
Menantu Bodoh
Bab 3
Meskipun Jose mengalami gangguan pada kecerdasannya, bagaimanapun juga, dia tetaplah seorang pria. Naluri alaminya sebagai laki-laki masih ada.
Setelah digoda seorang wanita, secara alami tubuhnya akan memberikan respon. Banyak hal bahkan tak perlu kuajarkan, justru Jose yang lebih berinisiatif.
Tepat saat aku dibuat tak berdaya oleh keahliannya, tiba-tiba terdengar suara teriakan Linda dari luar, “Jose, kamu belum selesai juga? Kok lama sekali?”
Aku langsung terkejut dan tubuhku reflek gemetaran.
Aku buru-buru mendorong Jose dengan lembut. Dia terdiam sejenak, menatapku dengan tatapan polos dan bingung.
Melihat ekspresinya yang tampak enggan berpisah, aku tersenyum sambil mengusap kepalanya dan berbisik pelan, “Jose, Linda memanggilmu. Cepat sana kembali. Tapi, ingat apa yang ibu bilang barusan, ini rahasia kita berdua. Jangan sampai Linda tahu, kalau nggak, lain kali ibu nggak akan kasih makan lagi.”
Jose mengangguk pelan dengan wajah penuh kekecewaan.
Setelah dia keluar, suasana di luar perlahan menjadi tenang, barulah aku menghela napas lega.
Malam semakin larut, meski sudah berbaring di ranjang, aku tetap tak bisa tertidur.
Sosok Jose yang gagah terus muncul dalam pikiranku. Sambil memikirkannya, aku merasa ada sesuatu yang keluar. Saat mengulurkan tangan dan menyentuhnya, tiba-tiba aku merasa malu.
Bagaimanapun juga, dia itu menantuku. Jadi, tetap ada perasaan bersalah yang begitu kuat di dalam hati.
Dulu, aku hanya pernah mendengar orang lain bercerita hal-hal semacam ini, tak pernah terpikir bahwa suatu hari aku sendiri akan menjadi tokoh utama dalam cerita seperti itu.
Namun anehnya, semakin dipikirkan, aku malah semakin tak sabar. Berharap kejadian berikutnya bisa datang lebih cepat.
Aku benar-benar merasa tersiksa. Jadi, aku pun membuka nakas di samping ranjang, mengeluarkan mainan yang kubeli dan menyelipkannya ke dalam celah sempit itu.
Seketika, tubuhku bergetar pelan tanpa bisa dikendalikan….
Keesokan harinya adalah akhir pekan. Pagi-pagi sekali, aku sudah pergi berbelanja dan membeli cukup banyak bahan makanan, karena hari ini sahabat baik putriku, Dolin akan datang berkunjung ke rumah.
Dolin lebih tua 13 tahun dari Linda, usianya sudah 38 tahun. Tapi karena wajahnya cantik dan tubuhnya terawat dengan baik, dia masih terlihat sangat muda.
Selain itu, dia juga orang yang sopan dan perhatian, mulutnya manis pula. Aku cukup berkesan baik padanya.
Setelah berbincang sebentar dengan Dolin, aku pun masuk ke dapur untuk mulai masak. Sementara, Linda menemani Dolin duduk di sofa dan berbincang.
Saat aku sedang mencuci sayur sambil bersenandung kecil, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki dari belakang.
Belum sempat menoleh, aku sudah bisa merasakan ada tubuh pria yang penuh kekuatan maskulin berdiri di belakangku.
Kemudian, sepasang tangan hangat dan besar tiba-tiba menyentuh bagian dadaku dari arah kerah baju.
Kain braku yang tipis tak mampu meredam sentuhan hangat itu, hanya dengan satu gerakan, seluruh tubuhku terasa lemas dan gemetar.
Itu Jose!
Tiba-tiba, kepalanya muncul di sebelah kananku, memperhatikan gerak-gerikku, lalu dengan polosnya bertanya, “Ibu lagi apain?”
Saat dia berbicara, aku dapat merasakan dengan jelas benda panas yang menekan bokongku yang montok dan ukurannya terus berubah, menjadi semakin berlebihan.
Aku mengenakan kemeja putih dan rok bermotif bunga hari ini. Rok tipis ini seolah tak mampu menghalangi kekuatan luar biasa Jose.
Aku merasakan sensasi kesemutan di kulit kepala dan seluruh tubuhku menjadi panas. Tanpa sadar, aku pun mengangkat bokongku yang montok sedikit lebih tinggi untuk merasakan lebih banyak gesekan.
Aku sedikit terengah, lalu menjawab Jose, “Ibu lagi masak untuk kamu dan Linda. Jose, kamu main dulu sama Linda. Kita lanjut nanti malam, ya?”
Dulu, Jose tidak pernah menyerangku tiba-tiba seperti ini. Mungkin karena kejadian tadi malam, baginya seolah telah membuka kotak pandora. Dia jadi tahu bahwa dirinya bisa melakukan hal-hal itu padaku, seperti yang dirinya lakukan pada Linda.
Ucapanku sama sekali tak berhasil, justru membuat Jose semakin bersemangat.
Tak hanya tak berhenti, Jose mengusap bokongku dengan tangannya beberapa kali dan tiba-tiba mengangkat rokku, lalu meraih bagian tersensitifku….
Anda Mungkin Juga Suka





