
Menantu yang ‘Longgar’ dan Ayah Mertua Perkasa
Bab 3
Ayah mertuaku bertindak terlalu langsung hingga wajahku memerah karena malu.
Aku hampir tidak percaya suatu hari nanti akan seterbuka ini di hadapan ayah mertuaku sendiri.
Aku melihat tatapannya terpaku pada bagian itu, sementara jakunnya naik turun dengan suara menelan ludah yang sangat keras.
Aku merasa sangat malu. Aku refleks menggunakan kedua tanganku untuk menutupi bagian depan.
Dia perlahan menyingkirkan tanganku, "Nurut kata Ayah, biar Ayah periksa kamu."
Sambil berkata begitu, tangannya langsung menyentuh bagian itu layaknya seorang petugas pemeriksa. Dia membuka dan meraba teksturnya secara detail bahkan merasakan ketebalannya.
Dia bahkan tidak memakai sarung tangan saat telapak tangannya yang besar dan kasar itu menyentuhku.
Tubuhku mendadak bergetar hebat karena aku merasakan gelombang panas muncul seketika di dalam tubuhku.
Aku merasa ini pertanda buruk karena aku akan segera bereaksi. Aku ingin menghentikannya tapi tubuhku terasa lemas bahkan mataku terus melirik ke arah tubuh ayah mertuaku.
Ayah mertuaku hanya memakai celana pendek besar dengan tubuh bagian atas polos. Otot perutnya yang berjumlah delapan kotak serta pinggangnya yang kokoh terlihat sangat jelas, bahkan ada bulu halus di sekitar pusarnya.
Aroma hormon yang sangat kuat menerjang indra penciumanku, aku langsung bergairah dan api besar seolah membakar tubuhku.
Setelah serangkaian pemeriksaan, ayah mertuaku akhirnya menyimpulkan, "Kamu kena penipisan jaringan otot pascapersalinan, atau biasa disebut sindrom relaksasi."
"Orang normal biasanya cuma bisa masuk dua sampai tiga jari, tapi punya kamu bisa masuk satu tangan penuh. Punya Leon paling cuma 10 senti, hubungan kalian pasti nggak harmonis, ya?"
Aku mengangguk dengan perasaan sedih, "Iya Yah, dia nggak mau nyentuh aku, makanya tadi aku ...."
"Jangan terlalu khawatir, ada cara untuk sembuh. Cuma Ayah nggak tahu, ada nggak pria yang cocok untuk bantu terapi kamu."
"Ada kok, Leon 'kan bisa," kataku dengan polos.
"Tapi bukannya tadi kamu bilang kalian nggak cocok? Terapi yang mau Ayah kasih itu harus cari pria yang ukurannya pas sama kamu, terus kalian harus coba selama seminggu penuh tanpa putus sehari sekali."
"Hah?"
Terapi macam apa ini, bukannya ini sama saja dengan berselingkuh?
Lagi pula kondisiku sangat longgar, mana mungkin ada pria yang ukurannya cocok denganku.
Melihatku ragu, ayah mertuaku tiba-tiba berkata, "Pria yang ukurannya kayak gitu memang jarang. Gini saja, biar Ayah yang bantu kamu coba karena Ayah punya sindrom ukuran besar di bagian itu yang sangat cocok untuk kamu."
Hah?
Ternyata dia benar-benar menderita sindrom kebesaran?
Tapi, kami ini mertua dan menantu, apa hal seperti ini diperbolehkan?
Aku merasa sangat ragu, "Tapi ... tapi ...."
Ayah mertuaku menjawab dengan nada yang tidak bisa dibantah, "Nggak usah tapi-tapian lagi. Kalau nggak segera diobati, bagian itu bakal makin longgar ...."
Setelah berkata demikian, dia langsung menarik kedua kakiku hingga terbuka lebar.
Aku berada dalam posisi yang sangat memalukan tepat di hadapannya.
Detik berikutnya, ayah mertuaku sudah tidak sabar untuk melepaskan celana pendeknya.
Seketika itu juga, sesuatu yang sangat besar muncul dengan tiba-tiba.
Napasku seolah berhenti karena ukurannya memang sangat tebal dan panjang ....
Meski aku merasa longgar, aku tetap takut apa akan mati jika dimasuki benda sebesar itu?
Melihat tubuh ayah mertuaku yang perkasa serta asetnya yang luar biasa, gairahku telah terbakar sepenuhnya.
Padahal ibu mertua ada di luar sana, tapi stimulasi gila ini membuatku hampir kehilangan akal sehat.
Tatapan ayah mertuaku tampak terobsesi dan dia sudah kehilangan sisi elegannya. Matanya memerah dan napasnya memburu seperti binatang buas sambil mengarahkan miliknya tepat ke bagianku yang sedang gemetar ....
Anda Mungkin Juga Suka





