
Membagi Jatah Untuk Ipar dan Mertua
Bab 5
: Tak Sadar Tolong Calon Klien Kakap
Rumah terasa sepi, ruang makan kosong, dan pintu kamar ibu mertua serta iparnya tertutup rapat, tanda belum bangun pagi.
Raymond hela nafas, ia bersyukur pikiran warasnya masih jalan, ia masih bisa menjaga attitudenya. Tidak nekad masuk ke kamar kakak ipar dan ibu mertuanya itu untuk tuntaskan godaan maha dahsyat yng terjadi kemarin, di tambah Rahma bikin hasratnya harus nambah daftar hari puasanya.
“Berangkat kerja Ray? Kenapa nggak bawa mobil,” tiba-tiba terdenger suara Tante Melly, kagetkan Raymond, saat dirinya akan starter motornya.
Sial atau malah keberuntungan…!
Raymond melongo melihat penampilan mami mertua tirinya yang masih pakai baju tidur transparan dan sama sekali tak mengenakan pakaian dalam!
Hal itu membuat bagian pribadinya tersingkap samar!
“I-iya Mi, aku ngantor, bawa motor saja, takut kejebak macet Mi,” sahut Raymond bikin alasan dan buru-buru pasang helmnya, karena tak sanggup melihat pemandangan yang menyambutnya di pagi hari yang mendung ini.
Lalu buru-buru ke keluar dari pagar rumah sambil mengangguk hormat ke Tante Melly.
“Kasian sekali si Ray ini, pasti tadi malam tidak bisa menyalurkan hasratnya, kelewatan juga si Rahma, sibuk ngejar karir, suami malah dibiarkan tersiksa,” batin Tante Melly, yang paham arti tatapan sekilas Raymond, sambil bilang hati-hati pada ‘menantunya’ ini.
Raymond beberapa kali hampir kepentok kendaraan lain, otaknya benar-benar sulit konsentrasi di jalan.
Pas di lampu merah, Raymond kaget motornya hampir terserempet sebuah motor yang menerobos tanpa etika.
“Sialan, mau cari mati loh,” umpatnya dalam hati menahan mangkel, tak mungkin dia bersuara keras, karena helmnya tertutup kaca plastik.
Namun setelahnya Raymond kaget bukan main, saat motor ini tiba-tiba memukul sebuah kaca mobil mewah, lalu secepat kilat mereka merampas tas yang ada di dalam mobil mewah tersebut.
Sia-sia teriakan minta tolong dari pemilik mobil ini. Semua pengendara malah takut melihat salah satu penjambret itu bawa senjata tajam.
Namun jiwa kesatria Raymond seketika bangkit, dengan nekat dia tancap gas dan mengejar motor penjambret sekaligus begal ini.
Brakkkk…tabrakan tak bisa di hindari karena jalanan memang lagi padat. Dua penjambret itu terjungkal ke aspal, senjata tajam terlepas dari tangan si jambret itu.
Ray tidak peduli motornya juga jatuh, dia pun ikut jumpalitan di aspal. Tapi tubuh kokohnya aman, karena dia pakai sarung tangan dan jaket.
Raymond buru-buru bangkit dan menerjang salah satu penjambret yang mengambil tas di mobil tadi.
Bukk…arghhh! Si jambret kembali terjungkal di aspal, rekannya buru-buru bangun dan bukannya membantu, tapi menghidupkan lagi motornya.
Tak peduli rekannya yang terjungkal, dia kabur secepat-cepatnya.
Raymond membiarkan saja, sedangkan rekannya yang tadi terjungkal juga bangkit dan dengan langkah sempoyongan, ambil langkah seribu kemudian menghilang di kerumunan orang-orang di jalanan, sehingga dirinya selamat dari amukan warga.
Raymond ambil tas si pemilik mobil yang kacanya dipecahin tadi lalu mendekati si pemiliknya yang buru-buru keluar dari mobilnya, sambil lepas helmnya.
“Ini tasnya nyonya, silahkan periksa lagi,” kata Raymond lalu berbalik lagi meminggirkan motornya, aksinya tadi mengundang pujian pengendara lain, tapi ada juga yang menyayangkan dua penjambretnya bisa lolos.
“Makasih yaa, ini sekedar ganti perbaikan motor kamu?” wanita yang ternyata sangat cantik ini tiba-tiba sodorkan 20 lembar pecahan 100 ribuan buat Raymond.
“Makasih nyonyah, tak apa, motor saya hanya lecet dikit, permisi yaa,” Raymond langsung pasang lagi helmnya dan buru-buru pergi ke kantornya, takut telat.
“Namaku Clara…!” wanita cantik ini buru-buru dekati Raymond di motornya sambil kenalkan diri.
Raymond buka kaca helmnya. “Aku Raymond, permisi Clara!” kata Raymond lagi dan tancap gas.
Raymond pun melupakan kejadian ini, karena dia harus buru-buru, agar tak telat metting pagi ini.
Tiba di kantor dan Raymond langsung di sambut tatapan sinis dari atasannya. Raymond telat 15 menitan, gara-gara insiden tak di sangka-sangka tadi.
Raymond duduk sambil beri hormat dan lepas jaketnya. “Maaf saya telat, tadi ada insiden di jalan raya,” cetus Raymond.
“Hmm…segala insiden yang dijadikan alasan, dengarkan semuanya, juga kamu Ray, tender kali ini adalah kesempatan terakhir kalian untuk bertahan di kantor cabang ini. Kalau hari ini sang klien kakap gagal di bujuk, 3 hari lagi kalian ambil pesangon dan kalian di pecat!” cetus Bingo, sang pimpinan cabang dengan bengis.
Siangnya, Raymond bersama dua orang staf pemasaran menuju ke sebuah kantor si klien kakap yang dikatakan pimpinan cabangnya berniat batalkan pemesanan mobilnya.
Cukup lama mereka menunggu, setelahnya seorang staf meminta keduanya masuk ke ruang sang CEO salah satu perusahaan taksi terbesar di Indonesia ini.
Raymond dan dua stafnya sampai keder melihat mewah dan AC-nya terasa dingin di ruangan kantor sang CEO ini, harum pula. Mereka dipersilahkan si stafnya duduk sofa tamu yang empuk.
Si CEO terlihat membelakangi mereka sambil menelpon seseorang, Raymond dan staf pemasaran ini sabar menunggu.
“Kalian yang dari dealer mobil cabang…ih kamu?” wanita ini kaget saat menatap Raymond, wajah cantiknya kontan ceria.
“I-ibu Clara…ya ibu kami dari dealer mobil cabang Fatmawati,” sahut Raymond yang juga surprise, tak menyangka sang CEO ini adalah Clara, yang tadi pagi di tolongnya dari begal yang menjambret tas mahalnya.
**
BERSAMBUNG
Anda Mungkin Juga Suka





