang slow semakin mengoyak perasaannya. Tatapannya semakin sendu tiap kali mengingat kebersamaannya dengan kekasih hatinya. Ia merenung, apakah memang sampai di sini jodoh dia dan Olive? Nico menggeleng, ia menyadari bahwa ia sudah kehilangan Olive ketika gadis itu memutuskan untuk memilih pria lain untuk bertunangan dengannya.

“Aku sudah melupakan Olive,” kata Nico berusaha membohongi Jeremy, “sudah lama aku tidak memikirkannya.”

Jeremy memicingkan mata memandang Nico, seakan tak percaya akan ucapan Nico namun akhirnya ia mencoba untuk menghargai Nico. “Yah, baguslah kalau begitu,” kata Jeremy, “akhirnya kalian menemukan jodoh kalian dan itu bagus untuk kalian. Oh iya, jangan lupa nanti kenalkan aku dengan istrimu, aku penasaran ingin bertemu dengannya.”

“Ya, tentu saja…” kata Nico. Ia meneguk minumannya dengan sekali tegukan hingga habis lalu ia turun dari kursi dan berjalan meninggalkan Bar.

“Kau mau kemana?”

“Kembali ke kamar…” jawab Nico tanpa menoleh ke arah Jeremy, “aku sudah mau tidur…”

“Jiah… belum juga aku pesan minuman, sudah cabut aja dia…” gerutu Jeremy, lalu ia mengangkat tangannya ke arah pelayan dan memesan segelas minuman.

***

Ceklek…

Lampu ruang tamu langsung menyala begitu Nico menaruh cardlock di tempatnya. Ruangan itu sepi, tidak ada suara Raihan sama sekali. Nico melepas dasi dan jasnya lalu melemparnya ke sofa, ia juga melepas beberapa kancing kemejanya lalu ikat pinggangnya dan membiarkannya jatuh ke lantai. Nico lalu masuk ke kamar, di sana hanya lampu tidur yang menyala dan Raihan rupanya sudah tertidur di ranjang dengan ujung lingerienya tersingkap ke atas hingga sebagian lekuk tubuh indahnya terlihat jelas di mata Nico. Pelan-pelan Nico mendekati dan memandang istri yang belum sempat ia jamah.

Melalui cahaya remang, Nico memandang wajah cantik Raihan yang kini tertidur lelap, istrinya. Begitu cantik, mulus dan seksi, ia merasa sangat beruntung menikah dengan gadis secantik Raihan. Walau mungkin cinta belum sepenuhnya tumbuh namun Nico yakin bahwa tak sulit untuk mencintai istrinya.

Lama menatap Raihan membuat darahnya mulai berdesir. Tadinya ia ingin membangunkan istrinya dan memintanya untuk melayaninya walaupun sekedar dengan handjob mungkin. Namun, Nico mengenyahkan pikiran kotornya itu jauh-jauh. Nico  memperbaiki posisi lingerie Raihan yang tersingkap ke atas, menarik selimut untuk menutupi tubuh Raihan lalu ia berbaring di samping Raihan dan membelakanginya sebagai bentuk usaha ia menahan hasrat bercintanya tiap memandang istri cantiknya.

.

TBC

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Benci Jatuh Cinta
9.6
Panji, anak asuh Terryn dan Deva, tumbuh tegar walau dibenci Sheira akibat hasutan Imelda. Sebagai menantu Danuarta, ia sabar melindungi kehormatan Deva meski dizalimi istrinya. Ketegangan memuncak saat keterlibatan Sheira dalam kematian calon istri Panji terkuak. Di sela duka wafatnya ibu angkat dan hadirnya sang ibu kandung, Panji terjebak dilema batin antara kepedihan masa lalu dan rintangan masa depan.
Sampul Novel Kesayangan Paman Mark
8.4
Dalam sebuah pertemuan rahasia yang menegangkan, Mark memaksakan kehendaknya pada Selva hingga gadis itu merintih kesakitan. Di tengah pergulatan tersebut, Mark berbisik dengan nada tertahan, memperingatkan Selva agar tetap diam. Ia sangat cemas jika suara Selva akan membangunkan orang tuanya yang tengah tertidur lelap di rumah tersebut. Hubungan terlarang ini menuntut kesunyian total demi menjaga agar rahasia gelap mereka tidak terbongkar oleh keluarga sendiri.
Sampul Novel Saat Aku Bukan Lagi Pilihanmu
8.8
Setelah sepuluh tahun menderita dalam pernikahan dingin bersama Bram akibat jebakan obat bius saudara tirinya, sang protagonis mendapat kesempatan kedua setelah sebuah tragedi banjir merenggut nyawanya. Terbangun kembali di masa lalu, tepat di hari ia dikurung bersama Bram yang sedang menderita, ia kini bertekad untuk tidak lagi menjadi obat penawar bagi pria tersebut demi mengubah takdir tragis mereka di masa depan.
Sampul Novel Takdir Yang Salah
7.9
Keputusan Alif memadu kasih dengan Amel justru merusak hidupnya. Pengaruh buruk sang kekasih membuat Alif berani melawan orang tua dan menelantarkan sekolah. Akibatnya, keluarga besar menentang keras hubungan mereka, memicu rentetan cobaan yang datang bertubi-tubi. Di tengah tekanan luar dan pergolakan batin, sanggupkah Alif dan Amel mempertahankan cinta mereka tanpa adanya restu, ataukah hubungan ini akhirnya akan hancur oleh realitas?
Sampul Novel Terlambat untuk Menyesal
9.1
Menikah akibat hamil setelah delapan tahun mengejar Charles Watson, hidup Lynda Bennett justru hancur. Saat keponakan Charles, Eleanor, menewaskan ibunya, Charles malah mengancam Lynda demi melindungi Eleanor yang ia cintai. Nestapa Lynda kian perih ketika Eleanor juga membunuh ayahnya. Kecewa, Lynda pergi membawa putrinya dan menikahi rival Charles. Kini, Charles bersujud memohon maaf, tetapi penyesalannya tiada lagi berguna.
Sampul Novel The Passion of an Actor
9.0
Kehidupan mewah Raditya Pratama sebagai aktor papan atas tidak menghalanginya untuk terpikat pada Dayu. Perempuan sederhana ini bahkan sama sekali tidak mengetahui ketenaran yang dimiliki Raditya. Perbedaan latar belakang yang mencolok tidak menyurutkan niat sang selebritas untuk mendekatinya. Namun, jalinan asmara mereka harus menghadapi rintangan berat yang menguji ketulusan perasaan masing-masing. Akankah cinta mereka bertahan melewati perbedaan kelas sosial ini?